h1

Bidadari yang Membumi

Maret 23, 2010

Sebuah peristiwa bisa menjadi sesuatu dan memberi kesan yang sangat berbeda bagi mereka yang mengalaminya. Itulah yang terjadi ketika Farah pertama kali bertemu dengan Fariz. Baginya saat itu membuatnya begitu sebel, mangkel, dongkol dan konyol. Dia tengah bersama kekasihnya Arthur ketika ada seorang lelaki yang sekonyong-konyong menunjuk ke arahnya dan menanyakan namanya pada satu-satunya orang yang dikenalnya selain Arthur. Padahal ada beberapa orang yang tak dikenalnya bercengkrama bersama mereka.

“Nggak tau diri banget cowok tadi! Nggak sopan!” seru Farah sesaat setelah dia bersama Arthur beranjak pulang.
“Terus terang aku juga heran, kok dia nekad banget gitu ya? Mungkin kita nggak kayak orang pacaran menurut dia,” ucap Arthur tersenyum.
“Harusnya dia bisa kira-kira dong! Kan aku tadi udah megangin tanganmu segala!”
“Mungkin dia terpaku sama wajah cantikmu, jadi nggak liat reaksi kamu ke aku.”
“Kamu nggak cemburu, sayang?” tanya Farah sambil memajukan wajahnya.
“Cemburu sih, dikit. Seenggaknya aku jadi tambah yakin kalo Farahku emang wanita yang cantik dan menarik, yang mesti kujaga biar tetep di sampingku. Kalo nggak, cowok secakep Fariz mustahil pengen banget kenal kamu.”
“Emang gitu?”
“Udah deh, lupain aja kejadian tadi. Gitu aja beres kan?”
“Iya sih…”
Farah bersyukur memiliki Arthur yang selalu bersikap dewasa dan mampu menenangkan hatinya yang kadang meledak-ledak.
***

Jika untuk Farah peristiwa malam itu kesannya buruk sekali, untuk Fariz justru sangat indah. Malam itu dia datang ke gedung kesenian Jogja untuk melihat pertunjukan teater omnya yang datang dari Jakarta. Mungkin karena kurang publikasinya, sangat sedikit penontonnya. Lantas dilihatnya seorang perempuan rupawan datang bersama seorang lelaki. Fariz langsung bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan gadis cantik di antara sedikit orang yang datang ke tempat itu?

Pertunjukan dimulai. Penonton bebas memilih tempat duduknya. Si gadis ternyata duduk di samping kanan Fariz dalam jarak yang cukup jauh. Sesekali dia menoleh ke kanan dan gadis itu terlihat siluetnya belaka. Usai pertunjukan, lampu gedung dinyalakan, Fariz menoleh ke kanan lagi, tapi gadis itu tak ada. Rada kecewa hatinya sesaat. Dia beranjak keluar mencari omnya. Tak jauh dari backstage sudah berkumpul beberapa orang yang sedang berdiskusi dengan santai, termasuk ada omnya. Yang mengejutkan, gadis yang memesonanya ada di situ. Setelah bersalaman dengan omnya, Fariz ikut menyimak obrolan mereka. Sesekali dia ikut urun suara, sementara matanya terus menatap gadis yang berada sekitar dua meter di depannya. Gadis itu juga kadang nyeletuk mengikuti arus pembicaraan. Fariz kembali bertanya sendiri, kenapa sepertinya omnya dan gadis itu terkesan akrab? Jika memang gadis itu teman baik omnya, kenapa juga tak pernah dikenalkan dengannya?

Tiba-tiba seperti ada sinar yang memercik di antara Fariz dan gadis itu saat ada materi pembicaraan yang sejalan, padahal keduanya tak sedang saling bercakap. Betapa senang rasanya Fariz. Apalagi lantas dilihatnya keindahan luar biasa, saat sang gadis menunjukkan ekspresi gembiranya, herannya, dan berpikirnya. Semuanya sungguh menawan hati Fariz. Serasa ada seorang bidadari di hadapannya, saking memesonanya kecantikan gadis itu. Bidadari yang secara khusus turun dari langit untuk membumi.
Kian penasaran Fariz ingin tahu siapa gadis itu sejatinya. Akhirnya berkat dorongan hatinya yang begitu kencang, sambil tangan kanannya menunjuk ke arah gadis itu, dia bertanya pada omnya,
“Ini siapa ya?”
“Oh, ya ini temanku,” sahut Dedi, om Fariz yang rupanya tak mengira akan ditanya seperti itu. Dimintanya gadis itu mendekatinya yang berdiri tak jauh dari Fariz.
“Ini ponakanku, namanya Fariz.”
“Farah,” ucap gadis itu sambil tersenyum saat berjabat tangan dengan Fariz.

Sungguh berbunga-bunga hati Fariz bisa bersalaman dan akhirnya tahu siapa nama gadis itu. Tak lama setelah itu Farah berpamitan dan pergi bersama teman lelakinya. Sekadar tahu namanya tentu belum cukup. Tapi Fariz yakin masih bisa bertanya banyak pada omnya. Sayang, malam itu dia tak bisa banyak bicara dengan omnya lagi.
Sambil pulang Fariz tersenyum sendiri. Dia merasa malam itu adalah salah satu malam terindah dalam hidupnya. Sungguh berseri-serilah hatinya. Setiba di rumah diambilnya secarik kertas dan pulpen. Dituliskannya dengan penuh keceriaan kejadian malam itu dalam sebuah puisi yang judulnya “BIDADARI YANG MEMBUMI”.

Sejak semula kulihat
Telah kuterbius olehmu
Pesona kecantikanmu sungguh memikat
Seperti tak sedang kutatap
Seorang gadis biasa
Seolah tengah kulihat bidadari

Bidadari yang membumi
Itulah yang terlayak kausandang
Duhai Farah,
Wanoja elok nan menawan

***

“Ku jatuh cinta kepadamu… saat pertama bertemu…” Kasidah Cinta-nya DEWA menjadi lagu favorit Fariz. Sepertinya baru sekali dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Biasanya tak mudah hatinya begitu tertarik pada seseorang dan membuatnya tak bisa berhenti memikirkan Farah. Jika ada lagu yang berkisah tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, tak pernah dihayati liriknya, meski mungkin senang dinyanyikannya.
Berulangkali sudah purnama terlewati, Fariz masih mengenang sosok indah gadis itu. Entah apa yang mesti dilakukannya untuk lebih mengerti siapa Farah sesungguhnya. Sejak malam itu dia belum pernah bertemu lagi dengan Dedi. Dia sudah bertanya pada omnya tentang Farah, tapi tak pernah ada jawaban.

Hingga suatu saat omnya kembali ke Jogja untuk mengantar nenek Fariz yang kangen pada anak cucunya. Ketika Fariz akhirnya bisa berdialog dengan omnya, ternyata Dedi tetap berahasia soal siapa Farah. Entah kenapa si om tetap enggan menjelaskannya secara gamblang. Tanpa dinyana, setelah itu ada sebuah titik cerah buat Fariz. Saat itu dia sedang meminjam ponsel omnya yang baru. Tak ada pretensi apapun dari Fariz saat memencet tombol-tombol ponsel itu, sampai di phonebook ditemukannya nama Farah Abidin.
“Kok kayaknya aku kenal nama ini ya?” tanya Fariz serta merta.
Dedi yang sedang baca koran di sampingnya diam saja. Fariz berpikir positif bahwa Farah Abidin adalah Farah yang berkenalan dengannya sekitar tiga bulan silam. Diingatnya nomor ponsel itu dan segera dicatatnya.

Beberapa jam kemudian Fariz mengirim sebuah sms ke nomor yang diasumsikannya sebagai milik Farah.
“Halo Fa, sdh smpt liat ‘cinta silver’ blm? gmn kl dibandng ‘ungu violet’? dari Fa… juga.”
Dengan penuh spekulasi dicobanya sekadar basa-basi yang menjadi salam perkenalannya kembali dengan sang gadis. Fariz sebenarnya tak yakin. Saking ragu-ragunya langsung dimatikanlah ponselnya. Tapi karena penasaran, dia nyalakan lagi ponselnya, dan ternyata ada sms balasan dari pujaan hatinya!
“Wah, blm tuh. sori, ini siapa ya?”
Membaca sms balasan itu, Fariz seperti melihat senyuman Farah, membuatnya percaya diri untuk mengirim sms lagi. Setelah dia mengingatkan peristiwa di gedung kesenian, Farah pun ingat dan berlanjutlah komunikasi mereka. Obrolan via sms itu terus berlangsung tak hanya semalam. Hari-hari berikutnya selalu ada respons dari Farah setiap kali Fariz bertanya apa saja untuk menjawab rasa penasarannya.
***

Fariz cukup puas menjalin hubungan dengan Farah. Meski cintanya sudah terasa bergejolak, tapi dia enggan tergesa-gesa untuk menemui bidadarinya. Selama sebulan mereka hanya berkomunikasi via sms dan email. Apalagi dia ingat bahwa dulu Farah datang bersama seorang lelaki. Suatu ketika bertanyalah Fariz tentang siapa lelaki yang mendampinginya saat itu. Semula Farah menjawab bahwa dia hanya teman dekatnya. Setelah Fariz mendesaknya, Farah berterus terang bahwa lelaki bernama Arthur itu adalah kekasihnya. Fariz harus menghadapi kenyataan bahwa dia hanya bisa berteman dengan bidadarinya.

Selalu tak mudah bagi seorang lelaki untuk menjalin hubungan pertemanan dengan seorang perempuan, jika salah satu atau kedua belah pihak telah mempunyai kekasih hati. Tanpa getaran asmara pun, tak mungkin pertemanan itu sebagaimana layaknya pertemanan sesama lelaki atau perempuan. Itulah yang ada di benak Fariz, meski ternyata tidak menurut Farah.
Farah membuka diri berteman dengan Fariz. Bahkan pernah pula dikatakannya, bahwa pacarnya tak mempermasalahkannya memiliki sejumlah teman lelaki. Hingga suatu hari diijinkannya Fariz datang ke tempat kosnya. Sungguh berbunga-bunga hati Fariz. Sesudah sekian lama hanya bertukar tulisan, akan ditemuinya lagi bidadarinya yang membumi.
***

“Apa kabar Fariz? Nggak susah cari tempat kosku?” sapa Farah hangat.
“Nggak. Cuma nanya sekali, terus udah sampai sini. Oh ya, Arthur mana? Apa dia nggak marah aku ke sini?” tanya Fariz hati-hati.
“Dia lagi di Surabaya. Ada sodaranya yang nikah di sana. Dia nggak apa-apa kok. Kan pernah kubilang, dia oke aja kalo aku punya temen cowok.”
Fariz lega. Setidaknya dia tak akan merasa bersalah seolah sedang menganggu pacar orang. Toh dia dan Farah hanya berteman, meski tak bisa diingkarinya getaran cinta pada gadis yang berdua bersamanya itu. Maka terus berlanjutlah perbincangan antara dua anak manusia berbeda jenis itu penuh keceriaan.

Tak hanya Fariz yang merasa bahagia. Ternyata Farah pun merasakan hal serupa. Sesudah Fariz pulang dari tempat kosnya, sembari tersenyum dia mengingat kembali pertemuan pertama yang sangat menjengkelkannya. Tak terduga, baru saja dia bertemu kembali dengan lelaki itu, dan anehnya dia justru merasa senang. Banyak sekali hal baru yang pernah dibicarakannya berdua. Lalu ada pula sejumlah puisi indah yang pernah dikirimkan Fariz via email kepadanya. Dan sebelum pulang, dia diberi sebuah kaset yang berisi lagu-lagu ciptaan Fariz. Semakin positif saja kesan dari lelaki itu. Diam-diam Farah mengaguminya. Tapi tak lama kemudian lekas diingatnya lagi sosok Arthur. Meski tak pernah ada satu puisi pun yang ditulis untuknya, tapi Farah yakin kisah cintanya dengan Arthur adalah yang terbaik yang bisa dijalaninya.
***

Sayang, sejak pertemuan itu Fariz dan Farah tak pernah bertemu muka lagi. Sesekali tetap dikirimkannya sms atau email, meski tak selalu ada balasan. Hingga suatu hari diterimanya sebuah sms yang isinya cukup mengejutkan. Ternyata Farah telah lulus SMA dan akan melanjutkan kuliahnya di Bogor.
Fariz memohon Farah untuk menerima kehadirannya lagi sebelum pergi. Akhirnya bertemulah mereka kembali di tempat kos Farah.
“Farah, meski kita jarang ketemu dan ngobrol kayak gini, tapi aku udah makasih banget kamu udah mau jadi temenku,” ucap Fariz menjelang akhir perjumpaan.
“Aku juga makasih sama kamu, Riz. Sori ya, kalo akhir-akhir ini sms dan email kamu jarang kubales. Maklumlah, aku bener-bener sibuk.”
“It’s ok. Aku juga minta maaf kalo pernah nyakitin hati kamu. Meski nanti kamu di Bogor, kita masih tetep temenan kan?”
Farah mengangguk dan tersenyum manis sekali.

Sebelum berpamitan, Fariz memberikan beberapa lembar kertas kwarto yang digulung dan diikat dengan sebuah pita. Ternyata kertas-kertas tadi berisi puisi “BIDADARI YANG MEMBUMI” berhiaskan sketsa lukisan karyanya. Sekali lagi Farah sangat terkesan pada Fariz. Begitu tersanjung hatinya memperoleh julukan sebagai bidadari yang membumi. Sebuah pujian yang disadarinya terlalu berlebihan, tapi membuatnya begitu senang.

Meski kutahu kau bidadari
Semula kukira kau adalah
Bidadari yang membumi

Ternyata salah aku menduga

Kau tak seperti yang kukira
Kau bukan perempuan biasa
Kau adalah kekasih dewa
Dan diriku manusia sahaja

Tiada yang mampu kulakukan
Hanya dapat kubiarkan
Bidadari tak lagi membumi
Terbang menuju nirwana dan menari
Ke tempat yang jauh di awan
Lepas sudah dari pandangan

***

Bagi Fariz bidadarinya tak lagi membumi. Dia telah terbang mengangkasa untuk kembali ke nirwana lagi. Dan dia hanya manusia yang mustahil dapat memiliki seorang bidadari. Tapi dia bersyukur dan bersuka cita pernah berteman dekat dengan seseorang yang baginya tetaplah bidadari yang membumi.
Mungkin kebetulan belaka jika nama panggilan Fariz Restu Mulyadi dan Syarifa Rahmanita Abidin ternyata hanya berbeda dua huruf, Fariz dan Farah. Apakah hal tersebut mengindikasikan bahwa ada sesuatu istimewa di antara kedua anak manusia itu? Pastinya hanya Tuhan yang Mahatahu apa yang akan terjadi nanti.

Telah kubiarkan bidadari tak lagi membumi
Terbanglah dan menari…
Tapi masih kuharap bidadari akan turun lagi
Menapak bumi dan kujumpai kembali…

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai No.31 tahun 2009 silam. Yang terpajang di sini adalah versi lengkap dari penulisnya, sementara di majalah telah mengalami proses editing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: