Archive for Mei, 2010

h1

Sang Bendahara Muda

Mei 31, 2010

Ardha tak mengerti, mengapa justru ia yang paling muda, belum menikah, belum pernah bekerja, dan bahkan belum lulus kuliah pula, yang direkomendasikan untuk menjadi bendahara RT yang baru. Padahal ia pun bukan seorang pemuda yang menonjol, yang aktif dan kerap menyuarakan pendapatnya setiap kali menghadiri pertemuan RT di lingkungan tempat tinggalnya. Apa mungkin justru karena pendiamnya itu, maka Pak Haryanto -ketua RT yang sebentar lagi berakhir masa jabatannya- maupun Pak Yunus -sesepuh kampung yang juga menjadi bendahara RW- mengusulkannya menduduki jabatan tersebut? Tapi mungkin pula mereka memang percaya bahwa Ardha adalah seorang pemuda yang cakap, jujur, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya. Yang jelas, ia memang cukup rajin menghadiri pertemuan bulanan RT sejak ayahnya wafat tujuh tahun silam.

Menjadi pengurus RT adalah sesuatu yang tidak menjanjikan apa-apa, tidak menghasilkan uang, malah mungkin kadang mengurangi kocek pribadi yang bersangkutan. Wajarlah jika menjadi ketua, sekretaris, dan bendahara RT tidak menjadi ambisi warga pada umumnya. Ketika ada nama-nama yang diajukan untuk menjadi pengurus baru, ya tinggal bilang setuju, rampung sudah urusannya. Tak perlu repot melewati proses pemungutan suara segala. Begitulah yang terjadi ketika Ardha akhirnya dipilih sebagai bendahara RT 37. Ardha berjanji akan membayar kepercayaan itu dengan menjadi pengurus RT yang terbaik bagi warga.

Masalah terjadi ketika ibunda Ardha harus dirawat di rumah sakit. Ardha tahu ibunya masih memiliki rekening tabungan di bank, tapi tentu tak mungkin ia bisa begitu saja mengambilnya. Ibunya tak memiliki kartu ATM, sedangkan Ardha sendiri tak yakin tabungan pribadinya cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Rekening tabungannya di bank sudah nyaris ludes untuk membayar SPP kuliahnya dan membeli banyak buku untuk referensi skripsinya. Satu-satunya kakak Ardha tengah menempuh studi di negeri jiran, yang tentu saja memerlukan banyak biaya untuk menghidupi dirinya sendiri. Saudara-saudara ibunya tinggal berbeda kota dengannya, tak nyaman rasanya ia mau minta tolong pada mereka yang hidupnya bersahaja, tiada seorang pun yang berlimpah ruah harta.

Sekejab ia baru ingat bahwa dirinya adalah seorang bendahara dan menguasai sejumlah uang milik warga RT 37. Dengan terpaksa, juga diwarnai sejumput ragu, diambilnya lebih dari tujuh puluh persen harta kekayaan RT yang dipercayakan kepadanya untuk membayar biaya perawatan ibunya. Ia sungguh berharap, semoga setelah ibunya sembuh dan pulang ke rumah, bisa segera digantinya uang warga yang diam-diam dipakai untuk keperluan pribadinya itu. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, ibunya diijinkan pulang.

“Ardha, kamu bayar pakai apa biaya rumah sakit Ibu?” tanya ibunda Ardha setibanya di rumah.
“Saya pinjam, Bu. Tapi saya janji segera saya kembalikan, kok.”
Ibunya mengernyitkan dahi dan melanjutkan pertanyaannya,
“Kamu pinjam dari mana atau pinjam sama siapa?”
“Anu, saya pinjam kas RT,” sahut Ardha lirih. Ia tahu ibunya bakal tak setuju tindakannya.
“Apa? Waduh, kamu harus segera kembalikan itu. Kamu lupa sama pesan Ibu dulu, saat kamu baru saja dipilih jadi bendahara RT? Kamu harus bisa jaga amanat banyak orang, Ardha. Yah, meskipun kamu hanya jadi bendahara di tingkat RT sekalipun.”
“Saya nggak lupa Bu, saya masih ingat sekali. Tapi mohon maaf, kemarin saya terpaksa. Makanya saya mau segera mengembalikannya. Rekening tabungan Ibu masih ada uangnya bukan?” tanya Ardha rada ragu. Ibunya mengangguk. Syukurlah, uang di tabungan ibunya masih cukup untuk mengembalikan uang kas RT yang dipinjamnya tempo hari. Ardha berjanji tak akan menggunakan kas RT yang menjadi tanggung jawabnya untuk keperluan pribadinya lagi.

***

Selang waktu beberapa tahun, Ardha memutuskan untuk berhenti kuliah karena pengerjaan skripsinya mengalami kebuntuan. Keputusannya itu membuat sedih dan kecewa sang ibunda. Namun Ardha meyakinkan diri maupun ibunya bahwa ia tak bakal mengecewakan lagi serta akan berusaha membuat ibunya bangga pada dirinya. Ardha lantas mulai bekerja di sebuah event organizer.

Selain itu, Ardha masih menjadi bendahara RT 37. Sebentar lagi masa jabatannya berakhir dan ingin segera ditanggalkannya posisi itu. Selama dua tahun terakhir terasa cukup berat bebannya. Namun kesepakatan warga ternyata kembali memercayakan pengurus RT lama untuk tetap melanjutkan jabatannya. Ardha harus menerima kenyataan tersebut, ia berjanji untuk tetap jujur dan lebih bertanggung jawab ketimbang sebelumnya.

Setelah pemilihan pengurus RT, menyusullah pemilihan pengurus RW. Sebagai bendahara RT, Ardha mengikutinya. Sempat ada yang mengusulkannya menjadi salah satu calon ketua RW, Ardha menolaknya karena merasa tak sanggup. Akhirnya terpilihlah Pak Mario, ketua RT 35 sebagai ketua RW 8 yang baru. Pak Hendro, ketua RT 37 tempat Ardha tinggal, menjadi anggota formatur pembentukan pengurus RW. Ternyata ia merekomendasikan Ardha untuk menduduki jabatan bendahara RW dan mendapat persetujuan dari sang ketua.

“Untuk jabatan bendahara RW 8, saya memilih Saudara Ardha. Saya percaya dia telah bekerja dengan baik sebagai bendahara RT 37. Jadi sangat tepat andai kita memintanya berkiprah di tingkat RW,” ucap Pak Mario.

Ardha menerimanya, karena berarti ia bisa melepaskan jabatannya sebagai bendahara RT dan ia siap menjalani sebuah tantangan yang agak berbeda. Pembentukan pengurus RW baru mendapat sambutan positif warga karena didominasi oleh orang muda. Pengurus RW yang lama didominasi oleh mereka yang telah berusia di atas 50 tahun. Sedangkan Pak Mario sebagai ketua RW yang baru berusia 39 tahun, Ardha sendiri sebagai bendahara berusia 28 tahun, sedangkan Robby yang dipercaya sebagai sekretaris malah masih berusia 24 tahun. Tak salah jika warga menaruh harapan besar pada mereka agar mampu membawa kemajuan.

***

Ardha tak menaruh kecurigaan apa pun ketika Pak Yunus, bendahara RW yang lama tak segera menyerahkan kas RW kepadanya ketika upacara serah terima jabatan pengurus dilakukan di balai pertemuan.

“Untuk perlengkapan bendahara RW, biar saya serahkan langsung ke rumah Nak Ardha besok pagi. Toh, rumah kami tak berjauhan,” kata Pak Yunus.

Ardha percaya saja. Mungkin Pak Yunus yang sudah sepuh hanya tak mau repot membawa kas RW jauh dari rumahnya. Esok paginya Ardha menerima telepon dari Pak Mario, ketua RW yang baru.

“Dik Ardha, apa Pak Yunus sudah menyerahkan kas RW?” tanya Pak Mario
“Belum, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, Dik. Nanti kalau sudah diserahkan, saya mau pinjam dulu. Saya janji dalam seminggu ke depan, saya sudah kembalikan lagi ke kas RW.”

Ardha sejenak diam berpikir, apakah ia benar jika mengabulkan permintaan itu? Dan apakah ia juga mesti memercayai janji Pak Mario?

“Baik, Pak. Saya akan penuhi pemintaan Bapak dan saya akan pegang kata-kata Anda,” ujar Ardha yang mencoba berpikir positif pada ketua RW-nya.
“Terima kasih, Dik Ardha. Ya, saya akan mengembalikannya segera. Tolong, jangan bilang siapa-siapa ya tentang hal ini,” pesan Pak Mario.

Satu setengah jam kemudian, saat Ardha akan berangkat bekerja, Pak Yunus datang menghampirinya. Sepertinya beliau jadi akan menyerahkan kas RW kepada Ardha.

“Saya pesan ke Nak Ardha, hati-hati dengan Pak Mario,” ucap Pak Yunus
“Memangnya kenapa, Pak?” tanya Ardha.
“Dia sering sekali pinjam uang kas RW. Terakhir dia pinjam satu setengah juta dan baru dikembalikan tadi. Padahal, janjinya sudah dua bulan lalu mau dikembalikan. Makanya tadi malam saya ndak bisa menyerahkan kas RW karena uangnya tinggal sedikit. Sebagian besar, ya dibawa Pak Mario itu.”

Ardha tercenung sejenak. Ia tak mengira orang yang menjadi pilihannya saat pemungutan suara dan menjadi ketua RW yang baru ternyata demikian adanya. Namun ia masih berprasangka baik serta berharap Pak Mario bisa menjawab kepercayaannya. Hari berikutnya Pak Mario kembali meneleponnya, kemudian datang ke rumahnya untuk meminjam uang kas RW sebesar satu setengah juta rupiah.

***

Seminggu berlalu, saatnya Ardha menagih janji sang ketua RW. Dikirimlah sebuah SMS untuk mengingatkan Pak Mario.

“Sudah seminggu, Pak. Anda sudah janji mau kembalikan kas RW.”

Dua jam kemudian barulah Ardha menerima sebuah SMS balasan.

“Maaf, saya baru balas sekarang. Minggu depan ada rapat pengurus RW di balai pertemuan. Saat itu saja saya kembalikan uangnya.”

Ardha tersenyum kecut membaca jawaban Pak Mario. Ia berharap janji itu benar akan ditepati. Seminggu kemudian Ardha menerima undangan rapat pengurus RW. Setibanya di tempat pertemuan, Pak Mario langsung mengajaknya bicara berdua.

“Begini Dik, karena sebentar lagi mau ada acara kerja bakti 17-an, saya mau membagi kas RW buat RT. Biar saya saja yang membaginya nanti dari uang yang saya pinjam dulu,” cerocos ketua RW.
“Lha, terus sisa uang yang Anda pinjam, kapan dikembalikannya?” tanya Ardha.
“Mungkin minggu depan setelah kerja bakti. Maaf ya, terpaksa mundur lagi,” sahut Pak Mario. Ardha dongkol sembari hanya bisa tersenyum kecut lagi.

Seperti yang direncanakan, kerja bakti menyambut hari kemerdekaan di bulan Agustus jadi dilaksanakan. Ardha bersama tetangganya satu RT pun bersama-sama membersihkan wilayah mereka. Di sela-sela kerja bakti, datanglah Pak Mario. Ia pun menghampiri ketua dan bendahara RT 37, sementara Ardha menatapnya tak jauh dari situ. Ketika ketua RW tengah menyerahkan sejumlah uang bantuan RW, ada seorang tetangga Ardha nyeletuk,

“Hei Pak RW, bantuannya dari kantong sendiri apa dari kas RW tuh?”
“Wah, ya dari kas RW to, Pak. Ini juga ala kadarnya lho,” sahut Pak Mario yang disambut senyum semua orang yang mendengarnya.
“Yowis, matur nuwun, Pak RW,” lanjut bapak yang tadi terkekeh. Ardha tertawa dalam hati mendengar dialog itu. Seandainya saja semua orang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Ardha masih tetap optimis bahwa sang ketua RW akan segera mengembalikan uang yang dipinjamnya.

***

Rapat pengurus RW kembali berlangsung bulan berikutnya. Ada bantuan dari kelurahan menambah jumlah kas RW. Sesaat setelah itu ada kegiatan, jadi uang bantuan itu hanya mampir sebentar di tangan Ardha. Selain itu, kata Pak Mario akan ada bantuan lagi untuk kegiatan pemuda. Namun hingga beberapa bulan kemudian bantuan itu tak kunjung turun. Padahal, kabarnya uang itu telah diserahkan kepada ketua RW. Sementara itu uang yang dipinjam dari kas RW juga belum dikembalikannya. Bahkan rapat pengurus RW sudah selama sekian bulan ditiadakan. Ardha mulai jenuh menagih hutang Pak Mario.

Ardha sudah tak tahan lagi. Ia ingin segera melepaskan jabatannya sebagai bendahara RW. Sudah tiada lagi kepercayaannya pada Pak Mario. Surat pengunduran diri dibuat Ardha dan diserahkannya pada saat rapat pengurus RW yang akhirnya kembali diadakan. Dalam suratnya, Ardha menyatakan mundur karena alasan pekerjaan yang membuatnya tak bisa mengikuti kegiatan RW.

Kenyataannya memang demikian. Bekerja di event organizer membuat Ardha kerap pulang larut malam. Meski alasan sesungguhnya adalah karena ia sudah tak percaya sekaligus tak lagi menghormati Pak Mario. Hal itulah yang semula ditulisnya di surat pengunduran diri. Tapi ibunya mengingatkan supaya Ardha tak menebar bibit permusuhan, kendati sejatinya sudah sedemikian bencinya ia pada ketua RW. Ardha menuruti saran ibunya. Akhirnya ia menuliskan kesibukan pekerjaan sebagai alasan melepaskan jabatannya.

Tak ayal pengunduran diri Ardha menjadi pembicaraan tersendiri pada warga RW yang curiga, bahwa sebenarnya ada konflik antara ketua dengan bendahara RW. Warga RT tempat tinggal Ardha yang lebih dulu mengetahui kebusukan Pak Mario. Para pemuda yang tidak juga mendapat bantuan yang dijanjikan akhirnya sewot. Mereka berniat menggerebek Pak Mario, menuntutnya mundur, sekaligus mengembalikan kas RW. Tapi Pak Yunus meminta para pemuda supaya lebih bersabar dan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin.

“Saya hanya bisa sedikit mengingatkan, kalau ketua RW kita ndak becus, siapa yang dulu memilihnya? Apa kalian ndak malu sendiri kalau kita nanti nggerebek rumahnya, terus diliput sama koran dan televisi?” tanya Pak Yunus.

Akhirnya disepakati untuk segera menggelar rapat warga meminta pertanggungjawaban ketua RW. Pak Yunus dipercayai warga untuk memimpin rapat itu nantinya. Ardha sendiri bersedia menjadi salah satu mediator. Namun rencana tinggal rencana. Rapat itu sedianya akan diadakan pada hari Sabtu malam. Nah, Sabtu paginya terjadi gempa besar yang meluluhlantakkan daerah tempat tinggal Ardha. Begitu banyak rumah yang ambruk dan rusak berat. Beberapa warga bahkan turut menjadi korban jiwa. Salah satu warga yang tewas adalah Pak Mario, sang ketua RW.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Harian Global edisi Sabtu, 22 Mei 2010.

h1

Balada Cinta Tama

Mei 31, 2010

Tiba saatnya bagi Tama menentukan pilihan karena dia sudah siap menikah. Tiada alasan lagi untuk menundanya, tapi ternyata telah lama jua tak dijalaninya hubungan kekasih. Tama mencoba mendapatkan jodoh melalui catatan masa lalunya. Serta merta, ada seseorang yang terlintas di benaknya. Belum lama Tama ingat sempat memimpikannya. Dia adalah gadis manis adik dari Ira, salah satu sahabatnya. Sebuah pengalaman unik diingatnya dari gadis itu dan baru dibacanya lagi di buku hariannya. Setiap menjelang ujian akhir sekolah, sejak SD hingga SMA, lantas menjelang ujian masuk universitas, Ira selalu membawa Gita, adiknya itu ke hadapan Tama meminta doa restu. Dulu, ketika Gita akan ujian akhir SD, kebetulan saja mereka bertemu. Namun kata Ira, Gita ternyata selalu memintanya menemui Tama setiap akan ujian, dan hasilnya selalu lulus dengan nilai bagus.

Tama merasa ada hubungan spiritual yang khas antara dirinya dengan si gadis. Usia Gita tujuh tahun lebih muda ketimbang Tama, jadi dia pasti sudah dewasa dan pantas menanggalkan masa lajangnya. Tama pun menghubungi Ira.

“Ada apa, kok tumben telepon? Masih betah jadi jomblo?” tanya Ira.

“Sudah mulai nggak betah nih. Gita apa kabarnya?” ucap Tama.

“Lho kok tanya dia? Jangan-jangan kamu ngincer Gita ya?”

“Kok kamu tahu? Kalau nggak salah dia sudah kerja ya?”

“Ya. Dia sudah kerja setelah lulus kuliah. Kamu serius mau jadi adik iparku? Gita memang masih sendiri kok.”

Jalan telah terbuka. Tama segera mendekati Gita dan keluarganya. Sebenarnya dulu mereka pernah beberapa kali bertemu, karena rumah Ira sering menjadi tempat berkumpul Tama dan kawan-kawannya saat masih kuliah. Ternyata Gita maupun kedua orang tuanya masih cukup baik mengingat sosok Tama. Hubungan yang hangat pun terjalin di antara mereka.

***

Gita kembali hadir dalam mimpi Tama dan tak hanya sekali. Kian termotivasilah Tama untuk lebih dekat dengannya. Dia merasa Gita memang pasangan jiwa sejatinya. Sementara si gadis pun merasa hidupnya menjadi lebih berbunga-bunga setelah bertemu kembali dengan Tama. Sejak masih bocah, Gita memang telah mengagumi teman kuliah kakaknya tersebut. Tak diduganya, setelah dewasa dia malah bisa kerap bercengkrama bersama tokoh pujaannya.

Suatu hari Ira merasa perlu berbicara berdua dengan Tama.

“Ada yang harus kamu ketahui, Tama. Gita itu hampir tak pernah punya teman dekat cowok sepanjang hidupnya,” ungkap Ira.

“Aku tahu. Lantas, apa masalahnya?” tanya Tama.

“Ada seorang cowok yang jadi sahabat Gita sejak masih sekolah. Kata Gita, jika dia menikah nanti dan tak ada pilihan lainnya, dia bersedia menjadi istri sahabatnya. Mereka berdua pernah bicarakan itu. Tapi kamu nggak usah putus asa. Jika ada kamu, kan Gita jadi punya pilihan. Yang jelas, aku percaya kamu bisa jadi suami yang baik buat adikku.”

Tama sadar mesti melangkah lebih jauh. Segeralah dia mengungkapkan hasratnya untuk melamar Gita. Orang tua Gita menyambut baik rencana itu. Namun ternyata Jarot, sahabat Gita itu bergerak lebih cepat dengan membawa keluarganya untuk secara resmi meminang Gita.

“Terus terang, kami bahagia sekali jika Nak Tama bisa menjadi bagian keluarga kami. Tapi kami sudah menyerahkan semuanya pada Gita untuk memilih. Semoga Nak Tama bisa menerima apa pun keputusannya,” cetus ayah Gita. Tama menyiapkan hatinya menerima kemungkinan terpahit. Kendati kakak dan orang tuanya memberikan dukungan penuh pada dirinya, namun semua tentu terserah Gita.

Keputusan sudah diambil. Tama dipastikan gagal menikahi gadis pujaannya, karena Gita memutuskan untuk menerima pinangan Jarot.

“Saya tahu Mas Tama pasti bisa lebih kuat menerima kenyataan ini, daripada seandainya dia yang mesti saya tolak. Saya sungguh minta maaf dan terima kasih sekali Mas Tama sudah mau mencintai saya,” ucap Gita sendu.

“Kuterima keputusanmu. Aku hanya bisa berdoa, semoga pilihanmu benar dan kalian bakal bahagia sampai kapan jua,” sahut Tama yang mencoba tegar dan berbesar jiwa, kendati pedih sekali hatinya. Sempat dia merasa gundah gulana. Pupuslah sudah segala hal indah yang diangankannya andai saja Gita jadi dinikahinya.

***

Seusai gagal bersanding dengan perempuan yang dipercaya sebagai pasangan jiwanya, Tama bertekad segera menikahi siapa pun yang membuatnya jatuh cinta lagi. Lima bulan kemudian Tama telah dekat dengan seorang janda yang memiliki satu anak. Sebenarnya dia justru lebih dahulu mengenal Anne, putri kecil janda itu. Tama pun meminang Melly, perempuan yang telah dua tahun menjanda tersebut. Beberapa teman Tama yang mengenal calon istrinya keberatan sekali dengan rencananya.

“Melly itu nggak cocok jadi istrimu, Tama. Sebelum telat, mending kamu batalin pernikahan itu” ujar Hegar, salah satu sahabat Tama.

“Betul, kami lumayan tahu Melly dan kami jelas kenal kamu banget. Kalian nggak bakal cocok hidup bersama. Lagi pula kamu juga belum lama mengenal Melly kan?” tambah Don, teman karib Tama yang lain.

“Makasih buat perhatian kalian. Tapi, biar kubuktikan nanti bahwa prasangka buruk kalian salah. Aku bakal bisa hidup bahagia dengan Melly. Oke?” tangkis Tama. Hegar dan Don hanya bisa mengangkat bahu melihat keteguhan sikap sahabat mereka. Tama tak ingin berpikir lebih jauh menanggapinya. Dia telah mantap dengan tekadnya dan sungguh ingin segera menikah tanpa ragu.

Pernikahan Tama dengan Melly jadi terlaksana. Kurang dari setahun kemudian, Melly telah melahirkan Virga, buah cintanya bersama Tama. Namun apa yang menjadi kecemasan Don dan Hegar mulai nyata. Terlalu banyak ketidakcocokan yang terjadi di antara pasangan itu. Tama baru sadar bahwa dia terlalu tergesa-gesa ketika memutuskan menikahi Melly, perempuan yang sejatinya belum terlalu dikenalnya. Perselisihan pendapat pun menjadi sesuatu yang jamak terjadi.

“Sudahlah, Mas. Mending kita cerai saja,” ujar Melly suatu ketika, setelah sebuah perdebatan keras yang sudah berkali-kali terjadi.

“Mel, apa kamu tak kasihan pada Anne putri kamu dan Virga anak kita? Bukankah mereka masih perlu kasih sayang kita berdua? Aku tak mau mereka menderita karena perceraian kita,” ucap Tama klise. Melly bersikukuh untuk kembali mengakhiri pernikahannya. Gugatan cerai telah didaftarkannya ke panitera pengadilan. Tama memilih keluar seorang diri dari rumah yang belum ada dua tahun ditinggalinya bersama Melly dan anak-anaknya.

***

Di luar masalah rumah tangganya, Tama berkesempatan bekerja di sebuah kantor baru. Tanpa pernah diprediksinya, di tempat itu dia bertemu kembali dengan Gita, perempuan yang pernah menolaknya. Jarot, suami Gita juga berkantor di gedung yang sama tanpa dinyana. Yang lebih mengejutkannya lagi, Gita dan Jarot ternyata tengah mengalami prahara rumah tangga pula. Kabar itu diketahuinya dari mereka sendiri, yang secara terpisah berterus terang pada Tama.

Di kantor barunya tersebutlah Rully, teman Tama dan Gita yang kadang iseng meramal rekan-rekannya. Dia meminta Tama agar bersedia diramal olehnya. Teman-teman barunya mendukung usul itu. Gita kebetulan sedang tak ada di antara mereka.

“Ayo, kuramal kau sekarang. Kau kan orang baru, pada mau tahu kita tentang kau, Bang Tama,” kata Rully.

“Okelah kalau begitu. Sebetulnya aku nggak pernah percaya ramalan, tapi aku penasaran juga sama kepintaran kau,” sahut Tama tersenyum.

Rully memegang dan memerhatikan telapak tangan Tama seraya berkata,

“Abang kita ini orangnya supel, tak mudah marah, suka menjadi tempat curhat, dan pintar kasih nasihat. Benar kan? Hmm…maaf Bang, memang dia tak cocok buatmu.”

“Sok tahu kau!” ujar Tama dengan nada berlagak marah.

“Sebentar, aku lihat ada sosok perempuan yang cocok dan bisa bikin kau bahagia, Bang. Dia ini orangnya cantik, lembut, sabar, bijak …”

“Coba kamu lihat lagi, tahu nggak dia itu siapa?” kata teman-temannya.

“Ya Tuhan! Maaf, Bang. Maaf juga teman-teman, aku tak bisa bilang siapa perempuan itu,” ucap Rully yang tampaknya kaget sendiri.

“Huuu….” seru teman-teman mereka serempak sembari meninggalkan Rully. Setelah mereka bubar, Tama mendekatii Rully dan bertanya,

“Memangnya kau tadi lihat siapa? Sampai pucat pasi wajahmu tadi.”

“Ya, Bang. Aku pucat karena yang kulihat adalah wajah Gita, teman kita,” bisik Rully sambil melirik Gita yang baru kembali ke tempat duduknya. Tama tersenyum belaka sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Mengingat hubungannya bersama Melly yang di ambang perceraian, lantas hubungan Gita dan Jarot pun potensial kandas, Tama jadi berpikir tentang masa depan kehidupan cintanya. Mungkinkah Gita memang pasangan jiwanya? Hal itu bisa terjadi jika pernikahan mereka semua berakhir. Apalagi kebetulan Rully -si peramal amatir di kantornya- mampu melihat pula bahwa Gita merupakan perempuan yang tepat baginya.

Namun Tama merasa terlalu egois memikirkan kemungkinan yang ada. Gita dan Jarot memiliki tiga orang anak, sementara bersama Melly dimilikinya Anne dan Virga. Terlalu besar pengorbanan banyak orang demi bersatunya kembali cintanya dengan Gita. Terpaksa pudar asanya untuk merasakan kebahagiaan bersama perempuan yang mengaguminya sejak masih bocah. Dia memilih ingin melihat Gita hidup bahagia, kendati tak bersama dirinya.

“Gita, berusahalah untuk tetap menjaga pernikahanmu dengan Jarot. Setidaknya, demi masa depan anak-anak kalian,” pesan Tama mencoba tulus.

“Mas, rasanya sudah cukup banyak usahaku untuk mempertahankan pernikahan kami,” sahut Gita yang terkesan sudah patah arang.

“Sudah cukup menurutmu sendiri, juga mungkin menurut Jarot. Tapi siapa tahu, sebetulnya masih ada jalan lain yang masih bisa kalian tempuh bersama? Banyaklah berdoa, supaya kalian bisa menemukan jalan itu.”

“Ya, mungkin kami memang masih kurang berikhtiar dan mohon petunjuk-Nya. Mas Tama sendiri dengan Mbak Melly bagaimana?”

“Sampai hari ini aku tak ingin bercerai dengannya. Tapi, entahlah jika kehendak Tuhan ternyata tak sejalan dengan hasratku. Yang jelas, aku selalu siap untuk terus bersama dan siap pula jika mesti berpisah.”

Tama dan Gita sama-sama memiliki perasaan yang tak karuan ketika mereka bicara berdua belaka. Kecamuk dalam dada masing-masing mengusik perasaan keduanya. Tama merasa yakin bahwa Gita mampu menjadi pasangan yang lebih baik baginya ketimbang Melly. Gita memikirkan kemungkinan yang serupa jua. Terlalu banyak hal yang sejalan bisa mereka bicarakan. Yang jelas, hati kedua insan itu merasa tenteram saat berdua. Sesuatu yang justru tak mereka peroleh dengan pasangan masing-masing.

***

Ada sesuatu yang unik pada sisi yang lain. Jarot, saingan Tama di masa lalu, ternyata merasa nyaman setelah beberapa kali bertemu dan akhirnya cukup baik mengenal Tama.

“Aku baru sadar kenapa dulu Gita dan keluarganya bisa begitu dekat dengan Mas Tama,” ucap Jarot.

“Kenapa menurut kamu?” tanya Tama.

“Mas Tama itu orangnya enak banget diajak bicara. Selalu ada hal yang positif kudapat sehabis kita ngobrol. Seandainya dulu Gita memilihmu, mungkin dia lebih bahagia, Mas.”

“Hey Jarot, jangan sesali masa lalu. Yakinlah, kamu masih punya masa depan yang lebih apik lagi bersama Gita dan anak-anak kalian.”

“Jika Mas Tama bisa meyakini hal itu, kenapa aku dan Gita tak mencoba meyakininya juga ya? Tapi, bukankah jika kami bercerai dan mungkin pernikahanmu juga bubar, kalian bisa kembali bersama?”

“Tolong, jangan kamu pikirkan kemungkinan itu. Aku pasti akan senang jika melihat Gita bahagia hidup bersamamu. Aku percaya kalian bisa melakukannya.”

“Terima kasih, Mas Tama. Kami akan berupaya keras bersatu lagi.”

Malah saking akrabnya, Jarot sampai bersedia mengantar Tama menghadiri sidang perceraiannya dengan Melly. Hubungan Jarot dan Gita sendiri lambat laun malah membaik. Rencana perceraian telah diurungkan, mereka pun bersedia membangun komitmen baru. Kata-kata Tama menjadi motivasi luar biasa bagi mereka untuk kembali bersatu. Tama sendiri akhirnya bercerai dengan Melly yang sungguh tak mau berkompromi lagi. Kesendirian kembali dijalani oleh seorang Tama. Entah sampai kapan.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu, 21 Maret 2010.

h1

Kisah Serupa Robben dan Sneijder

Mei 21, 2010

Dua pemain Belanda, Arjen Robben dan Wesley Sneijder telah memilih jalan yang benar dengan meninggalkan Real Madrid di awal musim 2009/10 lalu. Mereka kemudian sama-sama dipercaya mengenakan kostum nomor 10 dan menjadi pemain dengan peran sangat signifikan di tim anyarnya, Robben bersama Bayern Muechen dan Sneijder dengan Inter Milan. Di pengujung musim ini mereka telah memberi sumbangsih berharga bagi masing-masing klubnya. Robben telah sukses membawa Muenchen menjadi juara Liga Jerman dan Piala Jerman, sementara Sneijder besar andilnya saat Inter berhasil menjadi juara Liga italia dan Piala Italia.

Tanggal 22 Mei 2010 nanti Robben dan Sneijder akan kembali bermain di Santiago Bernabeu, stadion milik Real Madrid dalam final Liga Champion Eropa. Mereka akan berada di pihak berlawanan untuk merebut trofi ketiga bagi klubnya musim ini, yang sekaligus merupakan gelar juara paling prestisius di Eropa. Kubu Real Madrid layak masygul melihat dua pemain yang dibuang dari Neo Galacticos justru bakal menginjak-injak rumput stadion kebanggan mereka dalam partai puncak liga para juara Eropa hari Sabtu nanti. Robben dan Sneijder justru meraih prestasi besar bersama klub barunya, sementara Madrid yang telah menyia-nyiakan kedua pemain kreatif itu hanya bisa gigit jari tak meraih trofi apa pun musim ini.

Siapa pun yang menjadi juara Liga Champion nanti, dua jempol layak diacungkan kepada Arjen Robben dan Wesley Sneijder yang telah menjalani kisah serupa musim ini. Sehabis final Liga Champion, mereka berdua akan bahu-membahu dalam skuad timnas Belanda di Piala Dunia 2010. Pelatih Bert van Marwijk tentu berharap prestasi gemilang dua pemain bersama klubnya tersebut akan berlanjut bersama timnas Belanda di Afrika Selatan.

h1

Kemiripan Final Liga Champion 2008 dan 2010

Mei 21, 2010

Jika hanya sekilas melihatnya, tidak ada hal yang menghubungkan final Liga Champion tahun 2008 antara Manchester United dan Chelsea dengan final tahun 2010 antara Bayern Muenchen dan Inter Milan. Dua tahun silam adalah pertemuan dua klub Inggris, sedangkan tahun ini yang berjumpa adalah klub Jerman melawan klub Italia. Sesungguhnya terdapat sejumlah kemiripan.

Finalis tahun 2008 adalah pertemuan antara tim merah (United) melawan tim biru (Chelsea), tahun 2010 pun demikian : tim merah (Muenchen) vs tim biru (Inter). Sponsor kostum United (2008) dan Inter (2010) adalah Nike, sedangkan Chelsea (2008) dan Muenchen (2010) adalah Adidas. Jika juara Liga Champion 2008 adalah United, tim merah yang disponsori Nike, maka juara tahun ini masih menjadi teka-teki. Dan jika dua tahun silam United menjadi juara lewat adu penalti, apakah tahun ini hal tersebut akan terulang kembali?

h1

Spanyol Kandidat Kuat Juara Dunia Baru

Mei 18, 2010

Setiap menjelang Piala Dunia berlangsung, selalu ada sejumlah negara yang menjadi tim unggulan. Mayoritas dari mereka adalah tim yang pernah meraih trofi Piala Dunia, seperti Brasil, Italia, Jerman, Argentina, Inggris, dan Perancis. Ada pula negara-negara yang kerap dijagokan kendati belum pernah sekalipun menjadi juara dunia, contohnya Spanyol dan Belanda. Kedua tim tersebut selalu gagal menjadi yang terbaik setiap kali diunggulkan. Kali ini kit akan fokus hanya pada Spanyol.

Prestasi Spanyol sebagai juara Piala Eropa 2008 membuat Xavi Hernandez dan kawan-kawan menjadi kandidat terkuat juara baru di Piala Dunia 2010. Hal tersebut menunjukkan bahwa tim berjuluk La Furia Roja itu kini telah memiliki mental juara, sesuatu yang nyaris tak pernah dimiliki di masa silam. Apalagi Spanyol selalu tampil menawan dengan strategi menyerang yang atraktif. Posisi nomor satu yang selama ini selalu didominasi Brasil pun sempat ditempati Spanyol dalam peringkat bulanan versi FIFA. Lalu masih ditambah lagi dengan aksi spektakuler Barcelona -klub asal Spanyol- yang menggenggam enam trofi juara sepanjang tahun 2009 silam. Sejumlah pemain penting El Barca adalah pemain inti timnas Spanyol, seperti Carles Puyol, Gerard Pique, Xavi, dan Andres Iniesta.

Ketika turnamen Piala Dunia di Afrika Selatan sudah kian dekat kini, ada satu hal yang paling mengkhawatirkan pelatih Vicente del Bosque, yaitu cederanya sejumlah pemain yang perannya signifikan dalam tim. Fernando Torres, Cesc Fabregas, dan Andres Iniesta adalah pemain yang dikabarkan masih cedera dalam sekian hari terakhir. Kesembuhan mereka menjadi asa terbesar Vicente saat ini. Selain itu Spanyol juga mesti belajar pada kekalahan Barcelona dari Inter Milan di semifinal Liga Champion. Strategi bertahan total Inter yang diterapkan Jose Mourinho terbukti mampu membuat langkah tim asuhan Pep Guardiola terhenti.

h1

Kebaikan Manusia

Mei 12, 2010

Kebaikan manusia ada pada pengetahuan dan perbuatan, bukan pada warna kulit, agama, ras, atau keturunan.(Kahlil Gibran)

h1

Sudah Dekat Masa Perpisahan

Mei 12, 2010

Masih terjagaku pagi dini hari itu menyaksikan acara televisi yang lagi membahas musik jazz. Tiba-tiba seperti terdengar ada suara orang bergumam, aku pun penasaran. Maka kupelankan suara televisi, lalu coba kusimak siapa gerangan yang bicara dari dekat jendela kamarku. Ternyata tetangga belakang samping rumahku -yang sudah sekian lama terbaring sakit- tengah curhat entah kepada siapa. Yang jelas, kudengar ia sempat mengatakan, ”Sudah dekat masa perpisahan.” Tak kupikirkan apa pun saat itu karena aku lantas kembali ke depan televisi.

Sekian jam kemudian -kira-kira lewat tengah hari- kudengar kembali suaranya, tapi tidak seperti layaknya ia bicara di saat lalu. Sudah tak jelas pula apa yang ia katakan dan bahkan kubilang pada kakakku, ”Suaranya sudah terdengar beda.” Sekitar jam setengah empat sore, Ketua RW berhenti di depan rumahku dan mengabarkan bahwa tetangga belakang samping rumahku telah berpisah jiwa raganya. Masa perpisahan itu ternyata benar telah tiba baginya.

(sebuah catatan kecil tentang peristiwa minggu, 9 mei 2010)

10 Mei 2010