h1

Pangeran Cinta Di-mifa

Januari 27, 2009

Di-mifa, putra kedua Raja Macello merupakan calon pemimpin kerajaan Bifet. Putra pertama sang raja, Ka-dore telah dipilih sebagai kandidat raja Lifet menggantikan posisi Ratu Violin, ibunda tercintanya. Dahulu, Violin terpaksa meninggalkan suami tercinta dan gelar permaisurinya untuk menjadi ratu di Lifet menggantikan ayahnya yang telah mangkat. Karena tak bisa mendampingi suaminya setiap saat, dengan kebesaran jiwa yang luar biasa, Ratu Violin tak keberatan sekiranya sang suami akan menikah lagi. Maka Raja Macello menikahi Katharina, seorang gadis jelita yang semula bekerja sebagai pelayan sang raja. Putri Katharina pun menjadi permaisuri raja Bifet. Setahun setelah pernikahan mereka, sang permaisuri melahirkan seorang putra yang diberi nama Di-mifa, yang serta merta diangkat sebagai putra mahkota.

Kendati Di-mifa seorang pangeran nan tampan, baik hati, serta halus budi bahasanya, namun dalam kisah cinta belumlah mujur nasibnya. Pernah jatuh cintalah ia pada seorang dara jelita yang ditemuinya di keramaian pasar ibukota. Dengan penampilan bersahaja dan tanpa pengawalan prajurit kerajaan, Di-mifa memang kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru Bifet. Tak banyak orang mengenalnya di antara kerumunan, namun kharismanya sebagai seorang putra raja kadang tak jua tersamar. Suatu saat, setelah beberapa kali sekadar menatapnya, Di-mifa pun mengucap kata,

“Duhai putri jelita, tak sadarkah bahwa dikau ibarat seorang penjaga?”

“Apa maksud Anda, tuan muda?”

“Indah parasmu dan elok tindak tandukmu sungguh membuatku terpana. Kau menjadi penjaga yang telah menawan hatiku.”

Sang dara tersipu-sipu, senyumnya terkembang malu-malu. Ternyata dara tersebut merupakan putri salah satu prajurit kerajaan Bifet. Sayang nian, perempuan yang dicintainya itu telah memiliki seorang kekasih. Kekasihnya itu seorang pemuda biasa yang menjadi seorang pedagang kain di pasar ibukota kerajaan. Demi baktinya pada Raja Macello, sang prajurit dan si pedagang telah merelakan putri dan kekasihnya dinikahi sang pangeran. Justru Di-mifa yang enggan menerimanya.

“Sungguh tak adil jika aku menjadi sebab koyaknya jalinan cinta dua anak manusia yang saling mencintai. Sekiranya aku tahu dia telah berkekasih, tentu tak akan kubiarkan perasaanku berkembang, hingga sempat kudekati dia. Biarkan mereka tetap berdua dalam cintanya,” tutur sang pangeran sendu. Si perempuan dan kekasihnya begitu berterima kasih pada kebesaran jiwa sang pangeran.

***

Seperti layaknya pangeran di negeri mana pun, Di-mifa maupun Ka-dore kakaknya juga mendapatkan pendidikan keprajuritan. Ka-dore begitu tertarik belajar ragam ilmu keprajuritan, sedangkan Di-mifa tak terlampau berminat. Jika Ka-dore ahli bermain pedang dan menunggang kuda, maka Di-mifa sekadar bisa. Ia lebih tertarik pada kesenian, mungkin mewarisi ibunya yang dulu terkenal sebagai pelayan raja yang pandai bernyanyi dan bersuara merdu. Di-mifa adalah seorang pencinta dan praktisi seni sejati. Lukisan, patung, syair, dan lagu menjadi karya seni sang pangeran yang sungguh beragam serta senantiasa indah wujudnya. Namun Di-mifa tak kuasa menolak permintaan ayahnya untuk ikut maju perang bersama kakaknya dan tergabung dalam pasukan kerajaannya yang dimintai bantuan oleh kerajaan sahabat.

“Kau harus ingat, Nak. Kau adalah calon pengganti ayahmu, menjadi raja Bifet suatu saat kelak. Mesti kau tunjukkan dirimu sebagai seorang lelaki sejati yang kuat, tangguh, lagi perkasa,” pesan Raja Macello pada Di-mifa.

“Ya, Ayahanda Raja. Saya siap menjalankan amanat Paduka dengan sebaik-baiknya,” sahut Di-mifa mantap.

Kendati berada di antara denting suara pedang dan perisai bukanlah sesuatu yang disukainya, Di-mifa tak mampu mengelak dari persiapannya sebagai pemimpin masa depan negerinya. Belum lagi darah yang mengucur dan kadang menciprati baju zirahnya pun sesuatu yang mesti dihadapinya dengan tegar. Di medan laga Di-mifa mesti mampu menampilkan sosok yang berbeda ketimbang dirinya yang sejati, sang pencinta keindahan yang lembut hati. Namun kehadiran Ka-dore yang selalu ada di dekatnya membuat Di-mifa senantiasa tampil gagah berani tanpa mengenal perasaan takut mati sedikit jua. Sekembalinya dari ajang pertempuran, Di-mifa beserta kakaknya pulang dengan selamat, kendati bekas luka berserakan di sekujur tubuh mereka. Di-mifa pun kembali menghanyutkan diri dalam samudra keseniannya.

***

Kadangkala Di-mifa mesti kembali maju berperang, kendati tak sekerap Ka-dore yang kemudian diangkat menjadi panglima perang gabungan dua kerajaan, Bifet dan Lifet. Suatu ketika Ka-dore menikahi putri impiannya dari kerajaan sahabat, hingga akhirnya memiliki sepasang anak kembar. Sementara Di-mifa sendiri belum kunjung merasakan jatuh cinta kembali. Sebagai putra mahkota kerajaan Bifet, sejatinya telah banyak raja maupun ratu sahabat ayahnya yang berhasrat menjadikannya menantu. Namun sang pangeran tidak bersedia dijodohkan dan memilih menempuh jalan sendiri demi mendapatkan pelita hatinya seorang. Baginya, seorang calon raja tak mesti bersanding dengan putri raja. Ia sadar bahwa ibunda tercintanya pun hanya orang biasa dan ia memahami sungguh kemuliaan sang permaisuri, kendati bukan keturunan bangsawan.

Di-mifa masih kerap menapakkan langkahnya ke berbagai penjuru negeri, bahkan kadang hingga ke wilayah kerajaan lainnya. Suatu ketika ia tengah menyaksikan sebuah pertandingan ketangkasan memanah sambil berkuda di ibukota negeri tetangga Bifet. Dalam busana seperti rakyat kebanyakan, Di-mifa merasa takjub menatap penampilan satu-satunya peserta perempuan dalam pertandingan tersebut. Kendati perempuan itu tersisih di babak awal, sungguh Di-mifa terkesan pada semangat perjuangannya.

“Wow, mengapa tak jemu jua kupandangi dirinya? Ya, kecantikannya sungguh berbeda dengan putri jelitaku dahulu. Putri yang satu ini tangguh dan perkasa, namun sudah bergetar kalbuku dibuatnya. Apakah cintaku telah jatuh padanya kini?” batin Di-mifa bertanya-tanya sendiri. Ia memutuskan untuk mencari tahu siapa perempuan itu dan di mana pula tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan informasi yang dikehendakinya, Di-mifa beranjak mendatangi sebuah rumah sederhana di dekat hutan. Perempuan cantik itu tengah berlatih pedang dengan memangkas ranting-ranting sebuah pohon. Di-mifa semula menatapnya dari kejauhan, hingga akhirnya telah berada di dekat putri yang tangguh itu.

“Penampilanmu kemarin hebat, putri! Tapi permainan pedangmu hari ini buruk sekali,” sapa Di-mifa. Perempuan itu menghentikan gerakannya dan mendekati Di-mifa yang kepalanya tersembunyi di balik tudung.

“Maaf tuan, saya tak mengenal Anda. Tapi Anda tak perlu mengada-ada tentang kemarin. Lagipula Anda tahu apa tentang permainan pedang?” sahut sang putri setengah ketus. Di-mifa membuka tudung kepalanya dan tampaklah sosok kharismatik dengan senyuman simpatik dari sang calon raja. Perempuan itu sekejab terpaku dan kehilangan kata-kata demi menatap Di-mifa yang seolah menyihirnya dengan tatapan matanya yang teduh, rambutnya yang panjang terurai, dan berewoknya yang tipis belaka.

“Kau boleh panggil saya Fa. Saya sama sekali tak berdusta, putri. Saya sungguh salut dengan perjuanganmu kemarin dan saya pernah belajar bermain pedang. Bahkan saya pernah ikut berperang.”

“Eh Fa, kk…ka… kau pernah berperang? Tapi, se… sepertinya penampilanmu tak layak sebagai seorang prajurit? Oh ya, namaku Pevita,” ucap perempuan itu terbata-bata dengan tersenyum. Dalam sekejab sikapnya berubah total, dari ketus menjadi lembut, seraya salah tingkah di depan Di-mifa. Sang pangeran mengambil pedangnya dan memainkan beberapa jurus yang memukau Pevita. Sejenak kemudian Di-mifa mengajak Pevita berbincang-bincang di bawah pohon. Pevita sama sekali tidak keberatan, ia sudah kadung terpesona pada sang pangeran. Padahal ia belum tahu siapa sejatinya Di-mifa.

“Apa rencanamu selanjutnya? Kenapa kau suka memanah dan tertarik memainkan pedang? Apa kau ingin jadi prajurit?”

“Mendiang ayahku seorang prajurit. Beliau tewas di medan laga. Sekarang kakakku melanjutkan langkah Ayah. Aku pun ingin begitu, tapi di kerajaan kami tentu saja perempuan tak bisa jadi prajurit. Lagipula ibuku juga melarangku. Ya, untunglah di kota ada lomba ketangkasan memanah dan bermain pedang yang terbuka untuk umum. Setidaknya aku ingin banyak orang tahu bahwa ada seorang prajurit perempuan yang tangguh,” ujar Pevita berapi-api. Di-mifa kian terkesan dengan sikap perempuan yang ada bersamanya itu. Senyuman tersungging selalu di bibirnya, terasa kian berbunga-bungalah pula sanubarinya.

Devito, kakak lelaki Pevita adalah seorang prajurit kerajaan Karomit. Ia yang baru pulang dari tugasnya takjub sekali melihat Pangeran Di-mifa sedang bercengkrama bersama adiknya. Turun dari kudanya, Devito segera menghampiri Pevita dan Di-mifa. Ia memberi hormat dan menyalami Di-mifa dengan mantap. Mereka ternyata pernah bersama-sama dalam sebuah pasukan gabungan Bifet-Lifet dengan Karomit.

“Apa kabar Pangeran? Begitu bangga dan bersukacitalah hati saya kembali bertemu dengan Anda di sini,” sapa Devito yang disambut Di-mifa dengan senyuman bersahabat.

“Devito, kau kenal dengan Fa?” tanya Pevita heran.

“Tidakkah kau tahu siapa lelaki yang bersamamu ini? Dia adalah putra mahkota Bifet, kerajaan tetangga kita. Dialah Pangeran Di-mifa,” sahut Devito.

“Apa, Devito? Dia seorang pangeran?”

***

Hubungan Di-mifa dan Pevita kian karib. Di-mifa secara jujur mengatakan bahwa sejatinya ia tak suka dengan kekerasan, karena ia adalah seniman sejati.

“Samudraku adalah kesenian. Sedangkan bermain pedang hanyalah anak sungai yang akhirnya bermuara ke samudra jua. Aku dapat memandangnya sebagai wujud kesenian pula, seni bermain pedang. Namun yang sungguh kunikmati jika telah kupahat sebuah patung, kulukis keindahan dunia, atau kulantunkan syair lagu. Kau tak keberatan jika hanyut bersama di samudraku?”

“Aku yakin adanya keindahan di samudramu. Aku bersedia, Pangeran.”

Pevita sudi menerima Di-mifa apa adanya hingga akhirnya menerima pula pernyataan cinta sang pangeran. Raja Macello dan Ratu Katharina begitu bersukacita dengan kenyataan yang ada, demikian pula ibu dan kakak Pevita. Pangeran Di-mifa telah menemukan cinta sejatinya dan bersiap mengakhiri masa lajangnya. Namun sebelum itu terjadi, Putri Di-solla, adik Di-mifa menikah mendahului kakaknya. Sesaat kemudian Di-mifa sudah mulai menyusun rencana pernikahannya dengan Pevita. Sayang, tugas negara mesti dijalani kembali oleh Di-mifa. Ia kembali maju berperang dan kali ini nasib sial menimpanya. Sang pangeran terluka parah, bahkan tangan kanannya tercabik-cabik dalam pertempuran. Di saat yang sama Pevita mencoba mengikuti kompetisi bermain pedang di ibukota kerajaannya. Putri perkasa itu berhasil melaju ke babak kedua, namun kalah dengan sebuah luka menganga di wajahnya terkena sabetan pedang sang lawan. Pevita serta merta jatuh pingsan, sementara Di-mifa kekasihnya sedang diselamatkan prajurit Bifet -dalam keadaaan tak sadarkan diri- dari medan pertempuran karena luka parahnya.

***

Pangeran Di-mifa telah kembali berada di istana. Setelah sekian hari tak sadarkan diri, Di-mifa akhirnya terjaga dan mesti menerima sebuah kenyataan pahit. Raja Macello dan Ratu Katharina berada di depan sang pangeran ketika Di-mifa membuka matanya.

“Syukurlah, Nak. Akhirnya kau kembali terjaga,” ujar sang ratu terharu.

“Apa yang terjadi dengan saya?” tanya Di-mifa dengan berbisik.

“Kau terluka parah dan jatuh pingsan, tapi prajurit Bifet dapat menyelamatkanmu. Hanya saja ada sesuatu yang buruk telah menimpamu,” kata Raja Macello.

“Apakah itu, Ayah?”

“Kau telah kehilangan tangan kananmu, Nak. Sabar dan tegarlah.”

Di-mifa mengangkat tangan kanannya yang ternyata tinggal sebatas siku. Seketika itu terasa sesaklah dadanya dan mengalirlah air mata sang pangeran yang lembut hati itu. Ibunda ratu pun segera memeluk putra kesayangannya.

“Yang sabar ya, Nak. Bunda tahu ini cobaan yang berat bagi dirimu.”

Di-mifa larut dalam keharuan bersama sang ibunda. Sementara Raja Macello -yang sempat berkaca-kaca di matanya- bergegas meninggalkan mereka. Ada tugas lain yang mesti dijalaninya sebagai raja Bifet hari itu.

Dalam kondisi yang masih rentan, Di-mifa seolah mendapatkan percikan embun pagi. Pevita datang bersama Devito kakaknya ke istana kerajaan Bifet.

“Fa….” Pevita menghambur ke arah Di-mifa ketika kekasihnya sudah ada di depan mata. Di-mifa sedang berada di serambi kamarnya, belajar mengaktifkan tangan kirinya untuk melukis ketika Pevita tiba.

“Pevita?” Di-mifa begitu bahagia dapat berjumpa kembali dengan kekasihnya. Dalam hangat pelukan dua sejoli itu larut dalam perasaan yang beragam, ada sukacita dan keharuan.

“Maaf putri, aku tak bisa membelai wajahmu dengan tangan kananku lagi,” ucap Di-mifa sambil memegang wajah Pevita dengan tangan kirinya.

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting kau masih bisa membelai wajahku,” sahut Pevita dengan senyuman haru.

“Hai, kenapa wajahmu Pevita?” tanya Di-mifa melihat luka di pelipis dan pipi kanan wajah kekasihnya. Pevita pun bercerita apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Tapi kau masih mencintaiku bukan?” tanya Pevita kemudian.

“Kau masih tetap putri perkasaku yang tercantik di dunia. Lantas bagaimana cintamu padaku? Aku bukan lagi seorang lelaki yang sempurna kini.”

“Pangeran, tentu saja aku tetap mencintaimu, apa pun yang telah terjadi pada dirimu. Malah aku jadi lebih mencintaimu melihatmu begini.”

“Kau tak perlu iba melihatku begini.” Di-mifa sedikit tersinggung.

“Tidak, Fa. Aku hanya sadar bahwa aku bisa kehilanganmu setiap waktu. Tapi, kenyataannya kita masih bertemu lagi bukan? Tidakkah kita syukuri ini?”

Di-mifa tersenyum bahagia mendengarkan kata-kata kekasihnya. Seminggu kemudian Di-mifa datang melamar Pevita yang menerimanya dengan berbunga-bunga. Tibalah hari pernikahan putra mahkota kerajaan Bifet dengan pujaan hatinya. Di-mifa bukan lagi seorang pangeran tampan yang sempurna raganya. Tangannya tinggal sebuah. Pevita pun bukan lagi putri yang cantik seutuhnya. Ada bagian wajahnya yang sedikit terkoyak. Namun ketulusan cinta yang sempurna dalam hati akhirnya menyatukan Di-mifa dan Pevita.

-TAMAT-

Cerpen ini telah dimuat di majalah Hai No.2 yang terbit pada bulan Januari 2009. Trims buat Mr.Eds…

4 komentar

  1. selamat menulis


  2. trims sdh berkunjung, selamat menulis juga saudara…


  3. so suuiit pak luhur…
    emang cinta sejati itu ada di dalam hati, tidak memandang fisik ya tohh..
    duhhh kapan ya aku bisa menulis sperti dirimu…


  4. makasih mbak evi… menurutku kamu punya bakat jadi penulis yg bisa ngasih inspirasi dan motivasi kok.. keep writing, sis!



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: