h1

First Date with Secret Admirer

November 21, 2007

Aldo memegangi surat yang ditujukan padanya. Dibaliknya benda itu, dibacanya nama sang pengirim, Salma Mentari, sebuah nama yang sesungguhnya nggak dikenalnya sama sekali. Namun inilah untuk ketiga kalinya ia mendapatkan surat dari nama itu. Yang pertama ia dikirimi kartu lebaran. Saat itu Aldo membalasnya dengan mengirim kartu serupa, meski entah siapa Salma ia belum tahu. Lalu tiga minggu kemudian datang lagi surat kedua dari wanita misterius yang mengaku sebagai kakak kelas Aldo di SMA itu, sementara Aldo sendiri baru lulus SMA lima bulan silam. Ada beberapa kata dalam surat itu, yang secara tersirat menyatakan bahwa Salma suka dan kagum pada Aldo. Tersenyum sendiri Aldo membacanya, nggak mengira juga ia bahwa ada seorang cewek yang suka padanya. Ada sih, rasa tersanjung di hati Aldo, meski belum terbayang sama sekali wajah kakak kelasnya di SMA itu.

Sebetulnya Aldo akhir-akhir ini lagi ngefans berat pada Vendra, seorang gadis manis berkacamata teman kuliahnya. Jadi males juga rasanya mau ngasih respon membalas surat Salma. Oya, di suratnya Salma juga menulis bahwa dia punya sodara sepupu yang seangkatan dengan Aldo di SMA, katanya namanya Fira. Wah, Aldo sama sekali nggak tahu juga nama itu. Memang jaman SMA dulu Aldo bukan termasuk anak gaul, nggak terlalu banyak anak yang dikenalnya, terutama cewek. Kecuali cewek cakep yang ngetop tentunya, itu pun kenalnya sebatas nama. Meski mungkin banyak anak satu sekolah yang mengenalnya, karena dulu Aldo sempat jadi anak band sebagai drummer. Lagian tampangnya nggak jelek juga sih, rada mirip Didi Riyadi gitu. Tapi karena Aldo rada pemalu saja, yang membuatnya belum pernah pacaran hingga beberapa bulan jadi mahasiswa kini.

Surat ketiga dari Salma datang tiga hari setelah ulang tahun Aldo yang ke-18. Ada ucapan selamat dari Salma untuk ultahnya dalam surat berupa kartu itu. Kian heran saja Aldo dibuatnya, dari mana cewek itu tahu hari ultahnya? Seingat Aldo hanya segelintir teman yang tahu dan ingat tanggal lahirnya. Lha kok ini, seorang kakak kelas yang nggak dikenalnya dari dulu hingga kini malah tahu dan bahkan sudi mengirimkan kartu untuk ultahnya. Inne, kakak Aldo yang selalu jadi tempat curhat adiknya pun ngasih komentar,

Kayaknya adikku sayang punya pengagum rahasia yang serius nih!”

Iya nih, Mbak. Trus enaknya gimana ya? Aku perlu ngasih tanggapan lagi nggak ke dia? Ntar dikiranya aku ngasih hati lagi.”

Terserah kamu sreg-nya gimana deh. Tapi kayaknya sekedar say thanks sih nggak bakal bikin dia ge-er kok. Paling dia cuma seneng banget dapat perhatian dari sang idolanya,” seraya tersenyum Inne nasihatin adiknya semata wayang itu.

Apa gini aja, Do. Kan di suratnya buatmu ada alamat rumahnya tuh. Gimana kalo kamu datengin aja rumahnya? Kalo terus ketemu, kamu ‘kan nggak bakal penasaran lagi sama dia. Nah, kalo kamu nggak suka malah tinggal bilang langsung ke dia,” lanjut Inne.

Sebetulnya lumayan brilian juga ide Inne menurut Aldo. Tapi sebagai seorang cowok pemalu, mana berani ia melakukan hal itu.

Udah deh, mending kucuekin aja kartu ultah darinya ini, yang penting hatiku udah berterima kasih ke dia. Masa bodoh dia ngerti apa nggak. Aku pengen konsen buat deketin Vendra ajalah. Kalo buat ini apa aja aku mau deh, Mbak!”

*

Dengan langkah terburu-buru Aldo berjalan ke ruang I, tempat kuliahnya pagi itu yang berupa sebuah aula. Jadi mahasiswa baru memang nggak nyaman banget, hampir tiap hari ada kuliah yang mulainya jam tujuh pagi! Udah gitu dosennya rata-rata berdisiplin tinggi, so pas jamnya pasti mereka udah stand by di atas mimbar dan mulai ngasih kuliah. Cuma pagi itu Aldo merasa nyaman karena Vendra duduk di kiri depannya. Ini sesuatu yang luar biasa, karena biasanya jarang banget Aldo bisa melihatnya saat kuliah. Biasanya Vendra -yang tipe mahasiswi rajin itu- duduk di depan, sementara Aldo -yang tipe mahasiswa rada malas itu- duduk di belakang. Tumben sekali Vendra pagi itu duduk di belakang.

Maka sepanjang kuliah itu pun pandangan Aldo lebih dominan ke arah tempat gadis pujaannya berada. Sempat Vendra menoleh ke arah kanan dan saat dilihatnya Aldo, cewek itu pun tersenyum seraya melambaikan tangannya. Serasa jiwanya melayang sesaat, saking gembiranya Aldo dapat senyuman Vendra. Sehabis kuliah pertama usai, Aldo segera mendekati cewek favoritnya.

Ve, kapan-kapan aku pinjem catatan kamu ya. Boleh kan?”

Mmm…Boleh aja sih, tapi ngantri ya? Soalnya Tiwi udah mau pinjem dulu tuh.”

Oke, kalo gitu besok aja deh pinjemnya habis Tiwi. Thanks before ya, Ve. Oya, kamu udah sarapan blom?” Aldo nanya gitu karena siapa tahu Vendra mau diajaknya makan bareng di kantin. Namanya juga lagi melakukan usaha pendekatan.

Wah, udah tuh. Eh, sori ya. Itu si Tiwi udah ngajak aku ke perpustakaan. Udah dulu ya, Do,” kata Vendra sambil berjalan meninggalkan Aldo yang terpaku berdiri dengan dongkol. Tapi ia sadar masih banyak kesempatan buat mendekati Vendra lagi nanti. Memang sih, jelas nggak bakal mudah. Vendra itu tipe cewek yang jadi dambaan banyak cowok di kampus. Ia nggak cakep doang, tapi juga rajin kuliah, pinter, ramah banget, baik hati, dan nggak neko-neko dalam berpenampilan, secara ia secakep Keira Knightley gitu.

*

Sabtu siang, barusan Aldo tiba di rumah dan menutup garasi saat Mbok Nah, pembantu setia keluarganya bilang kalo ada telepon buatnya. Ia pun segera mengangkat telepon di ruang tengah rumahnya.

Halo, siapa nih?”

Halo Aldo, ini Fira. Inget nggak, aku temen kamu SMA.”

Iya, aku tahu. Ada apa ya Fir?” Aldo ingat Fira adalah sodara Salma yang mengiriminya surat itu. Ada apa gerangan Fira meneleponnya, adakah hubungannya dengan Salma? Dari mana juga Fira dapat nomor teleponnya?

Gini, sepupuku Salma ngajak ketemuan sama kamu,” jawab Fira.

Kapan?” rada deg-degan juga Aldo mendengar jawaban Fira.

Kalo nanti gimana? Bisa nggak kamu?” Aldo diam sejenak.

Mmm…Kayaknya bisa kok. Emang di mana kita mau ketemu?”

Di KFC, ntar jam 7 malem. Oke? Ya udah, sampe nanti ya,” begitu kata penutup Fira tanpa menunggu respon Aldo lagi. Aldo pun terpaku, bingung juga ia mau ketemu seseorang yang selama ini menyukainya, tahu banyak tentang dirinya, tapi belum diketahui sosoknya sama sekali olehnya. Ketimbang bingung sendiri, Aldo pun konsultasi lagi dengan Inne. Ternyata Inne menyarankannya datang dan kali ini ia mau menuruti kata-kata kakaknya.

Kamu berani nggak, dateng ke sana sendiri? Kalo nggak, ya ngajak temenlah barang seorang,” saran Inne kemudian.

Kalo sekarang aku berani deh, Mbak! Lagian temen-temenku juga nggak ngerti soal Salma ini. Oke, bakal kutemui sendiri dia ntar malem. Moga-moga aja sih nggak bakal ngecewain aku,” harap Aldo.

*

Meski sepercik ragu masih membayangi, namun Aldo akhirnya berangkat juga dengan motornya. Sudah jam tujuh lewat ketika Aldo meninggalkan rumah menuju Malioboro. Lima belas menit kemudian Aldo sudah ada di dalam restoran waralaba Amrik itu. Aldo celingukan, nggak ada seorangpun yang melambaikan tangan kepadanya, begitulah harapannya jika Salma dan mungkin Fira melihatnya datang. Aldo pun lantas memesan sebuah paket makanan yang termurah harganya, sementara matanya terus melihat ke segala penjuru restoran. Sambil memakan yang dipesannya, Aldo masih berharap bahwa tiba-tiba ada yang memanggil namanya. Tapi sampai habis makanannya, tetap sendirian saja ia di restoran itu tanpa seorangpun yang dikenalnya. Sempat terpikir juga apa ia datang telat, atau yang lebih buruk, jangan-jangan Salma dan Fira mempermainkannya.

Aldo nggak mau pikiran negatifnya makin jauh. Ia pun bergegas pergi dari restoran itu, sejenak sendirian ia jalan-jalan menyusuri Malioboro. Beberapa meter kemudian di seberang jalan terlihat sesosok wanita yang dikenalnya berjalan bersama seorang pria. Vendra, cewek pujaannya! Ya, cewek itu ternyata memang Vendra, rada beda wajahnya tanpa kacamatanya. Ia jadi terlihat makin mirip Keira Knightley dengan kecantikan klasiknya yang khas. Sedangkan cowok yang bersamanya adalah Juno, kakak kelas Aldo dan Vendra. Bertambahlah rasa kecewa Aldo malam Minggu itu. Sudah ia gagal bertemu dengan perempuan yang menjadi pemuja rahasianya, ia pun kecewa berat melihat perempuan yang diam-diam dipujanya justru telah bersama lelaki lain.

Sembari menahan sesak di dadanya, Aldo pun segera beranjak ke parkiran dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga sampai di rumah. Segera masuk ke kamar setibanya di rumah, Aldo pun menyetel Simple Plan sekeras-kerasnya di walkman sambil tiduran. Dimatikannya lampu kamar, mata Aldo menerawang kosong ke langit-langit yang gelap, remuk redam rasa hatinya malam itu. Nggak terasa Aldo ketiduran hingga Minggu pagi tiba dan barulah ia terjaga.

*

Dengan terkulai Aldo keluar dari kamar, ditemuinya Inne yang tengah menyapu ruang tengah dan kayaknya tahu ada sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya semalam.

Mau cerita tentang semalem nggak? Ibu bilang kamu suntuk banget pas balik dan ngunci diri di kamar terus?” tanya Inne.

Iya mbak, bete banget semalem. Tapi kayaknya mending aku cerita aja deh, kusimpen sendiri malah nyakitin diri aja.”

Maka bercerita lengkaplah Aldo tentang apa yang terjadi padanya Sabtu malam itu. Inne pun kembali berpetuah pada adiknya,

Gimana sakitnya hatimu cuma kamu yang bisa ngerasain sendiri ya, Do. Yang penting jangan sampe kelamaan sedih deh. Cobalah suka sama cewek lain, nggak usah terburu-buru sih, biasa aja. Nggak Vendra doang lho, cewek yang cakep. Pasti ntar ada kok, cewek cakep dan baik lain yang bakal kamu sukai. Oya, omong-omong soal Salma, dia janji ketemu di mana sih?”

Di KFC. Emang kenapa Mbak?”

Kamu inget nggak di Jogja ada berapa banyak restoran itu?” tanya Inne tersenyum.

Kok Mbak Inne nanya gitu sih?”

Tadi malem aku sama Mas Hendy ‘kan lewat restoran itu yang di deket kampus. Sempet kubilang sama Mas Hendy, kalo kamu lagi jumpa pertama dengan pemuja rahasiamu di situ. Tapi kok tadi kamu ceritanya di Malioboro, makanya aku nanya gitu, Do.”

Ya ampun!” teriak Aldo tiba-tiba. ”Ada dua ‘kan? Kenapa aku nggak nanya Fira ketemunya di mana sih? Mungkin bukan yang di Malioboro itu ya?”

Aldo gondok berat, ia lupa restoran itu ada dua di kotanya dan mungkin sekali yang dimaksud Fira sebagai tempat pertemuannya dengan Salma bukanlah tempat yang didatanginya semalam.

*

Beberapa pekan pun telah berlalu. Aldo telah mulai melupakan Vendra, meski belum ada cewek lain yang menarik hatinya. Sementara itu nggak pernah lagi ada surat dari Salma atau telepon dari Fira sepupunya. Aldo sedang menonton televisi sore itu. Yang dilihatnya adalah sebuah acara berita hiburan dari sebuah stasiun televisi swasta lokal yang baru sekitar sebulan mengudara di Jogja. Presenter acara tersebut seorang cewek cakep yang sekilas mirip Natalie Portman, aktris favorit Aldo, yang ternyata cukup membuat Aldo terpana menatapnya. Tiba-tiba saja Aldo takjub dan sejenak nggak bisa berkata apa-apa, ketika nama presenter itu muncul di layar kaca. Namanya… Salma Mentari !

TAMAT

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Hai Edisi No.16/16-22 April 2007.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: