h1

Janji Dono

September 3, 2009
“Sekiranya pada saatnya nanti bapakku tiada, aku janji tak akan meneteskan air mata. Aku bakal sudah puas karena telah kutebus dosa-dosa dan salahku pada Bapak,” ucap Dono pada Wima sahabatnya.

“Kamu mesti bersyukur masih diberi waktu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan pada bapakmu.”

“Iya, kamu betul, Ma. Aku beruntung masih bisa melakukannya.”

Dono menerawang hubungan masa silamnya dengan bapaknya. Entah berapa kali saja, tak terhitung banyaknya saking kerapnya, ia melawan perintah bapaknya. Bahkan pernah juga ia menantang berkelahi bapaknya, kendati ia dalam kondisi mabuk berat saat itu. Sekiranya pernah sekali saja bapaknya meladeni dirinya, mungkin ia sudah mati di tangan bapaknya atau masih tinggal di penjara karena membunuh bapaknya.

Untunglah, masih begitu sabar bapak maupun ibunya menghadapi kenakalannya yang terlalu selama ini. Wima tahu persis sejarah kelam Dono yang merupakan tetangga sekaligus teman karib sejak masa kecilnya. Sejak dahulu Wima sering menasihati Dono untuk mengubah kelakuannya, tapi tak kunjung berhasil. Dono akhirnya mulai sadar menjelang ia menikah hingga memiliki seorang anak, sementara bapaknya mulai sakit-sakitan.

Untuk menyenangkan hati bapaknya, Dono mengajak Wima membelikan seekor perkutut yang mahal harganya. Bagi Dono tiada yang lebih berharga baginya selain membuat bapaknya bahagia. Ia sadar sepenuhnya bahwa kedua orang tuanya sudah kenyang makan hati menghadapi kegilaan masa lalunya.

“Aku dapat informasi, ada perkutut bagus di beberapa tempat. Kamu mau kan mengantarku ke mana saja?” tanya Dono.

“Demi temanku yang mau berbakti pada bapaknya, tentu aku tidak keberatan. Ya, asal waktuku senggang saja,” sahut Wima yang disambut senyuman Dono yang merasa lega.

Mereka berdua memburu perkutut itu ke beberapa alamat yang dimiliki Dono sekaligus. Nyaris seharian Dono dan Wima menempuh puluhan kilometer, namun tak kunjung dapat apa yang menjadi harapan Dono. Akhirnya ia justru mendapatkan yang terbaik dengan harga yang cukup mahal, justru di sebuah tempat yang letaknya hanya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.

“Don, jangan kecewa kita mendapatkannya justru di sini, padahal kita sudah sampai ke mana-mana tadi,” ujar Wima yang melihat Dono sempat sewot.

“Ya, aku tahu. Kuanggap ini seperti liku-liku mendapatkan jodoh saja kok. Lagipula, yang terpenting aku bisa membuat senang Bapak lagi. Oh ya, jika saja bapakku menanyaimu berapa harga perkutut ini, tolong jangan sebut harga sebenarnya ya… Bapak mungkin tak akan marah, tapi beliau pasti eman-eman jika tahu harga sebenarnya semahal itu,” kata Dono yang kian bijaksana dalam bersikap. Wima menyanggupi keinginan sahabatnya dan merasa bangga melihat perubahan sikap Dono.

Sudah malam ketika sampai di rumah, Wima langsung menuntun bapaknya dari dalam kamar, menuju ke depan dan melihat perkutut yang baru saja dibelinya.

“Pokoknya Bapak pasti bakal remen mendengar suara perkutut ini. Karena inilah yang terbaik dari yang kami temui sehari ini, Pak,” ucap Dono pada bapaknya.

“Wah, sampai seharian kamu pergi baru dapat ini. Pasti harganya mahal banget ya? Apa ndak eman-eman ini kamu buat nyenengin Bapak?”

“Bapak tak usah khawatir soal harganya. Harganya standar kok, Pak. Bapak boleh tanya ke Wima, dia kan ahlinya masalah perburungan,” sahut Dono sambil meminta persetujuan Wima yang mengangguk mengiyakan.

Dono menjentikkan dua jari tangannya hingga sang perkutut manggung. Memang suaranya merdu dan Bapak tampak senang mendengarkannya. Dono merasa lega dan bangga dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang yang sering disakitinya di masa silam itu. Sejenak matanya sempat berkaca-kaca.

Di balik jendela, ibu Dono melihat anak dan suaminya dengan meneteskan air mata. Rasanya sama sekali tidak sia-sia kesabarannya menghadapi Dono selama bertahun-tahun dahulu. Ia begitu bersyukur bahwa anak lelakinya itu akhirnya bisa juga berubah.

***

Dalam masa kegilaannya Dono pernah menjadi pemabuk, pencandu dan pengedar narkoba, penjudi, suka pula main perempuan. Barangkali hampir semua bentuk penyakit masyarakat pernah dilakukannya. Pernah suatu ketika ia nyaris saja tertangkap polisi sebagai seorang pengedar narkoba. Namun ia bisa lolos karena upaya bapaknya untuk melindunginya berhasil. Polisi gagal menemukan barang bukti miliknya di rumah dan dalam tes urine pun hasilnya negatif.

“Bahkan bapakku rela melanggar hukum demi melindungiku dulu. Jika aku sempat masuk penjara, bisa saja aku malah jadi residivis dan entah bagaimana nasibku kini,” kenang Dono.

“Bisa saja kamu sudah mati ditembak polisi,” canda Wima yang disambut senyum Dono.

Dono memutuskan berhenti menjadi pengedar narkoba setelah nyaris ditangkap polisi. Tapi ia baru berhenti mengonsumsi narkoba menjelang ia menikah. Suatu ketika seseorang mengajaknya ke lembaga pemasyarakatan di kotanya. Ternyata begitu banyak orang-orang yang dikenal Dono di dalam penjara. Ia sungguh tak ingin senasib dengan teman-temannya.

“Aku harus berhenti secepatnya, Ma. Apalagi sebentar lagi aku mau menikah,” tekad Dono di depan Wima.

“Memang yang paling penting niat dan tekadmu sendiri. Syukurlah jika kamu sudah menyadarinya sekarang,” kata Wima yang sebenarnya sejak lama telah meminta sahabatnya berhenti menjadi pencandu narkoba.

Dengan dibantu kedua orang tuanya, Wima, dan juga calon istrinya, Dono berjuang keras menghentikan kebiasaan buruknya selama ini. Akhirnya lepas juga ia dari jeratan narkoba. Lantas, sejak menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Dono kian berubah menjadi sosok yang berbeda. Virna, perempuan yang dinikahinya menjadi salah satu sosok penting terjadinya perubahan dalam hidupnya.

Dono berjanji untuk memperbaiki segenap kesalahannya pada kedua orang tuanya, terutama kepada bapaknya. Kendati begitu sering menyusahkan, Dono tidak berani melawan ibunya, senekad ia bersikap buruk pada bapaknya.

“Semoga saja anakku nanti tidak mengikuti jejakku yang demikian kelam di masa lalu,” harap Dono di depan Virna.

“Ya, itulah tantangan kita sebagai orang tua Erry, Mas. Memang tak bakal mudah membesarkan anak kita supaya jadi anak yang baik. Apalagi kita tahu bagaimana sikapmu di masa lalu terhadap bapak dan ibumu. Mas Dono masih ingat kalimat bijak di buku itu kan?” ujar Virna.

“Ya, aku selalu mengingatnya, Jeng. ‘Ketika seseorang telah mencapai usia yang menjadikannya sadar akan kebenaran nasihat-nasihat bapaknya, ketika itu juga ia telah memiliki anak yang tidak menerima nasihat-nasihatnya.’ Kuharap itu tak terjadi padaku dan Erry.” Virna mengamini apa kata suaminya.

Kalimat bijak yang Dono temukan dalam buku milik Virna itu menjadi salah satu hal yang memotivasi dirinya untuk terus berubah. Dono menangis sesenggukan ketika bapaknya pertama kali masuk rumah sakit terkena stroke.

Ia merasa bersalah dan berperan besar membuat bapaknya bernasib seperti itu. Sejak saat itulah ia berjanji untuk senantiasa membuat Bapak merasakan kebahagiaan, sesuatu yang tak pernah mampu diberikannya dalam kurun waktu sekian tahun masa kelamnya. Ternyata niat baiknya mendapatkan jalan yang lapang dari Ilahi. Sejak keinsyafannya, Dono berkali-kali membuat kedua orang tuanya menangis terharu karena bahagia dan bangga pada perubahan anak mereka.

***

Untuk ketiga kalinya bapak Dono mengalami stroke dan harus dibawa ke rumah sakit. Namun kali ini nyawanya tak mampu diselamatkan. Dono mesti merelakan kepergian selamanya seseorang yang di sisa hidupnya ingin selalu dibuatnya bersukacita. Di depan matanya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Dono berusaha sungguh agar air matanya tak sampai tumpah. Dadanya terasa begitu sesak menahannya.

Namun Dono ingin bersikap ksatria, menepati janjinya untuk tak meneteskan air mata ketika jatah hidup bapaknya telah berakhir di dunia fana.

Sementara itu, di sekitarnya ada Ibu, Virna istrinya, kakak dan ipar perempuannya, yang semua menangis sesenggukan. Sementara petugas paramedis membersihkan tubuh bapaknya dari berbagai perlengkapan rumah sakit, Dono keluar dari kamar. Sejenak teringat masa lalunya yang telah berkali-kali menyakiti hati Bapak. Lantas terbayang pula bahwa tak bakal ada lagi hal apa pun yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya. Seketika itu tak mampu tertahan lagi rasa sesak di dadanya.

Sejenak Dono lupa pada janjinya sendiri. Air matanya tumpah sudah. Tak lama berselang datanglah Wima mendekatinya, yang memang tengah menuju ke rumah sakit ketika dikabari Dono bahwa bapaknya telah kritis.

“Sudahlah, Don. Kamu masih ingat janjimu kan?”

“Iya, di depan Bapak aku sudah bisa menahannya. Tapi setelah kepikiran macam-macam, aku jadi sedih, Ma. Apa pun yang kulakukan untuk menebus salahku pada Bapak, rasanya sama sekali belum cukup,” tutur Dono sendu sambil mengusap air matanya.

“Kamu tak perlu khawatir, Don. Tuhan tak pernah terlelap. Pasti malaikat-Nya sudah mencatat segala usahamu menebus dosa-dosamu pada bapakmu.”

“Amin, semoga saja benar apa yang kaukatakan.”

***

Keterangan :
-eman-eman = sayang (bahasa Jawa)
-remen = senang (bahasa Jawa krama inggil/halus)

#
Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos edisi Minggu, 30 Agustus 2009 dan merupakan karya pertamaku yang dimuat di koran.

2 komentar

  1. mari kita dukung semoga tidak kembali lagi. dan menjadi orang baik itu lebih nyaman kok. dan nikmat menjadi orang baik.semangat terus


  2. makasih, kawanlama… iya, saya juga lagi berusaha konsisten jadi orang baik yg bisa lebih baik lagi..tentunya tetap semangat juga..🙂



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: