h1

Balada Cinta Tama

Mei 31, 2010

Tiba saatnya bagi Tama menentukan pilihan karena dia sudah siap menikah. Tiada alasan lagi untuk menundanya, tapi ternyata telah lama jua tak dijalaninya hubungan kekasih. Tama mencoba mendapatkan jodoh melalui catatan masa lalunya. Serta merta, ada seseorang yang terlintas di benaknya. Belum lama Tama ingat sempat memimpikannya. Dia adalah gadis manis adik dari Ira, salah satu sahabatnya. Sebuah pengalaman unik diingatnya dari gadis itu dan baru dibacanya lagi di buku hariannya. Setiap menjelang ujian akhir sekolah, sejak SD hingga SMA, lantas menjelang ujian masuk universitas, Ira selalu membawa Gita, adiknya itu ke hadapan Tama meminta doa restu. Dulu, ketika Gita akan ujian akhir SD, kebetulan saja mereka bertemu. Namun kata Ira, Gita ternyata selalu memintanya menemui Tama setiap akan ujian, dan hasilnya selalu lulus dengan nilai bagus.

Tama merasa ada hubungan spiritual yang khas antara dirinya dengan si gadis. Usia Gita tujuh tahun lebih muda ketimbang Tama, jadi dia pasti sudah dewasa dan pantas menanggalkan masa lajangnya. Tama pun menghubungi Ira.

“Ada apa, kok tumben telepon? Masih betah jadi jomblo?” tanya Ira.

“Sudah mulai nggak betah nih. Gita apa kabarnya?” ucap Tama.

“Lho kok tanya dia? Jangan-jangan kamu ngincer Gita ya?”

“Kok kamu tahu? Kalau nggak salah dia sudah kerja ya?”

“Ya. Dia sudah kerja setelah lulus kuliah. Kamu serius mau jadi adik iparku? Gita memang masih sendiri kok.”

Jalan telah terbuka. Tama segera mendekati Gita dan keluarganya. Sebenarnya dulu mereka pernah beberapa kali bertemu, karena rumah Ira sering menjadi tempat berkumpul Tama dan kawan-kawannya saat masih kuliah. Ternyata Gita maupun kedua orang tuanya masih cukup baik mengingat sosok Tama. Hubungan yang hangat pun terjalin di antara mereka.

***

Gita kembali hadir dalam mimpi Tama dan tak hanya sekali. Kian termotivasilah Tama untuk lebih dekat dengannya. Dia merasa Gita memang pasangan jiwa sejatinya. Sementara si gadis pun merasa hidupnya menjadi lebih berbunga-bunga setelah bertemu kembali dengan Tama. Sejak masih bocah, Gita memang telah mengagumi teman kuliah kakaknya tersebut. Tak diduganya, setelah dewasa dia malah bisa kerap bercengkrama bersama tokoh pujaannya.

Suatu hari Ira merasa perlu berbicara berdua dengan Tama.

“Ada yang harus kamu ketahui, Tama. Gita itu hampir tak pernah punya teman dekat cowok sepanjang hidupnya,” ungkap Ira.

“Aku tahu. Lantas, apa masalahnya?” tanya Tama.

“Ada seorang cowok yang jadi sahabat Gita sejak masih sekolah. Kata Gita, jika dia menikah nanti dan tak ada pilihan lainnya, dia bersedia menjadi istri sahabatnya. Mereka berdua pernah bicarakan itu. Tapi kamu nggak usah putus asa. Jika ada kamu, kan Gita jadi punya pilihan. Yang jelas, aku percaya kamu bisa jadi suami yang baik buat adikku.”

Tama sadar mesti melangkah lebih jauh. Segeralah dia mengungkapkan hasratnya untuk melamar Gita. Orang tua Gita menyambut baik rencana itu. Namun ternyata Jarot, sahabat Gita itu bergerak lebih cepat dengan membawa keluarganya untuk secara resmi meminang Gita.

“Terus terang, kami bahagia sekali jika Nak Tama bisa menjadi bagian keluarga kami. Tapi kami sudah menyerahkan semuanya pada Gita untuk memilih. Semoga Nak Tama bisa menerima apa pun keputusannya,” cetus ayah Gita. Tama menyiapkan hatinya menerima kemungkinan terpahit. Kendati kakak dan orang tuanya memberikan dukungan penuh pada dirinya, namun semua tentu terserah Gita.

Keputusan sudah diambil. Tama dipastikan gagal menikahi gadis pujaannya, karena Gita memutuskan untuk menerima pinangan Jarot.

“Saya tahu Mas Tama pasti bisa lebih kuat menerima kenyataan ini, daripada seandainya dia yang mesti saya tolak. Saya sungguh minta maaf dan terima kasih sekali Mas Tama sudah mau mencintai saya,” ucap Gita sendu.

“Kuterima keputusanmu. Aku hanya bisa berdoa, semoga pilihanmu benar dan kalian bakal bahagia sampai kapan jua,” sahut Tama yang mencoba tegar dan berbesar jiwa, kendati pedih sekali hatinya. Sempat dia merasa gundah gulana. Pupuslah sudah segala hal indah yang diangankannya andai saja Gita jadi dinikahinya.

