h1

Lelikuan Pernikahan Kedua

Maret 19, 2008

Aku seolah tengah mendapatkan balasan atas apa yang kulakukan sekitar dua puluh tujuh tahun silam. Usiaku masih empat belas tahun ketika Ayah mengungkapkan niatnya untuk menikahi Rahayu, perempuan yang akhirnya menjadi ibu tiriku. Ketika ketiga adik perempuanku telah setuju dan mendukung rencana Ayah, aku menjadi satu-satunya orang yang tak setuju. Mungkin ketika itu aku masih terlalu belia untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh Ayah setelah lima tahun menduda, sepeninggal Ibu yang wafat dua hari setelah melahirkan adikku, yang juga tak mampu diselamatkan hidupnya. Barangkali aku hanya tak ingin memiliki seorang ibu tiri. Namun, apakah aku memang begitu naifnya, percaya saja pada dongeng-dongeng tentang ibu tiri yang jahat, sementara adik-adikku yang masih kecil justru tak berpikir sejauh itu?

Aku tengah berada di posisi yang sama dengan Ibu Rahayu, akan dinikahi seorang duda yang salah satu anaknya menolak mentah-mentah calon isteri ayahnya. Memang tetap ada perbedaannya, tak sama persis dengan dahulu adanya. Ibu Rahayu masih berstatus sebagai seorang gadis ketika akan diperisteri oleh Ayah. Sementara aku kini adalah seorang janda dengan dua orang anak, hasil pernikahanku dengan Fritz, yang berakhir dengan perceraian sepuluh tahun berselang.

Semula tak mudah pula bagiku meyakinkan kedua anakku, Gustaf dan Marsha, untuk menerima rencanaku menikah lagi. Cukup berat bagiku, terutama untuk meyakinkan Marsha, anak perempuanku yang selalu tinggal bersamaku. Kendati saat orang tuanya bercerai ia masih kecil, namun ia tahu bahwa ada perempuan lain yang membuat ayahnya berpisah dengan ibunya. Ia pasti tak akan menerima jika ada seorang lelaki yang akan menyakiti hatiku lagi. Aku sempat kehabisan kata-kata untuk membuat Marsha percaya bahwa Pak Mus, calon ayah tirinya itu bisa membuat hidup ibunya lebih bahagia. Syukurlah ada Ibu Rahayu yang mampu meredam egoisme Marsha, yang kusadari karena begitu sayang pada ibunya, ia bersikap seperti itu.

“Nak, ibumu punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang baru dalam hidupnya. Apa kamu tak ingin melihat ibumu bahagia? “ ujar Ibu Rahayu. “Tapi saya masih tak yakin Pak Mus bisa membuat Ibu bahagia, Nek.” “Kamu boleh saja tidak yakin, tapi ibumu itu telanjur percaya pada Pak Mus. Kenapa kamu tak belajar untuk percaya padanya juga? Berdoalah supaya keyakinan ibumu itu tak salah. Kamu harus ingat bahwa jodoh itu takdir Tuhan. Walau kita tak setuju, menentangnya habis-habisan, tapi ternyata menurut takdir-Nya ibumu berjodoh dengan Pak Mus, kita mau apa lagi?”

Marsha setuju apa kata nenek tirinya, kendati belum sepenuh hati. Namun ia meminta syarat untuk tak ikut bersamaku tinggal bersama Pak Mus, setelah kami menikah nanti. Ia memilih untuk tetap tinggal bersama neneknya. Memang akan berat bagiku dan juga Marsha, namun aku terpaksa setuju, ketimbang ia terus menentang pernikahanku. Semula Ibu Rahayu dan semua adikku juga keberatan dengan rencana pernikahan keduaku, namun akhirnya mereka sependapat denganku, seperti juga yang dikatakan Ibu Rahayu pada Marsha bahwa jodoh adalah takdir Tuhan belaka.

***

Masalah dengan anakku Marsha boleh dibilang sudah selesai. Gustaf yang tinggal bersama ayahnya tak memasalahkan rencana pernikahanku, kendati sempat keberatan ketika melihat profil Pak Mus. Maklumlah, calon suamiku itu sudah tua, selisih usianya denganku lebih dari dua puluh tahun. Bahkan usianya juga lebih tua ketimbang Ibu Rahayu. Wajahnya juga tidak bisa dibilang ganteng, sangat berbeda dengan Fritz, ayah Gustaf dan Marsha yang mirip Slamet Raharjo di masa mudanya. Aku juga tak tahu persis apa yang sesungguhnya membuatku jatuh cinta pada Pak Mus dan menerima lamarannya. Yang jelas, lelaki tua bernama asli Mustajab itu mampu membuatku merasa menjadi ‘seseorang’. Ia pun mampu mengubah pandangan burukku kepada kaum Adam, sejak pengkhianatan Fritz padaku bertahun-tahun lalu. Aku percaya bahwa aku bisa merasakan kebahagiaan lagi bersama seorang lelaki yang berstatus sebagai suamiku.

Kubicarakan lagi dengan Pak Mus masalah penolakan anaknya terhadapku. Sebelumnya kami pernah merembuknya, namun belum ada solusinya. “Pak, jadi bagaimana kalau Citra tak juga setuju pada pernikahan kita?” tanyaku pada Pak Mus. “Ya, kita jalan terus saja. Ndak ada pengaruhnya buat kita, wong cuma dia satu-satunya anakku yang ndak setuju. Anak-anakmu rak juga sudah setuju semua to?” “Tapi apa nanti tidak jadi ganjelan buat kita, Pak?” raguku menyeruak. “Wis, yang penting kamu baik-baiklah jadi isteriku dan jadi ibu tiri buat semua anak-anakku. Aku yakin kamu bisa. Dulu kamu juga ndak mau to bapakmu nikah sama Ibu Rahayu? Akhirnya kamu juga bisa menerimanya to?” “Iya, Pak. Tapi Ibu Rahayu itu terlalu baik, makanya aku bisa menerimanya.” “Ya sudah, kamu tinggal mencontoh ibu tirimu itu. Gitu aja kok repot?”

Kendati kusetujui kata-kata Pak Mus, aku sadar bahwa tak mudah bagiku untuk bisa bersikap seperti ibu tiriku sejak dahulu hingga kini padaku. Padahal, dulu Ibu Rahayu yang belum berpengalaman sebagai seorang ibu pun bisa menjadi ibu yang baik bagiku dan ketiga adikku. Aku sudah bisa menjadi ibu kandung yang baik bagi Gustaf dan Marsha, jadi mengapa tak mungkin aku menjadi ibu tiri yang baik bagi Citra dan saudara-saudaranya? Ketika Ibu Rahayu melahirkan kedua anak kandungnya, tak kurasakan bahwa kasih sayangnya pada kami -keempat anak tirinya- banyak berkurang. Seandainya saja aku bisa menyayangi anak-anak tiriku setulus Ibu Rahayu kepada kami.

***

Aku dan Pak Mus akhirnya tetap menikah. Semua anak Pak Mus menghadiri pernikahan kami, kecuali Citra. Gustaf, anak sulungku hadir bersama kakeknya, mantan mertuaku yang tak pernah menganggapku sebagai mantan menantunya, kendati anaknya telah menceraikanku. Oom Hendra, adik kandung almarhum Ayah menjadi wali nikahku. Seluruh proses acara terbilang sukses dijalani. Lima hari sesudah itu aku diboyong ke rumah suami baruku. Di sana kami tinggal bersama dua anak perempuan, seorang keponakan, dan dua orang pembantu Pak Mus. Mereka semua menyambutku dengan tangan terbuka. Tepat seminggu setelah akad nikah kami, Pak Mus menyelenggarakan resepsi meriah di tempat tinggalnya.

Penyesuaian diriku dengan kehidupan rumah tangga yang baru menjadi masalahku selanjutnya. Sepuluh tahun telah kulewati dengan menjadi janda, lantas aku kembali berkedudukan sebagai isteri, sungguh tak mudah menjalaninya. Pak Mus banyak membimbingku, bagaimana menjadi seorang isteri yang baik baginya. Kuharap benar bahwa ia adalah pasangan yang tepat bagiku, kendati begitu banyak orang yang semula tak setuju dengan pilihanku.

Ia kerap memberi semangat padaku, “Yang penting kamu itu percaya pada dirimu sendiri. Apalagi sekarang kamu sudah jadi Nyonya Mustajab, harus bangga kamu.” “Ya Pak, aku bangga kok bisa jadi isterimu,” sahutku.

Ketimbang adik-adikku, memang aku terbilang kurang percaya diri. Selain aku tak cantik seperti mereka, nasibku yang tak beruntung dalam kehidupan rumah tangga, juga sering membuatku ragu dalam melangkah. Namun aku yakin bakal bisa berubah setelah menjadi isteri Pak Mus, seiring waktu yang terus melaju.

Salah satu hal yang kusuka dari Pak Mus adalah kegemarannya mengajakku makan di tempat-tempat makan yang enak. Maklumlah, aku memang hobi makan dan tak perlu heran jika tubuhku paling besar dibandingkan adik-adikku. Cuma rasanya aku belum layak disebut gemuk, lho. Lantas, setiap saat kuajak ke rumah Ibu Rahayu untuk menjenguk keluargaku, Pak Mus juga tak pernah menolaknya. Kami selalu membawakan oleh-oleh makanan yang enak untuk mereka, sekadar martabak spesial, serabi Inggris, roti bakar, atau juga mie goreng dan steak. Aku seperti memiliki sebuah wujud kebahagiaan yang baru setiap saat pulang ke rumah.

***

Marsha pada suatu sore datang ke rumah Pak Mus. Bukan sesuatu yang aneh memang, kendati dia tetap belum bersedia tidur di tempat tinggal ibunya yang baru. Namun sore itu ada sesuatu yang penting yang dibicarakannya.

“Bu, besok Ayah berencana ke rumah ini untuk silaturahmi,” kata Marsha. “Buat apa ayahmu ke sini?” tanyaku sinis. “Ibu kan sekarang sudah bahagia dengan menjadi isteri Pak Mus. Ayah merasa bahwa sudah saatnya bagi dia untuk minta maaf pada Ibu.” “Ya, baguslah kalau mantan suamimu mau berbuat itu,” sela Pak Mus. “Jadi Bapak mau menerima kedatangan Fritz kemari?” tanyaku lagi. “Wong mau silaturahmi dan minta maaf, mosok kita mau nolak?” “Iya Bu, Ayah kan sudah punya niat baik. Ingat lho, kalian berdua masih punya aku dan Kak Gustaf. Ayolah Bu, demi kami berdua terimalah kedatangan Ayah dan maafkanlah dia,” ucap Marsha lagi.

Aku belum menentukan sikapku selanjutnya. Rasanya aku perlu berkonsultasi dengan Ibu Rahayu mengenai hal tersebut. Melalui telepon, beliau pun membujuk serta menasihatiku untuk bersedia menerima kehadiran Fritz, “Lupakan masa lalumu yang pahit dengannya dan maafkan dia. Biarkan dia bahagia dengan keluarganya sekarang, sementara kamu toh juga sudah bahagia bersama keluarga barumu kan? Lalu, bagaimanapun juga masa depan Gustaf dan Marsha selalu menjadi urusanmu bersama Fritz, Nak.”

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibu Rahayu. Namun sangat tak mudah bagiku untuk melupakan apa yang pernah dilakukan oleh Fritz, lelaki yang dulu pernah sangat kupuja dan kucintai sepenuh hati. Bertemu lagi dengannya sepertinya akan membuka lagi luka lama di hatiku, kendati telah ada Pak Mus di sisiku. Aku akan berusaha untuk bisa memaafkannya demi Gustaf dan Marsha.

***

Tahun demi tahun berjalan, kehidupan rumah tanggaku bersama Pak Mus cukup mulus dilewati. Citra, anak Pak Mus yang semula tak setuju dengan pilihan ayahnya menikahiku lambat laun bersikap baik padaku. Memang, masalah lain silih berganti dalam kehidupanku, namun sejauh ini selalu ada solusi yang cukup bagus. Namun, tak bisa kuingkari pula bahwa kadang aku tertekan dengan sikap Pak Mus yang selalu menuntutku untuk menuruti semua apa katanya.

Syukurlah, aku masih tetap bekerja seperti sejak sebelum kami menikah dan kumiliki seorang sahabat baik di tempat kerjaku. Lagipula di saat jam istirahat atau sepulang dari kantor, sering kusempatkan menjenguk Ibu Rahayu, adik-adikku, dan juga Marsha di tempat tinggalku dulu. Masih kumiliki banyak orang yang menjadi tempatku berbagi cerita. Bagaimanapun juga hidupku masih lebih banyak bahagianya ketimbang deritanya. Memang aku tak pernah bercerita tentang sikap buruk Pak Mus pada mereka. Aku tak mau disalahkan telah memilihnya menjadi suamiku dan tak ingin menyesalinya pula. Menjadi konsekuensi logis bagiku menerima segala risiko yang ada dengan bersedia menjadi Nyonya Mustajab. Lagipula, sebagai isteri yang baik, sudah semestinya aku selalu menjaga nama baik suamiku di mata semua orang.

Ketika aku kecewa dengan sikap Pak Mus, kadang aku malah jadi terkenang pada sosok Fritz lagi. Sebelum menjadi pengkhianat cinta, Fritz adalah pribadi yang penyayang, teman bicara yang baik, dan seorang suami yang menghargai keinginan isterinya. Sedangkan Pak Mus sepertinya kurang bisa menghargai berbagai hasratku, kendati kutahu dan dapat kurasakan bahwa ia menyayangiku. Seperti masalah keinginanku untuk sesekali tidur sendiri di rumah keluargaku lagi. Aku ingin Marsha kadang bisa kembali merasakan tidur berdua dengan ibunya belaka. Hal itu pasti akan sangat membahagiakannya. “Kalau kamu tidur di rumahmu, lha aku terus tidurnya sama siapa? Mosok kamu tega membiarkan suamimu tidurnya sendirian saja? Lha mbok Marsha sesekali tidur di sini, malah ndak apa-apa itu,” kata Pak Mus. Ya sudah, lebih baik aku terus mengalah. Aku selalu tidak punya cukup argumentasi untuk mempertahankan pendapat dan keinginanku.

***

Menginjak tahun ketiga pernikahanku, anak keduaku berencana mengakhiri masa lajangnya. Ia akan menikah mendahului kakak lelakinya. Calon suaminya adalah orang Indonesia yang telah mapan bekerja di Amerika Serikat. Marsha akan langsung dibawa ke Amerika setelah menikah nanti.

Menanggapi rencana itu, Pak Mus berkata, “Kamu siap kehilangan anak perempuanmu selama-lamanya? Amerika itu ndak deket lho. Kita belum tentu punya duit yang cukup untuk nengok ke sana.” Aku jadi bimbang, tentu aku ingin Marsha hidupnya bahagia. Richard, calon suaminya seorang lelaki yang sopan, baik, dan bertanggung jawab. Apa hanya karena aku takut tak bisa bertemu dengan anakku lagi, lantas aku layak tak menyetujui pernikahan mereka?

