Kegagalan Ivan Kolev dengan timnas U-23 di SEA Games pada akhir tahun ini seperti sebuah déjà vu, jika kita mengingat kembali apa yang dialami oleh Peter Withe dengan timnas senior di Piala AFF pada awal tahun 2007. Pada pertandingan pembuka, timnas hanya menang 3-1 atas tim lemah, Laos dan Kamboja.
Lalu pada pertandingan kedua, pelatih mengubah starting line-up, hasilnya hanya seri melawan Vietnam dan Myanmar. Pada pertandingan terakhir timnas gagal menang, seri dengan Singapura dan kalah dari Thailand, tapi sama-sama gagal lolos ke semifinal karena kalah selisih gol dengan Vietnam dan Myanmar. Nasib Kolev rasanya juga bakal sama dengan Withe, yaitu dipecat pasca kegagalan tersebut. Jika Benny Dollo yang ditunjuk sebagai pelatih baru, maka bertambah panjanglah déjà vu itu, karena dulu om Bendol juga pernah gagal menangani timnas, seperti halnya Kolev saat menggantikan Withe.
Perhatian PSSI pada pembinaan pemain muda harus lebih serius lagi kini. Kemudian sejak sekarang PSSI mestinya sudah mulai menginventarisasi para pemain muda yang masih bisa tampil di SEA Games dua tahun ke depan, mengumpulkannya secara berkala dalam sebuah tim dengan pelatih yang berkualitas. Kecuali jika PSSI masih ingin timnas gagal lagi di SEA Games dan di berbagai ajang selanjutnya.
Terima kasih untuk Mister Kolev atas upayanya membangun timnas yang berkarakter, meski akhirnya gagal lagi karena kompleksitas masalah internal di PSSI.
Untuk Bung Nurdin Halid, setelah kegagalan beruntun timnas, apakah Anda belum terinspirasi juga untuk mundur? Masih tetap yakin bahwa Andalah yang terbaik dan paling benar bagi sepakbola Indonesia?