***

Seusai gagal bersanding dengan perempuan yang dipercaya sebagai pasangan jiwanya, Tama bertekad segera menikahi siapa pun yang membuatnya jatuh cinta lagi. Lima bulan kemudian Tama telah dekat dengan seorang janda yang memiliki satu anak. Sebenarnya dia justru lebih dahulu mengenal Anne, putri kecil janda itu. Tama pun meminang Melly, perempuan yang telah dua tahun menjanda tersebut. Beberapa teman Tama yang mengenal calon istrinya keberatan sekali dengan rencananya.

“Melly itu nggak cocok jadi istrimu, Tama. Sebelum telat, mending kamu batalin pernikahan itu” ujar Hegar, salah satu sahabat Tama.

“Betul, kami lumayan tahu Melly dan kami jelas kenal kamu banget. Kalian nggak bakal cocok hidup bersama. Lagi pula kamu juga belum lama mengenal Melly kan?” tambah Don, teman karib Tama yang lain.

“Makasih buat perhatian kalian. Tapi, biar kubuktikan nanti bahwa prasangka buruk kalian salah. Aku bakal bisa hidup bahagia dengan Melly. Oke?” tangkis Tama. Hegar dan Don hanya bisa mengangkat bahu melihat keteguhan sikap sahabat mereka. Tama tak ingin berpikir lebih jauh menanggapinya. Dia telah mantap dengan tekadnya dan sungguh ingin segera menikah tanpa ragu.

Pernikahan Tama dengan Melly jadi terlaksana. Kurang dari setahun kemudian, Melly telah melahirkan Virga, buah cintanya bersama Tama. Namun apa yang menjadi kecemasan Don dan Hegar mulai nyata. Terlalu banyak ketidakcocokan yang terjadi di antara pasangan itu. Tama baru sadar bahwa dia terlalu tergesa-gesa ketika memutuskan menikahi Melly, perempuan yang sejatinya belum terlalu dikenalnya. Perselisihan pendapat pun menjadi sesuatu yang jamak terjadi.

“Sudahlah, Mas. Mending kita cerai saja,” ujar Melly suatu ketika, setelah sebuah perdebatan keras yang sudah berkali-kali terjadi.

“Mel, apa kamu tak kasihan pada Anne putri kamu dan Virga anak kita? Bukankah mereka masih perlu kasih sayang kita berdua? Aku tak mau mereka menderita karena perceraian kita,” ucap Tama klise. Melly bersikukuh untuk kembali mengakhiri pernikahannya. Gugatan cerai telah didaftarkannya ke panitera pengadilan. Tama memilih keluar seorang diri dari rumah yang belum ada dua tahun ditinggalinya bersama Melly dan anak-anaknya.

***

Di luar masalah rumah tangganya, Tama berkesempatan bekerja di sebuah kantor baru. Tanpa pernah diprediksinya, di tempat itu dia bertemu kembali dengan Gita, perempuan yang pernah menolaknya. Jarot, suami Gita juga berkantor di gedung yang sama tanpa dinyana. Yang lebih mengejutkannya lagi, Gita dan Jarot ternyata tengah mengalami prahara rumah tangga pula. Kabar itu diketahuinya dari mereka sendiri, yang secara terpisah berterus terang pada Tama.

Di kantor barunya tersebutlah Rully, teman Tama dan Gita yang kadang iseng meramal rekan-rekannya. Dia meminta Tama agar bersedia diramal olehnya. Teman-teman barunya mendukung usul itu. Gita kebetulan sedang tak ada di antara mereka.

“Ayo, kuramal kau sekarang. Kau kan orang baru, pada mau tahu kita tentang kau, Bang Tama,” kata Rully.

“Okelah kalau begitu. Sebetulnya aku nggak pernah percaya ramalan, tapi aku penasaran juga sama kepintaran kau,” sahut Tama tersenyum.

Rully memegang dan memerhatikan telapak tangan Tama seraya berkata,

“Abang kita ini orangnya supel, tak mudah marah, suka menjadi tempat curhat, dan pintar kasih nasihat. Benar kan? Hmm…maaf Bang, memang dia tak cocok buatmu.”

“Sok tahu kau!” ujar Tama dengan nada berlagak marah.

“Sebentar, aku lihat ada sosok perempuan yang cocok dan bisa bikin kau bahagia, Bang. Dia ini orangnya cantik, lembut, sabar, bijak …”

“Coba kamu lihat lagi, tahu nggak dia itu siapa?” kata teman-temannya.

“Ya Tuhan! Maaf, Bang. Maaf juga teman-teman, aku tak bisa bilang siapa perempuan itu,” ucap Rully yang tampaknya kaget sendiri.

“Huuu….” seru teman-teman mereka serempak sembari meninggalkan Rully. Setelah mereka bubar, Tama mendekatii Rully dan bertanya,

“Memangnya kau tadi lihat siapa? Sampai pucat pasi wajahmu tadi.”

“Ya, Bang. Aku pucat karena yang kulihat adalah wajah Gita, teman kita,” bisik Rully sambil melirik Gita yang baru kembali ke tempat duduknya. Tama tersenyum belaka sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Mengingat hubungannya bersama Melly yang di ambang perceraian, lantas hubungan Gita dan Jarot pun potensial kandas, Tama jadi berpikir tentang masa depan kehidupan cintanya. Mungkinkah Gita memang pasangan jiwanya? Hal itu bisa terjadi jika pernikahan mereka semua berakhir. Apalagi kebetulan Rully -si peramal amatir di kantornya- mampu melihat pula bahwa Gita merupakan perempuan yang tepat baginya.

Namun Tama merasa terlalu egois memikirkan kemungkinan yang ada. Gita dan Jarot memiliki tiga orang anak, sementara bersama Melly dimilikinya Anne dan Virga. Terlalu besar pengorbanan banyak orang demi bersatunya kembali cintanya dengan Gita. Terpaksa pudar asanya untuk merasakan kebahagiaan bersama perempuan yang mengaguminya sejak masih bocah. Dia memilih ingin melihat Gita hidup bahagia, kendati tak bersama dirinya.

“Gita, berusahalah untuk tetap menjaga pernikahanmu dengan Jarot. Setidaknya, demi masa depan anak-anak kalian,” pesan Tama mencoba tulus.

“Mas, rasanya sudah cukup banyak usahaku untuk mempertahankan pernikahan kami,” sahut Gita yang terkesan sudah patah arang.

“Sudah cukup menurutmu sendiri, juga mungkin menurut Jarot. Tapi siapa tahu, sebetulnya masih ada jalan lain yang masih bisa kalian tempuh bersama? Banyaklah berdoa, supaya kalian bisa menemukan jalan itu.”

“Ya, mungkin kami memang masih kurang berikhtiar dan mohon petunjuk-Nya. Mas Tama sendiri dengan Mbak Melly bagaimana?”

“Sampai hari ini aku tak ingin bercerai dengannya. Tapi, entahlah jika kehendak Tuhan ternyata tak sejalan dengan hasratku. Yang jelas, aku selalu siap untuk terus bersama dan siap pula jika mesti berpisah.”

Tama dan Gita sama-sama memiliki perasaan yang tak karuan ketika mereka bicara berdua belaka. Kecamuk dalam dada masing-masing mengusik perasaan keduanya. Tama merasa yakin bahwa Gita mampu menjadi pasangan yang lebih baik baginya ketimbang Melly. Gita memikirkan kemungkinan yang serupa jua. Terlalu banyak hal yang sejalan bisa mereka bicarakan. Yang jelas, hati kedua insan itu merasa tenteram saat berdua. Sesuatu yang justru tak mereka peroleh dengan pasangan masing-masing.

***

Ada sesuatu yang unik pada sisi yang lain. Jarot, saingan Tama di masa lalu, ternyata merasa nyaman setelah beberapa kali bertemu dan akhirnya cukup baik mengenal Tama.

“Aku baru sadar kenapa dulu Gita dan keluarganya bisa begitu dekat dengan Mas Tama,” ucap Jarot.

“Kenapa menurut kamu?” tanya Tama.

“Mas Tama itu orangnya enak banget diajak bicara. Selalu ada hal yang positif kudapat sehabis kita ngobrol. Seandainya dulu Gita memilihmu, mungkin dia lebih bahagia, Mas.”

“Hey Jarot, jangan sesali masa lalu. Yakinlah, kamu masih punya masa depan yang lebih apik lagi bersama Gita dan anak-anak kalian.”

“Jika Mas Tama bisa meyakini hal itu, kenapa aku dan Gita tak mencoba meyakininya juga ya? Tapi, bukankah jika kami bercerai dan mungkin pernikahanmu juga bubar, kalian bisa kembali bersama?”

“Tolong, jangan kamu pikirkan kemungkinan itu. Aku pasti akan senang jika melihat Gita bahagia hidup bersamamu. Aku percaya kalian bisa melakukannya.”

“Terima kasih, Mas Tama. Kami akan berupaya keras bersatu lagi.”

Malah saking akrabnya, Jarot sampai bersedia mengantar Tama menghadiri sidang perceraiannya dengan Melly. Hubungan Jarot dan Gita sendiri lambat laun malah membaik. Rencana perceraian telah diurungkan, mereka pun bersedia membangun komitmen baru. Kata-kata Tama menjadi motivasi luar biasa bagi mereka untuk kembali bersatu. Tama sendiri akhirnya bercerai dengan Melly yang sungguh tak mau berkompromi lagi. Kesendirian kembali dijalani oleh seorang Tama. Entah sampai kapan.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu, 21 Maret 2010.

2 komentar

  1. Cinta Sejati memang tdk pernah bisa terwujud…😥


    • mungkin cinta sejati sepasang kekasih tidak selalu terwujud, tapi masih ada cinta tulus di antara sesama manusia yang tetap berarti di muka bumi ini…



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: