Arsip untuk ‘Curhat’ Kategori

h1

Tanpa Air Mata

September 22, 2009

(sebuah catatan akhir Ramadhan…)

Bukannya tak bersungguh-sungguh kusesali

dosa salahku selama hayat hingga kini

Pastilah senantiasa kusyukuri berkah rahmat

nikmat karunia Ilahi yang tiada taranya

Menjadi asaku jua Ramadhan tahun ini

bukanlah yang terakhir yang kualami

Namun semua itu tak mampu menyentuh

relung jiwa hingga meneteslah air mata

Sudah enam kali kujalani mencoba bermesra

bicara berdua dengan-Nya belaka

Sebentar lagi yang ketujuh –dan terakhir

di bulan suci tahun ini- bakal segera kulaksanakan

Semoga dapat kian kunikmati sepertiga terakhir

malam ini dengan membersihkan hati, membeningkan

nurani, bermunajah penuh konsentrasi, mohon

apa saja yang terbaik bagi diriku dan siapa

pun yang tersayang, yang teringat, yang terbayang

Kuharap sekali saja air mataku mampu mengalir

menjadi bukti kesungguhan penyesalanku

merupakan wujud rasa syukur sejatiku

mengiringi asaku kembali bersua Ramadhan depan

membasuh jiwaku agar suci lagi…

(akhirnya… tetap tanpa air mata)

dini hari 29 Ramadhan 1430 H/19 September 2009

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

MINAL AIDIN WALFAIZIN

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

h1

Sudah Tak Bakal Kusua Kau Lagi Nanti

Juli 22, 2009

Seiring masa yang mempertemukan aku kembali dengan sejumlah nama dari saat silam, kuharap ada sosokmu disana. Namun tak kunjung asaku menjelma. Sejatinya sekadar ingin kutahu kabarmu kini, yang semoga baik-baiklah adanya. Terbesit niat menanyakan tentangmu lewat mereka yang dulu mengenalmu, hanya belum juga sempat.

Suatu waktu kuterima sebuah warta tak terduga. Dirimu ternyata sudah tiada. Sejenak tak tahu mau kubilang apa. Aku jadi terkenang kebersamaan kita tempo hari. Kala kita bercakap berdua soal apa saja, senyum tawa pun kadang mengiringi. Bagaimanapun kau sempat singgah di hati. Kendati sekejab belaka, itu cukup berarti. Yah, sudah tak bakal kusua kau lagi nanti.

18 Juli 2009

Kupersembahkan untuk mendiang ELNURMA, semoga kau sungguh baik-baik saja di alam sana dalam buaian kasih sayang-Nya. Amin.

h1

Mobil Jenazah dan Persiapan Diri

Maret 12, 2008

Sepanjang hayatku, telah beberapa kali aku naik ambulans yang membawa jenazah orang-orang yang kusayangi. Pertama kali ketika usiaku belum genap 17 tahun, aku berada di kursi depan bersama Ibu di dalam mobil yang membawa jasad Bapak dari rumah sakit menuju rumah. Yang kedua kalinya adalah saat adik nenekku wafat, aku duduk di belakang bersama beberapa orang dan peti jenazah almarhum. Aku sebagai wakil keluarga menjadi penunjuk jalan menuju makam. Sesuatu yang unik saat itu adalah dihentikannya mobil jenazah oleh dua orang perempuan di tengah jalan. Keduanya terjadi di Yogyakarta. Kesempatan ketigaku terjadi di Jakarta pada bulan April 2007 lalu. Aku hanya bertiga dengan kedua adik sepupuku duduk di belakang bersama jasad Eyang Puteri. Sempat aku merasa trenyuh saat perjalanan menuju makam, karena baru sekitar 100 hari sebelumnya kuantar mendiang ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Namun, segera kusadari bahwa itulah takdir terbaik dari Ilahi Robbi, baik untuk mereka maupun bagiku sendiri.

Terakhir, 10 Maret 2008 kemarin, aku dengan sepeda motor mengiringi ambulans yang membawa jenazah adik sepupu jauhku(yang meninggal dunia mendadak dalam usia 28 tahun) dari rumah sakit pulang ke rumahnya. Kematian memang sungguh sebuah rahasia Ilahi yang tak pernah bisa kita duga hadirnya.

Suatu saat, mungkin jenazahku akan dibawa dengan mobil jenazah pula. Kecuali jika aku mati di rumah dan jenazahku cukup dibawa dengan berjalan kaki menuju tempat peristirahatan terakhirku nanti. Setidak-tidaknya aku sudah berpengalaman naik mobil jenazah, kendati tak sekerap supir kendaraan tersebut. 

Sempat terpikirkan olehku, apakah mereka yang karena pekerjaannya biasa berhadapan dengan jenazah, seperti : dokter, petugas paramedis, polisi, supir mobil jenazah, petugas perawatan jenazah, penggali kubur, dan penjaga makam, menjadi lebih siap dan berani menghadapi kematian mereka sendiri, ketimbang kita yang tak biasa berhadapan dengannya?  Entahlah, mungkin saja. Tapi bagiku sendiri, semoga peristiwa kematian yang telah menimpa orang-orang dekatku bisa menjadi isyarat tersendiri untuk selalu mempersiapkan diri, jika ajalku tiba suatu hari. Amin. 

h1

Penghinaan Tak Berarti

Januari 31, 2008

Orang lebih cepat melupakan suatu dukacita yang hebat ketimbang sebuah penghinaan yang tak berarti. Sebelumnya aku tak percaya bahwa hal itu bisa terjadi dan tak terbayang pula, bagaimana mungkin bisa begitu? Sesudah melewati serangkaian episode dari sebuah cerita yang kualami beberapa tahun silam, barulah kupercaya memang begitulah adanya. Dukacita yang hebat saat itu adalah wafatnya seseorang yang kusayangi dan kuhormati, seorang lelaki tua yang seperti ayah kedua bagiku. Ketika beliau akhirnya pergi selama-lamanya, rasanya hati sudah ikhlas melepas, sehingga tak menjadi duka yang berkepanjangan. Namun ada sebuah peristiwa pahit sebelum beliau tiada (yang ada hubungannya dengan beliau dan keluarga kami), yang dapat dikategorikan sebagai sebuah penghinaan, yang sempat tak mudah terlupa begitu saja bagi kami.

Mungkin nanti ada sebuah cerita pendek yang terinsiprasi oleh cerita nyata tersebut, yang bakal menjelaskan lebih detail apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku heran, sudah cukup lama kutulis awal cerita itu, sudah lebih dari setahun kini, cerpen itu belum juga kunjung rampung.

Mengapa penghinaan itu menjadi tak berarti, karena kadangkala penghinaan yang kita terima lebih sederhana ketimbang keburukan kita sesungguhnya. Mending lapang dada saja ketika dihina, kendati pasti tak mudah bagi siapapun saat itu terjadi. Mungkin apa yang mereka katakan buruk tentang kita memang tak benar, namun mesti disyukuri bahwa masih banyak aib kita yang benar adanya dan tak mereka ketahui sama sekali. Jadi, yang terbaik setelah itu terjadi adalah berusaha melupakan dan memaafkan. Lagipula, kita lebih berharga di hadapan Tuhan jika berani memaafkan, bukannya larut dalam dendam berkepanjangan. Kata ulama, kita jadi mudah memaafkan karena selalu melihat keterbatasan diri kita pada manusia lain, sadar bahwa manusia selalu punya keterbatasan, tiada yang sempurna.

Supaya hidup kita jadi lebih nyaman lagi, mungkin dapat kita mengingat nasihat orang bijak tentang apa yang mesti diingat dan dilupakan. Ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan keburukannya pada kita. Pada sisi yang lain, ingatlah keburukan kita pada orang lain dan lupakan kebaikan kita padanya. Sepertinya hal itu ada hubungannya dengan apa yang pernah dibilang oleh Mas Tukul di Empat Mata, bahwa cinta bisa menutupi semua keburukan/kekurangan orang lain dan benci bisa menutupi semua kebaikan/kelebihan orang lain. Jadi, bukankah lebih baik mencintai daripada membenci ?

h1

Teman Bicara

November 13, 2007

Menurut Mbah Kahlil Gibran dalam ‘Sang Nabi’, “Kalian berbicara ketika pikiran tidak tenang. Ketika tidak tahan lagi berdiam dalam hati, kalian hidup melalui bibir – dan kata yang bersuara menjadi satu-satunya pengobat jiwa.”

Bagi orang yang terbiasa berdialog dan berdiskusi dalam kesehariannya, mungkin terasa seperti sebuah siksaan, ketika tiada orang lain yang dapat diajaknya berbincang. Kendati dalam keseharianku relatif pendiam, pernah kurasakan jua betapa sepinya tanpa teman bicara. Bahkan saat itu lantas kutuliskan rangkaian kata, yang menjelma sebagai lirik sebuah lagu bertajuk ‘Kesenjangan’. Bagian yang terasa menohok dari lirik tersebut, “Berkurang nian wahana ‘tuk curahan hati. Hampa menyapa saat segala suka duka kurasakan sendiri.”

Sejak akhir tahun lalu, rasanya kian berkurang saja teman bicara dalam hidupku. Sebuah kehilangan besar, tentu saja adalah wafatnya Ibunda tercinta pada hari pertama tahun 2007 lalu. Begitu banyak materi pembicaraan yang pernah kumiliki bersama Ibu. Sudah mustahil terjadi lagi dialog di antara kami. Baru dalam beberapa bulan terakhir, seiring bertambahnya kenalan baruku dan terjadinya pertemuan dengan teman-teman lamaku, jadi ada teman bicara lagi.

Tapi syukurlah, masih kusadari bahwa sesungguhnya selalu ada teman bicara bagiku yang paling mengasyikkan sepanjang waktu. Meski Dia tak pernah secara langsung menanggapi kata-kataku, namun kuyakin bahwa Dia selalu mendengarkanku, dan akhirnya selalu ada jawaban-jawaban-Nya untukku. Insya Allah, Amin.

Tak lupa, kuucapkan juga beribu terima kasih bagi para penemu teknologi : komputer, internet, email, telepon, dan SMS yang membuat pembicaraan bisa berlangsung tanpa kita mesti bertatap muka.

Kembali kata Mbah Kahlil, “Di antara kalian ada yang mencari kawan yang pandai bicara, karena takut akan tertimpa sepi. Padahal kesunyian yang kalian menjauhinya, adalah mata yang akan membuka kekurangan diri.”