h1

Koran di Warung Pak Saudi

Mei 18, 2008

Awalnya aku pulang kemalaman. Sehabis kerja seharian, aku lantas berada di warnet sampai lupa waktu. Sebenarnya mauku sekadar melepas kepenatan, tapi malah rada kebablasan. Sudah jam dua belas lewat ketika aku keluar dari warnet dengan perut lapar. Sebenarnya di dekat tempat itu ada warung sate ayam, tapi ternyata sudah tutup. Inginku begitu tiba di rumah langsung cuci muka, terus segera tidur. Jadi aku harus mengisi perutku dahulu sebelum pulang. Sambil pelan-pelan kulajukan motorku, kucermati warung-warung makan di pinggir jalan. Biasanya ada warung pecel lele, siomay, bakso, dan mie ayam, selain sate ayam, ternyata semua sudah tidak buka lagi. Sampai di traffic light terakhir, mestinya aku belok kiri untuk sampai ke rumah. Tapi saat lampu merah menyala, kulihat masih ada warung yang buka, beberapa meter setelah pertigaan itu. Aku memutuskan melajukan motorku terus dan berhenti di warung itu, ternyata penjual bakmi Jawa.

Belum habis to, Pak?” tanyaku.

Oh ya, Mas. Masih kok, tapi tinggal nasi goreng,” sahut penjualnya.

Ya sudah, Pak. Saya nyuwun nasi goreng sama teh hangat saja,” kataku sambil beranjak menuju tikar yang menjadi tempat makan di warung itu. Ada sesuatu yang serta merta menarik perhatianku. Sebuah koran ibukota yang terkenal terhampar di tikar. Langsung saja kuambil koran itu. Ternyata edisi hari itu, kubaca seraya menunggu pesananku jadi. Jujur saja, baru sekali-kalinya kutemui sebuah warung di pinggir jalan Jogja, yang korannya adalah sebuah koran terbitan Jakarta. Biasanya, kalaupun ada koran di sebuah warung, pastilah korannya terbitan Jogja yang harganya relatif lebih murah.

Nasi gorengku sudah jadi dan langsung dihidangkan ke hadapanku sekian menit kemudian. Aromanya tercium sedap. Nasi goreng panas kumebul karena baru keluar dari penggorengan. Oh ya, aku lupa tak minta pada penjualnya supaya tidak pedas, sebagaimana layaknya kupesan nasi goreng. Tapi setelah kumakan, ternyata enak sekali rasanya dan aku tidak kepedasan. Berarti masakannya cocok dengan lidahku. Padahal lidahku kadang merasa tak nyaman dengan masakan-masakan di warung. Setelah habis nasi gorengku, aku beranjak pulang. Kubaca dan kuingat nama warung itu, Bakmi Jawa Pak Saudi. Barangkali akan kembaliku ke warung itu di lain malam.

Dan sejak saat itu aku jadi kerap makan di warung Pak Saudi, terutama kalau pulang larut malam dan sudah tiada lain pilihan. Pernah kucoba makan bakmi gorengnya, ternyata kurang lezat. Bakmi rebusnya juga kalah nikmat ketimbang masakan penjual bakmi Jawa yang biasa lewat di depan rumah. Tapi ketika kucoba bihun gorengnya, ternyata enak banget. Lidahku kembali merasakan kelezatan sebuah masakan. Jadi setiap aku makan di situ, kalau bukan nasi goreng, ya pasti bihun gorenglah yang kupesan. Sembari menunggu Pak Saudi memasak, kerap aku mengajaknya bicara tentang apa saja. Ternyata orangnya asyik, wawasannya luas, dan komentar-komentarnya pun cerdas. Aku jadi tak heran selalu menemui sebuah koran ibukota edisi terbaru yang harganya lebih mahal ketimbang koran lainnya itu.

Mas, kalau seseorang mau menyenangkan setiap orang, kadang pada akhirnya malah tidak ada seorang pun yang senang. Ya, ibaratnya masakan saya ini juga tidak semua orang yang kemari senang kan?” ujarnya padaku sambil menggoreng bihun pada sebuah larut malam.

Iya Pak, memang begitulah.”

Mas ini sepertinya cocoknya juga cuma sama nasi goreng dan bihun goreng saya ya?”

Wah, Pak Saudi betul lagi.”

Sudah syukur Alhamdulillah bahwa ada orang yang mau mampir ke sini dan suka masakan saya. Yang namanya rezeki, Gusti Allah kan ndak mungkin salah maringi hamba-hamba-Nya. Sudah ada jatahnya sendiri-sendiri.”

Mengenai namanya, Pak Saudi pernah bercerita padaku,

Kata bapak saya, pada saat saya lahir, kakek saya sedang berada di Arab Saudi naik haji. Jadilah saya diberi nama Saudi. Padahal saya orang Jawa asli dan wong ndeso, Mas.”

Kendati Pak Saudi mengaku bahwa dirinya orang desa biasa, tapi kelihatannya ia bukan orang desa kebanyakan. Ia tak mau berterus terang tentang kegiatan sehari-harinya, selain membuka warung setiap malam. Suatu saat pernah diceritakannya padaku tentang sejarah membuka warungnya itu.

Pada dasarnya saya memang hobi masak dari kecil, Mas. Ada paklik saya yang dulu jualan bakmi Jawa, tapi keliling pakai gerobak ini. Beliau terus mengajari saya macam-macam menu jualannya, karena beliau tahu saya suka masak. Dua tahun lalu paklik saya itu wafat. Saya kok eman-eman gerobaknya ini ndak terpakai. Kebetulan beliau tidak punya isteri dan anak. Jadi malah saya yang melanjutkan usahanya itu. Cuma bedanya saya ndak keliling, tapi buka warung di sini. Lha kok untungnya ada yang beli, ya sudah saya mantap saja jualan. Semoga saja ini bisa jadi ilmu yang bermanfaat dan menambah pahala Almarhum,” tutur Pak Saudi panjang lebar seraya menemaniku makan nasi goreng.

Kadang aku makan di warung Pak Saudi tidak hanya saat pulang kemalaman. Seperti sebuah bonus untukku, bisa mengobrol seru dengan penjualnya dan juga membaca koran ibukota edisi terbaru di warungnya. Terakhir kali aku makan nasi goreng Pak Saudi adalah beberapa jam sebelum gempa besar mengguncang Jogja bulan Mei silam. Sudah hampir jam satu pagi dan tinggal warungnya yang masih buka. Jadilah aku makan di situ untuk kesekian kalinya. Sehabis gempa itu, ternyata warung Pak Saudi tidak pernah buka lagi hingga kini. Aku hanya bisa menerka, apakah ia ikut menjadi korban gempa? Tentu kuharap tidak begitulah adanya. Yang jelas tak pernah kulihat lagi warungnya. Akhirnya, beberapa bulan sehabis gempa kutanya tukang becak yang biasa mangkal di dekat warung Pak Saudi.

Kok warung Pak Saudi lama nggak buka ya? Sampeyan tahu kenapa?”

Pak Saudi kan sekarang di Inggris,” sahut si tukang becak.

Di Inggris? Jadi apa? Apa dia jadi TKI?” tanyaku heran dan penasaran.

Ndak, Mas. Pak Saudi itu sekolah di Inggris. Sebetulnya pas gempa itu dia sudah hampir berangkat. Terus sempat ditunda, akhirnya dia berangkat dua bulan sehabis itu. Katanya, dia itu sekolahnya dibayari sama universitas tempat kerjanya, Mas. Dia pamitan kok, sama saya dan temen-temen di sini.”

Aku hanya terpaku mendengar cerita si tukang becak tentang Pak Saudi, yang ternyata bukanlah penjual bakmi Jawa biasa. Kian maklum aku kini, mengapa selalu ada koran terkenal terbitan Jakarta di warungnya dan kata-katanya bisa begitu bermakna setiap kali bicara denganku.

***

Setelah kepergian Pak Saudi, aku mencoba mencari rasa nasi dan bihun goreng yang cocok dengan lidahku lagi, ternyata belum ketemu juga sampai sekarang. Kelezatan masakannya ternyata menjadi kenangan tersendiri dan mencari penggantinya bukanlah hal yang mudah bagiku. Apalagi untuk menemukan warung yang menyediakan koran terbitan Jakarta dan penjualnya cerdas seperti Pak Saudi. Semoga masa studi Pak Saudi di luar negeri tak lama dan ia lekas kembali ke tanah airnya. Tapi masih mungkinkah warungnya dibuka lagi?

September 2007

-TAMAT-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: