Archive for Mei, 2008

h1

Reuni Milan di Grup C Euro 2008

Mei 27, 2008

Pertemuan Italia dengan Belanda di grup C akan menjadi reuni bagi para pemain dan mantan pemain klub AC Milan. Di dalam lapangan trio gelandang Italia : Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, dan Andrea Pirlo akan secara frontal berhadapan dengan Clarence Seedorf di kubu Belanda. Keempat pemain tersebut bahu-membahu meraih berbagai gelar juara di bawah bendera Milan. Sementara di luar lapangan, pelatih Roberto Donadoni(Italia) dan Marco van Basten(Belanda) akan beradu kepiawaian mengatur strategi untuk meraih hasil terbaik bagi timnya. Donadoni dan van Basten pernah sekian musim bermain bersama di Milan (1987-1993), ketika klub tersebut sedang mengalami masa kejayaannya, hingga disebut sebagai the dream team. Reuni Milan dalam pertandingan Italia versus Belanda akan semakin membuat seru dan menarik pertarungan di grup yang disebut sebagai group of death di Euro 2008 tersebut.

*Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Interaktif (keynote) majalah BOLAVAGANZA edisi No.79 bulan Mei 2008.

NB :

Belakangan tersiar kabar bahwa Clarence Seedorf, pemain Milan dari Belanda mengundurkan diri dari timnas. Jika hal itu benar terjadi, maka reuni Milan hanya berlangsung di luar lapangan, antara Donadoni dan van Basten belaka.

h1

A Different Sight

Mei 22, 2008

Apakah sekadar perasaanku terlampau sensitif atau memang begitulah kenyataannya, sepertinya kulihat pandanganmu berbeda padaku. Dulu kerap kita berbincang santai, tiada pandanganmu yang mengesankan sesuatu.

Aku memang sempat terkesan padamu dan berkhayal seandainya kamu menjadi pasangan hidupku sekian tahun lagi sepertinya bisa.

Namun sms-ku saja belum pernah sekalipun kaubalas, kecuali saat kamu pernah minta tolong dan tak bisa kubantu.

Maka tiada harapan apapun hendak kusematkan padamu. Kita sebatas bertemu, cukup ada sukacita yang tak terlalu. Kemarin kamu tampak begitu bahagia, semua orang dapat melihatnya. Jatuh cinta lagi, begitu tebakanku (tidak katamu). Sebaiknya kubiarkan segala sesuatunya mengalir saja dan kusyukuri yang ada.

Februari/Maret 2008

h1

Koran di Warung Pak Saudi

Mei 18, 2008

Awalnya aku pulang kemalaman. Sehabis kerja seharian, aku lantas berada di warnet sampai lupa waktu. Sebenarnya mauku sekadar melepas kepenatan, tapi malah rada kebablasan. Sudah jam dua belas lewat ketika aku keluar dari warnet dengan perut lapar. Sebenarnya di dekat tempat itu ada warung sate ayam, tapi ternyata sudah tutup. Inginku begitu tiba di rumah langsung cuci muka, terus segera tidur. Jadi aku harus mengisi perutku dahulu sebelum pulang. Sambil pelan-pelan kulajukan motorku, kucermati warung-warung makan di pinggir jalan. Biasanya ada warung pecel lele, siomay, bakso, dan mie ayam, selain sate ayam, ternyata semua sudah tidak buka lagi. Sampai di traffic light terakhir, mestinya aku belok kiri untuk sampai ke rumah. Tapi saat lampu merah menyala, kulihat masih ada warung yang buka, beberapa meter setelah pertigaan itu. Aku memutuskan melajukan motorku terus dan berhenti di warung itu, ternyata penjual bakmi Jawa.

Belum habis to, Pak?” tanyaku.

Oh ya, Mas. Masih kok, tapi tinggal nasi goreng,” sahut penjualnya.

Ya sudah, Pak. Saya nyuwun nasi goreng sama teh hangat saja,” kataku sambil beranjak menuju tikar yang menjadi tempat makan di warung itu. Ada sesuatu yang serta merta menarik perhatianku. Sebuah koran ibukota yang terkenal terhampar di tikar. Langsung saja kuambil koran itu. Ternyata edisi hari itu, kubaca seraya menunggu pesananku jadi. Jujur saja, baru sekali-kalinya kutemui sebuah warung di pinggir jalan Jogja, yang korannya adalah sebuah koran terbitan Jakarta. Biasanya, kalaupun ada koran di sebuah warung, pastilah korannya terbitan Jogja yang harganya relatif lebih murah.

Nasi gorengku sudah jadi dan langsung dihidangkan ke hadapanku sekian menit kemudian. Aromanya tercium sedap. Nasi goreng panas kumebul karena baru keluar dari penggorengan. Oh ya, aku lupa tak minta pada penjualnya supaya tidak pedas, sebagaimana layaknya kupesan nasi goreng. Tapi setelah kumakan, ternyata enak sekali rasanya dan aku tidak kepedasan. Berarti masakannya cocok dengan lidahku. Padahal lidahku kadang merasa tak nyaman dengan masakan-masakan di warung. Setelah habis nasi gorengku, aku beranjak pulang. Kubaca dan kuingat nama warung itu, Bakmi Jawa Pak Saudi. Barangkali akan kembaliku ke warung itu di lain malam.

Dan sejak saat itu aku jadi kerap makan di warung Pak Saudi, terutama kalau pulang larut malam dan sudah tiada lain pilihan. Pernah kucoba makan bakmi gorengnya, ternyata kurang lezat. Bakmi rebusnya juga kalah nikmat ketimbang masakan penjual bakmi Jawa yang biasa lewat di depan rumah. Tapi ketika kucoba bihun gorengnya, ternyata enak banget. Lidahku kembali merasakan kelezatan sebuah masakan. Jadi setiap aku makan di situ, kalau bukan nasi goreng, ya pasti bihun gorenglah yang kupesan. Sembari menunggu Pak Saudi memasak, kerap aku mengajaknya bicara tentang apa saja. Ternyata orangnya asyik, wawasannya luas, dan komentar-komentarnya pun cerdas. Aku jadi tak heran selalu menemui sebuah koran ibukota edisi terbaru yang harganya lebih mahal ketimbang koran lainnya itu.

Mas, kalau seseorang mau menyenangkan setiap orang, kadang pada akhirnya malah tidak ada seorang pun yang senang. Ya, ibaratnya masakan saya ini juga tidak semua orang yang kemari senang kan?” ujarnya padaku sambil menggoreng bihun pada sebuah larut malam.

Iya Pak, memang begitulah.”

Mas ini sepertinya cocoknya juga cuma sama nasi goreng dan bihun goreng saya ya?”

Wah, Pak Saudi betul lagi.”

Sudah syukur Alhamdulillah bahwa ada orang yang mau mampir ke sini dan suka masakan saya. Yang namanya rezeki, Gusti Allah kan ndak mungkin salah maringi hamba-hamba-Nya. Sudah ada jatahnya sendiri-sendiri.”

Mengenai namanya, Pak Saudi pernah bercerita padaku,

Kata bapak saya, pada saat saya lahir, kakek saya sedang berada di Arab Saudi naik haji. Jadilah saya diberi nama Saudi. Padahal saya orang Jawa asli dan wong ndeso, Mas.”

Kendati Pak Saudi mengaku bahwa dirinya orang desa biasa, tapi kelihatannya ia bukan orang desa kebanyakan. Ia tak mau berterus terang tentang kegiatan sehari-harinya, selain membuka warung setiap malam. Suatu saat pernah diceritakannya padaku tentang sejarah membuka warungnya itu.

Pada dasarnya saya memang hobi masak dari kecil, Mas. Ada paklik saya yang dulu jualan bakmi Jawa, tapi keliling pakai gerobak ini. Beliau terus mengajari saya macam-macam menu jualannya, karena beliau tahu saya suka masak. Dua tahun lalu paklik saya itu wafat. Saya kok eman-eman gerobaknya ini ndak terpakai. Kebetulan beliau tidak punya isteri dan anak. Jadi malah saya yang melanjutkan usahanya itu. Cuma bedanya saya ndak keliling, tapi buka warung di sini. Lha kok untungnya ada yang beli, ya sudah saya mantap saja jualan. Semoga saja ini bisa jadi ilmu yang bermanfaat dan menambah pahala Almarhum,” tutur Pak Saudi panjang lebar seraya menemaniku makan nasi goreng.

Kadang aku makan di warung Pak Saudi tidak hanya saat pulang kemalaman. Seperti sebuah bonus untukku, bisa mengobrol seru dengan penjualnya dan juga membaca koran ibukota edisi terbaru di warungnya. Terakhir kali aku makan nasi goreng Pak Saudi adalah beberapa jam sebelum gempa besar mengguncang Jogja bulan Mei silam. Sudah hampir jam satu pagi dan tinggal warungnya yang masih buka. Jadilah aku makan di situ untuk kesekian kalinya. Sehabis gempa itu, ternyata warung Pak Saudi tidak pernah buka lagi hingga kini. Aku hanya bisa menerka, apakah ia ikut menjadi korban gempa? Tentu kuharap tidak begitulah adanya. Yang jelas tak pernah kulihat lagi warungnya. Akhirnya, beberapa bulan sehabis gempa kutanya tukang becak yang biasa mangkal di dekat warung Pak Saudi.

Kok warung Pak Saudi lama nggak buka ya? Sampeyan tahu kenapa?”

Pak Saudi kan sekarang di Inggris,” sahut si tukang becak.

Di Inggris? Jadi apa? Apa dia jadi TKI?” tanyaku heran dan penasaran.

Ndak, Mas. Pak Saudi itu sekolah di Inggris. Sebetulnya pas gempa itu dia sudah hampir berangkat. Terus sempat ditunda, akhirnya dia berangkat dua bulan sehabis itu. Katanya, dia itu sekolahnya dibayari sama universitas tempat kerjanya, Mas. Dia pamitan kok, sama saya dan temen-temen di sini.”

Aku hanya terpaku mendengar cerita si tukang becak tentang Pak Saudi, yang ternyata bukanlah penjual bakmi Jawa biasa. Kian maklum aku kini, mengapa selalu ada koran terkenal terbitan Jakarta di warungnya dan kata-katanya bisa begitu bermakna setiap kali bicara denganku.

***

Setelah kepergian Pak Saudi, aku mencoba mencari rasa nasi dan bihun goreng yang cocok dengan lidahku lagi, ternyata belum ketemu juga sampai sekarang. Kelezatan masakannya ternyata menjadi kenangan tersendiri dan mencari penggantinya bukanlah hal yang mudah bagiku. Apalagi untuk menemukan warung yang menyediakan koran terbitan Jakarta dan penjualnya cerdas seperti Pak Saudi. Semoga masa studi Pak Saudi di luar negeri tak lama dan ia lekas kembali ke tanah airnya. Tapi masih mungkinkah warungnya dibuka lagi?

September 2007

-TAMAT-

h1

Tentang Pendidikan

Mei 8, 2008

Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.(Ki Hajar Dewantara)

Tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi muda mendidik diri sendiri sepanjang hidup.(Robert M.Hutchins)

Pendidikan adalah tujuan eksistensi kita.(Ralph Waldo Emerson)

Pendidikan tertinggi adalah yang tak sekadar memberi kita pengetahuan, tapi yang membuat hidup kita dalam harmoni dengan semua eksistensi.(Rabindranath Tagore)

Pendidikan formal akan membuatmu hidup; swapendidikan akan membuatmu untung.(Jim Rohn)

Pendidikan itu bukan mengisi sebuah keranjang, melainkan menyalakan sebuah api.(William Butler)

Belajar adalah untuk berubah. Pendidikan adalah proses yang mengubah pembelajar.(NN)

Aku bertanya :

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran

atau apa saja,

ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

(dari “Sajak Seonggok Jagung” – WS Rendra)