Aku lantas banyak berdiskusi dengan Ibu Rahayu, adik-adikku, dan juga dengan Marsha sendiri. Akhirnya aku setuju Marsha menikah dengan lelaki pilihannya. Dulu, ia pun telah menyetujui pilihanku pada Pak Mus. Dan tak perlulah kekhawatiranku berlebihan. Marsha berjanji untuk tak menghentikan komunikasi dan sesekali ia akan pulang ke Indonesia untuk menjenguk ibu dan keluarga besarnya. Tentu saja aku percaya sekali dengan janji anakku. Namun ada hal lain lagi yang mengganjal hatiku. Aku harus bersanding dengan Fritz untuk mendampingi Marsha dan suaminya saat resepsi pernikahan kelak. Sungguh, aku enggan menjalani hal itu.

“Kalau kamu tak suka melakukannya, itulah pengorbanan yang harus kamu jalani untuk kebahagiaan Marsha. Nak, ingatlah bahwa kamu pernah menjalani saat-saat yang jauh lebih berat di masa lalu. Apa kamu juga belum ikhlas melepas kepergian Marsha ke Amerika? Tak usah pesimis, siapa tahu nanti ada rezeki yang membuat kita bisa menjenguknya ke sana,” nasihat Ibu Rahayu.

Kata-kata Ibu Rahayu cukup menenteramkan hatiku. Ya, kusadari memang pernah kualami banyak hal berat di masa silam dan ternyata mampu kulewati itu semua dengan sewajarnya. Namun tetap saja tak mudah bagiku untuk bisa mengatur hatiku, supaya tidak merasa apa-apa ketika mesti berdiri dengan raut muka bahagia dengan Fritz di sampingku.

Proses menuju pernikahan Marsha dengan Richard mulai dijalankan. Keluarga Richard telah datang untuk melamar Marsha, sekaligus berkenalan dengan keluarga calon isterinya. Kami bersepakat untuk menggunakan rumah keluargaku, tempat tinggal Marsha selama ini, sebagai rumah calon mempelai perempuan hingga saat akad nikah dilangsungkan nanti. Terpaksa aku mesti bertemu lagi dengan Fritz dan isterinya. Tak apalah, yang penting dapat kulihat anakku bahagia.

Aku mesti memikirkan banyak hal baru untuk mempersiapkan pernikahan puteri kesayanganku. Tak sekadar masalah pernikahan itu sendiri, aku juga mesti bersiap diri untuk berpisah dengan Marsha yang akan tinggal jauh sekali dari ibunya. Lambat laun aku merasa semua itu menjadi beban dalam hidupku. Belum lagi jika Pak Mus lagi-lagi tak menyetujui ide dan pendapatku. Aku tak suka dengan hal itu, rasanya tersiksa, namun aku hanya selalu bisa pasrah menerimanya dan tiada pilihan lain bagiku.

Pada sebuah pagi, seperti biasa aku mandi. Sejenak tersirat semua masalah yang sedang kuhadapi. Serta merta aku merasa begitu pening kepalaku. Rasanya aku seperti tak kuat lagi menanggung beragam beban yang tengah menderaku. Entah apa yang terjadi, dalam sekejab aku merasa tubuhku begitu lemah dan terjatuh. Sayup-sayup aku masih merasakan tubuhku digotong menuju kamar dari dalam kamar mandi dan tak kuingat apapun lagi sehabis itu.

Kemudian dalam terpejam aku merasa bersama kelam, selama waktu yang tak pernah kutahu. Ketika kubuka mataku, aku merasa tubuhku tengah melayang-layang. Sungguh aku terperanjat, di depan mataku terbujurlah sosok perempuan yang lemah tanpa daya di atas sebuah dipan. Ada Marsha, Pak Mus, Ibu Rahayu, dan juga adik-adikku. Mereka mengerubungi perempuan itu dengan menangis sesenggukan. Ternyata sosok perempuan itu adalah aku. Rupanya Tuhan telah mengabulkan keinginanku yang benar-benar enggan bersanding dengan Fritz saat pernikahan Marsha puteri kami.

– TAMAT –

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Sastra Horison edisi Februari 2008.

2 komentar

  1. thk u. sangat membantu.


    • terima kasih mutia sdh membacanya, senang bisa membantu..



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: