Arsip untuk ‘Cerita’ Kategori

h1

Sebuah Minggu Petang di Alun-alun Utara

November 10, 2009

Tengah asyik menikmati alunan musik ’jazz on the street’ di halaman Jogja

Gallery, serta merta terdengar suara sedikit gaduh.

Kualihkan pandangan ke sebelah kanan, tampaklah sebuah becak terbalik

di seberang jalan. Sejumlah orang lantas bergerak

mendekati tempat kejadian, meminggirkan becak yang rusak dan barang-

barang yang tumpah. Si tukang becak yang sudah tua dipapah ke pinggir

jalan, lalu duduk terpaku. Setidaknya kepalanya pasti

pening. Para penumpang yang terdiri dari seorang bapak, seorang ibu,

dan satu anak perempuannya hanya sedikit mengalami luka.

Bapak penumpang itu orang yang sungguh baik. Dia mengeluarkan

selembar seratus ribu seraya berharap tukang becak baik-baik saja.

Terlihat ada luka menganga di telinga sebelah kirinya. Beberapa orang

memintanya segera ke rumah sakit dan sudah ada yang sudi

mengantarkannya. Tapi mungkin dia masih berpikir-pikir,

mesti membayar dengan apa ketika lukanya diobati oleh dokter

nanti. Ternyata di situ ada ’malaikat penolong’ berupa dua orang

asing : perempuan dan lelaki. Yang perempuan langsung menyerahkan

beberapa ratus ribu kepada pak tua yang terluka. Sementara di

tangan si lelaki asing ternyata ada bercak darahnya, mungkin

kecipratan luka pak tua ketika dia menolongnya. Tukang becak itu

pun berangkat ke rumah sakit sebagai penumpang becak rekannya

tanpa terlalu cemas lagi.

5 November 2009

(tentang minggu petang 1 November 2009)

h1

Alasan Sesungguhnya

Oktober 29, 2009

Hingga saat ini barangkali masih menjadi teka-teki, alasan apa sesungguhnya yang membuat ibu mantan presiden tak sudi hadir dalam pelantikan presiden di gedung wakil rakyat. Apa benar masih bersemayam dendam kesumat di hatinya terhadap penggantinya? Padahal sang suami yang dahulu setia senantiasa mendampinginya bahkan menjadi pemimpin sidang pelantikan.
Tanpa sepengetahuan banyak orang, lima tahun silam si ibu ternyata pernah berjanji, sekiranya dia gagal menjadi presiden lagi, maka selamanya dia tak bakal kembali menapakkan kakinya di istana presiden maupun gedung wakil rakyat. Sebagai seorang yang setia kepada janji, maka pantang baginya untuk melakukan hal yang tak sesuai dengan isi janji tersebut.

29 Oktober 2009

(sebuah fiksi mengenang peristiwa 20 Oktober 2009 dalam 100 kata)

h1

Dua Pekan Kemudian

Oktober 6, 2009

Tampil di acara berita kriminal televisi, menjadi orang yang kena gerebek aparat, sungguh ini sesuatu yang di luar bayangan Jojo sama sekali. Dadanya terasa sesak dan mungkin sudah sepucat air susu warna raut mukanya, saat sejumlah sorot lampu kamera televisi mengarah kepadanya, yang bersama para wanita serta beberapa pria lainnya digelandang ke atas truk, lantas dibawa ke kantor polisi. Entah apa kata keluarga dan teman-teman kuliahnya melihatnya begini. Padahal Jojo mahasiswa yang lumayan kondang karena kecerdasannya. Belum lagi kalau Netta, tunangannya yang tinggal berbeda kota dengannya juga melihat acara tersebut, meski yang dia tahu kekasihnya itu jarang sekali nonton televisi. Dia hanya bisa mengutuk diri sekeras-kerasnya dalam hati. Jika saja tabrakan dua pekan lalu tidak terjadi, pasti mustahil dia keluar dalam acara seperti itu. Barangkali mendingan tampil di televisi dikerjain Deddy Corbuzier atau Rommy Rafael, ketimbang jadi pesakitan yang sudah divonis bersalah sebagai pria bermoral bejat oleh publik seperti ini. Alternatif lainnya, jika pun dia ditangkap polisi, tapi sebagai tersangka kasus korupsi, mungkin Jojo santai dan tak semalu ini, karena para koruptor biasanya sudah kehilangan rasa malunya.

***

Berawal dari sebuah Jumat sore dua pekan lalu, Jojo mesti menjemput ibunya yang arisan di sebuah kompleks perumahan di pinggir kota. Menjelang mobilnya keluar dari jalan kompleks, tiba-tiba saja dari arah kanan sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Si pengendara motor mencoba menyetop laju kendaraannya, tapi telat. Motornya malah zigzag dan gubrak…. motor pun menghantam mobil Jojo, sementara si pengendara motor terlempar beberapa meter dari motornya. Jojo mencoba tetap tenang, meski tentu saja cemas sekali hatinya. Diparkirnya mobil ke pinggir jalan, sementara dari arah belakang ada beberapa orang berlarian dan mendobrak-dobrak mobilnya. Keluar dari mobil, Jojo langsung menghampiri si pengendara motor yang sudah dirubung orang-orang. Seorang polisi -dari pos jaga terdekat- mendatangi Jojo, lantas meminta SIM dan STNK-nya. Sesaat kemudian Jojo telah membawa si pengendara motor ke rumah sakit dengan pengawalan polisi tadi. Si polisi meminta Jojo datang ke pos jaga tempatnya bertugas malam harinya. Rencananya, keluarga si pengendara motor akan diundang pula untuk menyelesaikan masalah yang timbul akibat tabrakan itu. Malamnya Jojo mengajak Ridwan, kakak iparnya untuk menemaninya dan menjadi juru bicaranya dalam pertemuan dengan keluarga pengendara motor yang menabrak mobilnya. Pertemuan di pos jaga jadi terlaksana, keluarga pengendara motor diwakili Pak Jarno, pria berusia 50-an berkumis tebal berpenampilan sangar, dan seorang wanita cantik yang entah siapanya pria itu. Si wanita tampak akrab dengan beberapa polisi yang sedang berjaga, termasuk yang mengurus kasus tabrakan itu. Pihak Jojo meminta masing-masing pihak yang terlibat dalam tabrakan menanggung kerugiannya sendiri. Tapi mereka ingin Jojo membantu biaya rumah sakit si pengendara motor. Malam itu belum tercapai kesepakatan, karena mereka ingin tahu dulu kondisi terakhir si pengendara motor, setelah semalam menginap di rumah sakit. Malam berikutnya Jojo dan Ridwan kembali ke pos jaga, ternyata Pak Jarno dan polisi yang mengurus kasus tabrakan tak hadir. Malah mereka diminta datang ke sebuah salon oleh Pak Jarno yang menghubungi Ridwan via telepon.

***

Maka pada Minggu pagi, sekitar jam sepuluh Jojo dan Ridwan telah menyusuri sepanjang jalan tempat salon yang ditunjuk berada. Letaknya masih di seputar lokasi tabrakan. Mesti berputar-putar beberapa kali, hingga sejam kemudian baru ketemulah salon itu. Tidak terlalu terbuka, kesannya tempat itu sangat sempit dari luar. Ada beberapa wanita berpenampilan mencolok mata di ruang depan salon. Jojo dan Ridwan saling memandang sejenak, mereka bisa menduga tempat itu bukan salon biasa. Ternyata Pak Jarno tak ada di situ, yang ada wanita cantik berusia 30-an yang mendampinginya malam itu. Rupanya dialah sang pemilik salon. Ternyata wanita bernama April itu tidak tahu masalah sesungguhnya. Dia tahunya cuma dititipi Pak Jarno STNK dan SIM Jojo dengan kuitansi biaya perawatan rumah sakit saudaranya, yaitu si pengendara motor yang menabrak mobil Jojo. April menyerahkan kuitansi dari rumah sakit pada Ridwan. Dia lalu mencoba menghubungi Pak Jarno lewat ponselnya. Ketika terhubung, mereka berdua malah terdengar berdebat. Sementara itu Jojo dan Ridwan duduk saja menunggunya.

“Sambil nunggu kalo mau creambath boleh lho, Mas,” kata wanita yang mengenakan tanktop pink dengan rada mendesah pada mereka.

“Atau sama yang lain juga silakan,” bisik temannya yang tanktop-nya bermotif kembang-kembang sambil tertawa kecil. Mereka lagi digoda rupanya.

“Nggak Mbak, makasih,” sahut Jojo sambil menoleh pada Ridwan yang hanya tersenyum. Ketika April keluar dari dalam, matanya terlihat agak sembab. Sepertinya ada perdebatan serius yang telah terjadi antara dia dengan Pak Jarno. Sambil membuka laci, dikeluarkannya STNK dan SIM Jojo.

“Pak Jarno minta surat-suratnya Mas dikembalikan. Terus biaya rumah sakitnya gimana?” tanya April.

“Kami hanya bisa bantu separo biayanya saja, Mbak. Ini ya,” sahut Ridwan sambil menyerahkan uang di dalam amplop. STNK dan SIM Jojo balas diserahkan oleh April. Semua pihak telah sepakat, Jojo dan Ridwan pun beranjak pergi dari tempat itu.

***

Dua pekan kemudian Jojo kembali ke salon itu. Setelah merasa suntuk berat di kampus karena ada kuliah sampai sore, dia ingin mendapatkan sesuatu yang mampu menyegarkan dirinya kembali. Entah kenapa, tiba-tiba saja terpikir olehnya tempat yang pernah dikunjunginya bersama Ridwan tempo hari. Dia penasaran ingin mencoba pengalaman baru. Sampai di salon, Jojo dipersilakan duduk di sebuah kursi.

“Selain potong rambut dan creambath, di salon ini bisa apa saja?” tanya Jojo.

“Masih banyak lainnya, Mas. Tapi kalau mau lainnya, ntar ndak di sini lho, tapi di kamar itu. Kamu mau apa, Mas?” goda wanita yang melayaninya. Berdebar-debar hati Jojo. Dia minta dipotong rambutnya dan ingin mencoba lainnya sehabis itu. Sementara itu, di samping Jojo ada seorang pria yang sedang dipotong rambutnya. Sekejab dia menoleh, eh… pria itu balas menatapnya! Mereka berdua sama-sama terkejut dan merasa pernah bertemu.

“Lho, kamu? Kayaknya saya pernah lihat kamu!” seru pria itu sambil menunjuknya. Pria itu lalu berdiri menghampiri Jojo yang setengah bergidik dan takut, karena badannya besar juga. Ternyata dialah pengendara motor yang menabrak mobilnya dua pekan lalu.

“Kamu yang mobilnya saya tabrak kan?” lanjut pria itu.

“Eh, apa ya? Tabrakan apa ya, Mas?” tanya Jojo keder.

“Anu Mas, saya cuma mau minta maaf kok. Dasar saya yang ngawur naik motornya waktu itu. Saya juga mau bilang terima kasih, karena waktu itu langsung dibawa ke rumah sakit. Mas nggak minta diganti apa-apa, eh… malah bantuin biaya rumah sakit saya. Terus mobilmu gimana, udah dibetulin? Pasti mahal ya?” ujarnya.

“Sudah kok, Mas. Ya, mungkin sama dengan biaya rumah sakit Anda. Oya, Mas itu apanya Pak Jarno dan Mbak April sih?” tanya Jojo.

“Aku sebetulnya ya langganan salon Mbak April ini. Tapi kebetulan Pak Jarno itu sering minta tolong sama aku, jadi seperti sudah dianggap saudara.” Di sela-sela pembicaraan mereka, seorang pria keluar dari kamar. Ternyata dia dikenal oleh Jojo dan pria tadi.

“Lho, pak polisi? Anda juga sering ke sini to?” sapa Jojo.

“Eh, halo Mas. Iya, saya memang langganan di sini. Teman-teman saya juga kok. Sama dengan yang nabrak mobil Mas itu. Sudah damai beneran ini?” ujar si polisi. Tak lama kemudian polisi itu pergi meninggalkan mereka. Pria di samping Jojo lebih dulu masuk kamar. Lantas dia dan wanita yang melayaninya masuk pula ke salah satu kamar yang tersedia. Jojo sempat ragu untuk melakukan itu. Sejenak dia ingat Netta, tunangannya yang bekerja di Jakarta. Tapi segera dilupakannya wajah wanita cantik yang sangat dicintainya itu. Ada perasaan takut berdosa juga di dalam hatinya. Dia pikir, apa yang akan dilakukannya toh sekadar bersenang-senang, tanpa melibatkan perasaan apa pun. Jojo mencoba santai ketika menjamah tubuh molek wanita itu. Sedang mulai berasyik masyuk kedua insan, tiba-tiba terdengar suara gaduh sejumlah orang. Pintu kamar tempat Jojo berada pun digedor keras. Ternyata ada razia untuk tempat-tempat maksiat berkedok salon malam itu.

“Ayo keluar! Ini ada razia dari POLDA!” seru seorang petugas. Jojo dan wanita itu segera keluar dari kamar dengan muka pucat. Yang terjadi selanjutnya adalah apa yang menjadi awal cerita ini.

***

Untunglah, malam itu Jojo tidak perlu menginap di kantor polisi. Dia hanya sempat diinterogasi untuk dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan. Ada kemungkinan dia akan diajukan ke pengadilan dan mendapat dakwaan melakukan tindak pidana ringan, yaitu melanggar pasal kesusilaan. Ridwan yang menjemputnya dari kantor polisi.

“Kamu sudah siap kalau mesti diadili? Mungkin hukumannya cuma denda kok,” ujar Ridwan.

“Iya, kalau itu aku siap, Mas. Denda sih nggak berat buatku, tapi malunya itu lho. Mas Ridwan tahu kan, tadi pas digerebek ada banyak kamera? Pasti tampangku bakal nongol di berita kriminal! Tapi ada yang bikin aku heran banget. Di salon itu kan ada polisi yang jadi pelanggan setia, dan pemilik salon itu juga dekat sama mereka, tapi kok bisa kena razia juga ya?” tanya Jojo retorik, karena Ridwan mustahil tahu jawabannya. Ternyata hal itu tak lepas dari renggangnya hubungan April dengan Pak Jarno kekasihnya. Selama ini keberadaan Pak Jarno membuat salon plus itu lolos dari razia karena hubungan baiknya dengan polisi setempat. Ketika petugas POLDA akan melakukan penggerebekan, ada seorang polisi kenalan Pak Jarno yang sempat mengabarinya. Karena dia masih marahan dengan kekasih gelapnya, maka justru dipersilakannya polisi menggerebek tempat yang sempat sering dikunjunginya itu. Dasar sial nasib Jojo, yang baru pertama kalinya menjadi konsumen dan akan menjalani sebuah pengalaman sensasional dalam hidupnya, kena dia ikut digerebek. Lebih sial lagi karena Netta ternyata mendapat info dari orang tuanya yang melihat Jojo tampil dalam acara berita kriminal. Tak ayal lagi wanita itu langsung meminta pertunangan mereka dibatalkan dan pupuslah asa Jojo menikahi kekasihnya.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos Minggu, 4 Oktober 2009

h1

Mencari Istri Keempat

September 10, 2009

Semua orang memanggilnya Pak Mus. Konon nama panjangnya adalah Mustajab bin Mujarab. Mungkin ia keturunan tukang obat atau dukun, sehingga namanya seperti itu. Tiada orang yang tahu persis berapa usianya sebenarnya, mungkin sekitar tujuh puluh tahun. Entah mengapa ia selalu merahasiakannya, padahal untuk orang seusianya, Pak Mus masih terbilang gagah. Belum lama sejak istri ketiganya meninggal, Pak Mus sudah sibuk berburu wanita lagi. Orang tua satu ini memang tipe pria yang tak bisa hidup tanpa wanita. Meski usianya tak lagi muda, meski anak cucunya sudah seabrek banyaknya, tapi untuk menikmati kesenangan duniawi, hasratnya masih sangat besar. Maka langsung saja lirik kiri kanan, tanya ke sana kemari, ada tidak kiranya wanita yang mau dijadikan istrinya.

“Pokoknya yang penting usianya di bawah 50 tahun, gadis atau janda ndak masalah buatku,” tegas Pak Mus.

Gaya sekali, maunya punya istri baru yang jauh lebih muda ketimbang dirinya.

Sebulan setelah menduda, Pak Mus kerap berkunjung ke sebuah tempat hiburan terkemuka di kotanya, menyaksikan pertunjukan musik dangdut yang menyajikan penyanyi-penyanyi muda yang cantik lagi seksi. Pak Mus selalu mengajak Pak Andre sahabatnya. Setelah beberapa episode menyaksikan hal-hal yang menyegarkan di tempat tersebut, ada dua penyanyi yang membuat Pak Mus bernafsu. Meski sudah ingin menuntaskan hasrat birahinya lagi, tapi ia paling tak mau melakukannya di luar nikah.

“Aku tahu diri, aku itu sudah tua. Kalau bisa menghindari dosa, ya mending kuhindari. Pokoknya kalau aku mau begituan lagi, ya mesti sama istriku. Jadi aku mesti nikah lagi dulu, baru ehem-ehem. Heheheh…” sahut Pak Mus terkekeh, ketika Pak Andre menawarinya untuk menyewa saja wanita yang siap menjadi pemuas hasrat pria.

“Lebih baik orang tahu aku menikah lagi. Aku malah bangga, orang pasti akan memuji kehebatanku, lha wong sudah tua gini kok masih laku juga,” lanjutnya.

Pak Andre tersenyum simpul mendengar seloroh sahabat tuanya itu. Dalam hatinya ia memuji sekaligus bersumpah serapah terhadap sahabatnya itu,

“Sialan Pak Mus, memang hebat kamu kalau sampai bisa menikah lagi, padahal usiamu sudah uzur, ganteng juga tidak kamu itu!”

Untuk menindaklanjuti ketertarikannya, pada suatu malam saat jeda pertunjukan, Pak Mus meminta tolong pengelola orkes supaya ia bisa dipertemukan dengan dua penyanyi yang telah menggoda imannya. Pengelola orkes membawa kedua penyanyinya ke kafe tempat Pak Mus biasa menyaksikan pertunjukan. Salah satu penyanyi itu mendekati meja tempat Pak Mus dan Pak Andre duduk. Seorang wanita berusia 20-an yang berwajah ayu, berambut sebahu, berkulit sawo matang, tubuhnya yang sintal terbalut baju ketat, membuat kedua pria itu menelan ludah menatapnya.

Pak Andre pun membuka pembicaraan,

“Selamat malam, Mbak Elsa. Nama saya Andre dan ini teman saya, namanya Pak Mus. Beliau ini penggemar Mbak Elsa dan ingin kenal lebih dekat. Tentu saja kalau Mbak tidak keberatan, lho.”

Penyanyi bernama panggung Elsa Rodrigo itu pun mengulurkan tangannya.

“Selamat malam juga, Pak. Saya senang bisa ketemu dengan penggemar saya seperti Bapak. Tapi kenal lebih dekat itu piye maksudnya?” tanya Elsa dengan logat Jawanya yang medok sambil mengernyitkan dahi.

Pak Mus pun angkat bicara, “Langsung saja ya jeng Elsa, saya ini sudah jatuh cinta pada sampeyan…”

Tanpa tedeng aling-aling Pak Mus spontan mengungkapkan perasaannya. Elsa terhenyak mendengarnya dan langsung memotong kata-kata pak tua itu,

“Nuwun sewu ya, Pak. Saya ini sudah menikah dan punya anak. Saya jelas akan menolak mentah-mentah kalau Bapak mau menjadikan saya sebagai istri. Sebagai istri resmi pun saya emoh, apalagi kalau saya jadi istri simpanan!”

Elsa yang selalu kemayu di atas panggung itu sekejab berubah menjadi wanita yang garang, nada bicaranya tegas dan agak tinggi.

“Begini-begini saya ini setia lho, Pak!” lanjut Elsa setengah berteriak.

Untuk menetralisasi suasana, Pak Andre pun kembali menjalankan perannya sebagai moderator pertemuan,

“Waduh, maaf sekali ya Mbak Elsa. Kami tidak tahu kalau Anda sudah berkeluarga. Mohon maafkan kesalahan teman saya yang sudah kesusu mengungkapkan perasaannya ini.”

Elsa pun segera bangkit dari kursinya, sementara Pak Mus terlihat salah tingkah. Ia tak mengira bahwa salah satu penyanyi favoritnya itu bisa bersikap sedemikian rupa. Pengelola orkes tampaknya melihat gelagat yang kurang baik. Ia pun menghampiri Pak Mus sambil mengajak Helda Angela, penyanyi lain kesukaan Pak Mus.

“Saya mohon maaf kalau penyanyi saya tadi tak sopan kepada bapak-bapak. Kalau saya tahu Bapak itu jatuh cinta sama Elsa, saya bisa kasih tahu dulu bahwa dia itu sudah berkeluarga. Jadi, yang seperti tadi tak akan terjadi. Nah, ini Helda minta saya menemaninya menghadap bapak-bapak. Helda ini baru kelas 2 SMA, Pak. Jadi terus terang saja belum kepikiran kalau harus segera jadi manten. Mungkin itu yang bisa saya katakan pada Anda berdua,” jelas pengelola orkes. Sejak peristiwa itu, Pak Mus tak pernah datang lagi ke tempat hiburan tersebut.

***

Pak Mus pernah tiga kali menikah. Pernikahan pertama menghasilkan dua anak perempuan. Dengan dalih ingin memiliki anak lelaki dan karena memang ia telah kembali jatuh cinta, Pak Mus berniat menikah lagi. Maksud hatinya mau berpoligami, tapi apa daya sang istri pertama tak mau dimadu. Akhirnya mereka pun bercerai dan Pak Mus pun menikah lagi tak lama setelahnya. Pernikahan keduanya adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Anak laki-laki yang didambakannya, akhirnya dimilikinya jua. Setelah lebih 30 tahun menikah untuk kedua kalinya, Pak Mus mesti kehilangan istri tercintanya yang meninggal karena sakit. Tapi dalam waktu kurang dari setahun kemudian, ia sudah menikah lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini dinikahinya seorang janda beranak dua. Namun tak lebih dari empat tahun saja usia pernikahan ketiga Pak Mus, istrinya lagi-lagi pergi mendahuluinya menghadap Ilahi.

***

Pada sebuah Minggu pagi Pak Mus menghadiri pernikahan anak salah satu temannya. Ternyata ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wajahnya tak terlalu ayu, tapi penampilannya cukup mengkilap dengan gaun yang memperlihatkan lengan dan betisnya yang mulus. Pak Mus berpikir untuk melakukan pendekatan dan saat makan adalah saat yang paling tepat. Kebetulan sekali, kursi di samping wanita itu kosong. Pak Mus pun bergegas mendudukinya.

Sembari menyantap makanannya, ia membuka pembicaraan,

“Anda hubungannya apa dengan yang jadi manten? Kalau saya teman bapaknya manten perempuan.” Pak Mus lebih berhati-hati dan tak mau terburu-buru mengungkapkan rasa sukanya.

“Saya sepupu jauhnya manten perempuan,” jawab si wanita singkat.

Perbincangan Pak Mus dan kenalan barunya pun berlangsung asyik. Wanita bernama Intan itu tinggal sendiri di Jogja, sementara keluarganya tinggal di Palu. Ia baru saja lulus dari sebuah universitas dan sedang mencari pekerjaan. Pak Mus menyodorkan kartu namanya, sembari menawarkan pekerjaan di kantornya.

“Kantor saya itu administrasinya sedang kacau. Nah, mumpung sekarang kamu lagi cari kerja, kamu datang saja besok ke tempat saya. Ndak usah pake tes, kamu bisa langsung kerja.”

Gayung pun bersambut, Intan setuju dengan tawaran itu. Ia yakin Pak Mus orang baik, setidaknya ia tahu bahwa pak tua itu adalah teman pamannya.

Esoknya Intan datang ke kantor Pak Mus dan langsung bekerja. Ia senang bisa bekerja sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya saat kuliah. Pak Mus malah lebih senang bisa bertemu dengan orang yang disukainya dan bercengkrama lebih lama lagi. Untuk merebut hati Intan, ia mengajak gadis itu makan siang di restoran. Hal itu hampir dilakukannya tiap hari.

Dua minggu kemudian, Pak Mus merasa sudah saatnya ia mengungkapkan perasaannya. Ia pun mengajak Intan ke sebuah restoran masakan Cina. Setelah mereka berdua menghabiskan hidangan, Pak Mus mulai serius bicaranya.

“Kamu kan pernah cerita soal tipe laki-laki yang jadi idaman kamu. Nah, misalnya ndak ketemu-ketemu terus piye, Nduk?” tanya Pak Mus.

“Ya, kalo nggak ketemu juga ya nggak apa-apa. Semoga saja dia nggak jauh dari tipe idaman saya,” sahut Intan, seolah menjawab pertanyaan seorang ayah.

“Gini lho, Bapak ini kan duda. Meski sudah tua, Bapak masih pengen nikah lagi. Yah, mungkin karena selama ini selalu ada istri yang melayani dan mendampingi Bapak tiap hari. Jadi rasanya ada bagian hidup Bapak yang hilang ketika istri Bapak ndak ada.”

“Lalu kersanipun Bapak apa?”

“Kamu mau ndak jadi istri Bapak?” bisik Pak Mus sambil memajukan kepalanya.

Intan begitu kaget, tak dikiranya sama sekali ada kata-kata tersebut siang hari itu. Gadis itu hanya diam, bingung, dan matanya berkaca-kaca. Wajahnya tertunduk sejenak, sambil mengatur nafasnya, ia mendongakkan kepalanya.

Dengan agak terbata Intan mencoba menjawab,

“Maaf, terus terang saya kaget sekali Bapak berkata seperti itu pada saya. Sebelumnya sama sekali nggak kepikiran, saya diterima kerja karena ada maksud tertentu dari Bapak. Mungkin saya terlalu lugu, makanya saya nggak tahu. Saya jelas nggak bisa menerima permintaan Bapak. Saya belum siap menikah sekarang! Dan saya ingin nanti menikah dengan orang yang benar-benar saya cintai.”

Intan mencoba berhati-hati menata rangkaian kata yang keluar dari mulutnya. Ia tak ingin melukai hati orang tua itu. Ia sadar Pak Mus sudah berbaik hati kepadanya, meski tentu saja tiada rasa cinta Intan sedikit pun kepadanya. Pak Mus hanya manggut-manggut sambil bertopang dagu. “Yo wis, ndak apa-apa. Sebetulnya Bapak sudah ngira kamu bakal ndak mau. Kamu malu to kalo jadi istri Bapak? Ya wajarlah, mungkin bapakmu saja umurnya lebih muda dari Bapak. Tapi kamu masih mau kerja di tempat Bapak, to?”

“Maaf, dengan peristiwa barusan, saya memutuskan untuk keluar sekarang juga. Terima kasih, Bapak sudah memberi saya pekerjaan, walau cuma sebentar. Semoga Bapak segera mendapat istri lagi. Permisi Pak, saya pergi,” tutup Intan yang lantas bangkit dari kursi, lalu beranjak pergi, meninggalkan Pak Mus yang kecewa lagi.

***

Keterangan untuk beberapa kata dalam bahasa Jawa :

- mending = lebih baik

- wong = orang

- piye = bagaimana

- medok = kental (khusus untuk logat)

- sampeyan = anda

- tedeng aling-aling = basa-basi

- nuwun sewu = mohon maaf

- emoh = enggan

- kemayu = genit

- kesusu = tergesa-gesa

- nduk/genduk = panggilan sayang untuk anak perempuan

- kersanipun = kehendaknya, maunya

- yo wis = ya sudah

# Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos Minggu, 6 September 2009.

h1

Janji Dono

September 3, 2009
“Sekiranya pada saatnya nanti bapakku tiada, aku janji tak akan meneteskan air mata. Aku bakal sudah puas karena telah kutebus dosa-dosa dan salahku pada Bapak,” ucap Dono pada Wima sahabatnya.

“Kamu mesti bersyukur masih diberi waktu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan pada bapakmu.”

“Iya, kamu betul, Ma. Aku beruntung masih bisa melakukannya.”

Dono menerawang hubungan masa silamnya dengan bapaknya. Entah berapa kali saja, tak terhitung banyaknya saking kerapnya, ia melawan perintah bapaknya. Bahkan pernah juga ia menantang berkelahi bapaknya, kendati ia dalam kondisi mabuk berat saat itu. Sekiranya pernah sekali saja bapaknya meladeni dirinya, mungkin ia sudah mati di tangan bapaknya atau masih tinggal di penjara karena membunuh bapaknya.

Untunglah, masih begitu sabar bapak maupun ibunya menghadapi kenakalannya yang terlalu selama ini. Wima tahu persis sejarah kelam Dono yang merupakan tetangga sekaligus teman karib sejak masa kecilnya. Sejak dahulu Wima sering menasihati Dono untuk mengubah kelakuannya, tapi tak kunjung berhasil. Dono akhirnya mulai sadar menjelang ia menikah hingga memiliki seorang anak, sementara bapaknya mulai sakit-sakitan.

Untuk menyenangkan hati bapaknya, Dono mengajak Wima membelikan seekor perkutut yang mahal harganya. Bagi Dono tiada yang lebih berharga baginya selain membuat bapaknya bahagia. Ia sadar sepenuhnya bahwa kedua orang tuanya sudah kenyang makan hati menghadapi kegilaan masa lalunya.

“Aku dapat informasi, ada perkutut bagus di beberapa tempat. Kamu mau kan mengantarku ke mana saja?” tanya Dono.

“Demi temanku yang mau berbakti pada bapaknya, tentu aku tidak keberatan. Ya, asal waktuku senggang saja,” sahut Wima yang disambut senyuman Dono yang merasa lega.

Mereka berdua memburu perkutut itu ke beberapa alamat yang dimiliki Dono sekaligus. Nyaris seharian Dono dan Wima menempuh puluhan kilometer, namun tak kunjung dapat apa yang menjadi harapan Dono. Akhirnya ia justru mendapatkan yang terbaik dengan harga yang cukup mahal, justru di sebuah tempat yang letaknya hanya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.

“Don, jangan kecewa kita mendapatkannya justru di sini, padahal kita sudah sampai ke mana-mana tadi,” ujar Wima yang melihat Dono sempat sewot.

“Ya, aku tahu. Kuanggap ini seperti liku-liku mendapatkan jodoh saja kok. Lagipula, yang terpenting aku bisa membuat senang Bapak lagi. Oh ya, jika saja bapakku menanyaimu berapa harga perkutut ini, tolong jangan sebut harga sebenarnya ya… Bapak mungkin tak akan marah, tapi beliau pasti eman-eman jika tahu harga sebenarnya semahal itu,” kata Dono yang kian bijaksana dalam bersikap. Wima menyanggupi keinginan sahabatnya dan merasa bangga melihat perubahan sikap Dono.

Sudah malam ketika sampai di rumah, Wima langsung menuntun bapaknya dari dalam kamar, menuju ke depan dan melihat perkutut yang baru saja dibelinya.

“Pokoknya Bapak pasti bakal remen mendengar suara perkutut ini. Karena inilah yang terbaik dari yang kami temui sehari ini, Pak,” ucap Dono pada bapaknya.

“Wah, sampai seharian kamu pergi baru dapat ini. Pasti harganya mahal banget ya? Apa ndak eman-eman ini kamu buat nyenengin Bapak?”

“Bapak tak usah khawatir soal harganya. Harganya standar kok, Pak. Bapak boleh tanya ke Wima, dia kan ahlinya masalah perburungan,” sahut Dono sambil meminta persetujuan Wima yang mengangguk mengiyakan.

Dono menjentikkan dua jari tangannya hingga sang perkutut manggung. Memang suaranya merdu dan Bapak tampak senang mendengarkannya. Dono merasa lega dan bangga dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang yang sering disakitinya di masa silam itu. Sejenak matanya sempat berkaca-kaca.

Di balik jendela, ibu Dono melihat anak dan suaminya dengan meneteskan air mata. Rasanya sama sekali tidak sia-sia kesabarannya menghadapi Dono selama bertahun-tahun dahulu. Ia begitu bersyukur bahwa anak lelakinya itu akhirnya bisa juga berubah.

***

Dalam masa kegilaannya Dono pernah menjadi pemabuk, pencandu dan pengedar narkoba, penjudi, suka pula main perempuan. Barangkali hampir semua bentuk penyakit masyarakat pernah dilakukannya. Pernah suatu ketika ia nyaris saja tertangkap polisi sebagai seorang pengedar narkoba. Namun ia bisa lolos karena upaya bapaknya untuk melindunginya berhasil. Polisi gagal menemukan barang bukti miliknya di rumah dan dalam tes urine pun hasilnya negatif.

“Bahkan bapakku rela melanggar hukum demi melindungiku dulu. Jika aku sempat masuk penjara, bisa saja aku malah jadi residivis dan entah bagaimana nasibku kini,” kenang Dono.

“Bisa saja kamu sudah mati ditembak polisi,” canda Wima yang disambut senyum Dono.

Dono memutuskan berhenti menjadi pengedar narkoba setelah nyaris ditangkap polisi. Tapi ia baru berhenti mengonsumsi narkoba menjelang ia menikah. Suatu ketika seseorang mengajaknya ke lembaga pemasyarakatan di kotanya. Ternyata begitu banyak orang-orang yang dikenal Dono di dalam penjara. Ia sungguh tak ingin senasib dengan teman-temannya.

“Aku harus berhenti secepatnya, Ma. Apalagi sebentar lagi aku mau menikah,” tekad Dono di depan Wima.

“Memang yang paling penting niat dan tekadmu sendiri. Syukurlah jika kamu sudah menyadarinya sekarang,” kata Wima yang sebenarnya sejak lama telah meminta sahabatnya berhenti menjadi pencandu narkoba.

Dengan dibantu kedua orang tuanya, Wima, dan juga calon istrinya, Dono berjuang keras menghentikan kebiasaan buruknya selama ini. Akhirnya lepas juga ia dari jeratan narkoba. Lantas, sejak menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Dono kian berubah menjadi sosok yang berbeda. Virna, perempuan yang dinikahinya menjadi salah satu sosok penting terjadinya perubahan dalam hidupnya.

Dono berjanji untuk memperbaiki segenap kesalahannya pada kedua orang tuanya, terutama kepada bapaknya. Kendati begitu sering menyusahkan, Dono tidak berani melawan ibunya, senekad ia bersikap buruk pada bapaknya.

“Semoga saja anakku nanti tidak mengikuti jejakku yang demikian kelam di masa lalu,” harap Dono di depan Virna.

“Ya, itulah tantangan kita sebagai orang tua Erry, Mas. Memang tak bakal mudah membesarkan anak kita supaya jadi anak yang baik. Apalagi kita tahu bagaimana sikapmu di masa lalu terhadap bapak dan ibumu. Mas Dono masih ingat kalimat bijak di buku itu kan?” ujar Virna.

“Ya, aku selalu mengingatnya, Jeng. ‘Ketika seseorang telah mencapai usia yang menjadikannya sadar akan kebenaran nasihat-nasihat bapaknya, ketika itu juga ia telah memiliki anak yang tidak menerima nasihat-nasihatnya.’ Kuharap itu tak terjadi padaku dan Erry.” Virna mengamini apa kata suaminya.

Kalimat bijak yang Dono temukan dalam buku milik Virna itu menjadi salah satu hal yang memotivasi dirinya untuk terus berubah. Dono menangis sesenggukan ketika bapaknya pertama kali masuk rumah sakit terkena stroke.

Ia merasa bersalah dan berperan besar membuat bapaknya bernasib seperti itu. Sejak saat itulah ia berjanji untuk senantiasa membuat Bapak merasakan kebahagiaan, sesuatu yang tak pernah mampu diberikannya dalam kurun waktu sekian tahun masa kelamnya. Ternyata niat baiknya mendapatkan jalan yang lapang dari Ilahi. Sejak keinsyafannya, Dono berkali-kali membuat kedua orang tuanya menangis terharu karena bahagia dan bangga pada perubahan anak mereka.

***

Untuk ketiga kalinya bapak Dono mengalami stroke dan harus dibawa ke rumah sakit. Namun kali ini nyawanya tak mampu diselamatkan. Dono mesti merelakan kepergian selamanya seseorang yang di sisa hidupnya ingin selalu dibuatnya bersukacita. Di depan matanya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Dono berusaha sungguh agar air matanya tak sampai tumpah. Dadanya terasa begitu sesak menahannya.

Namun Dono ingin bersikap ksatria, menepati janjinya untuk tak meneteskan air mata ketika jatah hidup bapaknya telah berakhir di dunia fana.

Sementara itu, di sekitarnya ada Ibu, Virna istrinya, kakak dan ipar perempuannya, yang semua menangis sesenggukan. Sementara petugas paramedis membersihkan tubuh bapaknya dari berbagai perlengkapan rumah sakit, Dono keluar dari kamar. Sejenak teringat masa lalunya yang telah berkali-kali menyakiti hati Bapak. Lantas terbayang pula bahwa tak bakal ada lagi hal apa pun yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya. Seketika itu tak mampu tertahan lagi rasa sesak di dadanya.

Sejenak Dono lupa pada janjinya sendiri. Air matanya tumpah sudah. Tak lama berselang datanglah Wima mendekatinya, yang memang tengah menuju ke rumah sakit ketika dikabari Dono bahwa bapaknya telah kritis.

“Sudahlah, Don. Kamu masih ingat janjimu kan?”

“Iya, di depan Bapak aku sudah bisa menahannya. Tapi setelah kepikiran macam-macam, aku jadi sedih, Ma. Apa pun yang kulakukan untuk menebus salahku pada Bapak, rasanya sama sekali belum cukup,” tutur Dono sendu sambil mengusap air matanya.

“Kamu tak perlu khawatir, Don. Tuhan tak pernah terlelap. Pasti malaikat-Nya sudah mencatat segala usahamu menebus dosa-dosamu pada bapakmu.”

“Amin, semoga saja benar apa yang kaukatakan.”

