Arsip untuk ‘Puisi/Lirik Lagu’ Kategori

h1

Tanpa Air Mata

September 22, 2009

(sebuah catatan akhir Ramadhan…)

Bukannya tak bersungguh-sungguh kusesali

dosa salahku selama hayat hingga kini

Pastilah senantiasa kusyukuri berkah rahmat

nikmat karunia Ilahi yang tiada taranya

Menjadi asaku jua Ramadhan tahun ini

bukanlah yang terakhir yang kualami

Namun semua itu tak mampu menyentuh

relung jiwa hingga meneteslah air mata

Sudah enam kali kujalani mencoba bermesra

bicara berdua dengan-Nya belaka

Sebentar lagi yang ketujuh –dan terakhir

di bulan suci tahun ini- bakal segera kulaksanakan

Semoga dapat kian kunikmati sepertiga terakhir

malam ini dengan membersihkan hati, membeningkan

nurani, bermunajah penuh konsentrasi, mohon

apa saja yang terbaik bagi diriku dan siapa

pun yang tersayang, yang teringat, yang terbayang

Kuharap sekali saja air mataku mampu mengalir

menjadi bukti kesungguhan penyesalanku

merupakan wujud rasa syukur sejatiku

mengiringi asaku kembali bersua Ramadhan depan

membasuh jiwaku agar suci lagi…

(akhirnya… tetap tanpa air mata)

dini hari 29 Ramadhan 1430 H/19 September 2009

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

MINAL AIDIN WALFAIZIN

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

h1

Peristiwa Awal September

September 3, 2009

Ada sebentar hujan waktu sahur membuka

September pagi di Jogja

Namun turun hujan deras ketika tiba

malam di lain kota seperti Jakarta

Langit waktu Subuh hari kedua tampak pucat,

membuat tak nyaman dilihat

Bisa jadi itu salah satu isyarat bahwa pada

pukul 14.55 hari Rabu 2 September 2009

Terjadilah bumi berguncang kencang

yang terasa getarannya hingga

ribuan kilometer dari pusat gempa dan

entah berapa juta jiwa manusia saja

yang serta merta panik, takut, atau banyak rasa

tak nyaman mencuat di dirinya

Innalillahi wa innaialaihi raji’un

Sejumlah nyawa melayang dijemput malaikat

Rumah-rumah ambruk di sejumlah daerah

(seperti déjà vu sebuah Sabtu tiga tahun silam bagi kami di Jogja sekitarnya)

Mungkin itu sebentuk ujian dari Yang Mahakuasa

bagi segenap hamba-Nya yang beriman

supaya tetap sabar tanpa putus asa

ketika Ramadhan suci masih bergulir saat ini

Jogja, 3 September 2009

h1

Jelang Jam 12 Selasa Siang

Juni 23, 2009

justru yang sempat terlintas di benak

atau apa yang sudah perlu diungkapkan

oleh kalbu tidak tersurat lebih dini

saat ini

.

justru sekadar ada coretan kata

yang serta merta belaka

tanpa perlu pikir panjang hingga

cukup jadinya begini

(tak usah lebih lagi)

.

16 Juni 2009

h1

Selama Masih

April 7, 2009

Sebagaimana layaknya saja

Hari-hari pun silih berganti

Hanya terasa terlampau cepat

Cepat bergulir perubahan sang waktu

.

Tanpa gairah hidup yang nyala

Terasa berat kaki melangkah

Tiada kuasa coba mengejar

Aliran waktu yang kian cepat melaju

.

Semoga kembali gairah hidupku

Dan selalu kusadari bahwa :

Selama sukma masih di dalam raga

Mestinya hidup begitu bermakna

Selagi usia masih terbilang muda

Mestinya kuyakin adanya asa

.

Akan kutempuh jalan yang panjang

Menyusuri kehidupan masa depan

Yang penuh angan dan harapan

.

Hidup di dunia hanya sementara

Tapi tetaplah mesti berarti

Lakukan s’gala doa dan upaya

Biar tak percuma waktu yang terus berlalu

h1

Kandas Lagi (Elegi buat Timnas Indonesia)

Desember 23, 2008

Hanya sekian menit awal
sempat sesaat asa mengemuka
ketika gol pun tercipta
Namun angin berbalik arah
begitu cepat sehabis itu

Berpuluh-puluh menit
serangan datang begitu gencar
tekanan pun pasti sangat besar
sampai akhirnya kebobolan pun mesti dua kali
Sudah tak sanggup lagi rasanya menjaga
keperawanan gawang sendiri
Sementara telah kian berat kaki melangkah
makin kencang pula nafas terengah-engah
Nyaris tiada daya sama sekali
untuk balas menggebrak seperti di awal laga

Perjalanan pun terhenti sudah
Kandas lagi asa menjadi juara
Entahlah, apa lagi yang mampu dikata
selain terluka dan kecewa

20 Desember 2008

h1

Asumsi

Oktober 8, 2008

Lewat sudah berbilang hari

Hingga tahun pun berganti

Rasanya sudah cukup kutahu

Baik hatinya santun tingkahnya

(Indahnya dia)

Tak perlu kupungkiri

Pesonanya itu membius hati

Tapi terbayanglah ragu

Tak dapat kunyatakan rasaku

Masih aku berasumsi

Meraih hatinya hanyalah utopi

Mungkinkah dia tengah menanti

Ungkapan rasa sepenuh hati

Adakah dia juga miliki

Sebentuk cinta yang terpatri

Lebih ceria dia kini

Tampaknya t’lah ada tambatan hati

Tapi aku tak peduli

Kupertahankan rasa ini meski…

Masih aku berasumsi

Meraih hatinya hanyalah utopi

***

Salah satu lirik lagu lawasku yang bisa didengarkan di http://luhursatya.multiply.com/music/item/9/Asumsi

Anda sepertinya harus sign in dulu di multiply supaya bisa mendownload lagu tersebut.


h1

Sebuah Episode (Serial Sariawan)

Juni 17, 2008

Telah lewat sepekan

Masih setia juga sang luka

Nangkring di dalam mulutku

Terkadang perih terasa

Meski ada saat tak berasa

Demikian kisah sang luka

Yang enggan pergi

Hingga kini masih menganga

Meski telah kujejali zat-zat kimia

Guna mengusirnya

Belum berhasil juga

(1995)

Setiap saat si sariawan singgah di mulutku, tulisanku di tahun 1995 ini selalu terasa relevan, seperti juga yang terjadi saat ini. Tapi semoga tak perlu sampai lewat sepekan, sudah sembuhlah sariawanku.

h1

Masih Bersemayam di Hati

Juni 9, 2008

Tanpa terasa

Telah lama ku melangkah

Tinggalkan satu kisah

Cinta kita berdua   

 

Sekian waktu

Kucari penggantimu

Tempat tambatan hati

Tak jua dapat kutemui

 

Ternyata tanpamu

Hampa sungguh hati terasa

Saat-saat ceria denganmu

Terkenang s’lalu hingga kurasa

 

Reff:

Masih bersemayam di hati

Engkau yang pernah berarti

Yang sempat menemani hari-hari indahku

Engkau ingin kulupa tapi tak bisa jua

Ternyata masih ada

Benih-benih rindu  di hatiku ini

 

Bridge:

Mungkinkah kau pun merasakan

Kerinduan yang ada di hati

Adakah semua ‘kan terulang lagi

h1

Lagu Hujan dan Kerinduan

April 26, 2008

Sendiri belaka aku di rumah

Kudentingkan nada piano sementara terdengar rintik hujan

Kubawakan lagu-lagu bertema hujan :

Setia, Yang Pernah Terlupakan, Cintamu T’lah Berlalu, Satu Rindu …

Ketika kunyanyikan Satu Rindu (yang bercerita kerinduan pada Ibu)

Ternyata perasaanku terbawa sepenuhnya

Benar-benar aku rindu pada “satu wajah penuh cinta,

penuh kasih, penuh dengan kehangatan…”

Air mata pun tak bisa kutahan lagi

mengalir dengan sendirinya

Kuhentikan permainan piano

dan kubiarkan diriku menangis

Seraya berdoa mohon pada-Nya :

Semoga Ibunda baik-baik saja di alam sana

(Amin)

Meski rasanya sudah ikhlas melepasnya pergi

tapi kerinduanku pada Ibu

tak mampu kusirnakan dari hati

Kerinduanku tak cukup dalam derai air mata

karena lantas aku bermimpi :

Ibu hadir di dunia lagi !

Kusadari …

Kenyataannya Ibu memang tak pernah pergi

dan selalu hidup di hatiku

Senantiasa menjadi inspirasi maupun motivasi

untukku terus melangkah menggapai yang lebih baik

di sisa hidupku

(Amin)

25-26 April 2007

(Ketika kerinduan pada yang telah tiada menjelma, hanya bisa berdoa dan (kadang) menangis. Sebuah wujud kerinduanku pada mendiang Ibu, kutulis setahun lalu)

h1

Reuni

April 16, 2008

Lama tak terlintas di benak

Sekian waktu seakan sudah terlupakan

Jarang terbayang perjumpaan

Sejak saat kita berpisah

Ada sejumlah perubahan

Saat kembali kita dalam perjumpaan

Segala duka pun hengkang

Saat melepas kerinduan

Mengenang kembali cerita dulu

Betapa indahnya masa itu

Yang penuh canda suka ria dan tawa

Rasa bahagia tercurah di antara teman lama

Serasa hadir kembali segala hangat yang tercipta dulu

Saat-saat itu…

(Semoga tak lekas pergi lagi)

Meski kembali ‘kan berpisah

Semoga pertemanan kita tak lagi lekang

Segala kenangan indah

Semoga tak akan terlupakan

*lirik ini ditulis tahun 1999, mengenang reuni mini SMA di rumah Fachrudin ‘Ojex’ tahun 1998.