Kita hidup memiliki sisi baik dan buruk. Dari yang buruk, manusia mengenali kebaikan. Tugas kita adalah mengembangkan sisi baik, sehingga menghasilkan yang terbaik dalam hidup untuk diri kita dan orang lain. (Meuthia Ganie-Rochman)

Kita hidup memiliki sisi baik dan buruk. Dari yang buruk, manusia mengenali kebaikan. Tugas kita adalah mengembangkan sisi baik, sehingga menghasilkan yang terbaik dalam hidup untuk diri kita dan orang lain. (Meuthia Ganie-Rochman)

(sebuah catatan akhir Ramadhan…)
Bukannya tak bersungguh-sungguh kusesali
dosa salahku selama hayat hingga kini
Pastilah senantiasa kusyukuri berkah rahmat
nikmat karunia Ilahi yang tiada taranya
Menjadi asaku jua Ramadhan tahun ini
bukanlah yang terakhir yang kualami
Namun semua itu tak mampu menyentuh
relung jiwa hingga meneteslah air mata
Sudah enam kali kujalani mencoba bermesra
bicara berdua dengan-Nya belaka
Sebentar lagi yang ketujuh –dan terakhir
di bulan suci tahun ini- bakal segera kulaksanakan
Semoga dapat kian kunikmati sepertiga terakhir
malam ini dengan membersihkan hati, membeningkan
nurani, bermunajah penuh konsentrasi, mohon
apa saja yang terbaik bagi diriku dan siapa
pun yang tersayang, yang teringat, yang terbayang
Kuharap sekali saja air mataku mampu mengalir
menjadi bukti kesungguhan penyesalanku
merupakan wujud rasa syukur sejatiku
mengiringi asaku kembali bersua Ramadhan depan
membasuh jiwaku agar suci lagi…
(akhirnya… tetap tanpa air mata)
dini hari 29 Ramadhan 1430 H/19 September 2009
SELAMAT IDUL FITRI 1430 H
MINAL AIDIN WALFAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Jati diri adalah bekal penting seorang manusia memiliki rasa percaya diri, sehingga memiliki keberanian serta keyakinan yang cukup untuk mengakui kapasitasnya, memiliki kebanggaan atas kemampuannya, serta memiliki rasa malu untuk mengedepankan sesuatu yang bukan miliknya. (Fariz RM)

Semua orang memanggilnya Pak Mus. Konon nama panjangnya adalah Mustajab bin Mujarab. Mungkin ia keturunan tukang obat atau dukun, sehingga namanya seperti itu. Tiada orang yang tahu persis berapa usianya sebenarnya, mungkin sekitar tujuh puluh tahun. Entah mengapa ia selalu merahasiakannya, padahal untuk orang seusianya, Pak Mus masih terbilang gagah. Belum lama sejak istri ketiganya meninggal, Pak Mus sudah sibuk berburu wanita lagi. Orang tua satu ini memang tipe pria yang tak bisa hidup tanpa wanita. Meski usianya tak lagi muda, meski anak cucunya sudah seabrek banyaknya, tapi untuk menikmati kesenangan duniawi, hasratnya masih sangat besar. Maka langsung saja lirik kiri kanan, tanya ke sana kemari, ada tidak kiranya wanita yang mau dijadikan istrinya.
“Pokoknya yang penting usianya di bawah 50 tahun, gadis atau janda ndak masalah buatku,” tegas Pak Mus.
Gaya sekali, maunya punya istri baru yang jauh lebih muda ketimbang dirinya.
Sebulan setelah menduda, Pak Mus kerap berkunjung ke sebuah tempat hiburan terkemuka di kotanya, menyaksikan pertunjukan musik dangdut yang menyajikan penyanyi-penyanyi muda yang cantik lagi seksi. Pak Mus selalu mengajak Pak Andre sahabatnya. Setelah beberapa episode menyaksikan hal-hal yang menyegarkan di tempat tersebut, ada dua penyanyi yang membuat Pak Mus bernafsu. Meski sudah ingin menuntaskan hasrat birahinya lagi, tapi ia paling tak mau melakukannya di luar nikah.
