h1

Arumi Masih Menanti

Maret 14, 2016

Bukan hanya sekali, perempuan tersebut menjalani hubungan serius dengan lelaki. Bahkan pernah ada yang tinggal sejengkal langkah menuju pelaminan, akhirnya tetap kandas jua. Arumi tipe perempuan yang tak sudi bermain-main dengan cinta. Ia senantiasa selektif dalam memilih pasangan. Sebenarnya Arumi merasa kalbunya cukup lapang untuk memiliki kekasih lagi saban kisah cintanya berakhir. Masalahnya, ada saja kendala yang menghalangi niatnya mengakhiri masa lajangnya. Selain cerita gagalnya pernikahan di depan mata, masih ada kisah sendu cintanya yang beraneka warna. Jadi berulang kali sudah Arumi patah hati. Kedua adik lelakinya malah telah lebih dahulu menikah, salah satunya bahkan sudah memiliki anak. Sementara satu-satunya adik perempuannya pun senasib dengan dirinya, tapi sang adik delapan tahun lebih muda ketimbang dirinya. Arumi sadar, ia memiliki beban tersendiri dengan statusnya.

Bagaimana cara Tuhan mempertemukan insan ciptaan-Nya dengan jodoh sejatinya sungguh beragam dan tiada satu pun yang persis sama. Fakta berbicara bahwa lebih banyak orang yang memilih menikah, kendati sebagian di antara mereka lantas berpisah. Ada pula yang memilih hidup bersama tanpa menikah atau malah memiliki prinsip sendiri belaka itu lebih baik. Arumi masih belum mengerti, bagaimana ia akan bertemu dengan lelaki idaman yang kelak menjadi suaminya. Ia seperti kebanyakan orang yang ingin menikah dan membangun keluarga sendiri. Pengalamannya dalam menjalani sekian cerita asmara memberinya pelajaran penting. Bukan hal mudah baginya menemukan lelaki yang sesuai hati dan pikirannya. Tapi ironisnya, begitu yang ia harapkan hadir dalam hidupnya, ternyata orang tersebut tak bisa dimiliki dan memilikinya secara utuh.

***

Lelaki itu telah cukup lama dikenal baik oleh Arumi sebenarnya. Tak pernah terbayangkan mereka akan menjadi teman tak biasa. Awalnya, sebuah pertemuan tanpa sengaja membuat mereka saling bertukar cerita, lantas kedua insan ternyata merasa nyaman. Mereka sudah mengenal seseorang yang sama sejak sekian tahun berselang. Sosok yang membuat Arumi dan Robert bisa memiliki koneksi. Ia adalah Fay, sahabat Arumi sejak SMP, yang menjadi istri Robert. Fay dan Robert menikah dua belas tahun silam. Pernikahan mereka dipercepat dari rencana semula, lantaran ayah Fay mendadak tutup usia. Mereka pun mengikat janji suci di depan jasad ayah sang mempelai perempuan.

Arumi tahu persis, sahabatnya dan Robert saling mencintai, sejak dahulu hingga kini pun sepertinya masih. Yang ia sayangkan, selama mereka menjalani mahligai rumah tangga, terdapat hal-hal tertentu dari Fay yang membuat batin Robert cukup tertekan, namun lelaki itu tak sanggup berbuat apa-apa. Fay sangat dimanjakan mendiang ayahnya dengan kekayaan berlimpah. Ia menuntut Robert setidaknya menyamai apa yang diberikan ayahnya dan selalu memaksa suaminya menuruti hasratnya tanpa sudi berkompromi. Robert sendiri senantiasa meminta Fay bersabar, tapi lebih kerap caci maki yang justru diperolehnya. Belum lagi masalah sikap Fay terhadap mertuanya. Cukup aneh sebetulnya. Robert tidak pernah diizinkan pulang ke rumah orangtuanya sejak mereka menikah. Fay beralasan bahwa mertuanya toh bisa datang ke Jakarta, jadi Robert tak perlu mengunjungi kampung halamannya, yang kebetulan lokasinya memang jauh dari ibukota. Lagi-lagi lelaki itu menuruti sabda istrinya belaka. Baru kepada Arumi seorang, akhirnya Robert berterus terang hingga bisa sedikit berbagi beban.

”Aku paham, Fay dahulu anak manja yang selalu mau menang sendiri. Kukira dia bakal berubah, apalagi lelaki baik sepertimu setia mendampinginya, Rob. Tak kusangka, dia masih bersikap begitu padamu,” ucap Arumi sesudah menyimak kisah panjang Robert.

”Aku sadar, Fay memang kadang keterlaluan. Tapi kau tahu, aku tak tega meninggalkannya,” sahut Robert.

Arumi menatap Robert dengan iba. Ia tak habis pikir dengan sikap Fay yang tidak bisa menghormati suaminya. Robert lelaki yang jujur, setia, bertanggung jawab, dan sangat mencintai keluarganya. Sungguh sosok suami idaman bagi banyak perempuan. Arumi sempat berkhayal, andaikan dirinya yang menjadi pasangan hidup Robert, ia bakal selalu membalas perlakuan elegan suaminya dengan hal-hal istimewa yang menggembirakan hatinya. Tak mungkinlah ia menyia-nyiakan karunia Tuhan seapik lelaki itu, namun ia lekas menghapus hasrat terpendamnya terhadap Robert. Arumi tahu diri.

***

Masa yang berjalan justru kian mendekatkan hubungan Arumi dan Robert. Komunikasi nyaris saban hari terjadi dan adakalanya mereka sengaja bertatap muka, kendati tinggal berbeda kota. Lambat laun berkembanglah rasa saling memerlukan di antara kedua insan, hingga hati mereka pun bertaut. Arumi berhati-hati sekali, ia tak mau hubungannya dengan Robert sampai pada kedekatan ragawi yang melanggar norma. Tentu ia enggan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga sahabatnya. Arumi meyakinkan dirinya maupun Robert bahwa mereka hanya dapat berteman, kendati lebih ketimbang kawan biasa.

”Seandainya kelak aku berpisah dengan Fay, sudikah kau menemani sisa hidupku?” tanya Robert cukup mengejutkan Arumi, pada suatu ketika.

”Rob, kau pasti tahu apa jawabanku. Tanpa ragu, aku akan sudi menemanimu dalam suka duka. Tapi aku tidak yakin kau sanggup menceraikan Fay. Iya, kan?” kata Arumi seraya menahan gejolak di dada.

”Kau benar. Aku memang masih ragu. Aku mungkin bisa hidup tanpa dirinya, tapi tak dapat kubayangkan tatkala Fay dan anak-anak hidup tanpa kehadiranku. Apalagi jika sesudah kami berpisah, aku justru hidup bersamamu.”

”Lebih baik kau tak mengajakku berandai-andai belaka, Rob. Mungkin mestinya kita cukupkan saja hubungan ini sekarang.”

”Jadi, kau tak mau lagi kita bertemu?”

”Sebelum urusanmu dengan Fay tuntas, lebih baik seperti itu. Bisa saja kan, Fay akhirnya berubah? Aku pasti senang menyaksikan sahabatku bahagia, tapi kau sendiri juga mesti bahagia…” Arumi tak sanggup meneruskan ucapannya, isak tangisnya semata yang lantas terdengar. Robert bergeming. Betapa ia ingin memeluk perempuan yang sanggup menerima kelebihan maupun kekurangannya, tapi apa yang dilakukannya bisa jadi malah kian meremukkan hati Arumi. Robert menyesali ketidaktegasannya menanggapi masalahnya dengan Fay yang tak kunjung membaik.

”Baiklah, Arumi. Aku akan mengajak bicara Fay. Kuharap dia mau berpisah denganku. Untuk apa aku peduli perasaannya, sementara dia tak peduli perasaanku selama ini. Anak-anak kami tentu tak akan kutelantarkan begitu saja. Kuharap mereka berdua malah bisa tinggal bersamaku. Aku yakin, kau mampu jadi ibu tiri yang baik bagi mereka,” ujar Robert.

Arumi tak berkata apa-apa lagi. Hanya dalam hatinya ia berjanji akan menjaga perasaannya bagi Robert seorang. Ia berharap lelaki yang dikasihinya itu kelak kembali menemuinya serta membawa kabar gembira bagi mereka berdua. Namun ia mesti menyiapkan mentalnya pula, sekiranya kisah cinta Robert dan Fay justru kembali dalam harmoni. Arumi masih bersedia menanti.

# Cerpen ini dimuat di Suara Merdeka Minggu, 13 Maret 2016.

h1

Riwayat Orang Keempat

Februari 27, 2016

Sejak ibunya wafat sekian bulan berselang, Seto hanya tinggal dengan Ratih-kakak perempuannya-di rumah yang terlampau lapang bagi mereka berdua. Adik kakak itu belum memiliki pasangan hidup. Ketika Seto masih bocah, kedua orangtuanya masih hidup, dan ketiga kakaknya -selain Ratih- belum menikah, rumah itu terasa hangat dengan riuh rendah suara penghuninya. Kini, kala ayah dan ibunya telah berpulang, sementara kakak-kakaknya -Sinta, Laras, dan Bimo- sudah mapan bersama keluarganya masing-masing, tersisalah Seto dan Ratih berteman sepi. Laras masih kerap datang bersama suami dan ketiga anaknya, sementara Sinta maupun Bimo berada di kota berbeda. Mereka biasanya datang sekiranya ada yang mesti dibicarakan sepeninggal ibu mereka.

 Sekitar setahun sesudah sang ibu tiada, hadirlah orang ketiga selain Seto dan Ratih. Dialah Jordan, kemenakan mendiang ibu Seto, yang disambut dengan sukacita. Selanjutnya terbit satu harapan Seto, jika rumah mereka kedatangan orang keempat, maka dialah orang yang dicintainya dan akan mendampingi sisa hidupnya. Seto sudah beberapa kali jatuh cinta, tapi selalu pada orang yang salah. Buktinya dia belum menikah, sedangkan mayoritas kawannya telah berkeluarga dengan bahagia.

 

***

 

Belum lama Seto berjumpa lagi dengan teman-teman SMA-nya, sesudah lebih dari sepuluh tahun mereka lulus. Tersebutlah Rania, salah satu temannya yang belum menikah. Ketika sekolah dulu, Seto dan Rania hanya saling mengenal nama. Namun kini Seto ingin lebih karib dengannya. Awalnya, Rania seperti menyambut baik niat Seto. Sehabis reuni, mereka pernah berjumpa dan berbincang hanya berdua. Kendati hatinya belum bertautan dengan Rania, Seto merasakan sejumlah hal yang cocok di antara mereka.

Seto ingin bersua empat mata lagi dengan Rania. Dia ingin mengemukakan rencana masa depannya, termasuk niatnya menikah. Seto akan menanyakan hal yang sama pada Rania. Jika ternyata jawaban gadis itu sesuai harapannya, Seto berencana menyatakan cintanya, kendati belum yakin kalbunya.

”Jadi kalau mungkin, aku bakal menikah tahun depan. Bagaimana denganmu, Rania?” tanya Seto mengakhiri paparannya.

”Sebenarnya masih banyak rencana yang mesti kujalani sendiri. Aku tak mau menikah buru-buru, meski hampir semua temanku telah berkeluarga. Untuk apa menikah, jika hal itu menghalangi segala cita yang ingin kucapai? Kalau sudah waktunya, aku pasti bakal punya suami yang bisa menerimaku apa adanya,” sahut Rania.

Kecewa ternyata yang dirasakan Seto. Jawaban Rania justru berlawanan dengan asanya. Ada sejumlah perbedaan prinsip pula, jadi barangkali mereka masih bisa berteman, begitu pikirnya. Tapi setelah pertemuan itu, Rania laksana lenyap dimakan bumi. Saban teman-teman SMA-nya kembali berkumpul, Seto pun turut serta, Rania tak pernah lagi menampakkan dirinya. Orang keempat di rumah Seto belum kunjung tiba.

Ada lagi perempuan bernama Listy. Seto sempat merasakan pandangan Listy terhadapnya seperti bermakna tertentu. Saban berbincang dengannya, dunia lebih indah warnanya bagi Seto. Namun belum sempat mengakrabinya, telah dilihatnya Listy membonceng motor seorang lelaki, yang belakangan dikenalkan kepadanya sebagai kekasihnya. Pupuslah asa Seto terhadap Listy.

”Bilakah hadirmu, wahai orang keempat di rumahku?” gumam Seto dengan gundah gulana.

 

***

Hampir genap setahun setelah Seto, Ratih, dan Jordan tinggal serumah, sesuatu yang penting terjadi. Sinta, kakak tertua Seto meminta adik-adiknya segera menerima kehadiran warga baru di rumah mereka, yaitu Rully. Dia adalah putra almarhum sepupu jauh Seto, yang akan kuliah di kota mereka. Seto tidak ingat pernah bertemu dengannya, sementara dulu dia sebatas mengenal ayah Rully.

”Aku sudah bilang tidak masalah pada Mbak Nova. Pokoknya kita bisa menerima anaknya. Jadi, Rully mulai lusa akan tinggal bersama kalian. Biar dia sekamar dengan Jordan,” kata Sinta lewat telepon.

”Kok mendadak sekali, Mbak? Apa kita tidak bisa bertemu dulu membicarakan rencana itu?” jawab Seto yang kaget dengan instruksi mendadak dari kakaknya.

”Gampanglah, besok aku dan Mas Yopi datang ke rumah.”

”Apa Mbak Laras dan Mas Bimo tahu rencana akan tinggalnya Rully dengan kami?”

”Aku belum bilang. Jadi tolong, Mbak Laras dan Mas Bimo kamu yang kabari.”

Seto merasa, Sinta seperti tidak menganggap penting keberadaan adik-adiknya, begitu saja menerima permintaan tolong dari seseorang yang ingin anaknya nunut di rumah. Bahkan Laras maupun Bimo juga tidak dikabarinya. Laras yang baru diberitahu Seto pun ikut tersinggung.

”Kok Mbak Sinta begitu, sih? Apa tak bisa kita diberitahu jauh-jauh hari? Kehadiran warga baru kan perlu persiapan, tidak hanya secara fisik, tapi juga mental penghuni lamanya. Kecuali kalau rumah kita memang rumah kos, pastilah tak masalah.”

”Itulah yang jadi ganjalan buatku, Mbak. Apalagi aku belum kenal siapa dan bagaimana sosok Rully,” ujar Seto masygul.

Sementara Bimo yang ditelepon Seto belakangan tidak bisa berkomentar banyak, lantaran sedang bertugas di tempat yang jauh.

 ”Pokoknya semua dibicarakan baik-baiklah, antara kamu, Mbak Sinta, Mbak Laras, dan Mbak Ratih. Jordan juga jangan dilupakan. Sayangnya aku tak bisa pulang,” pesan Bimo kepada adik bungsunya.

Hari berikutnya, Sinta datang bersama Yopi suaminya. Sebenarnya Seto marah terhadap kakak sulungnya itu, tapi dia masih menghormati Sinta maupun kakak iparnya. Dia akan menunggu seluruh kakaknya-kecuali Bimo-hadir dahulu. Maka sore itu berkumpullah Seto dengan Sinta, Yopi, Laras, Danang (suami Laras), dan Ratih. Jordan, adik sepupu mereka, kebetulan sedang pulang berlibur di rumah orangtuanya.

”Dulu, ketika Jordan akan tinggal di sini, aku tidak keberatan. Selain dia sepupu kita, aku kenal dia sedari bocah. Dia sebelumnya pun sering kemari dan ngobrol denganku. Sementara Rully, aku bahkan lupa, apa pernah melihat sosoknya atau belum. Yah, meski dengan almarhum ayahnya aku cukup dekat, tapi zaman dulu sekali,” ucap Seto rada sinis.

”Minimal kita mesti ada persiapan juga, kan? Kedua orangtua Jordan mestinya juga perlu tahu tentang hal ini. Bukan begitu, Mbak Sinta?” sambung Laras sedikit ketus.

”Aku minta maaf sama adik-adik. Memang mestinya aku mengajak kalian rembukan dulu, tidak langsung bilang setuju, ketika Mbak Nova meminta anaknya tinggal di sini,” kata Sinta yang tampak menyesal melihat adik-adiknya seakan menyalahkannya.

”Kita itu di sini mau menolong orang. Kenapa sih, mesti pada keberatan? Lagi pula Rully itu bukan anak raja, tidak usah menggelar karpet merah segala demi menyambutnya,” potong Yopi yang tidak suka melihat istrinya merasa bersalah.

Seto dan Laras saling memandang belaka dengan kecewa, sementara Ratih dan Danang tak berkata apa-apa. Mereka semua sebenarnya tidak keberatan, hanya kurang setuju dengan cara Sinta dan Yopi yang tiba-tiba, lantas setengah memaksa adik-adiknya agar tidak bisa berkata tidak.

”Kami hanya perlu waktu, Mas Yopi. Saya juga memikirkan nasib Jordan. Coba, bagaimana perasaannya setelah kembali ke sini, tiba-tiba ada orang tak dikenalnya menjadi teman sekamarnya?” ujar Seto yang wajahnya memerah.

”Kalau memang tak mau, biar Rully tinggal bersama kami saja. Memang jauh dari tempat kuliahnya, tapi kan lebih dekat daripada tempat tinggal ibunya. Jordan kan anaknya supel, tidak perlulah kamu mencemaskan dia,” kata Yopi yang mengerti bahwa Seto pasti akhirnya-mau tak mau-akan menerima Rully.

”Kami akan menerimanya, Mas Yopi. Kami hanya merasa kurang nyaman karena semua serba mendadak. Sudah, silakan saja Rully tinggal bersama kami,” sahut Seto yang masih sedikit dongkol. Dia tak ingin berada di pihak yang kalah, tapi mencoba berbesar hati belaka.

Akhirnya semua bersepakat menerima kehadiran Rully sebagai orang keempat. Seto berusaha berpikir positif seraya melupakan konflik yang sempat terjadi. Sehabis pertemuan, kakak-kakaknya beranjak pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pergi, Danang sempat berbisik kepada Seto.

”Aku tahu, sebenarnya tidak mudah bagi kita menerima begitu saja orang yang tidak dikenal menjadi warga baru di rumah kita.”

”Terima kasih, Mas Danang. Mohon doanya saja, semoga kehadiran Rully tidak merepotkan kita semua.”

 

***

Rully kelihatannya anak yang baik, pembawaannya tenang, dan seolah tak banyak tingkah. Semula sikapnya seperti bersedia menjadi bagian dari keluarga kecil yang terdiri dari Ratih, Seto, dan Jordan di rumah tersebut. Dia beberapa kali bercengkrama bersama kerabatnya. Tapi menginjak bulan kedua, Rully tiba-tiba bagaikan mengasingkan diri. Setiap mau pergi, meskipun Seto atau yang lain sedang berada di rumah, dia tak lagi berpamitan. Lantas, saban pulang dari mana saja, lelaki muda itu senantiasa menyendiri di kamarnya. Jika tidak tidur sangat lama, dia selalu asyik sendiri menonton televisi (yang sebenarnya milik Jordan), bergitar sambil mendengarkan lagu dari MP3 player-nya, atau terpaku di depan laptop-nya. Tak pernah terlihat, misalnya dia sedang membaca buku atau menyapu kamarnya. Kebetulan, kamar yang dihuni Rully dengan Jordan terletak di lantai dua, sementara ruangan lainnya berada di lantai satu. Malah Jordan yang akhirnya merasa tidak nyaman tinggal di kamarnya sendiri. Dia membiarkan Rully menguasai kamarnya dan memilih tidur di ruang tengah, di depan televisi milik bersama yang berada di lantai satu.

Seto sebenarnya ingin mengerti apa yang terjadi dengan Rully. Dia berniat mengajak bicara kemenakan jauhnya tersebut. Namun saat Seto melihatnya di kamar, mahasiswa tahun pertama itu selalu tengah terlelap atau sedang asyik sendiri. Seto jadi malas, bahkan untuk sekadar menyapanya. Sementara Jordan yang sebenarnya sebaya dengan Rully pun bingung mesti bicara apa. Sampai akhirnya di sebuah petang, suatu hal signifikan terjadi. Jordan yang sedang melihat berita di televisi, serta-merta berteriak pada kakak sepupunya.

“Mas Seto, Mbak Ratih, kalian mesti nonton berita ini!”

“Ada apa? Huh, lagi-lagi berita orang bunuh diri, ya?” ujar Seto yang bergegas ke depan televisi disusul oleh Ratih.

“Iya Mas, tapi coba lihat siapa yang jadi korbannya?” kata Jordan tegang.

Betapa terperanjatnya mereka bertiga, ketika sang penyiar berita mengungkapkan identitas korban bunuh diri tersebut. Orang yang terjun bebas dari lantai lima pusat perbelanjaan terbesar di kota itu adalah Rully, laki-laki yang selama sekian pekan terakhir bagaikan puasa berbicara dan tak mau kenal dengan penghuni rumah lainnya. Berakhirlah sudah kini riwayat orang keempat.

# Cerpen ini dimuat di Suara Karya Sabtu, 27 Februari 2016.

h1

Tiada Lagi Sepak Bola di Blog Ini

Februari 27, 2016

Sejak memulai blog ini pada Oktober 2007, sepak bola merupakan salah satu materi yang dominan. Apalagi cukup banyak tulisan saya yang pernah dimuat di media massa dan blog ini menjadi sarana dokumentasi yang memadai. Namun pada awal 2015 minat saya membahas olah raga terpopuler sejagad itu mulai meluntur, bahkan sempat mengalami hiatus selama berbulan-bulan. Dan saya memutuskan tidak akan lagi menulis tentang sepak bola di blog ini terhitung sejak tahun 2016.

Terjadinya konflik antara Menpora Imam Nahrawi dan PSSI yang berbuntut hukuman FIFA terhadap sepak bola Indonesia menjadi alasan utama. Pada saat silam saya hampir selalu ikut urun rembuk dengan tulisan-tulisan saya ketika terjadi konflik di PSSI. Tapi saya sudah begitu lelah dan jenuh mendengar lagi kisah konflik yang mesti terjadi di luar lapangan hijau. Terlalu dongkol, marah, sedih, dan kecewa membuat saya tak lagi merasa punya energi. Maka saya memutuskan untuk puasa menulis hal ihwal sepak bola di tanah air tercinta hingga kondisi kembali normal, entah akan sampai kapan. Saya hanya bisa berdoa dan tak mau berkomentar apa-apa.

Alasan lainnya adalah nasib buruk tiga klub favorit saya di Eropa (AC Milan, Manchester United, dan Real Madrid) sepanjang musim 2014/15. Selain itu, ruang berekspresi bagi para penulis  sepak bola di media massa terus berkurang dan nyaris tiada lagi. Tabloid SOCCER sudah berhenti terbit, lalu rubrik Suara Tifosi di Tabloid BOLA dihilangkan, dan puncaknya adalah Harian BOLA pun berhenti terbit pada tahun 2015. Padahal Harian BOLA memiliki rubrik Opini Publik (sebelumnya bernama OPOSAN di Tabloid BOLA) yang selama sekitar tiga tahun terakhir memberikan honor lumayan bagi kami penggemar sepak bola yang hobi menulis. Masih ada lagi sebuah masalah teknis yang membuat saya berhenti di sini. Tapi sejak 28 Januari 2016 sebenarnya saya sudah memutuskan membuat blog khusus bertema sepak bola dan mungkin juga seputar olah raga lainnya. Silakan singgah di http://bolalou.blogspot.co.id/

 

h1

Menjelang Kepergian Ibunda

Januari 6, 2016

Saban tiba menjelang pergantian warsa, hingga menjelmalah angka tahun yang baru, senantiasa aku terkenang pada mendiang Ibunda. Sembilan tahun sudah tak dapat kutemui ibuku dalam keseharian di atas buana. Benakku beranjak menuju masa silam, pada sejumlah hari sebelum kepergian selamanya perempuan yang sungguh kusayangi. Ketika itu sebenarnya Ibu telah berada di rumah kembali selama hampir dua bulan. Beliau sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit sekitar dua pekan lantaran mengalami gangguan jantung dan ginjal. Sebagai upaya memulihkan kesehatannya, kata dokter tiada pilihan lain bagi Ibu kecuali menjalani cuci darah secara rutin seminggu dua kali.
Sesungguhnya tak mudah bagi ibuku menuruti saran dokter. Aku paham, beliau pernah memiliki pengalaman buruk dengan masalah cuci darah. Beberapa tahun sebelum Ibu diopname, seorang paman beliau sakit keras dan mesti menjalani cuci darah berkali-kali. Akhirnya sang paman padam nyawa. Masalahnya, Ibu adalah orang yang selalu mendampingi pamannya berhubung almarhum tidak berkeluarga. Lagi pula keluarga kami merupakan kerabatnya yang paling dekat. Ibu akhirnya bersedia darahnya dicuci, tapi cukup sekali, tak sudi andaikata lebih lagi. Alasan Ibu sederhana saja, beliau tak ingin terlalu merepotkan anak-anaknya yang mesti mengantarnya ke rumah sakit. Belum lagi biayanya pun besar untuk melakukan hal itu. Tentu saja sebenarnya kami tak akan keberatan, termasuk berupaya menyediakan berapa pun dananya. Kami toh melakukannya demi ibu yang sungguh kami sayangi, apalagi Bapak sudah lama tiada. Tapi aku beserta kakak-kakakku menghargai pilihan beliau. Pengalaman buruk cuci darah mendiang sang paman pasti belum sirna dari benak Ibu.
Sesudah cuci darah yang hanya sekali itu, beliau mencoba melakukan pengobatan alternatif. Saban tiba akhir pekan, kuantarkan Ibu ke sebuah desa dalam rangka berobat pada seseorang yang memiliki keterampilan menyembuhkan berbagai penyakit. Kondisi tubuh Ibu tampak sempat membaik selama beberapa saat. Indikasinya terlihat ketika beliau mengeceknya di laboratorium umum kesehatan. Aktivitasnya pun sempat berjalan biasa, misalnya mengikuti acara pengajian atau menghadiri pertemuan keluarga besar. Namun hal tersebut nyatanya tak berlangsung lama. Yang terjadi sehabis itu malah penurunan kondisi tubuh yang sangat drastis. Ibu kemudian hanya bisa terbaring lemah di atas dipan. Akhirnya kami memutuskan membawa orangtua kami yang tinggal satu kembali ke rumah sakit. Masih lekat kuingat, hari itu Jumat pagi, tanggal 29 Desember.

***

Malam tahun baru, seorang diri di serambi lantai kesekian rumah sakit aku berdiri. Kusaksikan langit terang benderang oleh nyala kembang api dari beragam penjuru kota. Seingatku, baru sekali itu dapat kutatap secara leluasa kemeriahan malam pergantian tahun. Sayang sekali, di sampingku tiada sesiapa yang kukenal, apalagi orang-orang yang kusayangi. Dalam hati aku bersyukur masih diberi waktu mengalami satu lagi tahun baru. Secara khusus kumohon pada Tuhan, agar di tahun yang baru ibuku masih diberi anugerah berupa kesembuhan dari segala sakitnya dan kembali sehat seperti sediakala. Sudah memasuki malam ketiga aku menunggui Ibu di rumah sakit. Sehari setelah masuk rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, beliau sempat membuka matanya dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Setelah itu Ibu kembali terlelap, tanpa kami tahu kapan akan terjaga kembali. Kerabat kami yang menjadi dokter menyatakan bahwa harapan kesembuhan Ibu masih ada, tapi ia menganjurkan kami agar lebih banyak berdoa.
Pagi hari pertama tahun baru, Ibu mesti menjalani cuci darah. Sesungguhnya sejak masuk rumah sakit lagi, dokter sudah memutuskan akan melakukannya, tapi baru bisa terlaksana tiga hari kemudian berhubung harus mengantri. Ternyata cuci darah gagal dilaksanakan. Tubuh Ibu menolak proses medis tersebut. Terus terang, aku tak punya firasat apa-apa. Sekadar kucoba memahami bahwa Tuhan mungkin sedang mengabulkan keinginan Ibu yang enggan melakukan cuci darah lagi. Justru Mbak Atik, kakakku, yang wajahnya tampak memucat, ketika memberitahuku -yang menunggu di luar ruangan- tentang gagalnya proses cuci darah itu.
Tak lama berselang, Eyang Putri hadir dari Jakarta ditemani Om Adi, pamanku yang paling muda. Beliau duduk di kursi roda karena masih lelah seusai menempuh perjalanan darat Jakarta-Yogyakarta, namun wajah beliau tampak sangat tegar. Jujur saja, rada aneh aku menyaksikannya. Aku dan Mbak Atik kemudian menemani Eyang Putri beserta Om Adi menemui Ibu. Ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Ibu membuka matanya dan meneteskan air mata, ketika Eyang Putri tepat berada di sampingnya. Entah pertanda apakah, aku tak berani berpikir lebih lanjut.
Kami meninggalkan rumah sakit sewaktu kakakku yang lain berdatangan, kendati belum semuanya. Kondisi Ibu sendiri relatif stabil dan tubuhnya yang bergeming dibawa kembali ke kamar rawat inapnya, sesudah proses cuci darahnya tidak berhasil dilakukan. Aku pulang bersama Eyang Putri dan Om Adi yang kuturunkan di rumah mertua Mbak Tari, kakakku lainnya. Aku diminta kakakku melakukannya karena aku sendiri belaka di rumah. Sementara ada Mbak Tari dan ibu mertuanya yang bisa melayani nenekku.
Telah kumiliki sejumlah rencana setibaku di rumah. Langsung kujalankan satu demi satu, dimulai dari menyiram tanaman, lalu kucukur kumis dan jenggotku yang sudah beberapa hari tumbuh memenuhi wajahku. Sehabis itu aku berencana mandi, makan siang, lantas kembali ke rumah sakit. Tapi kemudian Mbak Tari meneleponku, katanya kondisi fisik Ibu melemah. Aku sekadar sempat cuci muka, mengenakan baju bersih, dan bergegas pergi ke rumah mertua kakakku. Begitu aku sampai, Mbak Tari ternyata baru mendapat kabar lagi dari suaminya bahwa keadaan Ibu sudah membaik. Kami pun sepakat menunda rencana ke rumah sakit. Aku malah diajak makan siang bersama Eyang Putri dan juga Om Adi.
”Ibumu itu sosok yang begitu baik. Mungkin hanya satu di antara seribu orang yang seperti ibumu,” kata Eyang Putri.
Tubuhku bergeming belaka menyimak ucapan nenekku tentang putri kesayangannya, namun hatiku bergetar mendengarnya. Kuingat kondisi terakhir Ibu yang lemah tanpa daya di rumah sakit. Tinggal keajaiban Tuhan belaka yang kuharap bakal datang menyelamatkan nyawa perempuan yang melahirkanku ke dunia. Tiba-tiba kakakku menerima telepon dari suaminya yang memberitahukan bahwa kondisi Ibu kembali memburuk. Kali ini aku, Mbak Tari dan Om Adi segera bergegas menuju rumah sakit tanpa menundanya lagi. Eyang Putri memilih tetap berada di rumah mertua kakakku.
Kami bertiga datang terlambat ternyata. Begitu memasuki bangsal tempat ibuku dirawat, kakak iparku menyambut kedatangan kami dan mengatakan sesuatu dengan lirih.
”Baru saja Ibu sudah pergi. Kalian yang tegar ya, Dik.”
Aku dan Mbak Tari memasuki kamar menemui kakak-kakak kami yang berurai air mata. Kami pun saling berpelukan, berpadu dalam kesedihan yang sama. Seseorang yang sangat berarti sepanjang hidupku telah pergi untuk kembali ke hadirat Ilahi. Mesti berupaya keras diriku agar ikhlas menerima ketentuan-Nya. Maka sejak saat itu, sebatas menjadi kenanganlah segala hal tentang Ibunda. Hanya mampu kurasakan rindu, tanpa tahu bila waktunya dapat bertemu lagi dengan dirinya. Kadangkala sosok mungilnya hadir belaka dalam sejumlah bunga tidurku, tanpa kami bisa berkata-kata.

# Cerpen ini dimuat di Suara Merdeka Minggu, 3 Januari 2016. 

h1

Berbekal Wasiat

Desember 24, 2015

Imra merasa sudah mendapat wasiat, sesuatu bernilai istimewa yang laksana hadir pada masa nan akurat. Masih teringat jelas setiap kata yang diucapkan sang lelaki tua -yang mirip mendiang kakek buyutnya- dalam sebuah mimpi.

“Selagi engkau berkuasa, gunakanlah kekuasaan itu sekehendak hatimu. Tak perlu peduli jika ada yang mengatakan tindakanmu kejam dan semena-mena. Biarkan saja, teruslah melangkah maju. Yang paling penting, orang tahu bahwa engkau adalah penguasa yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dan jika engkau sanggup bertahan dengan prinsipmu, maka kelak engkau bahkan berhak menggenggam tiket masuk surga”

Sepercik keraguan sempat terbayang di benak Imra. Ada sejumlah hal yang ingin ia tanyakan kepada sang pembawa pesan, namun serta-merta terbukalah kedua matanya seusai kalimat tersebut disampaikan. Ia terjaga dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi sekujur raganya. Terasa berdetak lebih kencang irama jantungnya. Ia sempat bisa bergeming belaka. Namun lelaki yang belum seumur jagung berkuasa itu lantas mengerti mesti berbuat apa. Ia bergegas berangkat menuju wahana bekerjanya demi meminta pendapat orang-orang di sekitarnya –para sesepuh- yang sudah sangat ia percayai kredibilitasnya.

“Bagaimana sekiranya mereka tidak mematuhi perintah saya, Paman Debro?”
“Anda lupa sedang menjadi penguasa, Pangeran Imra?” tanya Debro.
“Iya, saya tentu ingat, Paman. Tapi apa yang mesti saya lakukan sekiranya justru terjadi perlawanan?”
“Beri mereka tindakan yang tegas. Lucuti semua senjata mereka. Jangan biarkan mereka bisa bergerak sedikit saja. Tunjukkan pada mereka, siapa penguasa sejati itu. Tentu Andalah sosoknya, Pangeran.”
“Baiklah, Paman. Kini saya yakin, wasiat kakek buyut saya tempo hari memang benar adanya. Bagaimana dengan Paman Roman, apakah setuju dengan pendapat Paman Debro?”
“Tentu saya sepakat dengan pendapat Saudara Debro yang saya hormati. Saya ingin menambah nasihat belaka. Jangan biarkan mereka datang untuk meminta syarat tertentu dari Anda. Tutup saja semua kemungkinan berkompromi. Jika mereka menyatakan menyerah kalah, barulah Anda berikan mereka pengampunan. Di saat itulah Anda justru bakal dipuji seantero negeri sebagai pahlawan sejati,” ujar Roman yang merupakan mantan jenderal dan di masa aktifnya pernah beberapa kali memimpin pasukan untuk berperang membawa panji negara.

Opini Debro maupun dukungan Roman membuat Imra akhirnya mengerti benar makna pesan sang kakek dalam bunga tidurnya. Apalagi jika benar hal itu membuatnya bisa memiliki tiket masuk surga. Sungguh sebuah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan pastinya. Maka ia berjanji tak akan ragu-ragu dalam segala tindakannya.

Tentu Imra tak akan melupakan aspirasi sejumlah mantan punggawa pasukan yang pernah dikecewakan oleh Bara, orang yang sudah lama dikenalnya. Mereka tersingkir hanya karena tak sependapat dengan kehendak Bara sebagai sang komandan. Ia pernah berjanji untuk memberi pelajaran kepada pangeran nan arogan tersebut. Langkah pertamanya adalah mengirimkan surat kepada pasukan yang dipimpin musuh besarnya di masa lalu. Ia memberi ultimatum akan memperbolehkan pasukan Bara tetap melakukan aktivitasnya dengan sejumlah syarat yang secara sepihak ditentukan oleh Imra, tentunya atas petuah dari Debro dan Roman. Surat pertama tak berbalas. Rupanya mereka tak mematuhi perintahnya.

Pada kesempatan lain, Bara justru menyatakan bahwa pasukannya akan tetap melaksanakan kegiatan rutinnya. Ia tentu saja tak mau anak buahnya justru menuruti Imra yang secara struktural jelas bukan komandan mereka. Tidak berputus asa, Imra kembali mengirim surat kedua yang isinya senada, ternyata tak jua ditanggapi. Begitu surat ketiganya tidak mendapat perhatian lagi dari Bara, ia pun membuat keputusan berani. Imra membekukan pasukan yang dipimpin oleh Bara. Ia meminta tolong Jenderal Odin agar mengerahkan pasukan kerajaan menghentikan langkah wadyabala Pangeran Bara.

 

***
Imra sungguh ingin membuktikan diri mampu mengalahkan Bara, kendati di luar arena belaka. Mereka berdua memang memiliki kisah tersendiri di waktu dahulu. Tempo hari Imra pernah ditundukkan Bara dalam sebuah pertarungan pedang nan seru, sesuatu yang menjadi aib besar dalam kehidupan Imra. Luka yang tergores di pipi kanan Imra menjadi kado terpahit dari Bara yang tak bisa dilenyapkan bekasnya. Luka yang pedihnya merasuk hingga relung kalbu Imra. Menjadi penguasa merupakan kesempatan paling apik bagi Imra menuntaskan dendam lamanya. Apalagi terdapat sekelompok orang yang menyimpan kebencian yang sama terhadap Bara dan berhasrat serupa dengan dirinya. Dukungan tokoh-tokoh senior seperti Debro dan Roman menambah motivasinya, apalagi kakek buyutnya pun mendukungnya secara tidak langsung melalui satu wasiat dalam mimpi. Imra percaya begitu saja apa yang telah diperolehnya ketika lelap dalam tidurnya.

Bara sendiri sesungguhnya tidak ingin melanjutkan konfliknya dengan Imra yang terjadi pada masa silam. Ia berusaha menempuh jalan damai dengan mendatangi istana Imra tanpa membawa senjata sama sekali. Namun Imra justru meninggalkan tempat tinggalnya dengan tergesa-gesa, begitu mendengar kabar Bara akan mengajaknya berdialog secara elegan. Ia masih mengingat pesan Roman dan akan melaksanakannya secara konsisten. Jangan sampai dirinya bertemu dengan musuhnya dan terlena hingga memberi hati kepada Bara. Ia mesti terus menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa yang tak kenal jalan tengah dan musyawarah. Ia tak peduli tindakannya membuat elemen bangsa terpecah belah. Ia memilih menutup mata ketika para punggawa tak bisa mendapat penghasilan karena dilarang melaksanakan tugasnya sebagai anggota pasukan Pangeran Bara.

Imra merasa yakin telah melakukan tindakan mulia yang membuatnya bakal disebut sebagai pahlawan di masa depan. Dan ia tak akan melupakan kalimat pamungkas kakek buyutnya, berupa tiket masuk surga yang berada dalam genggaman.

# Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi No.38 Th.68 Minggu III Desember 2015.

 

h1

Sebuah Riwayat Cinta Singkat

November 26, 2015

Dua bulan silam, Om Himawan datang ke rumah kami bersama Eyang Putri. Paman dan nenekku tinggal di Jakarta, sementara kami berada di Yogyakarta. Eyang Kakung sudah tutup usia sekian tahun silam. Om Himawan merupakan adik kandung bapakku. Dalam usianya yang hampir empat puluh lima, ia masih melajang. Tiga orang adiknya malah lebih dahulu berkeluarga. Bahkan keponakannya, termasuk kakak perempuanku, sudah ada yang menikah pula. Seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya akan diperkenalkan kepada pamanku. Eyang Darsono, sahabat keluarga Eyang Kakung yang memiliki inisiatif untuk menjodohkan Om Himawan dengan keponakannya yang tinggal di Yogyakarta. Setahuku, Eyang Darsono sudah berteman karib dengan mendiang kakekku semenjak puluhan tahun silam. Hubungan beliau dengan keluarga besar kami memang terjalin dengan apik, termasuk sepeninggal Eyang Kakung. Om Himawan sendiri semula enggan dijodohkan dengan keponakan Eyang Darsono, namun ia mencoba menerimanya. Aku tak terlalu paham mengapa pamanku belum menikah, padahal ia memiliki karier pekerjaan yang cemerlang dan bahkan telah memiliki rumah sendiri. Mungkin lantaran masalah jodoh sejatinya memang rahasia Ilahi. Kendati demikian, Om Himawan memilih tinggal bersama ibu dan seorang adiknya yang telah berkeluarga. Rumah miliknya justru disewakan karena lokasinya jauh sekali dari tempatnya bekerja.

Bapak, Ibu, dan Eyang Putri yang mengantarkan Om Himawan mengunjungi rumah orangtua Tante Cemara, perempuan yang diharapkan menjadi istri pamanku. Yang penting, mereka berdua dipertemukan lebih dahulu. Andaikata mereka memiliki kecocokan, keluarga kedua belah pihak tentu siap mendukung sepenuhnya pernikahan mereka. Namun kami tak kuasa memaksa mereka berdua agar menjadi sepasang kekasih. Yang lantas terjadi, tampaknya Om Himawan maupun Tante Cemara bersedia serius saling menjajaki satu sama lain. Mereka berdua pun bertukar nomor telepon dan akan melakukan komunikasi intensif, meski kebersamaan mereka terpisah oleh jarak dua kota. Om Himawan bahkan berjanji kembali ke Yogyakarta selekasnya, supaya dapat berbicara dari hati ke hati secara empat mata dengan Tante Cemara yang telah resmi menjadi kekasihnya.

***

Sejak saat itu, hampir setiap akhir pekan Om Himawan berada di Yogyakarta untuk menemui Tante Cemara. Hubungan mereka berdua cenderung semakin akrab hari demi hari. Pamanku pun bercerita kepada kami soal riwayat cintanya yang terus berkembang dan terlihat indah.

“Saya dan Jeng Ara sudah makin mantap menuju pelaminan. Saya mohon dukungannya dari semua di sini, ya,” ujar pamanku di depan keluarga kami.

“Dik Wawan tak usah khawatir, kami justru senang sekali jika kamu akhirnya menikah dan bahagia bersamanya,” sahut ibuku dengan rona wajah sumringah.

“Iya, pokoknya semua di sini siap mendukung sepenuhnya, demi kebahagiaan Om Wawan,” ucapku yang serta-merta ikut berkomentar saja.

“Terima kasih, ya,” kata pamanku terharu.

”Lalu kapan rencanamu melamarnya?” tanya Bapak.

Insya Allah, dua minggu mendatang saya akan membawa Ibu kemari lagi untuk secara resmi melamar Jeng Ara.”

Maka sebulan lalu, Om Himawan jadi melamar Tante Cemara. Rombongan keluarga besar kami terdiri dari sepuluh orang. Selain keluarga Bapak yang tinggal di Yogyakarta, ada adik Eyang Putri yang hadir, demikian pula paman dan bibiku termasuk dalam rombongan. Tante Cemara tak memiliki alasan apa pun untuk menolak lamaran itu. Tanggal pernikahan memang belum ditentukan kepastiannya, karena masih akan dibicarakan oleh pihak keluarga yang lebih berkompeten. Tapi jangka waktunya direncanakan dalam dua bulan sesudah acara lamaran tersebut.

Wajah Om Himawan tampak berseri-seri sekembalinya kami dari rumah Tante Cemara pada Sabtu malam itu. Sungguh berbeda dengan saat kami berangkat dari rumah, ia terlihat pucat pasi dan tegang sekali. Namun beberapa jam kemudian, tanpa sengaja kulihat pamanku melamun sendirian di teras rumah kami kala tengah malam. Kebetulan aku terjaga karena bermaksud ke kamar mandi. Kulihat pintu ruang depan yang terbuka, lantas kuhampiri pintu tanpa suara. Om Himawan ternyata tampak berada di luar sana. Aku bergeming belaka, tak ingin kuusik pamanku yang sedang menikmati kesendiriannya. Barangkali ia tengah membayangkan masa depannya, hidup bersukacita bersama kekasihnya. Aku pun memilih kembali ke tempat peraduanku.

***

Dua minggu setelah acara lamaran pamanku, sebuah kabar sangat mengejutkan kami terima dari Jakarta. Pagi hari itu pamanku tak kunjung bangun dari tidurnya. Sekitar jam sepuluh, Om Prasetyo yang tinggal serumah dengannya berinisiatif memanggil dokter dari klinik terdekat agar melihat kondisi Om Himawan. Setelah diperiksa oleh sang dokter, ternyata jasad pamanku semata yang terbujur kaku di atas dipan. Om Himawan divonis terkena serangan jantung dan nyawanya telah pergi dari raganya.

”Apakah Jeng Ara sudah diberitahu?” tanya Bapak setelah mendapat berita duka tersebut melalui telepon.

”Belum, Mas. Kami tidak tahu bagaimana caranya mengabarkan hal itu pada Mbak Ara. Jadi, kami minta tolong keluarga di Jogja yang menyampaikannya, ya,” jawab Om Prasetyo penuh harap.

”Tugas yang berat, Pras. Tapi kami memang mesti memberitahu Jeng Ara, apa pun risikonya. Semoga kami sudah sampai di Jakarta besok pagi.”

Bapak dan Ibu bergegas mendatangi rumah orangtua Tante Cemara siang itu. Kami belum memberitahunya bahwa Om Himawan sudah tiada, lantaran tidak tega dan tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya menerima kabar sedih tersebut. Kami hanya diharapkan segera datang ke Jakarta karena kekasih Tante Cemara dikabarkan dalam kondisi kesehatan yang kritis. Sore harinya, kami meninggalkan Yogyakarta dengan kereta api. Aku ikut mendampingi bapak ibuku maupun calon istri mendiang pamanku dalam perjalanan itu. Semalaman aku tak bisa tidur, tapi terus saja kucoba memejamkan mata. Aku hanya berusaha agar tak sampai berbicara apa-apa dengan Tante Cemara. Tentu aku tak mau, jika sampai lepas kendali dan malah mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya soal Om Himawan. Sepertinya Bapak maupun Ibu melakukan hal yang sama denganku.

Fajar tengah merekah ketika kami naik taksi menuju rumah Eyang Putri, tempat jenazah Om Himawan disemayamkan. Aku duduk di sebelah sang pengemudi. Ibuku, yang berada di samping Bapak dan Tante Cemara, akhirnya berbicara terus terang.

”Tolong, Jeng Ara yang tegar, ya. Sebetulnya, Mas Wawan sudah meninggal siang kemarin. Kita hari ini datang ke Jakarta untuk menghadiri pemakamannya,” ucap Ibu terbata-bata seraya menahan emosinya.

Sempat hening sesaat. Pandanganku tetap tertuju ke arah jalan. Terdengarlah kemudian suara isak tangis Tante Cemara belaka. Ibu maupun Bapak berusaha menenangkan perasaannya yang jelas sangat terluka. Sementara diriku bergeming belaka. Kusimpan duka nan dalam nian, membuat sesak di dada terasa begitu dominan. Sekejab terlintas di benakku segala yang terjadi selama dua bulan berselang, termasuk ketika kulihat pamanku melamun di teras rumahku seusai ia melamar kekasihnya. Apakah hal itu sejatinya pertanda sesuatu? Entahlah. Yang jelas, betapa singkat ternyata riwayat cinta yang terjadi antara Om Himawan dan Tante Cemara pada akhirnya.

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos, 22 November 2015 dengan judul “Riwayat Cinta Himawan”.

h1

Penulis dan Dunia Rekaannya

November 26, 2015

Penulis yang baik menciptakan dunia rekaannya dan para pembaca dengan senang hati menghanyutkan diri ke dalamnya. (Cyril Connolly)