Arsip untuk Oktober, 2007

h1

Tidak Ada yang Sia-Sia

Oktober 30, 2007

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik.
Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia.
Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja anda mengalami
pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya
karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila
anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan
pemandangan yang jauh berbeda.

Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan
wajah yang ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya
terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu
rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis.

Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir
menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali
keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan
tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes
air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke
pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian
menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur.
Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari
setiap tetes air yang anda temui di selokan rumah anda?

h1

Pengaruh Coldplay dan Muse dalam Lagu Indonesia

Oktober 30, 2007

Pencinta musik pasti tahu begitu besar pengaruh Coldplay dan Muse dalam perkembangan musik di dunia, termasuk di Indonesia. Selama ini ada Nidji yang sering dijuluki sebagai ‘Coldplay Indonesia’ karena besarnya pengaruh Coldplay dalam album pertamanya. Mereka sendiri mengaku lebih terpengaruh pada ‘britpop’ pada umumnya dan tak sekadar Coldplay, meski lagu-lagu seperti : Child, Sudah, Hapus Aku, atau Bila Aku Jatuh Cinta sangat beraroma Coldplay. Kalau pengikut Muse di Indonesia namanya Taboo dengan vokalisnya Arie Untung, tapi entah masih ada atau tidak band ini.

Sebenarnya masih banyak lagi lagu Indonesia yang terinfeksi ‘racun’ Coldplay dan Muse. Inilah beberapa di antaranya :

Coldplay’s influence :

Kosong(Dewa), Merindukanmu(Minoru), Manja(ADA Band), Surga Menangis(Katon B),Tak Pantas Untukmu(Jikustik), Aku Harus Pergi(Ari Lasso,cipt:Pay/Sandy/Ari,arr:Pay), Ijinkan Aku Menyayangimu(Iwan Fals,cipt:Rieka,arr: Erwin Gutawa), Tentang Kita(Channel), Andai Ku Tahu(Ungu), Rasa Ini(The Titans), Bersama Bintang(Drive), Bunga di Malam Itu(Letto).

Muse’s influence :

Patah Hati(Ari Lasso,cipt:Maysal/Ari,arr:Denny Chasmala), Cinta Gila(Dewa), Dealova(Once,cipt:Opick,arr:Addie MS), Irhamna dan Takdir(Opick,arr:Dede Kumala), Kamu Kamulah Surgaku(Ahmad Dhani & The Rock).

Tidak tertutup kemungkinan bahwa para musisi Indonesia tersebut bukannya terpengaruh oleh Coldplay dan Muse, melainkan justru ada kesamaan referensi dengan kedua grup musik tersebut. Muse sendiri konon banyak terinspirasi oleh Radiohead. Mohon maaf jika ada yang keberatan dengan opini ini. Jika ada yang ingin mengoreksi hasil pengamatan bodoh seorang pencinta musik ini, silakan saja. Terima kasih atas perhatiannya.

(95 % tulisan ini pernah kupasang di milis musik_indonesia pada bulan Maret 2007)

h1

Mimpi Sore

Oktober 25, 2007

Lama tak berjumpa

Bertemu lagi dalam mimpi

Ayahanda tercinta

Ada gembira dalam mimpi itu

Tapi jadi aneh ketika si bocah berlari

Mengikuti langkah Ayah

Menuju kegelapan

Adakah ini sebuah firasat

Atau sekadar bunga tidur ketika sakit?

020497

h1

The Day My Dad Passed Away

Oktober 25, 2007

Aku merasa awal hari ini ringan langkahku, tiada beban sama sekali di pundakku, padahal nanti ada ulangan Sejarah yang aku belum belajar sama sekali. Kebetulan bis kota yang membawaku ke sekolah pun tak perlu lama kutunggu datangnya. Sampai di kelas masih rada pagi, aku ikut saja teman-teman yang lagi mengerjakan Pe-eR Akuntansi. Jelas ini bukan sesuatu yang biasa bagiku, biasanya aku menjadi salah satu murid paling disiplin yang selalu mengerjakan Pe-eR di rumah dan hasil kerjaku malah sering jadi bahan rujukan salinan teman-temanku yang malas. Memang bukan niatku untuk itu, kemarin sore aku mesti dapat giliran menjaga Ayah di rumah sakit. Sudah sebulan ini Ayah dirawat, banyak organ tubuhnya yang telah rusak karena sempat selama puluhan tahun beliau jadi perokok berat. Sebenarnya Ayah sudah sekitar 10 tahun terakhir ini berhenti merokok, persisnya sejak beliau pensiun. Tapi ternyata dampak negatifnya sangat membuatnya menderita kini di masa tuanya. Mungkin karena itulah sebagai cowok yang hampir 17 tahun, aku tidak mau ikutan teman-teman untuk mulai merokok dan pengennya sih, aku bisa jadi cowok yang tak pernah merokok sepanjang hayatku hingga maut menjemputku. Aku tidak ingin anak-anakku nanti merasakan apa yang kurasakan selama sekitar sebulan ini, setiap hari menunggui sang ayah yang tak kunjung sembuh sakitnya. Padahal segala macam pengobatan pun telah diupayakan.

Tiga jam pelajaran telah berlalu hingga saatnya istirahat. Baru saja aku keluar dari kelas ketika Pak Heru, wali kelasku terlihat berjalan menuju kelasku bersama seorang wanita berseragam pegawai, yang ternyata anak buah ibuku di kantor.

“Ragil, ibu ini diminta menjemputmu untuk datang ke rumah sakit saat ini juga,” kata Pak Heru kepadaku yang diiyakan oleh wanita yang bersamanya.

“Kakak-kakak mas Ragil semua juga diminta berkumpul di sana,” tambah wanita itu. Terang saja aku kaget mendengar kata-kata mereka. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Ayahku! Aku tak bisa berkata banyak, Pak Heru memintaku segera mengambil tas di kelas dan pergi meninggalkan sekolah saat itu juga. Aku dan anak buah ibuku itu pun bergegas menuju parkiran sekolah, di sana sudah ada Mas Dawam, supir mobil dinas Ibu dengan Kijang yang biasa untuk mengantar jemput Ibu ngantor. Dalam perjalanan menuju rumah sakit aku hanya bisa berdebar-debar dan bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi pada Ayah hingga kami semua mesti berkumpul? Aku enggan bertanya dan mereka pun tak berkata apapun padaku. Tapi sempat terbesit sebuah pikiran positif di otakku, mungkin Ayah jadi mau dipindah ke rumah sakit pusat yang fasilitasnya lebih lengkap, seperti rencana yang sempat kudengar 2 hari lalu.

Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Aku segera bergegas menuju kamar rawat Ayah dan menemui beberapa kerabatku ada di depan kamar.

“Ayah kamu kritis, Gil,” Pakde Rahmat menyambutku lalu membimbingku masuk kamar. Sudah ada Ibu dan kelima kakakku di sekeliling ranjang tempat Ayah terbaring dengan suara seperti dengkuran yang cukup keras. Kudengar suara isak tangis mereka. Aku hanya bisa terpana di antara mereka sambil memegangi kaki Ayah yang sudah sangat dingin dan kaku. Tak lama kemudian tangis mereka sudah reda dan satu persatu dari kami keluar dari ruangan itu. Dokter dan para asistennya memeriksa kondisi terakhir Ayah. Detak jantung dan denyut nadi Ayah masih ada. Dokter memperkirakan tinggal sedikit saja kesempatan hidup Ayah, kecuali ada mukjizat yang menyelamatkannya, tanpa memberikan kepastian masih berapa jamkah atau berapa harikah yang tersisa.

*

Beberapa jam berlalu, kondisi Ayah cukup stabil meski sebenarnya buruk. Kami semua sudah cukup tenang sambil terus berdoa, semoga saja keajaiban benar datang untuk membangunkan Ayah dari ketidaksadarannya selama ini. Beberapa kerabat dan teman keluarga kami pun berdatangan ke rumah sakit. Salah seorang sahabat lama Ayah, Pak Bardan yang kebetulan memiliki indera keenam secara khusus berpesan kepada kami,

“Tolong ya, nanti kira-kira sehabis Maghrib semua anak-anak di sini menunggui ayah kalian. Ibu juga siap di sini.”

Kami tak berkata apapun jua, mengangguk setuju belaka. Saat petang Ibu memintaku dan kakak-kakakku pulang lebih dahulu untuk mandi juga berganti baju. Tapi akhirnya hanya aku dan dua orang kakakku yang pulang dengan taksi. Entah apa sebabnya setelah kami turun, taksi yang baru kami tumpangi beberapa kali menabrak tembok saat akan keluar dari gang tempat rumah kami berada. Sebuah firasat burukkah? Aku enggan berpikir lebih jauh tentang hal itu.

Setelah mandi, kami bertiga kembali ke rumah sakit dengan bis kota. Sehabis menjalankan sholat Maghrib di mushola rumah sakit, secara khusus aku berdoa mohon pada-Nya supaya Ayah diberikan jalan yang terbaik. Harapan kami semua tentu saja datangnya keajaiban berupa kesembuhan Ayah. Aku masih sangat ingin bisa menjalani berbagai hal bersamanya lagi. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku tentu saja juga ingin bisa membuat Ayah bangga akan diriku. Tanpa kusadari air mataku sampai bercucuran saat menadahkan tangan. Setelah sadar aku pun segera membasuh wajahku dan kembali ke kamar rawat Ayah.

*

Setibaku di kamar ternyata kondisi Ayah sudah kian melemah. Suara dengkuran seperti saat siang sudah tak terdengar lagi. Yang tersisa tinggal suara desah nafasnya yang sangat lirih. Aku, kakak-kakakku, dan Ibu pun kembali mengelilingi ranjang tempat Ayah terbaring tanpa daya. Suara isak tangis kembali terdengar dan semakin keras. Hanya aku yang berusaha tetap tegar dan tak mengeluarkan air mata meski dadaku terasa mulai sesak. Satu dua kakakku dibawa keluar dari kamar karena mulai histeris, merasa tak tahan lagi menahan kepedihan. Aku dan Ibu berpegangan tangan sambil memegang tangan Ayah. Desah nafas Ayah semakin tak bersuara hingga akhirnya berhenti, tak bersuara lagi…

Innalillahi wa innailaihi roji’un. Ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya. Malaikat maut telah menjalankan perintah-Nya menjemput nyawa ayahku tercinta. Ibu dan kakak-kakakku yang masih bertahan di kamar menangis tersedu-sedu menghadapi kenyataan yang terjadi. Sedangkan aku hanya terpaku tak bisa berkata apapun jua, tetap bisa kutahan supaya air mata tak tertumpah. Padahal dadaku sebenarnya sudah terasa begitu sesak, tapi sebagai anak lelaki aku tak mau menangis di depan ayahku, meski kini beliau telah pergi meninggalkan kami selamanya dan tersisa jasadnya belaka. Suara azan Isya’ yang berkumandang sayup-sayup terdengar dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian dokter dan para perawat meminta kami keluar dari kamar untuk menangani jenazah Ayah. Dengan masih menahan sesak di dada, aku pun keluar dari kamar lalu duduk di salah satu kursi. Aku diam saja membisu. Tiba-tiba saja saat-saat indah bersama Ayah di masa lalu satu demi satu terbayang di ingatanku, aku pun sadar bahwa tak mungkin lagi aku menjalani hari-hari bersamanya. Akhirnya tak kuasa kutahan lagi sesak di dadaku dan tumpahlah air mataku. Aku pun menangis sejadi-jadinya menyadari betapa perihnya rasa dan sakitnya hati karena kehilangan seorang ayah. Syukurlah di sampingku ada salah seorang kerabatku yang menenangkanku sehingga tak berkepanjangan tangisku. Aku memang seharusnya ikhlas karena Ayah sudah dipanggil kembali oleh pemiliknya, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa. Tapi tak semudah itu ketika peristiwanya baru saja terjadi. Setelah reda tangisku lalu kulihat ibu dan saudara-saudaraku pun sudah tenang, mulai mengabari orang-orang yang perlu diberitahu kabar duka itu dan mengurus perawatan jenazah Ayah.

Keluarga memutuskan untuk memandikan jenazah Ayah di rumah sakit. Yang masih menjadi masalah adalah akan dimakamkan di mana jasad Almarhum besok. Kami pun merapatkannya saat menunggu persiapan pemandian jenazah. Mungkin memang sudah menjadi skenario-Nya semata ketika kebetulan ada seorang keponakan Ayah yang menjadi salah satu pejabat militer di kota kami. Ayah dulu bekerja sebagai tentara, bahkan terakhir sebelum pensiun sempat menjadi komandan di beberapa tempat. Ternyata sebagai mantan tentara, beliau berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

“Tante, Om itu pasti punya Bintang Gerilya. Kalau itu bisa ditunjukkan, maka otomatis Om bisa langsung dimakamkan di TMP,” kata Mas Gun, keponakan Ayah yang tentara itu pada ibuku.

“Sepertinya Om memang pernah cerita soal itu. Tapi Tante nggak yakin Om membawanya ke sini saat kami pindah dulu. Om itu paling nggak suka pamer-pamer dan mungkin untuk beliau itu bukan sesuatu yang penting. Tapi coba nanti Tante cari di rumah,” jawab Ibu.

“Ya sudah Tante, biar saya saja yang menanyakannya ke Semarang. Saya yakin di sana ada data tentang Om. Oya, saya sudah suruh ambulans militer ke sini untuk nanti mengantar jenazah Om pulang dan besok juga saat pemakaman.” Mas Gun yang lalu banyak berinisiatif untuk mengurus syarat-syaratnya supaya Ayah bisa dimakamkan di tempat yang memang menjadi haknya itu.

Akhirnya jenazah Ayah pun jadi dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Tembakan salvo mengiringi saat jasad Ayah dimasukkan ke liang lahat sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah wujud penghormatan kepada seseorang yang pernah menjadi pejuang yang ikut merebut, membela dan menjaga kemerdekaan negeri tercinta. Meski aku tahu Ayah mungkin tak ingin diperlakukan seperti ini di saat terakhirnya, tapi kurasa Ayah patut mendapatkannya dan aku bangga akan hal itu.

*

Ayahku adalah seseorang yang baik, begitu bersahaja, sangat mencintai keluarga dan yang paling kuingat, adalah seorang ayah yang tak pernah memarahi aku sebagai anak lelakinya satu-satunya. Mungkin saja Ayah pernah memarahi kakak-kakakku, tapi yang jelas aku tak pernah melihatnya sepanjang umurku. Itulah kebijaksanaan yang juga dimiliki seorang Ayah. Meskipun pernah menjadi komandan militer, tapi beliau tidak pernah bersikap keras dan memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak-anaknya, bahkan sangat demokratis. Maka tak masalah ketika aku menolak saat ditawari les piano dan diijinkannya aku yang justru malah jadi pemain keyboard di sebuah band sejak kelas 1 SMA setahun lalu. Bahkan Ayah pun memaklumiku ketika kenaikan kelas lalu nilai-nilaiku turun drastis, padahal aku sendiri sudah merasa sangat bersalah saat itu. Masih ingin kutebus hal itu supaya beliau senang dan bangga padaku, tapi belum sempat kesampaian karena beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.

Yang jelas aku jadi tak sekadar menghormati Ayah karena beliau ayahku, tapi karena memang berbagai sikap dan karakternya wajar untuk dihormati dan disegani. Tentu saja aku pun selalu menyayanginya. Dan kini ketika beliau telah tiada, hanya tinggal kenangan indahlah yang tersisa. Semoga saja segala dosa kesalahan Ayah mendapatkan ampunan-Nya dan semua amal kebaikannya diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin…

TAMAT

Yogyakarta, April-Mei 2006.

Memory of   14th April many years ago.

h1

Tujuh Keajaiban Dunia

Oktober 22, 2007

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari “Tujuh
Keajaiban Dunia”. Pada awal dari pelajaran, mereka diminta
untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh
Keajaiban Dunia” saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak-
sesuaian, sebagian besar daftar berisi;
1) Piramida
2) Taj Mahal
3) Tembok Besar Cina
4) Menara Pisa
5) Kuil Angkor
6) Menara Eiffel
7) Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan
seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum
mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya
kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa
memilih karena sangat banyaknya.” Sang guru berkata, “Baik,
katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami
bisa membantu memilihnya.”

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, “Saya pikir, “Tujuh
Keajaiban Dunia” adalah,
1) Bisa melihat,
2) Bisa mendengar,
3) Bisa menyentuh,
4) Bisa menyayangi,

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan,
5) Bisa merasakan,
6) Bisa tertawa, dan
7) Bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi
kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya
“keajaiban”. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan
karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai “biasa”.
Semoga anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-
betul ajaib dalam kehidupan anda.

h1

Menulis Cerpen

Oktober 22, 2007

TIPS MENULIS CERPEN PENULIS SENIOR(dari majalah MATA BACA September 2005)

Hamsad Rangkuti :

-Semakin banyak membaca, semakin banyak yang bisa diperoleh.

-Dialog dan narasi akan datang susul menyusul, begitu latar, tokoh, dan peristiwa ditemukan.

Isbedy Stiawan :

-Siap disiplin terhadap waktu, pikiran, dan jangan sampai mengabaikan disiplin.

-Dimuat atau ditolak, selalu menanamkan diri untuk berprasangka baik, bagus untuk pengembangan mental kita saat menulis.

-Berusahalah semaksimal mungkin. Setelah naskah jadi, tugas redaktur mau memuatnya/tidak.

Kurnia Effendi :

-Jika mood hilang, lakukan pekerjaan rutinmu atau mengerjakan yg disukai. Jangan menunggu mood!

-Disiplin dalam menulis sangat dianjurkan, tapi jangan perlakukan diri seperti robot.

-Harus arif menerima jika cerpen ditolak. Tidak semua cerpen cocok untuk media massa tertentu.

h1

Usikan

Oktober 22, 2007

Ada bagian masa silam yang ingin kulupakan

Sekian lama sudah tak lagi kupedulikan

Kujalani masa apa adanya dengan banyak perubahan

Kusyukuri, kuterima dengan hati riang

Kendati sedih dan kecewa hadir terkadang

Namun mengapa terusik kembali bagian itu?

Tak kuduga, yang terlupakan kembali jadi sesuatu

Tak nyaman adanya perasaanku

Kutahu, atas dasar sayang perhatian itu

Menjadi asanya bakal kian apik hari-hariku

Telah kupilih jalan yang ini

Mungkin bukan yang terbaik, namun mohon maklumi

Tetap ada harapan bahagia, itu kuyakini

Maka biarkanlah jalan ini kutapaki

Mohon doanya agar Allah tansah meridhoi

(Amin)

071007

(kadang perhatian berlebihan bisa membuat hati tak berkenan)

h1

Dewiq – the hitsmaker

Oktober 22, 2007

Tentang seniman dan karyanya

Karya seorang seniman kadang jauh lebih populer ketimbang si penciptanya sendiri. Seperti itulah yang terjadi pada seorang Dewiq. Pencinta musik Indonesia mungkin banyak yang sudah mengenal judul lagu-lagu berikut ini. Mulai dari Dunia Belum Berakhir(Shaden), Bukan Cinta Biasa(Siti Nurhaliza), Temui Aku(Audy), Setelah Kau Pergi(Bunga Citra Lestari-OST Dealova), Dosa Termanis dan Pencuri Hati(Tere), hingga Cinta di Ujung Jalan(Agnes Monica), Sunny(Bunga Citra Lestari), Jenuh(Rio Febrian), 50 Tahun(Warna), Bukan Permainan(Gita Gutawa), I Love You(Dewi Sandra), Masih Bisa Cinta(Iwan Fals), juga singel terbaru Once yang judulnya masih disayembarakan. Tapi mungkin banyak yang belum tahu bahwa penulis lagu tersebut adalah orang yang sama, yaitu Dewiq. Kalo tidak salah, singel pertama album debut Nina Tamam(Nanana…Aku Bahagia) dan singel kedua album debut Mike Mohede(Terbaik) pun hasil karyanya. Para pendatang baru dalam musik Indonesia pun masih mengandalkan lagu ciptaannya, seperti : Judika(Malaikat), Ussy(Klik), dan T2 yang terdiri dari duo jebolan AFI : Tiwi & Tika(OK).

Ternyata variatif sekali penyanyi yang membawakan lagu-lagu Dewiq dan dari beragam jenis musik pula. Padahal dulu seingatku Dewiq sendiri nyanyinya nge-blues dan kurang mendapat sambutan hangat. Tapi kini nama isteri gitaris Parlin Burman alias Pay ini mungkin tetap tidak sengetop lagu-lagunya, walaupun pasti populer sekali di mata penyanyi, musisi, dan produser musik di Indonesia. Lagu ciptaan Dewiq kini sudah menjadi jaminan bakal selalu menjadi hits. Pokoknya memang lagi laris banget yang namanya Dewiq. Bahkan sekarang salah satu produk sepeda motor telah menjadikan Dewiq sebagai model iklannya, pastinya sekaligus dengan jingle-nya pun hasil karyanya. Tapi nama Dewiq -bernama asli Cynthia Dewi Bayu Wardani- yang kalah populer ketimbang karyanya itu, jadi membedakannya dengan hitsmaker lainnya di Indonesia, seperti : Ahmad Dhani, Yovie Widianto, Melly Goeslaw, Pongky Barata, dan Eross Chandra, yang karena popularitasnya kadang menjadi objek berita gosip.

Buat seorang seniman sejati, ketenaran diri mungkin memang bukan sesuatu yang penting. Bisa jadi Dewiq pun begitu. Yang penting baginya adalah terus berkarya selagi masih bernyawa sampai ajal tiba. Namun entahlah, apakah hal itu masih relevan di masa kini?

h1

Tentang Kesalahan

Oktober 22, 2007

Semua manusia berbuat kesalahan. Tapi sebaik-baik manusia adalah yang mau bertobat. (HR.Tirmidzi dan Hakim)

 

Hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat ketimbang selalu benar karena tidak pernah berbuat apa-apa. (George B.Shaw)

 

Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan kesalahan itu sendiri. (Martin Vanbee)

 

Seseorang yang telah berbuat kesalahan dan tidak membetulkannya, telah melakukan kesalahan lagi. (Confusius)

 

Tidak setiap kesalahan adalah kebodohan. (NN)

 

Para seniman besar lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang orang-orang yang tidak imajinatif. Mereka membiarkan semua ide mengalir bagai air dan terus mencoba tanpa takut salah.(NN)

 

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya. (Alexander Pope)

 

Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia. Tapi perbuatan pura-pura yang sebenarnya menimbulkan permusuhan dan pengkhianatan. (J.Wolfgang Goethe)

 

 

h1

Mengikuti Jejakmu

Oktober 18, 2007

 
 
                 Kepada Ags. Arya Dipayana
 
 Adalah doamu mulai terjawab
 Jawaban-Nya bukan seperti yang kaumau
 
 Tatkala kautanam ari-ari itu
 Tak menjadi inginmu
 Si jabang bayi mengikuti jejakmu
 
 Mengapa begitu ?
 
 Padahal jejak langkahmu megah
 Kendati bersahaja
 Tanpa perlu bermewah-mewah
 
 Lagipula sosokmu adalah panutan
 Bijakmu dapat menjadi tempat berpijak
 Bestarimu tak pernah segan kaubagi
 Keberadaanmu adalah berkah bagi dunia ini
 
 Sejatinya tak menjadi hasrat si pemuda jelmaan sang bayi
 Untuk menapaki jalan yang pernah kautempuh
 Sekiranya sejak awal pun sudah terlampau jauh
 Sungguhlah berbeda riwayat hidup
 Yang nyaris tak bertaut
 
 Si pemuda sekadar ingin :
 
 Merasakan cinta kasih sayang
 Yang kautebarkan pada sebanyak-banyaknya orang
 Yang kauterima kembali dari orang-orang
 
 Menjadi insan bijak bestari
 Menjelmakan karya tanpa henti
 Yang membuat semangat hidupmu terus menyala
 Kendati angin kencang menerpa
 Tak mudah padam begitu saja
 
 Masihkah salah
 Jika mengikuti jejakmu ?
 
 Juni 2007