“Aku tahu diri, aku itu sudah tua. Kalau bisa menghindari dosa, ya mending kuhindari. Pokoknya kalau aku mau begituan lagi, ya mesti sama istriku. Jadi aku mesti nikah lagi dulu, baru ehem-ehem. Heheheh…” sahut Pak Mus terkekeh, ketika Pak Andre menawarinya untuk menyewa saja wanita yang siap menjadi pemuas hasrat pria.
“Lebih baik orang tahu aku menikah lagi. Aku malah bangga, orang pasti akan memuji kehebatanku, lha wong sudah tua gini kok masih laku juga,” lanjutnya.
Pak Andre tersenyum simpul mendengar seloroh sahabat tuanya itu. Dalam hatinya ia memuji sekaligus bersumpah serapah terhadap sahabatnya itu,
“Sialan Pak Mus, memang hebat kamu kalau sampai bisa menikah lagi, padahal usiamu sudah uzur, ganteng juga tidak kamu itu!”
Untuk menindaklanjuti ketertarikannya, pada suatu malam saat jeda pertunjukan, Pak Mus meminta tolong pengelola orkes supaya ia bisa dipertemukan dengan dua penyanyi yang telah menggoda imannya. Pengelola orkes membawa kedua penyanyinya ke kafe tempat Pak Mus biasa menyaksikan pertunjukan. Salah satu penyanyi itu mendekati meja tempat Pak Mus dan Pak Andre duduk. Seorang wanita berusia 20-an yang berwajah ayu, berambut sebahu, berkulit sawo matang, tubuhnya yang sintal terbalut baju ketat, membuat kedua pria itu menelan ludah menatapnya.
Pak Andre pun membuka pembicaraan,
“Selamat malam, Mbak Elsa. Nama saya Andre dan ini teman saya, namanya Pak Mus. Beliau ini penggemar Mbak Elsa dan ingin kenal lebih dekat. Tentu saja kalau Mbak tidak keberatan, lho.”
Penyanyi bernama panggung Elsa Rodrigo itu pun mengulurkan tangannya.
“Selamat malam juga, Pak. Saya senang bisa ketemu dengan penggemar saya seperti Bapak. Tapi kenal lebih dekat itu piye maksudnya?” tanya Elsa dengan logat Jawanya yang medok sambil mengernyitkan dahi.
Pak Mus pun angkat bicara, “Langsung saja ya jeng Elsa, saya ini sudah jatuh cinta pada sampeyan…”
Tanpa tedeng aling-aling Pak Mus spontan mengungkapkan perasaannya. Elsa terhenyak mendengarnya dan langsung memotong kata-kata pak tua itu,
“Nuwun sewu ya, Pak. Saya ini sudah menikah dan punya anak. Saya jelas akan menolak mentah-mentah kalau Bapak mau menjadikan saya sebagai istri. Sebagai istri resmi pun saya emoh, apalagi kalau saya jadi istri simpanan!”
Elsa yang selalu kemayu di atas panggung itu sekejab berubah menjadi wanita yang garang, nada bicaranya tegas dan agak tinggi.
“Begini-begini saya ini setia lho, Pak!” lanjut Elsa setengah berteriak.
Untuk menetralisasi suasana, Pak Andre pun kembali menjalankan perannya sebagai moderator pertemuan,
“Waduh, maaf sekali ya Mbak Elsa. Kami tidak tahu kalau Anda sudah berkeluarga. Mohon maafkan kesalahan teman saya yang sudah kesusu mengungkapkan perasaannya ini.”
Elsa pun segera bangkit dari kursinya, sementara Pak Mus terlihat salah tingkah. Ia tak mengira bahwa salah satu penyanyi favoritnya itu bisa bersikap sedemikian rupa. Pengelola orkes tampaknya melihat gelagat yang kurang baik. Ia pun menghampiri Pak Mus sambil mengajak Helda Angela, penyanyi lain kesukaan Pak Mus.
“Saya mohon maaf kalau penyanyi saya tadi tak sopan kepada bapak-bapak. Kalau saya tahu Bapak itu jatuh cinta sama Elsa, saya bisa kasih tahu dulu bahwa dia itu sudah berkeluarga. Jadi, yang seperti tadi tak akan terjadi. Nah, ini Helda minta saya menemaninya menghadap bapak-bapak. Helda ini baru kelas 2 SMA, Pak. Jadi terus terang saja belum kepikiran kalau harus segera jadi manten. Mungkin itu yang bisa saya katakan pada Anda berdua,” jelas pengelola orkes. Sejak peristiwa itu, Pak Mus tak pernah datang lagi ke tempat hiburan tersebut.
***
Pak Mus pernah tiga kali menikah. Pernikahan pertama menghasilkan dua anak perempuan. Dengan dalih ingin memiliki anak lelaki dan karena memang ia telah kembali jatuh cinta, Pak Mus berniat menikah lagi. Maksud hatinya mau berpoligami, tapi apa daya sang istri pertama tak mau dimadu. Akhirnya mereka pun bercerai dan Pak Mus pun menikah lagi tak lama setelahnya. Pernikahan keduanya adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Anak laki-laki yang didambakannya, akhirnya dimilikinya jua. Setelah lebih 30 tahun menikah untuk kedua kalinya, Pak Mus mesti kehilangan istri tercintanya yang meninggal karena sakit. Tapi dalam waktu kurang dari setahun kemudian, ia sudah menikah lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini dinikahinya seorang janda beranak dua. Namun tak lebih dari empat tahun saja usia pernikahan ketiga Pak Mus, istrinya lagi-lagi pergi mendahuluinya menghadap Ilahi.
***
Pada sebuah Minggu pagi Pak Mus menghadiri pernikahan anak salah satu temannya. Ternyata ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wajahnya tak terlalu ayu, tapi penampilannya cukup mengkilap dengan gaun yang memperlihatkan lengan dan betisnya yang mulus. Pak Mus berpikir untuk melakukan pendekatan dan saat makan adalah saat yang paling tepat. Kebetulan sekali, kursi di samping wanita itu kosong. Pak Mus pun bergegas mendudukinya.
Sembari menyantap makanannya, ia membuka pembicaraan,
“Anda hubungannya apa dengan yang jadi manten? Kalau saya teman bapaknya manten perempuan.” Pak Mus lebih berhati-hati dan tak mau terburu-buru mengungkapkan rasa sukanya.
“Saya sepupu jauhnya manten perempuan,” jawab si wanita singkat.
Perbincangan Pak Mus dan kenalan barunya pun berlangsung asyik. Wanita bernama Intan itu tinggal sendiri di Jogja, sementara keluarganya tinggal di Palu. Ia baru saja lulus dari sebuah universitas dan sedang mencari pekerjaan. Pak Mus menyodorkan kartu namanya, sembari menawarkan pekerjaan di kantornya.
“Kantor saya itu administrasinya sedang kacau. Nah, mumpung sekarang kamu lagi cari kerja, kamu datang saja besok ke tempat saya. Ndak usah pake tes, kamu bisa langsung kerja.”
Gayung pun bersambut, Intan setuju dengan tawaran itu. Ia yakin Pak Mus orang baik, setidaknya ia tahu bahwa pak tua itu adalah teman pamannya.
Esoknya Intan datang ke kantor Pak Mus dan langsung bekerja. Ia senang bisa bekerja sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya saat kuliah. Pak Mus malah lebih senang bisa bertemu dengan orang yang disukainya dan bercengkrama lebih lama lagi. Untuk merebut hati Intan, ia mengajak gadis itu makan siang di restoran. Hal itu hampir dilakukannya tiap hari.
Dua minggu kemudian, Pak Mus merasa sudah saatnya ia mengungkapkan perasaannya. Ia pun mengajak Intan ke sebuah restoran masakan Cina. Setelah mereka berdua menghabiskan hidangan, Pak Mus mulai serius bicaranya.
“Kamu kan pernah cerita soal tipe laki-laki yang jadi idaman kamu. Nah, misalnya ndak ketemu-ketemu terus piye, Nduk?” tanya Pak Mus.
“Ya, kalo nggak ketemu juga ya nggak apa-apa. Semoga saja dia nggak jauh dari tipe idaman saya,” sahut Intan, seolah menjawab pertanyaan seorang ayah.
“Gini lho, Bapak ini kan duda. Meski sudah tua, Bapak masih pengen nikah lagi. Yah, mungkin karena selama ini selalu ada istri yang melayani dan mendampingi Bapak tiap hari. Jadi rasanya ada bagian hidup Bapak yang hilang ketika istri Bapak ndak ada.”
“Lalu kersanipun Bapak apa?”
“Kamu mau ndak jadi istri Bapak?” bisik Pak Mus sambil memajukan kepalanya.
Intan begitu kaget, tak dikiranya sama sekali ada kata-kata tersebut siang hari itu. Gadis itu hanya diam, bingung, dan matanya berkaca-kaca. Wajahnya tertunduk sejenak, sambil mengatur nafasnya, ia mendongakkan kepalanya.
Dengan agak terbata Intan mencoba menjawab,
“Maaf, terus terang saya kaget sekali Bapak berkata seperti itu pada saya. Sebelumnya sama sekali nggak kepikiran, saya diterima kerja karena ada maksud tertentu dari Bapak. Mungkin saya terlalu lugu, makanya saya nggak tahu. Saya jelas nggak bisa menerima permintaan Bapak. Saya belum siap menikah sekarang! Dan saya ingin nanti menikah dengan orang yang benar-benar saya cintai.”
Intan mencoba berhati-hati menata rangkaian kata yang keluar dari mulutnya. Ia tak ingin melukai hati orang tua itu. Ia sadar Pak Mus sudah berbaik hati kepadanya, meski tentu saja tiada rasa cinta Intan sedikit pun kepadanya. Pak Mus hanya manggut-manggut sambil bertopang dagu. “Yo wis, ndak apa-apa. Sebetulnya Bapak sudah ngira kamu bakal ndak mau. Kamu malu to kalo jadi istri Bapak? Ya wajarlah, mungkin bapakmu saja umurnya lebih muda dari Bapak. Tapi kamu masih mau kerja di tempat Bapak, to?”
“Maaf, dengan peristiwa barusan, saya memutuskan untuk keluar sekarang juga. Terima kasih, Bapak sudah memberi saya pekerjaan, walau cuma sebentar. Semoga Bapak segera mendapat istri lagi. Permisi Pak, saya pergi,” tutup Intan yang lantas bangkit dari kursi, lalu beranjak pergi, meninggalkan Pak Mus yang kecewa lagi.
***
Keterangan untuk beberapa kata dalam bahasa Jawa :
- mending = lebih baik
- wong = orang
- piye = bagaimana
- medok = kental (khusus untuk logat)
- sampeyan = anda
- tedeng aling-aling = basa-basi
- nuwun sewu = mohon maaf
- emoh = enggan
- kemayu = genit
- kesusu = tergesa-gesa
- nduk/genduk = panggilan sayang untuk anak perempuan
- kersanipun = kehendaknya, maunya
- yo wis = ya sudah
# Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos Minggu, 6 September 2009.

Takut bermacam-macam. Ada takut yang menjadikan seseorang menyerah dan berpangku tangan. Ada takut yang mendorong untuk berusaha menghindarinya. Ada takut yang disertai kebencian kepada yang ditakuti. Ada juga yang disertai kekaguman lantaran wibawa yang ditakuti. Takut kepada Allah ditandai oleh upaya mendekat kepada-Nya. (M.Quraish Shihab dalam ‘Yang Sarat & Yang Bijak’)


Ronaldinho dan Eto'o reuni di San Siro Milano.
Banyak hal menarik yang terjadi dalam pertandingan ‘derby di Milano’ antara AC Milan versus Inter Milan di Stadion San Siro pada akhir bulan Agustus lalu. Pertama adalah terjadinya reuni antar pemain. Sesama mantan anggota skuad Barcelona (Spanyol), Ronaldinho dan Gianluca Zambrotta (Milan) mesti melawan Samuel Eto’o (Inter). Lantas dua eks pemain Real Madrid (Spanyol) asal Belanda pun saling berhadapan, yaitu Klaas-Jan Huntelaar (Milan) dan Wesley Sneijder (Inter). Demikian pula yang terjadi pada Alessandro Nesta (Milan) dan Dejan Stankovic (Inter) yang pernah bermain bareng di Lazio.
Ada pula pemain-pemain yang pernah memperkuat klub yang sama, meski dulu tidak bermain bersama. Clarence Seedorf (Milan) dan Walter Samuel (Inter) pernah bermain di Madrid. Dari Ajax Amsterdam (Belanda) tersebutlah Seedorf dan Huntelaar (Milan) serta Christian Chivu dan Sneijder (Inter). Kemudian ada Marco Borriello (Milan), Thiago Motta dan Diego Milito (Inter) yang pernah menjadi andalan Genoa.
Kendati Milan dan Inter merupakan klub Italia, namun jumlah pemain Italia yang menjadi starter Milan ternyata kalah jumlah dari pemain Brasil yang memperkuat kedua tim. Ada enam pemain Italia, yaitu : Marco Storari, Zambrotta, Nesta, Genarro Gattuso, Andrea Pirlo, dan Borriello di kubu tim merah hitam. Sementara itu malah ada tujuh pemain Brasil, yaitu : Thiago Silva, Ronaldinho, dan Pato (Milan), ditambah dengan Julio Cesar, Maicon, Lucio, dan Thiago Motta (Inter).


Debut cemerlang Robben di Muenchen.
Dua pemain Belanda, Arjen Robben dan Wesley Sneijder telah memilih jalan yang benar dengan meninggalkan Real Madrid. Kurang dari seminggu bergabung, mereka telah memberi sumbangsih berharga bagi klub anyarnya. Kendati baru bermain sejak babak kedua, Robben langsung mencetak dua gol bagi Bayern Muenchen yang akhinya menang 3-0 atas Wolfsburg, juara bertahan Bundesliga.
Sementara itu Sneijder menjalani debutnya di Inter Milan -sebagai pemain inti- ketika timnya menang 4-0 atas AC Milan di Liga Italia Serie A. Biarpun belum mencetak gol, Sneijder bermain trengginas sebagai trequartista, satu posisi yang selama ini dicari-cari pelatih Inter Jose Mourinho untuk melengkapi timnya. Uniknya, baik Robben maupun Sneijder dipercaya untuk mengenakan kostum nomor 10, sebuah nomor milik pemain bertalenta istimewa. Bersama tim barunya, mereka boleh lebih optimis menatap masa depannya.
Masih ada satu pemain Belanda eks Madrid yang juga menjalani debutnya pekan lalu, yaitu Klaas-Jan Huntelaar di Milan. Sayangnya dia tidak menjalani debut manis seperti kedua rekannya karena Milan kalah dari Inter yang justru diperkuat oleh Sneijder.

Ada sebentar hujan waktu sahur membuka
September pagi di Jogja
Namun turun hujan deras ketika tiba
malam di lain kota seperti Jakarta
Langit waktu Subuh hari kedua tampak pucat,
membuat tak nyaman dilihat
Bisa jadi itu salah satu isyarat bahwa pada
pukul 14.55 hari Rabu 2 September 2009
Terjadilah bumi berguncang kencang
yang terasa getarannya hingga
ribuan kilometer dari pusat gempa dan
entah berapa juta jiwa manusia saja
yang serta merta panik, takut, atau banyak rasa
tak nyaman mencuat di dirinya
Innalillahi wa innaialaihi raji’un
Sejumlah nyawa melayang dijemput malaikat
Rumah-rumah ambruk di sejumlah daerah
(seperti déjà vu sebuah Sabtu tiga tahun silam bagi kami di Jogja sekitarnya)
Mungkin itu sebentuk ujian dari Yang Mahakuasa
bagi segenap hamba-Nya yang beriman
supaya tetap sabar tanpa putus asa
ketika Ramadhan suci masih bergulir saat ini
Jogja, 3 September 2009

“Kamu mesti bersyukur masih diberi waktu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan pada bapakmu.”
“Iya, kamu betul, Ma. Aku beruntung masih bisa melakukannya.”
Dono menerawang hubungan masa silamnya dengan bapaknya. Entah berapa kali saja, tak terhitung banyaknya saking kerapnya, ia melawan perintah bapaknya. Bahkan pernah juga ia menantang berkelahi bapaknya, kendati ia dalam kondisi mabuk berat saat itu. Sekiranya pernah sekali saja bapaknya meladeni dirinya, mungkin ia sudah mati di tangan bapaknya atau masih tinggal di penjara karena membunuh bapaknya.
Untunglah, masih begitu sabar bapak maupun ibunya menghadapi kenakalannya yang terlalu selama ini. Wima tahu persis sejarah kelam Dono yang merupakan tetangga sekaligus teman karib sejak masa kecilnya. Sejak dahulu Wima sering menasihati Dono untuk mengubah kelakuannya, tapi tak kunjung berhasil. Dono akhirnya mulai sadar menjelang ia menikah hingga memiliki seorang anak, sementara bapaknya mulai sakit-sakitan.
Untuk menyenangkan hati bapaknya, Dono mengajak Wima membelikan seekor perkutut yang mahal harganya. Bagi Dono tiada yang lebih berharga baginya selain membuat bapaknya bahagia. Ia sadar sepenuhnya bahwa kedua orang tuanya sudah kenyang makan hati menghadapi kegilaan masa lalunya.
“Aku dapat informasi, ada perkutut bagus di beberapa tempat. Kamu mau kan mengantarku ke mana saja?” tanya Dono.
“Demi temanku yang mau berbakti pada bapaknya, tentu aku tidak keberatan. Ya, asal waktuku senggang saja,” sahut Wima yang disambut senyuman Dono yang merasa lega.
Mereka berdua memburu perkutut itu ke beberapa alamat yang dimiliki Dono sekaligus. Nyaris seharian Dono dan Wima menempuh puluhan kilometer, namun tak kunjung dapat apa yang menjadi harapan Dono. Akhirnya ia justru mendapatkan yang terbaik dengan harga yang cukup mahal, justru di sebuah tempat yang letaknya hanya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.
“Don, jangan kecewa kita mendapatkannya justru di sini, padahal kita sudah sampai ke mana-mana tadi,” ujar Wima yang melihat Dono sempat sewot.
“Ya, aku tahu. Kuanggap ini seperti liku-liku mendapatkan jodoh saja kok. Lagipula, yang terpenting aku bisa membuat senang Bapak lagi. Oh ya, jika saja bapakku menanyaimu berapa harga perkutut ini, tolong jangan sebut harga sebenarnya ya… Bapak mungkin tak akan marah, tapi beliau pasti eman-eman jika tahu harga sebenarnya semahal itu,” kata Dono yang kian bijaksana dalam bersikap. Wima menyanggupi keinginan sahabatnya dan merasa bangga melihat perubahan sikap Dono.
Sudah malam ketika sampai di rumah, Wima langsung menuntun bapaknya dari dalam kamar, menuju ke depan dan melihat perkutut yang baru saja dibelinya.
“Pokoknya Bapak pasti bakal remen mendengar suara perkutut ini. Karena inilah yang terbaik dari yang kami temui sehari ini, Pak,” ucap Dono pada bapaknya.
“Wah, sampai seharian kamu pergi baru dapat ini. Pasti harganya mahal banget ya? Apa ndak eman-eman ini kamu buat nyenengin Bapak?”
“Bapak tak usah khawatir soal harganya. Harganya standar kok, Pak. Bapak boleh tanya ke Wima, dia kan ahlinya masalah perburungan,” sahut Dono sambil meminta persetujuan Wima yang mengangguk mengiyakan.
Dono menjentikkan dua jari tangannya hingga sang perkutut manggung. Memang suaranya merdu dan Bapak tampak senang mendengarkannya. Dono merasa lega dan bangga dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang yang sering disakitinya di masa silam itu. Sejenak matanya sempat berkaca-kaca.
Di balik jendela, ibu Dono melihat anak dan suaminya dengan meneteskan air mata. Rasanya sama sekali tidak sia-sia kesabarannya menghadapi Dono selama bertahun-tahun dahulu. Ia begitu bersyukur bahwa anak lelakinya itu akhirnya bisa juga berubah.
***
Dalam masa kegilaannya Dono pernah menjadi pemabuk, pencandu dan pengedar narkoba, penjudi, suka pula main perempuan. Barangkali hampir semua bentuk penyakit masyarakat pernah dilakukannya. Pernah suatu ketika ia nyaris saja tertangkap polisi sebagai seorang pengedar narkoba. Namun ia bisa lolos karena upaya bapaknya untuk melindunginya berhasil. Polisi gagal menemukan barang bukti miliknya di rumah dan dalam tes urine pun hasilnya negatif.
“Bahkan bapakku rela melanggar hukum demi melindungiku dulu. Jika aku sempat masuk penjara, bisa saja aku malah jadi residivis dan entah bagaimana nasibku kini,” kenang Dono.
“Bisa saja kamu sudah mati ditembak polisi,” canda Wima yang disambut senyum Dono.
Dono memutuskan berhenti menjadi pengedar narkoba setelah nyaris ditangkap polisi. Tapi ia baru berhenti mengonsumsi narkoba menjelang ia menikah. Suatu ketika seseorang mengajaknya ke lembaga pemasyarakatan di kotanya. Ternyata begitu banyak orang-orang yang dikenal Dono di dalam penjara. Ia sungguh tak ingin senasib dengan teman-temannya.
“Aku harus berhenti secepatnya, Ma. Apalagi sebentar lagi aku mau menikah,” tekad Dono di depan Wima.
“Memang yang paling penting niat dan tekadmu sendiri. Syukurlah jika kamu sudah menyadarinya sekarang,” kata Wima yang sebenarnya sejak lama telah meminta sahabatnya berhenti menjadi pencandu narkoba.
Dengan dibantu kedua orang tuanya, Wima, dan juga calon istrinya, Dono berjuang keras menghentikan kebiasaan buruknya selama ini. Akhirnya lepas juga ia dari jeratan narkoba. Lantas, sejak menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Dono kian berubah menjadi sosok yang berbeda. Virna, perempuan yang dinikahinya menjadi salah satu sosok penting terjadinya perubahan dalam hidupnya.
Dono berjanji untuk memperbaiki segenap kesalahannya pada kedua orang tuanya, terutama kepada bapaknya. Kendati begitu sering menyusahkan, Dono tidak berani melawan ibunya, senekad ia bersikap buruk pada bapaknya.
“Semoga saja anakku nanti tidak mengikuti jejakku yang demikian kelam di masa lalu,” harap Dono di depan Virna.
“Ya, itulah tantangan kita sebagai orang tua Erry, Mas. Memang tak bakal mudah membesarkan anak kita supaya jadi anak yang baik. Apalagi kita tahu bagaimana sikapmu di masa lalu terhadap bapak dan ibumu. Mas Dono masih ingat kalimat bijak di buku itu kan?” ujar Virna.
“Ya, aku selalu mengingatnya, Jeng. ‘Ketika seseorang telah mencapai usia yang menjadikannya sadar akan kebenaran nasihat-nasihat bapaknya, ketika itu juga ia telah memiliki anak yang tidak menerima nasihat-nasihatnya.’ Kuharap itu tak terjadi padaku dan Erry.” Virna mengamini apa kata suaminya.
Kalimat bijak yang Dono temukan dalam buku milik Virna itu menjadi salah satu hal yang memotivasi dirinya untuk terus berubah. Dono menangis sesenggukan ketika bapaknya pertama kali masuk rumah sakit terkena stroke.
Ia merasa bersalah dan berperan besar membuat bapaknya bernasib seperti itu. Sejak saat itulah ia berjanji untuk senantiasa membuat Bapak merasakan kebahagiaan, sesuatu yang tak pernah mampu diberikannya dalam kurun waktu sekian tahun masa kelamnya. Ternyata niat baiknya mendapatkan jalan yang lapang dari Ilahi. Sejak keinsyafannya, Dono berkali-kali membuat kedua orang tuanya menangis terharu karena bahagia dan bangga pada perubahan anak mereka.
***
Untuk ketiga kalinya bapak Dono mengalami stroke dan harus dibawa ke rumah sakit. Namun kali ini nyawanya tak mampu diselamatkan. Dono mesti merelakan kepergian selamanya seseorang yang di sisa hidupnya ingin selalu dibuatnya bersukacita. Di depan matanya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Dono berusaha sungguh agar air matanya tak sampai tumpah. Dadanya terasa begitu sesak menahannya.
Namun Dono ingin bersikap ksatria, menepati janjinya untuk tak meneteskan air mata ketika jatah hidup bapaknya telah berakhir di dunia fana.
Sementara itu, di sekitarnya ada Ibu, Virna istrinya, kakak dan ipar perempuannya, yang semua menangis sesenggukan. Sementara petugas paramedis membersihkan tubuh bapaknya dari berbagai perlengkapan rumah sakit, Dono keluar dari kamar. Sejenak teringat masa lalunya yang telah berkali-kali menyakiti hati Bapak. Lantas terbayang pula bahwa tak bakal ada lagi hal apa pun yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya. Seketika itu tak mampu tertahan lagi rasa sesak di dadanya.
Sejenak Dono lupa pada janjinya sendiri. Air matanya tumpah sudah. Tak lama berselang datanglah Wima mendekatinya, yang memang tengah menuju ke rumah sakit ketika dikabari Dono bahwa bapaknya telah kritis.
“Sudahlah, Don. Kamu masih ingat janjimu kan?”
“Iya, di depan Bapak aku sudah bisa menahannya. Tapi setelah kepikiran macam-macam, aku jadi sedih, Ma. Apa pun yang kulakukan untuk menebus salahku pada Bapak, rasanya sama sekali belum cukup,” tutur Dono sendu sambil mengusap air matanya.
“Kamu tak perlu khawatir, Don. Tuhan tak pernah terlelap. Pasti malaikat-Nya sudah mencatat segala usahamu menebus dosa-dosamu pada bapakmu.”
“Amin, semoga saja benar apa yang kaukatakan.”
***
Keterangan :
-eman-eman = sayang (bahasa Jawa)
-remen = senang (bahasa Jawa krama inggil/halus)
#
Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos edisi Minggu, 30 Agustus 2009 dan merupakan karya pertamaku yang dimuat di koran.