Archive for September, 2009

h1

Debut Manis Robben dan Sneijder

September 3, 2009
Debut cemerlang Robben di Muenchen.

Debut cemerlang Robben di Muenchen.

Dua pemain Belanda, Arjen Robben dan Wesley Sneijder telah memilih jalan yang benar dengan meninggalkan Real Madrid. Kurang dari seminggu bergabung, mereka telah memberi sumbangsih berharga bagi klub anyarnya. Kendati baru bermain sejak babak kedua, Robben langsung mencetak dua gol bagi Bayern Muenchen yang akhinya menang 3-0 atas Wolfsburg, juara bertahan Bundesliga.

Sementara itu Sneijder menjalani debutnya di Inter Milan -sebagai pemain inti- ketika timnya menang 4-0 atas AC Milan di Liga Italia Serie A. Biarpun belum mencetak gol, Sneijder bermain trengginas sebagai trequartista, satu posisi yang selama ini dicari-cari pelatih Inter Jose Mourinho untuk melengkapi timnya. Uniknya, baik Robben maupun Sneijder dipercaya untuk mengenakan kostum nomor 10, sebuah nomor milik pemain bertalenta istimewa. Bersama tim barunya, mereka boleh lebih optimis menatap masa depannya.

Masih ada satu pemain Belanda eks Madrid yang juga menjalani debutnya pekan lalu, yaitu Klaas-Jan Huntelaar di Milan. Sayangnya dia tidak menjalani debut manis seperti kedua rekannya karena Milan kalah dari Inter yang justru diperkuat oleh Sneijder.

Iklan
h1

Peristiwa Awal September

September 3, 2009

Ada sebentar hujan waktu sahur membuka

September pagi di Jogja

Namun turun hujan deras ketika tiba

malam di lain kota seperti Jakarta

Langit waktu Subuh hari kedua tampak pucat,

membuat tak nyaman dilihat

Bisa jadi itu salah satu isyarat bahwa pada

pukul 14.55 hari Rabu 2 September 2009

Terjadilah bumi berguncang kencang

yang terasa getarannya hingga

ribuan kilometer dari pusat gempa dan

entah berapa juta jiwa manusia saja

yang serta merta panik, takut, atau banyak rasa

tak nyaman mencuat di dirinya

Innalillahi wa innaialaihi raji’un

Sejumlah nyawa melayang dijemput malaikat

Rumah-rumah ambruk di sejumlah daerah

(seperti déjà vu sebuah Sabtu tiga tahun silam bagi kami di Jogja sekitarnya)

Mungkin itu sebentuk ujian dari Yang Mahakuasa

bagi segenap hamba-Nya yang beriman

supaya tetap sabar tanpa putus asa

ketika Ramadhan suci masih bergulir saat ini

Jogja, 3 September 2009

h1

Janji Dono

September 3, 2009
“Sekiranya pada saatnya nanti bapakku tiada, aku janji tak akan meneteskan air mata. Aku bakal sudah puas karena telah kutebus dosa-dosa dan salahku pada Bapak,” ucap Dono pada Wima sahabatnya.

“Kamu mesti bersyukur masih diberi waktu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan pada bapakmu.”

“Iya, kamu betul, Ma. Aku beruntung masih bisa melakukannya.”

Dono menerawang hubungan masa silamnya dengan bapaknya. Entah berapa kali saja, tak terhitung banyaknya saking kerapnya, ia melawan perintah bapaknya. Bahkan pernah juga ia menantang berkelahi bapaknya, kendati ia dalam kondisi mabuk berat saat itu. Sekiranya pernah sekali saja bapaknya meladeni dirinya, mungkin ia sudah mati di tangan bapaknya atau masih tinggal di penjara karena membunuh bapaknya.

Untunglah, masih begitu sabar bapak maupun ibunya menghadapi kenakalannya yang terlalu selama ini. Wima tahu persis sejarah kelam Dono yang merupakan tetangga sekaligus teman karib sejak masa kecilnya. Sejak dahulu Wima sering menasihati Dono untuk mengubah kelakuannya, tapi tak kunjung berhasil. Dono akhirnya mulai sadar menjelang ia menikah hingga memiliki seorang anak, sementara bapaknya mulai sakit-sakitan.

Untuk menyenangkan hati bapaknya, Dono mengajak Wima membelikan seekor perkutut yang mahal harganya. Bagi Dono tiada yang lebih berharga baginya selain membuat bapaknya bahagia. Ia sadar sepenuhnya bahwa kedua orang tuanya sudah kenyang makan hati menghadapi kegilaan masa lalunya.

“Aku dapat informasi, ada perkutut bagus di beberapa tempat. Kamu mau kan mengantarku ke mana saja?” tanya Dono.

“Demi temanku yang mau berbakti pada bapaknya, tentu aku tidak keberatan. Ya, asal waktuku senggang saja,” sahut Wima yang disambut senyuman Dono yang merasa lega.

Mereka berdua memburu perkutut itu ke beberapa alamat yang dimiliki Dono sekaligus. Nyaris seharian Dono dan Wima menempuh puluhan kilometer, namun tak kunjung dapat apa yang menjadi harapan Dono. Akhirnya ia justru mendapatkan yang terbaik dengan harga yang cukup mahal, justru di sebuah tempat yang letaknya hanya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.

“Don, jangan kecewa kita mendapatkannya justru di sini, padahal kita sudah sampai ke mana-mana tadi,” ujar Wima yang melihat Dono sempat sewot.

“Ya, aku tahu. Kuanggap ini seperti liku-liku mendapatkan jodoh saja kok. Lagipula, yang terpenting aku bisa membuat senang Bapak lagi. Oh ya, jika saja bapakku menanyaimu berapa harga perkutut ini, tolong jangan sebut harga sebenarnya ya… Bapak mungkin tak akan marah, tapi beliau pasti eman-eman jika tahu harga sebenarnya semahal itu,” kata Dono yang kian bijaksana dalam bersikap. Wima menyanggupi keinginan sahabatnya dan merasa bangga melihat perubahan sikap Dono.

Sudah malam ketika sampai di rumah, Wima langsung menuntun bapaknya dari dalam kamar, menuju ke depan dan melihat perkutut yang baru saja dibelinya.

“Pokoknya Bapak pasti bakal remen mendengar suara perkutut ini. Karena inilah yang terbaik dari yang kami temui sehari ini, Pak,” ucap Dono pada bapaknya.

“Wah, sampai seharian kamu pergi baru dapat ini. Pasti harganya mahal banget ya? Apa ndak eman-eman ini kamu buat nyenengin Bapak?”

“Bapak tak usah khawatir soal harganya. Harganya standar kok, Pak. Bapak boleh tanya ke Wima, dia kan ahlinya masalah perburungan,” sahut Dono sambil meminta persetujuan Wima yang mengangguk mengiyakan.

Dono menjentikkan dua jari tangannya hingga sang perkutut manggung. Memang suaranya merdu dan Bapak tampak senang mendengarkannya. Dono merasa lega dan bangga dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang yang sering disakitinya di masa silam itu. Sejenak matanya sempat berkaca-kaca.

Di balik jendela, ibu Dono melihat anak dan suaminya dengan meneteskan air mata. Rasanya sama sekali tidak sia-sia kesabarannya menghadapi Dono selama bertahun-tahun dahulu. Ia begitu bersyukur bahwa anak lelakinya itu akhirnya bisa juga berubah.

***

Dalam masa kegilaannya Dono pernah menjadi pemabuk, pencandu dan pengedar narkoba, penjudi, suka pula main perempuan. Barangkali hampir semua bentuk penyakit masyarakat pernah dilakukannya. Pernah suatu ketika ia nyaris saja tertangkap polisi sebagai seorang pengedar narkoba. Namun ia bisa lolos karena upaya bapaknya untuk melindunginya berhasil. Polisi gagal menemukan barang bukti miliknya di rumah dan dalam tes urine pun hasilnya negatif.

“Bahkan bapakku rela melanggar hukum demi melindungiku dulu. Jika aku sempat masuk penjara, bisa saja aku malah jadi residivis dan entah bagaimana nasibku kini,” kenang Dono.

“Bisa saja kamu sudah mati ditembak polisi,” canda Wima yang disambut senyum Dono.

Dono memutuskan berhenti menjadi pengedar narkoba setelah nyaris ditangkap polisi. Tapi ia baru berhenti mengonsumsi narkoba menjelang ia menikah. Suatu ketika seseorang mengajaknya ke lembaga pemasyarakatan di kotanya. Ternyata begitu banyak orang-orang yang dikenal Dono di dalam penjara. Ia sungguh tak ingin senasib dengan teman-temannya.

“Aku harus berhenti secepatnya, Ma. Apalagi sebentar lagi aku mau menikah,” tekad Dono di depan Wima.

“Memang yang paling penting niat dan tekadmu sendiri. Syukurlah jika kamu sudah menyadarinya sekarang,” kata Wima yang sebenarnya sejak lama telah meminta sahabatnya berhenti menjadi pencandu narkoba.

Dengan dibantu kedua orang tuanya, Wima, dan juga calon istrinya, Dono berjuang keras menghentikan kebiasaan buruknya selama ini. Akhirnya lepas juga ia dari jeratan narkoba. Lantas, sejak menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Dono kian berubah menjadi sosok yang berbeda. Virna, perempuan yang dinikahinya menjadi salah satu sosok penting terjadinya perubahan dalam hidupnya.

Dono berjanji untuk memperbaiki segenap kesalahannya pada kedua orang tuanya, terutama kepada bapaknya. Kendati begitu sering menyusahkan, Dono tidak berani melawan ibunya, senekad ia bersikap buruk pada bapaknya.

“Semoga saja anakku nanti tidak mengikuti jejakku yang demikian kelam di masa lalu,” harap Dono di depan Virna.

“Ya, itulah tantangan kita sebagai orang tua Erry, Mas. Memang tak bakal mudah membesarkan anak kita supaya jadi anak yang baik. Apalagi kita tahu bagaimana sikapmu di masa lalu terhadap bapak dan ibumu. Mas Dono masih ingat kalimat bijak di buku itu kan?” ujar Virna.

“Ya, aku selalu mengingatnya, Jeng. ‘Ketika seseorang telah mencapai usia yang menjadikannya sadar akan kebenaran nasihat-nasihat bapaknya, ketika itu juga ia telah memiliki anak yang tidak menerima nasihat-nasihatnya.’ Kuharap itu tak terjadi padaku dan Erry.” Virna mengamini apa kata suaminya.

Kalimat bijak yang Dono temukan dalam buku milik Virna itu menjadi salah satu hal yang memotivasi dirinya untuk terus berubah. Dono menangis sesenggukan ketika bapaknya pertama kali masuk rumah sakit terkena stroke.

Ia merasa bersalah dan berperan besar membuat bapaknya bernasib seperti itu. Sejak saat itulah ia berjanji untuk senantiasa membuat Bapak merasakan kebahagiaan, sesuatu yang tak pernah mampu diberikannya dalam kurun waktu sekian tahun masa kelamnya. Ternyata niat baiknya mendapatkan jalan yang lapang dari Ilahi. Sejak keinsyafannya, Dono berkali-kali membuat kedua orang tuanya menangis terharu karena bahagia dan bangga pada perubahan anak mereka.

***

Untuk ketiga kalinya bapak Dono mengalami stroke dan harus dibawa ke rumah sakit. Namun kali ini nyawanya tak mampu diselamatkan. Dono mesti merelakan kepergian selamanya seseorang yang di sisa hidupnya ingin selalu dibuatnya bersukacita. Di depan matanya Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Dono berusaha sungguh agar air matanya tak sampai tumpah. Dadanya terasa begitu sesak menahannya.

Namun Dono ingin bersikap ksatria, menepati janjinya untuk tak meneteskan air mata ketika jatah hidup bapaknya telah berakhir di dunia fana.

Sementara itu, di sekitarnya ada Ibu, Virna istrinya, kakak dan ipar perempuannya, yang semua menangis sesenggukan. Sementara petugas paramedis membersihkan tubuh bapaknya dari berbagai perlengkapan rumah sakit, Dono keluar dari kamar. Sejenak teringat masa lalunya yang telah berkali-kali menyakiti hati Bapak. Lantas terbayang pula bahwa tak bakal ada lagi hal apa pun yang bisa dilakukannya untuk menebus kesalahannya. Seketika itu tak mampu tertahan lagi rasa sesak di dadanya.

Sejenak Dono lupa pada janjinya sendiri. Air matanya tumpah sudah. Tak lama berselang datanglah Wima mendekatinya, yang memang tengah menuju ke rumah sakit ketika dikabari Dono bahwa bapaknya telah kritis.

“Sudahlah, Don. Kamu masih ingat janjimu kan?”

“Iya, di depan Bapak aku sudah bisa menahannya. Tapi setelah kepikiran macam-macam, aku jadi sedih, Ma. Apa pun yang kulakukan untuk menebus salahku pada Bapak, rasanya sama sekali belum cukup,” tutur Dono sendu sambil mengusap air matanya.

“Kamu tak perlu khawatir, Don. Tuhan tak pernah terlelap. Pasti malaikat-Nya sudah mencatat segala usahamu menebus dosa-dosamu pada bapakmu.”

“Amin, semoga saja benar apa yang kaukatakan.”

***

Keterangan :
-eman-eman = sayang (bahasa Jawa)
-remen = senang (bahasa Jawa krama inggil/halus)

#
Cerpen ini pernah dimuat di Batam Pos edisi Minggu, 30 Agustus 2009 dan merupakan karya pertamaku yang dimuat di koran.

h1

Berusaha Lebih Baik

September 3, 2009

Jika kita berusaha menjadi lebih baik daripada kita sekarang, semua yang ada di sekeliling kita pun menjadi lebih baik.(Paulo Coelho)

h1

Penampilan Milan Menyedihkan

September 3, 2009
Ronaldinho dan Pato tak berdaya menghadapi Inter.

Ronaldinho dan Pato tak berdaya menghadapi Inter.

Harapan pencinta Liga Italia di Indonesia untuk menyaksikan derby della Madonnina secara langsung di layar kaca memang telah kesampaian. Global TV berbaik hati menyiarkannya menemani saat sahur kita. Namun bagi para penggemar AC Milan, pertandingan yang berlangsung Minggu dini hari (30/8) itu terasa menyesakkan dada. Tim asuhan Leonardo mesti kalah telak 0-4 dari Inter Milan, tim sekota sekaligus musuh bebuyutan Milan. Sempat bisa menekan lawan di awal laga, Rossoneri seperti lesu darah ketika Nerazurri mencetak gol pertama dan kedua. Apalagi Genarro Gattuso, kapten Milan malam itu bermain bodoh hingga diganjar kartu merah di menit ke-40. Gol ketiga dan keempat Inter pun tinggal menunggu waktu saja terjadinya. Berbekal sepuluh pemain menghadapi lawan yang sudah di atas angin membuat Milan akhirnya menerima kenyataan pahit di pertandingan kedua Serie A. Pekan depan liga diistirahatkan untuk pertandingan internasional antar negara. Sejumlah pemain Milan mesti bergabung dengan timnas masing-masing, seperti : Gianluca Zambrotta dan Andrea Pirlo (Italia), Marek Jankulovski (Republik Ceska), atau Klaas-Jan Huntelaar (Belanda). Namun sebagian besar pemain masih bisa berlatih bersama, sebut saja nama Marco Storari, Alessandro Nesta, Thiago Silva, Massimo Ambrosini, Clarence Seedorf, Ronaldinho, dan Marco Borriello. Semoga Leonardo dapat memanfaatkan watu yang ada dengan segera membenahi timnya supaya kembali dapat meraih kemenangan saat Milan bertandang ke markas Livorno pada pertandingan yang berlangsung pada hari Minggu (13/9) nanti. Kekalahan dari Inter mesti menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan Milan mengarungi musim ini, hingga tak perlu terjerembab lagi.