h1

Penghinaan Tak Berarti

Januari 31, 2008

Orang lebih cepat melupakan suatu dukacita yang hebat ketimbang sebuah penghinaan yang tak berarti. Sebelumnya aku tak percaya bahwa hal itu bisa terjadi dan tak terbayang pula, bagaimana mungkin bisa begitu? Sesudah melewati serangkaian episode dari sebuah cerita yang kualami beberapa tahun silam, barulah kupercaya memang begitulah adanya. Dukacita yang hebat saat itu adalah wafatnya seseorang yang kusayangi dan kuhormati, seorang lelaki tua yang seperti ayah kedua bagiku. Ketika beliau akhirnya pergi selama-lamanya, rasanya hati sudah ikhlas melepas, sehingga tak menjadi duka yang berkepanjangan. Namun ada sebuah peristiwa pahit sebelum beliau tiada (yang ada hubungannya dengan beliau dan keluarga kami), yang dapat dikategorikan sebagai sebuah penghinaan, yang sempat tak mudah terlupa begitu saja bagi kami.

Mungkin nanti ada sebuah cerita pendek yang terinsiprasi oleh cerita nyata tersebut, yang bakal menjelaskan lebih detail apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku heran, sudah cukup lama kutulis awal cerita itu, sudah lebih dari setahun kini, cerpen itu belum juga kunjung rampung.

Mengapa penghinaan itu menjadi tak berarti, karena kadangkala penghinaan yang kita terima lebih sederhana ketimbang keburukan kita sesungguhnya. Mending lapang dada saja ketika dihina, kendati pasti tak mudah bagi siapapun saat itu terjadi. Mungkin apa yang mereka katakan buruk tentang kita memang tak benar, namun mesti disyukuri bahwa masih banyak aib kita yang benar adanya dan tak mereka ketahui sama sekali. Jadi, yang terbaik setelah itu terjadi adalah berusaha melupakan dan memaafkan. Lagipula, kita lebih berharga di hadapan Tuhan jika berani memaafkan, bukannya larut dalam dendam berkepanjangan. Kata ulama, kita jadi mudah memaafkan karena selalu melihat keterbatasan diri kita pada manusia lain, sadar bahwa manusia selalu punya keterbatasan, tiada yang sempurna.

Supaya hidup kita jadi lebih nyaman lagi, mungkin dapat kita mengingat nasihat orang bijak tentang apa yang mesti diingat dan dilupakan. Ingatlah kebaikan orang lain dan lupakan keburukannya pada kita. Pada sisi yang lain, ingatlah keburukan kita pada orang lain dan lupakan kebaikan kita padanya. Sepertinya hal itu ada hubungannya dengan apa yang pernah dibilang oleh Mas Tukul di Empat Mata, bahwa cinta bisa menutupi semua keburukan/kekurangan orang lain dan benci bisa menutupi semua kebaikan/kelebihan orang lain. Jadi, bukankah lebih baik mencintai daripada membenci ?

2 komentar

  1. dalam nih. penuh inspirasi. benar ya, orang cenderung mengingat penghinaan daripada dukacita, walau topik yang dihina sepele. kalau saya selalu mengingat keburukan diri sendiri sampai harus diingatkan ada nilai2 kebaikan yang pernah saya berikan. memang yang berlebih selalu tidak baik, ya. hiks


  2. Mungkin yang penting adalah selalu berusaha berpikir positif saja, baik untuk diri sendiri, terhadap orang lain, dan dalam menghadapi peristiwa apapun dalam hidup ini. Trims sudah mau baca dan kasih komentar.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: