h1

Kejutan dari Papa

Juli 27, 2009

Aku ingat bahwa dulu kami sempat punya rumah yang besar dan mobil yang cukup untuk membawa pergi kami sekeluarga. Ketika itu kami masih tinggal di Jakarta. Namun sejujurnya aku nggak terlalu ngerti, kenapa lantas kami mesti pergi dari rumah itu dan mobil itu pun jadi bukan milik kami lagi. Sejak itu kami pindah ke kota ini dan tinggal bersama orang tua Papa hingga sekarang, telah delapan tahun berselang. Hanya nenekku yang masih tersisa bersama kami, sementara kakekku telah wafat beberapa tahun silam. Aku cuma ingat kata Mama, karena Papa dipecat dari kantornya, maka kami mesti pindah rumah. Jelas aku masih terlalu kecil untuk memahami apa sejatinya masalah keluarga kami saat itu. Yang jelas, setelah tinggal bersama Nenek, aku sudah menyelesaikan SD-ku dan sebentar lagi SMP-ku. Dalam sekian bulan ke depan aku bakal jadi anak SMA, masa sekolah yang kata banyak orang adalah masa-masa paling indah. Entahlah, apakah bagiku juga akan seperti itu pula adanya nanti?
***

Selama delapan tahun ini Papa jarang tinggal bersama kami berlima, yaitu : Mama, Mas Andre, Mbak Bertha, aku, dan juga Nenek. Dia senantiasa bekerja di Jakarta atau di kota lainnya. Mungkin di kota ini memang nggak ada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Bisa jadi rezeki buat Papa memang adanya selalu jauh di luar kota untuk mendapatkannya. Ya, nggak apa-apa sih. Yang penting kebutuhan hidup keluarga kami selalu tercukupi. Barangkali itulah yang paling penting dilakukan oleh Papa sebagai kepala keluarga. Tapi dalam beberapa pekan terakhir Papa lebih sering berada di rumah. Padahal biasanya minimal sebulan sekali dia pulang. Bahkan pernah pula ada saatnya sesudah hampir empat bulan, baru dia kembali menemui kami.
“Char, kamu doakan ya, supaya Papa lekas punya pekerjaan lagi,” ucap Papa setelah kutanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum. Ah, ternyata Papa sedang jadi pengangguran lagi. Tapi untunglah, ada Mama yang pintar masak dan masih bisa mendapatkan penghasilan dari kue-kue buatannya yang dijual di sekolah-sekolah, termasuk di SMP-ku. Sebenarnya aku suka Papa tinggal lebih lama bersama kami, tapi jika hal itu terjadi karena dia nggak punya gawean, gimana aku bisa senang?
***

Kemudian ada sebuah hari yang kayaknya nggak bakal kulupakan seumur hidupku. Papa memberikan sebuah kejutan yang sama sekali nggak pernah kebayang di anganku. Saat itu Papa sedang keluar rumah, katanya dia akan mengirimkan sebuah lamaran pekerjaan lagi melalui internet di warnet dekat rumah kami. Kulihat ponsel Papa ketinggalan di meja ruang depan. Entahlah, serta merta seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk melihat apa yang tersimpan di dalam ponsel tersebut. Sebelumnya aku nggak pernah melakukannya karena ponsel itu nggak pernah lepas dari tangan Papa.
Semula asyik saja kupencet tombol-tombol ponsel serta menemukan fitur-fitur menarik yang dimilikinya. Mungkin jika nanti Papa sudah bekerja lagi, aku mau minta dibelikan ponsel yang seapik punya Papa ini. Begitulah yang sempat jadi niatku dengan keceriaan. Namun aku nggak ngerti mesti berpikir apa ketika melihat foto sebuah keluarga yang nggak kukenal, dan … ada Papa di antara mereka! Wajah Papa terlihat bahagia di antara keluarga itu. Dia memeluk erat seorang perempuan yang berdiri di sampingnya, sementara ada sepasang bocah lelaki dan perempuan di bawah mereka. Siapakah mereka yang bersama Papa sebenarnya? Apakah mungkin Papa memiliki istri dan anak-anak selain Mama bersama kami di sini? Kenapa selama ini aku nggak pernah tahu?
Dadaku tiba-tiba terasa sesak, nafasku terengah-engah, mataku tiba-tiba terasa perih, lalu sepertinya ada air yang ingin segera menetes. Rasanya jadi nggak karuan banget : kaget, sedih, marah, benci, dan entah apa lagi. Kurebahkan diriku di kursi coba menenangkan diri. Aku nggak mau memikirkan apa-apa dulu, padahal sejatinya ada begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba hadir di benakku. Tentu saja dalam hatiku pun sangat hebat bergejolak.
Hanya ada aku dan Mama di rumah ketika itu terjadi. Nenek dan Mbak Bertha sedang keluar kota, sedangkan Mas Andre masih menjalani KKN-nya di desa. Barangkali aku mesti bertanya pada Mama, supaya rasa penasaranku nggak terlalu menyiksa lagi. Aku beranjak menuju ke dapur setelah kuminum air dingin dan kulihat Mama sedang sibuk menyiapkan kue yang akan dijual esok pagi.
“Ma, aku pengen tahu sesuatu,” ujarku pendek.
“Ya, kamu mau nanya apa, Nak?” sahut Mama sambil tangannya sibuk mengurus proses pembuatan kue. Aku diam sejenak. Sempat terpikir, apakah layak kutanyakan hal itu pada Mama? Apakah Mama tahu sesuatu yang aku sama sekali nggak tahu selama ini? Aku pun larut sekejab dalam kebimbangan.
“Charles, apa yang ingin kamu tahu dari Mama?” kata Mama menghentikan lamunanku.
“Ma, apa betul … Papa punya istri dan anak … selain kita di sini?” tanyaku lirih dan terbata-bata. Mama menghentikan kesibukannya, lalu malah menatapku dengan iba. Kutundukkan wajah,  aku enggan Mama melihat wajah maupun mataku yang memerah.
“Kamu tahu dari mana?”
Kuangkat ponsel Papa yang kupegangi dari tadi dengan tetap menunduk. Kudengar Mama menghela nafas dan nggak lama malah kudengar suara Mama terisak. Kupandang wajah Mama yang lantas berucap,
“Akhirnya kamu tahu juga, Nak. Itulah kenyataan pahit tentang Papamu.”
Aku berdiri terpaku, Mama pun begitu. Akhirnya kubilang pada Mama,
“Ma, aku pengen pergi dulu. Aku nanti tidur di tempat Dimas aja.”
“Nak, kamu yang sabar ya? Kalau di tempat Dimas kamu bisa lebih tenang, Mama ngasih kamu nggak tidur di rumah malam ini. Tapi besok pulang ya? Nenek dan Mbak Bertha kan besok rencananya sudah sampai di rumah lagi.”
Aku mengangguk pelan. Kuhampiri Mama, lalu kucium tangan dan pipinya. Kuserahkan pula ponsel milik Papa. Aku pun segera melangkahkan kaki keluar rumah dan pergi ke rumah Dimas. Aku nggak ngomong kepadanya bahwa aku lagi punya masalah besar di rumah. Cuma kubilang pengen main aja. Kusambut ajakan Dimas bermain game dan kulupakan sementara waktu kejutan dari Papa itu. Aku cuma bersenang-senang bersama sahabatku itu selama di rumahnya.
Menjelang tidur aku melamun. Dimas sudah tidur lelap di sebelahku. Aku betul-betul nggak bisa memahami apa yang sudah dilakukan oleh Papa. Kenapa dia begitu tega menyakiti hati Mama dan anak-anaknya? Apalagi aku yang sering dibilang paling dekat dengan Papa dan kebetulan wajahku memang paling mirip dengannya. Apakah pernah dia berpikir, gimana perasaanku jika tahu dia punya keluarga selain kami? Aku juga nggak ngerti, kenapa semua orang seolah merahasiakan kenyataan itu? Mama jelas sudah tahu. Mungkin Nenek maupun kedua kakakku pun tahu rahasia Papa tersebut. Aku ingin penjelasan dari semua orang di rumah, terutama dari Papa. Aku penasaran, mau bilang apa dia, setelah kini sudah kutahu satu rahasia hidupnya yang selama ini pasti rapat-rapat disimpannya. Yang jelas aku begitu kecewa pada orang yang selama ini sungguh kuhormati dan kusayangi itu.
***

Pagi harinya aku berangkat sekolah dari rumah Dimas. Aku sempat kembali ke rumah Dimas dan berkumpul bersama sejumlah temanku di sana. Ketika aku pulang ke rumah sorenya, sudah ada Nenek dan Mbak Bertha. Tapi Papa ternyata telah pergi.
“Nak, Papamu minta tolong dipamitkan. Tadi pagi dia sudah berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan wawancara kerja besok pagi. Papamu minta maaf sudah mengecewakanmu,“ ujar Mama. Aku jadi sedikit merasa lega mendengar berita dari Mama. Rasanya aku nggak mau ketemu Papa dulu setelah kejutan yang kuperoleh darinya. Aku belum lama berada di dalam kamar saat Mbak Bertha mendatangiku.
“Char, Mama udah cerita apa yang terjadi semalam,” katanya padaku.
Aku menoleh sebentar pada kakakku, kemudian pura-pura kusibukkan diri dengan mengeluarkan buku-buku dari tasku. Terus terang aku orangnya nggak biasa curhat, lagi pula selama ini juga nggak pernah ada masalah yang kurasa berat selama hidupku. Aku paham Mbak Bertha mungkin mencoba bersimpati kepadaku. Tapi aku lebih suka diam saja.
“Percayalah, aku juga kecewa banget pas pertama kali tahu rahasia Papa itu. Tapi kebenaran pasti akan terungkap juga, walaupun rapat kami menutupinya darimu. Selama ini kami cuma nggak mau kamu sedih dan kecewa pada Papa, Dik. Biarlah Mama dan anak-anaknya yang udah dewasa aja yang merasakannya,” suara Mbak Bertha berubah seiring air matanya yang menetes. Aku jadi sedih lagi. Mbak Bertha mendekati tubuhku dan memelukku. Kubiarkan diriku menangis tersedu di pelukan kakakku. Aku sadar, aku nggak sendiri merasakan kekecewaan yang dalam ini.
***

Belakangan baru kutahu kenapa kami dulu mesti pindah dari Jakarta. Mama dan Mbak Bertha yang bilang. Ternyata Papa dipecat dari kantornya karena ketahuan telah melakukan manipulasi data perusahaan. Dan satu kejutan lagi dari Papa, dia juga dilaporkan beberapa teman kerjanya yang perempuan, telah melakukan pelecehan seksual pada mereka. Sungguh tepat jika Papa lantas dipecat, lantas mobil kami (yang ternyata mobil dinas dari kantornya) pun diminta kembali. Karena tingginya biaya hidup di ibukota dan sementara itu Papa nganggur, makanya kami sekeluarga meninggalkan Jakarta. Papa sudah banyak memberikan kejutan -yang ironisnya pahit banget- buat aku anak bungsunya. Aku juga bisa ngasih kejutan balasan buat Papa. Tunggu saja tanggal mainnya, Papa!
***

Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai edisi No. 22 yang terbit bulan Juni 2009. Terima kasih lagi untuk Mr.Eds dkk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: