h1

Keluarga Ndang Matyo

April 13, 2010

Sepasang orang tua yang telah berusia lanjut dan seluruh anaknya menjadi orang kaya pun ternyata tidak selalu hidup bahagia, bahkan ketika mereka masih dikaruniai kesempatan menikmati dunia. Anak pertama (Eko Subondo) adalah seorang direktur di perusahaan multinasional dengan aset kekayaan trilyunan rupiah. Anak kedua (Dwi Suharto) menjadi seorang anggota DPRD yang sudah pasti bergelimang dengan banyak uang. Anak ketiga (Tri Adikuwoso) bekerja sebagai pilot senior di maskapai penerbangan internasional. Anak keempat (Runi Setiasih) membuka usaha restoran dan kafe yang laris dikunjungi banyak orang. Anak kelima (Rita Suciati) tidak bekerja, tapi menjadi isteri seorang pengusaha mebel yang sukses. Dan anak keenam (Ragil Adiputro) adalah seorang pesepakbola profesional yang setahunnya dikontrak minimal 500 juta rupiah. Keenam anak itu telah menikah seluruhnya dan rata-rata sudah dikaruniai sejumlah anak. Hanya anak keempat yang tidak memilikinya, sedangkan anak keenam baru saja bercerai, meski telah menghasilkan dua anak. Rumah maupun mobil minimal satu dimiliki masing-masing anak beserta keluarganya.

Orang tua mana yang tak akan bahagia dan bangga dengan kondisi anaknya yang sedemikian rupa? Tapi ternyata tidaklah demikian yang dialami oleh Bapak dan Ibu Ndang Matyo, orang tua yang melahirkan anak-anak hebat tersebut. Mereka berdua hanya tinggal di sebuah rumah sederhana, yang sebagian ruangannya disewakan kepada orang lain. Memang setiap bulan anak-anak mereka selalu menyetor sejumlah uang tertentu ke rekening tabungan bapaknya, tapi sangat jarang mereka memberi perhatian khusus untuk orang tuanya. Padahal sebagian besar dari mereka masih tinggal sekota atau di kota yang letaknya tak jauh dengan bapak ibunya. Bahkan sekadar menelepon menanyakan kabar pun hampir tiada yang melakukannya. Hanya Runi dan Ragil yang sesekali menelepon atau mampir ke rumah. Ragil, anak keenam yang selalu bermain ke berbagai daerah, justru sering menelepon. Lalu setiap timnya bermain di kota asalnya, selalu disempatkannya waktu mengunjungi bapak ibunya tercinta.

***

Betapa anak-anak kurang perhatian terbukti ketika Bu Ndang suatu waktu mesti dirawat di rumah sakit. Semua anak berkumpul di rumah Dwi yang menjadi wakil rakyat. Hanya Ragil yang belum bisa datang karena masih mengikuti timnya bertanding di Indonesia Timur.
“Ibu kita masuk rumah sakit. Masalahnya sekarang, siapa yang mau membayar biaya perawatan Ibu?” buka Eko, si anak tertua..
“Ya, Mas Eko saja. Sebagai anak tertua wajar ‘kan?” sahut Tri. Dwi dan Rita setuju sekali mendengar usul tersebut. Runi masih diam melihat sikap saudara-saudaranya.
“Lho, kebutuhan buat keluargaku itu banyak lho, Dik. Jangan terus asal tunjuk begitu!” seru Eko.
“Memangnya kami tidak?” kata Dwi, Tri, dan Rita hampir bersamaan.
“Aku baru beli mobil baru, habis dua ratus juta lebih,” ucap Dwi.
“Anakku baru minggu lalu berangkat sekolah ke Australia, sudah habis banyak juga duitku,” timpal Tri.
“Suamiku habis ngirim barang ke luar negeri, belum dibayar sama yang beli. Lagi pas-pasan nih, uangku,” sambung Rita.
“Ya sudah, sudah. Kamu Runi, kok diam saja?” tanya Eko.
“Memang aku tidak habis beli mobil, juga tidak punya anak seperti kalian. Cuma aku juga punya karyawan yang harus dibayar dan buat kebutuhan resto-kafe juga sebetulnya perlu banyak biaya. Tapi buat biaya rumah sakit Ibu, aku tak mau pikir panjang lagi. Aku pasti mau membayarnya. Aku heran sama mas-mas dan juga kamu, Rita. Untuk membiayai perawatan Ibu kita sendiri saja, kok sepertinya kalian berat begitu sih? Kalau kalian lebih sayang ke uang kalian sendiri, silakan tetap simpan uang kalian. Tidak usah khawatir berkurang, masih ada aku dan Ragil yang mampu membayarnya! Sudah, aku pergi saja sekarang! Mending aku nungguin Ibu, ketimbang ketemu dengan kalian yang tak punya perasaan ini!”

Runi berlalu meninggalkan saudara-saudaranya dengan hati pedih. Tak disangkanya mereka bisa bersikap demikian menanggapi sakitnya Ibu. Eko, Dwi, Tri, serta Rita bengong sesaat mendengar ceramah Runi. Akhirnya mereka bereempat bersepakat mengumpulkan dana seadanya untuk menyokong Runi dan Ragil yang sudah jelas mau membayar biaya perawatan Bu Ndang di rumah sakit.

***

Sikap anak-anak Ndang Matyo kepada orang tuanya tak lepas dari perlakuan Pak Ndang berdua yang selama ini begitu memanjakan mereka dengan harta kekayaan berlimpah ruah. Mungkin terdengar klise, namun itulah kenyataan yang terjadi di keluarga tersebut. Hal itu dilatarbelakangi oleh masa lalu kelam sang bapak. Ibunda Pak Ndang wafat tak berapa lama sehabis melahirkan dan bapaknya menyalahkan anak kandungnya itu. Tak heran jika dia diberi nama ‘Ndang Matyo’ yang berarti ‘lekas matilah’. Sejak kecil Pak Ndang nyaris tak pernah tinggal bersama bapaknya yang menolak merawatnya. Dia dirawat bergantian oleh kakek neneknya dan pakliknya, setelah sempat hidup terlunta-lunta.

Bertahun-tahun kemudian, pemuda Ndang Matyo telah menjelma sebagai seorang pekerja keras yang sukses secara materi. Dia menikahi gadis yang dicintainya dan anak-anak pun menjadi bagian kebahagiaan barunya. Ibu Ndang juga seorang wanita karir yang sukses. Pak Ndang tak ingin mengulangi sikap buruk bapak kandungnya. Setelah pekerjaannya menghasilkan harta bertumpuk, tak pernah tanggung-tanggung dia dan isterinya membagikannya kepada anak-anak. Mereka percaya bahwa itulah yang akan membuat seluruh keluarganya bahagia. Kenyataannya, seluruh anaknya masing-masing sukses dalam bidangnya dan mengikuti jejaknya menjadi orang kaya. Perusahaan Pak Ndang sendiri akhirnya gulung tikar karena menjadi korban penipuan. Untunglah, sudah tuntas dia mengantarkan anak-anaknya ke jenjang keberhasilan dalam hal kebendaan.

Setelah beranjak tua, barulah Pak Ndang dan isterinya merasakan kehampaan tanpa perhatian anak-anak, yang satu-persatu meninggalkan rumah karena telah menikah. Runi dan Ragil adalah yang terakhir meninggalkan rumah keluarga Ndang Matyo. Rita menikah mendahului kakaknya berhubung dia telah hamil dulu empat bulan. Beruntunglah Runi dan Ragil, beruntunglah pula kedua orang tua mereka yang akhirnya mendapat balasannya. Kedua anak tersebut mendapatkan lebih banyak curahan perhatian kasih sayang orang tua, yang tak melulu berupa harta.

***

Wajah Eko Subondo berseri-seri di bawah sorotan kamera televisi dan jepretan kamera digital para wartawan. Mewakili perusahaannya, dia memberikan bantuan puluhan juta rupiah kepada korban gempa. Di belahan dunia yang lain, Dwi Suharto tengah berasyik masyuk di sebuah klub di pantai Pattaya. Sebelumnya, sejumlah buah tangan telah dibelinya untuk isteri dengan anak-anaknya di rumah. Kebetulan dia tengah bertugas menerbangkan pesawat ke negeri gajah putih. Sang anggota dewan, Tri Adikuwoso sedang berkunjung ke sebuah panti asuhan dan berpetuah kepada anak-anak penghuni panti tersebut. Entah, apa dia tahu atau tidak makna kata-kata yang dibacanya.
“Meski kalian tidak tahu siapa orang tua kalian, juga di mana mereka berada kini, tapi kalian jangan lupa untuk mendoakan mereka senantiasa,” ujar Tri mantap. Tak jauh dari tempat itu, Rita bersama ibu-ibu teman arisannya pun tengah mengadakan bakti sosial ke sebuah panti jompo.

Sementara itu Ibu Ndang Matyo akhirnya diizinkan pulang setelah sempat dua pekan mondok di rumah sakit. Runi meminta ibunya untuk sementara tinggal dulu di rumahnya, hingga kesehatannya pulih benar nanti. Ibunya setuju dan Pak Ndang bersedia mendampingi isterinya di rumah anak keempatnya itu.
“Runi, Bapak ndak tahu mesti ngomong apa lagi sama kamu. Kamu dan adikmu Ragil sudah baik banget sama Bapak dan Ibu.“
“Bapak, yang namanya anak itu, ya harus berbakti sama orang tuanya. Apa yang Runi lakukan itu ‘kan sekadar usaha Runi membalas kebaikan Bapak dan Ibu kepada kami.”
“Iya, tapi mas-mas dan adikmu satu itu ndak bisa seperti kamu. Kenapa ya, dulu Bapak dan juga ibumu ndak bisa mendidik mereka dengan benar, supaya bisa jadi anak yang berbakti,” sesal Pak Ndang.
“Sudahlah Pak, ‘kan masih ada saya dan Ragil. Lagipula saya percaya, sebetulnya Mas Eko, Mas Dwi, Mas Tri, dan juga Rita itu juga sangat menyayangi Bapak dan Ibu kok. Cuma mereka ‘kan sibuk sekali,” ucap Runi mencoba menenangkan hati bapaknya.

***

Berulang kali sudah purnama terlewati. Anak-anak Ndang Matyo berturut-turut mengalami nasib buruk. Eko dipecat karena difitnah melakukan pelecehan seksual, sebuah keberhasilan konspirasi rekan-rekannya sendiri yang mengincar jabatannya. Nama baik Eko tercemar dan sempat menghiasi tabloid maupun acara infotaintment di televisi, karena wanita yang diumpankan kepadanya adalah seorang model cantik majalah bertaraf internasional. Eko kemudian berusaha merehabilitasi dirinya, kasus pencemaran nama baiknya pun sudah dibawa ke meja hijau. Dwi terpaksa keluar dari perusahaannya yang mengadakan rasionalisasi karyawan. Menjadi niatnya untuk selanjutnya bekerja di maskapai penerbangan nasional saja. Namun tak bisa serta merta Dwi melaksanakan niatnya. Kecelakaan pesawat yang terjadi secara bertubi-tubi menyembulkan kekhawatiran tersendiri bagi dirinya sendiri maupun isteri dan anak-anaknya.

Tri didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan kasusnya telah sampai di pengadilan. Tak cukup kuat imannya, sehingga perampokan uang rakyat yang dilakukan secara berjamaah oleh rekan-rekannya pun diikutinya selama duduk di kursi dewan. Resto-kafe Runi masih tetap laris, bahkan cabang barunya juga telah dibuka. Tapi kehamilannya yang telah lama dinanti ternyata mengalami keguguran. Runi merasakan kesedihan yang luar biasa dalam hidupnya.
Rita didera masalah yang tak kalah pelik pula. Suaminya gagal dalam pencalonan bupati karena ketahuan selingkuh dan rumah tangganya terancam pecah. Sementara itu nilai kontrak Ragil baru saja dinaikkan karena timnya berhasil menjadi juara, tapi pada awal musim berikutnya dia mendapat skorsing larangan bermain satu tahun karena dituduh menghina wasit. Ragil telah mengajukan bukti baru pada komisi banding PSSI supaya hukumannya mendapatkan remisi. Dilarang bermain sepakbola merupakan sebuah hal yang akan sangat menyiksanya.

Pak Ndang berdua dengan isterinya merenungi nasib anak-anak mereka.
“Bu, apa mungkin anak-anak kita nasibnya begitu karena ndak mau berbakti pada kita ya?”
“Jangan berpikir begitu, Pak. Kita ini ‘kan hanya manusia biasa. Cuma Tuhan yang berhak menentukan takdir mereka. Tapi, apa yang terjadi pada mereka, mesti saja tak terlepas dari kita sebagai orang tuanya.”

Mereka jadi sadar telah gagal menjadi orang tua yang baik. Namun apa yang terjadi justru membuat mereka senantiasa berupaya mendekatkan diri pada Ilahi. Tak henti-hentinya mereka mohon ampunan atas dosa-dosa masa lalu seraya mohon ditunjukkan jalan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Pak Ndang berdua selalu memberikan dukungan kepada anak-anak dengan permasalahan hidup mereka masing-masing. Nurani anak-anak pun tersentuh dengan perlakuan orang tua mereka. Eko dan adik-adiknya beranjak menuju kesadaran, bahwa ada yang tak tepat dengan perlakuan mereka kepada bapak dan ibu mereka selama ini. Runi maupun Ragil merasa bahwa rasa sayang mereka selama ini belum cukup, meski selama ini sejatinya telah berbakti, tidak seperti keempat saudara mereka.

Satu demi satu mereka mendatangi rumah sederhana itu. Satu demi satu mereka memohon maaf atas kesalahan mereka selama ini dan kembali memohon doa restu dari bapak ibunya. Tri yang sempat masuk tahanan pun menyempatkan diri melakukannya ketika statusnya berubah menjadi tahanan kota.

***

Lambat laun nasib anak-anak berubah membaik. Eko memutuskan membuka perusahaan sendiri. Dia tak peduli dengan hasil persidangan pencemaran nama baiknya. Yang penting, masih banyak orang yang tetap memercayainya. Dwi akhirnya bergabung dengan maskapai penerbangan nasional serta siap senantiasa sekiranya ajal tiba saat menunaikan tugas. Dia berjanji setia kepada isterinya dan ingin lebih mampu menahan birahinya. Tri dinyatakan bersalah. Dia siap menjalani hukuman di dalam penjara, yang akan dijadikannya sebagai ajang penginsyafan diri. Runi kembali bersemangat mengelola resto-kafenya, dengan tetap berusaha supaya bisa kembali hamil. Rita memutuskan bercerai, kembali ke rumah orang tuanya untuk menemani dan merawat bapak ibunya. Sementara itu, Ragil ikhlas menerima hukumannya dengan menemani orang tuanya pula. Kesehariannya diisi dengan menjadi kolumnis sepakbola di sebuah koran, serta melatih sepakbola anak-anak di lingkungan rumahnya. Ada kemungkinan dia akan rujuk dengan isterinya.

Pak Ndang Matyo dan isterinya tersenyum bersukacita melihat perubahan dalam keluarganya. Anak-anak disertai para cucu mereka secara berkala berkumpul di rumah. Mereka sungguh bersyukur atas apa yang telah terjadi pada akhirnya. Rasanya, jika sewaktu-waktu ajal menjemput, mereka berdua siap pergi dengan membawa kepuasan maupun kebahagiaan di hati.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Berita Pagi (Sumsel) edisi Minggu, 11 April 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: