Sendiri belaka aku di rumah
Kudentingkan nada piano sementara terdengar rintik hujan
Kubawakan lagu-lagu bertema hujan :
Setia, Yang Pernah Terlupakan, Cintamu T’lah Berlalu, Satu Rindu …
Ketika kunyanyikan Satu Rindu (yang bercerita kerinduan pada Ibu)
Ternyata perasaanku terbawa sepenuhnya
Benar-benar aku rindu pada “satu wajah penuh cinta,
penuh kasih, penuh dengan kehangatan…”
Air mata pun tak bisa kutahan lagi
mengalir dengan sendirinya
Kuhentikan permainan piano
dan kubiarkan diriku menangis
Seraya berdoa mohon pada-Nya :
Semoga Ibunda baik-baik saja di alam sana
(Amin)
Meski rasanya sudah ikhlas melepasnya pergi
tapi kerinduanku pada Ibu
tak mampu kusirnakan dari hati
Kerinduanku tak cukup dalam derai air mata
karena lantas aku bermimpi :
Ibu hadir di dunia lagi !
Kusadari …
Kenyataannya Ibu memang tak pernah pergi
dan selalu hidup di hatiku
Senantiasa menjadi inspirasi maupun motivasi
untukku terus melangkah menggapai yang lebih baik
di sisa hidupku
(Amin)
25-26 April 2007
(Ketika kerinduan pada yang telah tiada menjelma, hanya bisa berdoa dan (kadang) menangis. Sebuah wujud kerinduanku pada mendiang Ibu, kutulis setahun lalu)


