Tidak ada satupun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali keikhlasan.
(Pepatah Arab)

Tidak ada satupun obat yang bisa menyembuhkan sakit hati kecuali keikhlasan.
(Pepatah Arab)

Setelah sempat menjadi teka-teki,
akhirnya terjawab sudah akhir
riwayat hidup Sang Jenderal Besar
Pada sebuah Minggu siang malaikat maut
telah menjalankan tugas dari-Nya pada
seorang mantan pemimpin sebuah negara
Jadi sedih dan rasanya kehilangan ketika
mengenang masa silam cemerlang
di bawah kepemimpinannya, kendati
terlintas pula kelam sekejab
Ternyata masih ada cinta dan kasih sayang
dari anak bangsa bagi bapaknya,
yang sepuluh tahun silam
hingga sekian waktu kemudian senantiasa
menjadi bahan hujatan, makian, cacian,
dan seolah menjadi sumber kekacauan
serta ketidakberesan yang terjadi di negeri ini
Hanya bisa berdoa dan berharap :
Semoga segala dosa kesalahannya diampuni Tuhan
dan segenap amal kebaikan Pak Harto diterima di sisi-Nya
Amin …

Orang lebih cepat melupakan suatu dukacita yang hebat ketimbang sebuah penghinaan yang tak berarti. Sebelumnya aku tak percaya bahwa hal itu bisa terjadi dan tak terbayang pula, bagaimana mungkin bisa begitu? Sesudah melewati serangkaian episode dari sebuah cerita yang kualami beberapa tahun silam, barulah kupercaya memang begitulah adanya. Dukacita yang hebat saat itu adalah wafatnya seseorang yang kusayangi dan kuhormati, seorang lelaki tua yang seperti ayah kedua bagiku. Ketika beliau akhirnya pergi selama-lamanya, rasanya hati sudah ikhlas melepas, sehingga tak menjadi duka yang berkepanjangan. Namun ada sebuah peristiwa pahit sebelum beliau tiada (yang ada hubungannya dengan beliau dan keluarga kami), yang dapat dikategorikan sebagai sebuah penghinaan, yang sempat tak mudah terlupa begitu saja bagi kami.
Mungkin nanti ada sebuah cerita pendek yang terinsiprasi oleh cerita nyata tersebut, yang bakal menjelaskan lebih detail apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku heran, sudah cukup lama kutulis awal cerita itu, sudah lebih dari setahun kini, cerpen itu belum juga kunjung rampung.
Mengapa penghinaan itu menjadi tak berarti, karena kadangkala penghinaan yang kita terima lebih sederhana ketimbang keburukan kita sesungguhnya. Mending lapang dada saja ketika dihina, kendati pasti tak mudah bagi siapapun saat itu terjadi. Mungkin apa yang mereka katakan buruk tentang kita memang tak benar, namun mesti disyukuri bahwa masih banyak aib kita yang benar adanya dan tak mereka ketahui sama sekali. Jadi, yang terbaik setelah itu terjadi adalah berusaha melupakan dan memaafkan. Lagipula, kita lebih berharga di hadapan Tuhan jika berani memaafkan, bukannya larut dalam dendam berkepanjangan. Kata ulama, kita jadi mudah memaafkan karena selalu melihat keterbatasan diri kita pada manusia lain, sadar bahwa manusia selalu punya keterbatasan, tiada yang sempurna.
Supaya hidup kita jadi lebih nyaman lagi, mungkin dapat kita mengingat nasihat orang bijak tentang apa yang mesti diingat dan dilupakan. Ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan keburukannya pada kita. Pada sisi yang lain, ingatlah keburukan kita pada orang lain dan lupakan kebaikan kita padanya. Sepertinya hal itu ada hubungannya dengan apa yang pernah dibilang oleh Mas Tukul di Empat Mata, bahwa cinta bisa menutupi semua keburukan/kekurangan orang lain dan benci bisa menutupi semua kebaikan/kelebihan orang lain. Jadi, bukankah lebih baik mencintai daripada membenci ?

Apakah kebajikan yang paling utama di sisi Allah?
Budi pekerti yang baik, rendah hati, serta kesabaran dalam ujian.
(Rasulullah SAW)
dari : yang sarat & yang bijak – m.quraish shihab

“Apakah Liga Super bisa memperbaiki kualitas pemain-pemain nasional?”
Untuk pelaksanaan Liga Super, BLI (Badan Liga Indonesia) telah menetapkan sejumlah syarat yang berat. Salah satu syarat penting yang harus dipenuhi adalah infrastruktur stadion milik klub, terutama kualitas lapangan pertandingan yang berkualitas. Ivan Kolev pernah mengeluhkan buruknya lapangan-lapangan di Indonesia yang menghambat penerapan strategi permainan dari pelatih. Jadi renovasi atau bahkan pembangunan stadion baru mutlak dilakukan secara menyeluruh.
Kemudian setiap klub diwajibkan melakukan pembinaan terhadap pemain muda/junior dengan memiliki tim junior. Dalam hal ini para pembina harus jujur dan tidak boleh ada lagi masalah pemalsuan umur pemain, seperti yang selama ini kerap terjadi. PSSI mesti menggelar pula kompetisi liga level junior secara berkesinmabungan dan berkelanjutan. Dana APBD yang semula untuk membiayai klub bisa dialihkan untuk perbaikan/pembangunan stadion maupun pembinaan pemain muda tersebut. Pihak swasta yang peduli pada sepakbola nasional juga mesti diajak untuk turut berpartisipasi dan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.
Dengan pembatasan jumlah klub Liga Super, jadwal kompetisi yang selama ini amburadul mestinya bisa lebih tersusun rapi dan teratur, sehingga ada waktu bagi timnas melakukan pelatnas berkala, jangka pendek atau jangka panjang, baik untuk berujicoba maupun untuk mengikuti berbagai event. Komunikasi yang baik juga mesti terjalin antara BLI, BTN (Badan Tim Nasional), pelatih timnas, pelatih klub, dan pemain itu sendiri.
Selain itu, jumlah pemain asing yang selama ini maksimal lima orang harus dikurangi, cukup tiga pemain asing saja. BLI mesti berani mengubah regulasinya, jika sebelumnya telah ditentukan bahwa klub boleh mengontrak lima pemain asing lagi. Salah satu kelemahan timnas di sepanjang tahun 2007 adalah buruknya produktivitas para striker lokal, karena posisi tersebut didominasi oleh pemain asing. Pemain asing yang memperkuat klub Liga Super juga harus jelas kualitasnya dan mampu mentransfer hal-hal yang positif bagi para pemain lokal. AFC pun memberi batasan maksimal tiga pemain asing dalam Liga Champion Asia. Faktanya, Persik Kediri sudah pernah menahan imbang juara Asia, Urawa Red Diamonds(Jepang) serta mengalahkan Shanghai Shenhua(Cina) dan Sydney FC (Australia) dengan tiga pemain asing saja.
Paradigma sebagian pengurus dan suporter klub yang selalu mewajibkan kemenangan, lalu suporter mengamuk ketika tim kesayangannya kalah juga mesti diubah. Sportivitas dan keikhlasan menerima kekalahan setelah para pemain berjuang di lapangan mesti dijunjung tinggi oleh semua pihak yang masih ingin melihat sepakbola Indonesia melangkah maju. Menang dan kalah dalam olahraga adalah sebuah kewajaran belaka.
Yang juga tak kalah pentingnya adalah penegakan hukum serta peraturan yang adil, jujur, konsisten, dan konsekuen, mulai dari PSSI sendiri, baik itu dari ketua umum, exco, berbagai komisi dan badan di dalamnya(termasuk BLI tentu saja), hingga wasit dan perangkat pertandingan yang bertugas di lapangan.
Sekiranya PSSI, BLI, klub, dan segenap pihak yang berkepentingan mampu memenuhi syarat-syarat tersebut, bolehlah kita berharap akan terjadinya perubahan positif, yang bermuara pada perbaikan kualitas para pemain nasional dan timnas yang mampu mengukir prestasi gemilang di masa depan. Memang tak akan semudah membalikkan telapak tangan, karena perlu proses dan waktu yang panjang. Tapi harapan tak mustahil menjadi kenyataan. Terus berjuang bagi kebangkitan sepakbola Indonesia!
*Tulisan ini dimuat dalam rubrik PSSI-Watch majalah BOLAVAGANZA edisi No.75/Januari 2008.

Masihkah dapat kurasakan
memiliki Bunda tercinta
ketika tahun berganti?
Menjadi kecemasan beralasan bagiku
bertanya seperti itu, seraya menatap Bunda
yang kian lemah tanpa daya
dan tak lagi membuka mata
Kemudian sampailah pengujung sebuah tahun
dan hadirlah tahun nan baru
Sembari menatap semarak pesta kembang api
dari serambi lantai sekian rumah sakit,
kusyukuri pada Ilahi dan kukatakan pada-Nya :
Ya Allah, terima kasih Ibu masih ada bersamaku di tahun 2007 ini
Semoga masih ada hari-hari ketika Ibu tak lagi sakit,
telah kembali sehat, dan masih dapat kubahagiakan dia,
Ya Rabbi…
Ternyata sebatas 16 jam saja jatah
yang dimiliki Bunda di tahun yang baru berganti
Sepertinya Bunda sekadar ingin bertemu dahulu
dengan ibunya untuk terakhir kalinya
sebelum usai masa baktinya di bumi persada
Malaikat maut telah sempurna menjalankan tugas
menjemput nyawa Ibundaku tercinta
memenuhi panggilan suci dari Pemiliknya
di awal tahun baru
( Awal Januari 2008 )
“Mengenang satu tahun wafatnya Ibunda”

Terkadang, kita cukup berpikir sederhana supaya bisa merasakan nikmat karunia-Nya seraya bersyukur dan mengucapkan terima kasih.