***

Keterangan :
-eman-eman = sayang (bahasa Jawa)
-remen = senang (bahasa Jawa krama inggil/halus)

#
Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos edisi Minggu, 30 Agustus 2009 dan merupakan karya pertamaku yang dimuat di koran.

h1

Kejutan dari Papa

Juli 27, 2009

Aku ingat bahwa dulu kami sempat punya rumah yang besar dan mobil yang cukup untuk membawa pergi kami sekeluarga. Ketika itu kami masih tinggal di Jakarta. Namun sejujurnya aku nggak terlalu ngerti, kenapa lantas kami mesti pergi dari rumah itu dan mobil itu pun jadi bukan milik kami lagi. Sejak itu kami pindah ke kota ini dan tinggal bersama orang tua Papa hingga sekarang, telah delapan tahun berselang. Hanya nenekku yang masih tersisa bersama kami, sementara kakekku telah wafat beberapa tahun silam. Aku cuma ingat kata Mama, karena Papa dipecat dari kantornya, maka kami mesti pindah rumah. Jelas aku masih terlalu kecil untuk memahami apa sejatinya masalah keluarga kami saat itu. Yang jelas, setelah tinggal bersama Nenek, aku sudah menyelesaikan SD-ku dan sebentar lagi SMP-ku. Dalam sekian bulan ke depan aku bakal jadi anak SMA, masa sekolah yang kata banyak orang adalah masa-masa paling indah. Entahlah, apakah bagiku juga akan seperti itu pula adanya nanti?
***

Selama delapan tahun ini Papa jarang tinggal bersama kami berlima, yaitu : Mama, Mas Andre, Mbak Bertha, aku, dan juga Nenek. Dia senantiasa bekerja di Jakarta atau di kota lainnya. Mungkin di kota ini memang nggak ada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Bisa jadi rezeki buat Papa memang adanya selalu jauh di luar kota untuk mendapatkannya. Ya, nggak apa-apa sih. Yang penting kebutuhan hidup keluarga kami selalu tercukupi. Barangkali itulah yang paling penting dilakukan oleh Papa sebagai kepala keluarga. Tapi dalam beberapa pekan terakhir Papa lebih sering berada di rumah. Padahal biasanya minimal sebulan sekali dia pulang. Bahkan pernah pula ada saatnya sesudah hampir empat bulan, baru dia kembali menemui kami.
“Char, kamu doakan ya, supaya Papa lekas punya pekerjaan lagi,” ucap Papa setelah kutanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum. Ah, ternyata Papa sedang jadi pengangguran lagi. Tapi untunglah, ada Mama yang pintar masak dan masih bisa mendapatkan penghasilan dari kue-kue buatannya yang dijual di sekolah-sekolah, termasuk di SMP-ku. Sebenarnya aku suka Papa tinggal lebih lama bersama kami, tapi jika hal itu terjadi karena dia nggak punya gawean, gimana aku bisa senang?
***

Kemudian ada sebuah hari yang kayaknya nggak bakal kulupakan seumur hidupku. Papa memberikan sebuah kejutan yang sama sekali nggak pernah kebayang di anganku. Saat itu Papa sedang keluar rumah, katanya dia akan mengirimkan sebuah lamaran pekerjaan lagi melalui internet di warnet dekat rumah kami. Kulihat ponsel Papa ketinggalan di meja ruang depan. Entahlah, serta merta seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk melihat apa yang tersimpan di dalam ponsel tersebut. Sebelumnya aku nggak pernah melakukannya karena ponsel itu nggak pernah lepas dari tangan Papa.
Semula asyik saja kupencet tombol-tombol ponsel serta menemukan fitur-fitur menarik yang dimilikinya. Mungkin jika nanti Papa sudah bekerja lagi, aku mau minta dibelikan ponsel yang seapik punya Papa ini. Begitulah yang sempat jadi niatku dengan keceriaan. Namun aku nggak ngerti mesti berpikir apa ketika melihat foto sebuah keluarga yang nggak kukenal, dan … ada Papa di antara mereka! Wajah Papa terlihat bahagia di antara keluarga itu. Dia memeluk erat seorang perempuan yang berdiri di sampingnya, sementara ada sepasang bocah lelaki dan perempuan di bawah mereka. Siapakah mereka yang bersama Papa sebenarnya? Apakah mungkin Papa memiliki istri dan anak-anak selain Mama bersama kami di sini? Kenapa selama ini aku nggak pernah tahu?
Dadaku tiba-tiba terasa sesak, nafasku terengah-engah, mataku tiba-tiba terasa perih, lalu sepertinya ada air yang ingin segera menetes. Rasanya jadi nggak karuan banget : kaget, sedih, marah, benci, dan entah apa lagi. Kurebahkan diriku di kursi coba menenangkan diri. Aku nggak mau memikirkan apa-apa dulu, padahal sejatinya ada begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba hadir di benakku. Tentu saja dalam hatiku pun sangat hebat bergejolak.
Hanya ada aku dan Mama di rumah ketika itu terjadi. Nenek dan Mbak Bertha sedang keluar kota, sedangkan Mas Andre masih menjalani KKN-nya di desa. Barangkali aku mesti bertanya pada Mama, supaya rasa penasaranku nggak terlalu menyiksa lagi. Aku beranjak menuju ke dapur setelah kuminum air dingin dan kulihat Mama sedang sibuk menyiapkan kue yang akan dijual esok pagi.
“Ma, aku pengen tahu sesuatu,” ujarku pendek.
“Ya, kamu mau nanya apa, Nak?” sahut Mama sambil tangannya sibuk mengurus proses pembuatan kue. Aku diam sejenak. Sempat terpikir, apakah layak kutanyakan hal itu pada Mama? Apakah Mama tahu sesuatu yang aku sama sekali nggak tahu selama ini? Aku pun larut sekejab dalam kebimbangan.
“Charles, apa yang ingin kamu tahu dari Mama?” kata Mama menghentikan lamunanku.
“Ma, apa betul … Papa punya istri dan anak … selain kita di sini?” tanyaku lirih dan terbata-bata. Mama menghentikan kesibukannya, lalu malah menatapku dengan iba. Kutundukkan wajah,  aku enggan Mama melihat wajah maupun mataku yang memerah.
“Kamu tahu dari mana?”
Kuangkat ponsel Papa yang kupegangi dari tadi dengan tetap menunduk. Kudengar Mama menghela nafas dan nggak lama malah kudengar suara Mama terisak. Kupandang wajah Mama yang lantas berucap,
“Akhirnya kamu tahu juga, Nak. Itulah kenyataan pahit tentang Papamu.”
Aku berdiri terpaku, Mama pun begitu. Akhirnya kubilang pada Mama,
“Ma, aku pengen pergi dulu. Aku nanti tidur di tempat Dimas aja.”
“Nak, kamu yang sabar ya? Kalau di tempat Dimas kamu bisa lebih tenang, Mama ngasih kamu nggak tidur di rumah malam ini. Tapi besok pulang ya? Nenek dan Mbak Bertha kan besok rencananya sudah sampai di rumah lagi.”
Aku mengangguk pelan. Kuhampiri Mama, lalu kucium tangan dan pipinya. Kuserahkan pula ponsel milik Papa. Aku pun segera melangkahkan kaki keluar rumah dan pergi ke rumah Dimas. Aku nggak ngomong kepadanya bahwa aku lagi punya masalah besar di rumah. Cuma kubilang pengen main aja. Kusambut ajakan Dimas bermain game dan kulupakan sementara waktu kejutan dari Papa itu. Aku cuma bersenang-senang bersama sahabatku itu selama di rumahnya.
Menjelang tidur aku melamun. Dimas sudah tidur lelap di sebelahku. Aku betul-betul nggak bisa memahami apa yang sudah dilakukan oleh Papa. Kenapa dia begitu tega menyakiti hati Mama dan anak-anaknya? Apalagi aku yang sering dibilang paling dekat dengan Papa dan kebetulan wajahku memang paling mirip dengannya. Apakah pernah dia berpikir, gimana perasaanku jika tahu dia punya keluarga selain kami? Aku juga nggak ngerti, kenapa semua orang seolah merahasiakan kenyataan itu? Mama jelas sudah tahu. Mungkin Nenek maupun kedua kakakku pun tahu rahasia Papa tersebut. Aku ingin penjelasan dari semua orang di rumah, terutama dari Papa. Aku penasaran, mau bilang apa dia, setelah kini sudah kutahu satu rahasia hidupnya yang selama ini pasti rapat-rapat disimpannya. Yang jelas aku begitu kecewa pada orang yang selama ini sungguh kuhormati dan kusayangi itu.
***

Pagi harinya aku berangkat sekolah dari rumah Dimas. Aku sempat kembali ke rumah Dimas dan berkumpul bersama sejumlah temanku di sana. Ketika aku pulang ke rumah sorenya, sudah ada Nenek dan Mbak Bertha. Tapi Papa ternyata telah pergi.
“Nak, Papamu minta tolong dipamitkan. Tadi pagi dia sudah berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan wawancara kerja besok pagi. Papamu minta maaf sudah mengecewakanmu,“ ujar Mama. Aku jadi sedikit merasa lega mendengar berita dari Mama. Rasanya aku nggak mau ketemu Papa dulu setelah kejutan yang kuperoleh darinya. Aku belum lama berada di dalam kamar saat Mbak Bertha mendatangiku.
“Char, Mama udah cerita apa yang terjadi semalam,” katanya padaku.
Aku menoleh sebentar pada kakakku, kemudian pura-pura kusibukkan diri dengan mengeluarkan buku-buku dari tasku. Terus terang aku orangnya nggak biasa curhat, lagi pula selama ini juga nggak pernah ada masalah yang kurasa berat selama hidupku. Aku paham Mbak Bertha mungkin mencoba bersimpati kepadaku. Tapi aku lebih suka diam saja.
“Percayalah, aku juga kecewa banget pas pertama kali tahu rahasia Papa itu. Tapi kebenaran pasti akan terungkap juga, walaupun rapat kami menutupinya darimu. Selama ini kami cuma nggak mau kamu sedih dan kecewa pada Papa, Dik. Biarlah Mama dan anak-anaknya yang udah dewasa aja yang merasakannya,” suara Mbak Bertha berubah seiring air matanya yang menetes. Aku jadi sedih lagi. Mbak Bertha mendekati tubuhku dan memelukku. Kubiarkan diriku menangis tersedu di pelukan kakakku. Aku sadar, aku nggak sendiri merasakan kekecewaan yang dalam ini.
***

Belakangan baru kutahu kenapa kami dulu mesti pindah dari Jakarta. Mama dan Mbak Bertha yang bilang. Ternyata Papa dipecat dari kantornya karena ketahuan telah melakukan manipulasi data perusahaan. Dan satu kejutan lagi dari Papa, dia juga dilaporkan beberapa teman kerjanya yang perempuan, telah melakukan pelecehan seksual pada mereka. Sungguh tepat jika Papa lantas dipecat, lantas mobil kami (yang ternyata mobil dinas dari kantornya) pun diminta kembali. Karena tingginya biaya hidup di ibukota dan sementara itu Papa nganggur, makanya kami sekeluarga meninggalkan Jakarta. Papa sudah banyak memberikan kejutan -yang ironisnya pahit banget- buat aku anak bungsunya. Aku juga bisa ngasih kejutan balasan buat Papa. Tunggu saja tanggal mainnya, Papa!
***

Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai edisi No. 22 yang terbit bulan Juni 2009. Terima kasih lagi untuk Mr.Eds dkk.

h1

Sudah Tak Bakal Kusua Kau Lagi Nanti

Juli 22, 2009

Seiring masa yang mempertemukan aku kembali dengan sejumlah nama dari saat silam, kuharap ada sosokmu disana. Namun tak kunjung asaku menjelma. Sejatinya sekadar ingin kutahu kabarmu kini, yang semoga baik-baiklah adanya. Terbesit niat menanyakan tentangmu lewat mereka yang dulu mengenalmu, hanya belum juga sempat.

Suatu waktu kuterima sebuah warta tak terduga. Dirimu ternyata sudah tiada. Sejenak tak tahu mau kubilang apa. Aku jadi terkenang kebersamaan kita tempo hari. Kala kita bercakap berdua soal apa saja, senyum tawa pun kadang mengiringi. Bagaimanapun kau sempat singgah di hati. Kendati sekejab belaka, itu cukup berarti. Yah, sudah tak bakal kusua kau lagi nanti.

18 Juli 2009

Kupersembahkan untuk mendiang ELNURMA, semoga kau sungguh baik-baik saja di alam sana dalam buaian kasih sayang-Nya. Amin.

h1

Pangeran Cinta Di-mifa

Januari 27, 2009

Di-mifa, putra kedua Raja Macello merupakan calon pemimpin kerajaan Bifet. Putra pertama sang raja, Ka-dore telah dipilih sebagai kandidat raja Lifet menggantikan posisi Ratu Violin, ibunda tercintanya. Dahulu, Violin terpaksa meninggalkan suami tercinta dan gelar permaisurinya untuk menjadi ratu di Lifet menggantikan ayahnya yang telah mangkat. Karena tak bisa mendampingi suaminya setiap saat, dengan kebesaran jiwa yang luar biasa, Ratu Violin tak keberatan sekiranya sang suami akan menikah lagi. Maka Raja Macello menikahi Katharina, seorang gadis jelita yang semula bekerja sebagai pelayan sang raja. Putri Katharina pun menjadi permaisuri raja Bifet. Setahun setelah pernikahan mereka, sang permaisuri melahirkan seorang putra yang diberi nama Di-mifa, yang serta merta diangkat sebagai putra mahkota.

Kendati Di-mifa seorang pangeran nan tampan, baik hati, serta halus budi bahasanya, namun dalam kisah cinta belumlah mujur nasibnya. Pernah jatuh cintalah ia pada seorang dara jelita yang ditemuinya di keramaian pasar ibukota. Dengan penampilan bersahaja dan tanpa pengawalan prajurit kerajaan, Di-mifa memang kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru Bifet. Tak banyak orang mengenalnya di antara kerumunan, namun kharismanya sebagai seorang putra raja kadang tak jua tersamar. Suatu saat, setelah beberapa kali sekadar menatapnya, Di-mifa pun mengucap kata,

“Duhai putri jelita, tak sadarkah bahwa dikau ibarat seorang penjaga?”

“Apa maksud Anda, tuan muda?”

“Indah parasmu dan elok tindak tandukmu sungguh membuatku terpana. Kau menjadi penjaga yang telah menawan hatiku.”

Sang dara tersipu-sipu, senyumnya terkembang malu-malu. Ternyata dara tersebut merupakan putri salah satu prajurit kerajaan Bifet. Sayang nian, perempuan yang dicintainya itu telah memiliki seorang kekasih. Kekasihnya itu seorang pemuda biasa yang menjadi seorang pedagang kain di pasar ibukota kerajaan. Demi baktinya pada Raja Macello, sang prajurit dan si pedagang telah merelakan putri dan kekasihnya dinikahi sang pangeran. Justru Di-mifa yang enggan menerimanya.

“Sungguh tak adil jika aku menjadi sebab koyaknya jalinan cinta dua anak manusia yang saling mencintai. Sekiranya aku tahu dia telah berkekasih, tentu tak akan kubiarkan perasaanku berkembang, hingga sempat kudekati dia. Biarkan mereka tetap berdua dalam cintanya,” tutur sang pangeran sendu. Si perempuan dan kekasihnya begitu berterima kasih pada kebesaran jiwa sang pangeran.

***

Seperti layaknya pangeran di negeri mana pun, Di-mifa maupun Ka-dore kakaknya juga mendapatkan pendidikan keprajuritan. Ka-dore begitu tertarik belajar ragam ilmu keprajuritan, sedangkan Di-mifa tak terlampau berminat. Jika Ka-dore ahli bermain pedang dan menunggang kuda, maka Di-mifa sekadar bisa. Ia lebih tertarik pada kesenian, mungkin mewarisi ibunya yang dulu terkenal sebagai pelayan raja yang pandai bernyanyi dan bersuara merdu. Di-mifa adalah seorang pencinta dan praktisi seni sejati. Lukisan, patung, syair, dan lagu menjadi karya seni sang pangeran yang sungguh beragam serta senantiasa indah wujudnya. Namun Di-mifa tak kuasa menolak permintaan ayahnya untuk ikut maju perang bersama kakaknya dan tergabung dalam pasukan kerajaannya yang dimintai bantuan oleh kerajaan sahabat.

“Kau harus ingat, Nak. Kau adalah calon pengganti ayahmu, menjadi raja Bifet suatu saat kelak. Mesti kau tunjukkan dirimu sebagai seorang lelaki sejati yang kuat, tangguh, lagi perkasa,” pesan Raja Macello pada Di-mifa.

“Ya, Ayahanda Raja. Saya siap menjalankan amanat Paduka dengan sebaik-baiknya,” sahut Di-mifa mantap.

Kendati berada di antara denting suara pedang dan perisai bukanlah sesuatu yang disukainya, Di-mifa tak mampu mengelak dari persiapannya sebagai pemimpin masa depan negerinya. Belum lagi darah yang mengucur dan kadang menciprati baju zirahnya pun sesuatu yang mesti dihadapinya dengan tegar. Di medan laga Di-mifa mesti mampu menampilkan sosok yang berbeda ketimbang dirinya yang sejati, sang pencinta keindahan yang lembut hati. Namun kehadiran Ka-dore yang selalu ada di dekatnya membuat Di-mifa senantiasa tampil gagah berani tanpa mengenal perasaan takut mati sedikit jua. Sekembalinya dari ajang pertempuran, Di-mifa beserta kakaknya pulang dengan selamat, kendati bekas luka berserakan di sekujur tubuh mereka. Di-mifa pun kembali menghanyutkan diri dalam samudra keseniannya.

***

Kadangkala Di-mifa mesti kembali maju berperang, kendati tak sekerap Ka-dore yang kemudian diangkat menjadi panglima perang gabungan dua kerajaan, Bifet dan Lifet. Suatu ketika Ka-dore menikahi putri impiannya dari kerajaan sahabat, hingga akhirnya memiliki sepasang anak kembar. Sementara Di-mifa sendiri belum kunjung merasakan jatuh cinta kembali. Sebagai putra mahkota kerajaan Bifet, sejatinya telah banyak raja maupun ratu sahabat ayahnya yang berhasrat menjadikannya menantu. Namun sang pangeran tidak bersedia dijodohkan dan memilih menempuh jalan sendiri demi mendapatkan pelita hatinya seorang. Baginya, seorang calon raja tak mesti bersanding dengan putri raja. Ia sadar bahwa ibunda tercintanya pun hanya orang biasa dan ia memahami sungguh kemuliaan sang permaisuri, kendati bukan keturunan bangsawan.

Di-mifa masih kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru negeri, bahkan kadang hingga ke wilayah kerajaan lainnya. Suatu ketika ia tengah menyaksikan sebuah pertandingan ketangkasan memanah sambil berkuda di ibukota negeri tetangga Bifet. Dalam busana seperti rakyat kebanyakan, Di-mifa merasa takjub menatap penampilan satu-satunya peserta perempuan dalam pertandingan tersebut. Kendati perempuan itu tersisih di babak awal, sungguh Di-mifa terkesan pada semangat perjuangannya.

“Wow, mengapa tak jemu jua kupandangi dirinya? Ya, kecantikannya sungguh berbeda dengan putri jelitaku dahulu. Putri yang satu ini tangguh dan perkasa, namun sudah bergetar kalbuku dibuatnya. Apakah cintaku telah jatuh padanya kini?” batin Di-mifa bertanya-tanya sendiri. Ia memutuskan untuk mencari tahu siapa perempuan itu dan di mana pula tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan informasi yang dikehendakinya, Di-mifa beranjak mendatangi sebuah rumah sederhana di dekat hutan. Perempuan cantik itu tengah berlatih pedang dengan memangkas ranting-ranting sebuah pohon. Di-mifa semula menatapnya dari kejauhan, hingga akhirnya telah berada di dekat putri yang tangguh itu.

“Penampilanmu kemarin hebat, putri! Tapi permainan pedangmu hari ini buruk sekali,” sapa Di-mifa. Perempuan itu menghentikan gerakannya dan mendekati Di-mifa yang kepalanya tersembunyi di balik tudung.

“Maaf tuan, saya tak mengenal Anda. Tapi Anda tak perlu mengada-ada tentang kemarin. Lagipula Anda tahu apa tentang permainan pedang?” sahut sang putri setengah ketus. Di-mifa membuka tudung kepalanya dan tampaklah sosok kharismatik dengan senyuman simpatik dari sang calon raja. Perempuan itu sekejab terpaku dan kehilangan kata-kata demi menatap Di-mifa yang seolah menyihirnya dengan tatapan matanya yang teduh, rambutnya yang panjang terurai, dan berewoknya yang tipis belaka.

“Kau boleh panggil saya Fa. Saya sama sekali tak berdusta, putri. Saya sungguh salut dengan perjuanganmu kemarin dan saya pernah belajar bermain pedang. Bahkan saya pernah ikut berperang.”

“Eh Fa, kk…ka… kau pernah berperang? Tapi, se… sepertinya penampilanmu tak layak sebagai seorang prajurit? Oh ya, namaku Pevita,” ucap perempuan itu terbata-bata dengan tersenyum. Dalam sekejab sikapnya berubah total, dari ketus menjadi lembut, seraya salah tingkah di depan Di-mifa. Sang pangeran mengambil pedangnya dan memainkan beberapa jurus yang memukau Pevita. Sejenak kemudian Di-mifa mengajak Pevita berbincang-bincang di bawah pohon. Pevita sama sekali tidak keberatan, ia sudah kadung terpesona pada sang pangeran. Padahal ia belum tahu siapa sejatinya Di-mifa.

“Apa rencanamu selanjutnya? Kenapa kau suka memanah dan tertarik memainkan pedang? Apa kau ingin jadi prajurit?”

“Mendiang ayahku seorang prajurit. Beliau tewas di medan laga. Sekarang kakakku melanjutkan langkah Ayah. Aku pun ingin begitu, tapi di kerajaan kami tentu saja perempuan tak bisa jadi prajurit. Lagipula ibuku juga melarangku. Ya, untunglah di kota ada lomba ketangkasan memanah dan bermain pedang yang terbuka untuk umum. Setidaknya aku ingin banyak orang tahu bahwa ada seorang prajurit perempuan yang tangguh,” ujar Pevita berapi-api. Di-mifa kian terkesan dengan sikap perempuan yang ada bersamanya itu. Senyuman tersungging selalu di bibirnya, terasa kian berbunga-bungalah pula sanubarinya.

Devito, kakak lelaki Pevita adalah seorang prajurit kerajaan Karomit. Ia yang baru pulang dari tugasnya takjub sekali melihat Pangeran Di-mifa sedang bercengkrama bersama adiknya. Turun dari kudanya, Devito segera menghampiri Pevita dan Di-mifa. Ia memberi hormat dan menyalami Di-mifa dengan mantap. Mereka ternyata pernah bersama-sama dalam sebuah pasukan gabungan Bifet-Lifet dengan Karomit.

“Apa kabar Pangeran? Begitu bangga dan bersukacitalah hati saya kembali bertemu dengan Anda di sini,” sapa Devito yang disambut Di-mifa dengan senyuman bersahabat.

“Devito, kau kenal dengan Fa?” tanya Pevita heran.

“Tidakkah kau tahu siapa lelaki yang bersamamu ini? Dia adalah putra mahkota Bifet, kerajaan tetangga kita. Dialah Pangeran Di-mifa,” sahut Devito.

“Apa, Devito? Dia seorang pangeran?”

***

Hubungan Di-mifa dan Pevita kian karib. Di-mifa secara jujur mengatakan bahwa sejatinya ia tak suka dengan kekerasan, karena ia adalah seniman sejati.

“Samudraku adalah kesenian. Sedangkan bermain pedang hanyalah anak sungai yang akhirnya bermuara ke samudra jua. Aku dapat memandangnya sebagai wujud kesenian pula, seni bermain pedang. Namun yang sungguh kunikmati jika telah kupahat sebuah patung, kulukis keindahan dunia, atau kulantunkan syair lagu. Kau tak keberatan jika hanyut bersama di samudraku?”

“Aku yakin adanya keindahan di samudramu. Aku bersedia, Pangeran.”

Pevita sudi menerima Di-mifa apa adanya hingga akhirnya menerima pula pernyataan cinta sang pangeran. Raja Macello dan Ratu Katharina begitu bersukacita dengan kenyataan yang ada, demikian pula ibu dan kakak Pevita. Pangeran Di-mifa telah menemukan cinta sejatinya dan bersiap mengakhiri masa lajangnya. Namun sebelum itu terjadi, Putri Di-solla, adik Di-mifa menikah mendahului kakaknya. Sesaat kemudian Di-mifa sudah mulai menyusun rencana pernikahannya dengan Pevita. Sayang, tugas negara mesti dijalani kembali oleh Di-mifa. Ia kembali maju berperang dan kali ini nasib sial menimpanya. Sang pangeran terluka parah, bahkan tangan kanannya tercabik-cabik dalam pertempuran. Di saat yang sama Pevita mencoba mengikuti kompetisi bermain pedang di ibukota kerajaannya. Putri perkasa itu berhasil melaju ke babak kedua, namun kalah dengan sebuah luka menganga di wajahnya terkena sabetan pedang sang lawan. Pevita serta merta jatuh pingsan, sementara Di-mifa kekasihnya sedang diselamatkan prajurit Bifet -dalam keadaaan tak sadarkan diri- dari medan pertempuran karena luka parahnya.

***

Pangeran Di-mifa telah kembali berada di istana. Setelah sekian hari tak sadarkan diri, Di-mifa akhirnya terjaga dan mesti menerima sebuah kenyataan pahit. Raja Macello dan Ratu Katharina berada di depan sang pangeran ketika Di-mifa membuka matanya.

“Syukurlah, Nak. Akhirnya kau kembali terjaga,” ujar sang ratu terharu.

“Apa yang terjadi dengan saya?” tanya Di-mifa dengan berbisik.

“Kau terluka parah dan jatuh pingsan, tapi prajurit Bifet dapat menyelamatkanmu. Hanya saja ada sesuatu yang buruk telah menimpamu,” kata Raja Macello.

“Apakah itu, Ayah?”

“Kau telah kehilangan tangan kananmu, Nak. Sabar dan tegarlah.”

Di-mifa mengangkat tangan kanannya yang ternyata tinggal sebatas siku. Seketika itu terasa sesaklah dadanya dan mengalirlah air mata sang pangeran yang lembut hati itu. Ibunda ratu pun segera memeluk putra kesayangannya.

“Yang sabar ya, Nak. Bunda tahu ini cobaan yang berat bagi dirimu.”

Di-mifa larut dalam keharuan bersama sang ibunda. Sementara Raja Macello -yang sempat berkaca-kaca di matanya- bergegas meninggalkan mereka. Ada tugas lain yang mesti dijalaninya sebagai raja Bifet hari itu.

Dalam kondisi yang masih rentan, Di-mifa seolah mendapatkan percikan embun pagi. Pevita datang bersama Devito kakaknya ke istana kerajaan Bifet.

“Fa….” Pevita menghambur ke arah Di-mifa ketika kekasihnya sudah ada di depan mata. Di-mifa sedang berada di serambi kamarnya, belajar mengaktifkan tangan kirinya untuk melukis ketika Pevita tiba.

“Pevita?” Di-mifa begitu bahagia dapat berjumpa kembali dengan kekasihnya. Dalam hangat pelukan dua sejoli itu larut dalam perasaan yang beragam, ada sukacita dan keharuan.

“Maaf putri, aku tak bisa membelai wajahmu dengan tangan kananku lagi,” ucap Di-mifa sambil memegang wajah Pevita dengan tangan kirinya.

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting kau masih bisa membelai wajahku,” sahut Pevita dengan senyuman haru.

“Hai, kenapa wajahmu Pevita?” tanya Di-mifa melihat luka di pelipis dan pipi kanan wajah kekasihnya. Pevita pun bercerita apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Tapi kau masih mencintaiku bukan?” tanya Pevita kemudian.

“Kau masih tetap putri perkasaku yang tercantik di dunia. Lantas bagaimana cintamu padaku? Aku bukan lagi seorang lelaki yang sempurna kini.”

“Pangeran, tentu saja aku tetap mencintaimu, apa pun yang telah terjadi pada dirimu. Malah aku jadi lebih mencintaimu melihatmu begini.”

“Kau tak perlu iba melihatku begini.” Di-mifa sedikit tersinggung.

“Tidak, Fa. Aku hanya sadar bahwa aku bisa kehilanganmu setiap waktu. Tapi, kenyataannya kita masih bertemu lagi bukan? Tidakkah kita syukuri ini?”

Di-mifa tersenyum bahagia mendengarkan kata-kata kekasihnya. Seminggu kemudian Di-mifa datang melamar Pevita yang menerimanya dengan berbunga-bunga. Tibalah hari pernikahan putra mahkota kerajaan Bifet dengan pujaan hatinya. Di-mifa bukan lagi seorang pangeran tampan yang sempurna raganya. Tangannya tinggal sebuah. Pevita pun bukan lagi putri yang cantik seutuhnya. Ada bagian wajahnya yang sedikit terkoyak. Namun ketulusan cinta yang sempurna dalam hati akhirnya menyatukan Di-mifa dan Pevita.

-TAMAT-

Cerpen ini telah dimuat di majalah Hai No.2 yang terbit pada bulan Januari 2009. Trims buat Mr.Eds…

h1

A Different Sight

Mei 22, 2008

Apakah sekadar perasaanku terlampau sensitif atau memang begitulah kenyataannya, sepertinya kulihat pandanganmu berbeda padaku. Dulu kerap kita berbincang santai, tiada pandanganmu yang mengesankan sesuatu.

Aku memang sempat terkesan padamu dan berkhayal seandainya kamu menjadi pasangan hidupku sekian tahun lagi sepertinya bisa.

Namun sms-ku saja belum pernah sekalipun kaubalas, kecuali saat kamu pernah minta tolong dan tak bisa kubantu.

Maka tiada harapan apapun hendak kusematkan padamu. Kita sebatas bertemu, cukup ada sukacita yang tak terlalu. Kemarin kamu tampak begitu bahagia, semua orang dapat melihatnya. Jatuh cinta lagi, begitu tebakanku (tidak katamu). Sebaiknya kubiarkan segala sesuatunya mengalir saja dan kusyukuri yang ada.

Februari/Maret 2008

h1

Koran di Warung Pak Saudi

Mei 18, 2008

Awalnya aku pulang kemalaman. Sehabis kerja seharian, aku lantas berada di warnet sampai lupa waktu. Sebenarnya mauku sekadar melepas kepenatan, tapi malah rada kebablasan. Sudah jam dua belas lewat ketika aku keluar dari warnet dengan perut lapar. Sebenarnya di dekat tempat itu ada warung sate ayam, tapi ternyata sudah tutup. Inginku begitu tiba di rumah langsung cuci muka, terus segera tidur. Jadi aku harus mengisi perutku dahulu sebelum pulang. Sambil pelan-pelan kulajukan motorku, kucermati warung-warung makan di pinggir jalan. Biasanya ada warung pecel lele, siomay, bakso, dan mie ayam, selain sate ayam, ternyata semua sudah tidak buka lagi. Sampai di traffic light terakhir, mestinya aku belok kiri untuk sampai ke rumah. Tapi saat lampu merah menyala, kulihat masih ada warung yang buka, beberapa meter setelah pertigaan itu. Aku memutuskan melajukan motorku terus dan berhenti di warung itu, ternyata penjual bakmi Jawa.

Belum habis to, Pak?” tanyaku.

Oh ya, Mas. Masih kok, tapi tinggal nasi goreng,” sahut penjualnya.

Ya sudah, Pak. Saya nyuwun nasi goreng sama teh hangat saja,” kataku sambil beranjak menuju tikar yang menjadi tempat makan di warung itu. Ada sesuatu yang serta merta menarik perhatianku. Sebuah koran ibukota yang terkenal terhampar di tikar. Langsung saja kuambil koran itu. Ternyata edisi hari itu, kubaca seraya menunggu pesananku jadi. Jujur saja, baru sekali-kalinya kutemui sebuah warung di pinggir jalan Jogja, yang korannya adalah sebuah koran terbitan Jakarta. Biasanya, kalaupun ada koran di sebuah warung, pastilah korannya terbitan Jogja yang harganya relatif lebih murah.

Nasi gorengku sudah jadi dan langsung dihidangkan ke hadapanku sekian menit kemudian. Aromanya tercium sedap. Nasi goreng panas kumebul karena baru keluar dari penggorengan. Oh ya, aku lupa tak minta pada penjualnya supaya tidak pedas, sebagaimana layaknya kupesan nasi goreng. Tapi setelah kumakan, ternyata enak sekali rasanya dan aku tidak kepedasan. Berarti masakannya cocok dengan lidahku. Padahal lidahku kadang merasa tak nyaman dengan masakan-masakan di warung. Setelah habis nasi gorengku, aku beranjak pulang. Kubaca dan kuingat nama warung itu, Bakmi Jawa Pak Saudi. Barangkali akan kembaliku ke warung itu di lain malam.

Dan sejak saat itu aku jadi kerap makan di warung Pak Saudi, terutama kalau pulang larut malam dan sudah tiada lain pilihan. Pernah kucoba makan bakmi gorengnya, ternyata kurang lezat. Bakmi rebusnya juga kalah nikmat ketimbang masakan penjual bakmi Jawa yang biasa lewat di depan rumah. Tapi ketika kucoba bihun gorengnya, ternyata enak banget. Lidahku kembali merasakan kelezatan sebuah masakan. Jadi setiap aku makan di situ, kalau bukan nasi goreng, ya pasti bihun gorenglah yang kupesan. Sembari menunggu Pak Saudi memasak, kerap aku mengajaknya bicara tentang apa saja. Ternyata orangnya asyik, wawasannya luas, dan komentar-komentarnya pun cerdas. Aku jadi tak heran selalu menemui sebuah koran ibukota edisi terbaru yang harganya lebih mahal ketimbang koran lainnya itu.

Mas, kalau seseorang mau menyenangkan setiap orang, kadang pada akhirnya malah tidak ada seorang pun yang senang. Ya, ibaratnya masakan saya ini juga tidak semua orang yang kemari senang kan?” ujarnya padaku sambil menggoreng bihun pada sebuah larut malam.

Iya Pak, memang begitulah.”

Mas ini sepertinya cocoknya juga cuma sama nasi goreng dan bihun goreng saya ya?”

Wah, Pak Saudi betul lagi.”

Sudah syukur Alhamdulillah bahwa ada orang yang mau mampir ke sini dan suka masakan saya. Yang namanya rezeki, Gusti Allah kan ndak mungkin salah maringi hamba-hamba-Nya. Sudah ada jatahnya sendiri-sendiri.”

Mengenai namanya, Pak Saudi pernah bercerita padaku,

Kata bapak saya, pada saat saya lahir, kakek saya sedang berada di Arab Saudi naik haji. Jadilah saya diberi nama Saudi. Padahal saya orang Jawa asli dan wong ndeso, Mas.”

Kendati Pak Saudi mengaku bahwa dirinya orang desa biasa, tapi kelihatannya ia bukan orang desa kebanyakan. Ia tak mau berterus terang tentang kegiatan sehari-harinya, selain membuka warung setiap malam. Suatu saat pernah diceritakannya padaku tentang sejarah membuka warungnya itu.

Pada dasarnya saya memang hobi masak dari kecil, Mas. Ada paklik saya yang dulu jualan bakmi Jawa, tapi keliling pakai gerobak ini. Beliau terus mengajari saya macam-macam menu jualannya, karena beliau tahu saya suka masak. Dua tahun lalu paklik saya itu wafat. Saya kok eman-eman gerobaknya ini ndak terpakai. Kebetulan beliau tidak punya isteri dan anak. Jadi malah saya yang melanjutkan usahanya itu. Cuma bedanya saya ndak keliling, tapi buka warung di sini. Lha kok untungnya ada yang beli, ya sudah saya mantap saja jualan. Semoga saja ini bisa jadi ilmu yang bermanfaat dan menambah pahala Almarhum,” tutur Pak Saudi panjang lebar seraya menemaniku makan nasi goreng.

Kadang aku makan di warung Pak Saudi tidak hanya saat pulang kemalaman. Seperti sebuah bonus untukku, bisa mengobrol seru dengan penjualnya dan juga membaca koran ibukota edisi terbaru di warungnya. Terakhir kali aku makan nasi goreng Pak Saudi adalah beberapa jam sebelum gempa besar mengguncang Jogja bulan Mei silam. Sudah hampir jam satu pagi dan tinggal warungnya yang masih buka. Jadilah aku makan di situ untuk kesekian kalinya. Sehabis gempa itu, ternyata warung Pak Saudi tidak pernah buka lagi hingga kini. Aku hanya bisa menerka, apakah ia ikut menjadi korban gempa? Tentu kuharap tidak begitulah adanya. Yang jelas tak pernah kulihat lagi warungnya. Akhirnya, beberapa bulan sehabis gempa kutanya tukang becak yang biasa mangkal di dekat warung Pak Saudi.

Kok warung Pak Saudi lama nggak buka ya? Sampeyan tahu kenapa?”

Pak Saudi kan sekarang di Inggris,” sahut si tukang becak.

Di Inggris? Jadi apa? Apa dia jadi TKI?” tanyaku heran dan penasaran.

Ndak, Mas. Pak Saudi itu sekolah di Inggris. Sebetulnya pas gempa itu dia sudah hampir berangkat. Terus sempat ditunda, akhirnya dia berangkat dua bulan sehabis itu. Katanya, dia itu sekolahnya dibayari sama universitas tempat kerjanya, Mas. Dia pamitan kok, sama saya dan temen-temen di sini.”

Aku hanya terpaku mendengar cerita si tukang becak tentang Pak Saudi, yang ternyata bukanlah penjual bakmi Jawa biasa. Kian maklum aku kini, mengapa selalu ada koran terkenal terbitan Jakarta di warungnya dan kata-katanya bisa begitu bermakna setiap kali bicara denganku.

***

Setelah kepergian Pak Saudi, aku mencoba mencari rasa nasi dan bihun goreng yang cocok dengan lidahku lagi, ternyata belum ketemu juga sampai sekarang. Kelezatan masakannya ternyata menjadi kenangan tersendiri dan mencari penggantinya bukanlah hal yang mudah bagiku. Apalagi untuk menemukan warung yang menyediakan koran terbitan Jakarta dan penjualnya cerdas seperti Pak Saudi. Semoga masa studi Pak Saudi di luar negeri tak lama dan ia lekas kembali ke tanah airnya. Tapi masih mungkinkah warungnya dibuka lagi?

September 2007

-TAMAT-