h1

Sang Bendahara Muda

Mei 31, 2010

Ardha tak mengerti, mengapa justru ia yang paling muda, belum menikah, belum pernah bekerja, dan bahkan belum lulus kuliah pula, yang direkomendasikan untuk menjadi bendahara RT yang baru. Padahal ia pun bukan seorang pemuda yang menonjol, yang aktif dan kerap menyuarakan pendapatnya setiap kali menghadiri pertemuan RT di lingkungan tempat tinggalnya. Apa mungkin justru karena pendiamnya itu, maka Pak Haryanto -ketua RT yang sebentar lagi berakhir masa jabatannya- maupun Pak Yunus -sesepuh kampung yang juga menjadi bendahara RW- mengusulkannya menduduki jabatan tersebut? Tapi mungkin pula mereka memang percaya bahwa Ardha adalah seorang pemuda yang cakap, jujur, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya. Yang jelas, ia memang cukup rajin menghadiri pertemuan bulanan RT sejak ayahnya wafat tujuh tahun silam.

Menjadi pengurus RT adalah sesuatu yang tidak menjanjikan apa-apa, tidak menghasilkan uang, malah mungkin kadang mengurangi kocek pribadi yang bersangkutan. Wajarlah jika menjadi ketua, sekretaris, dan bendahara RT tidak menjadi ambisi warga pada umumnya. Ketika ada nama-nama yang diajukan untuk menjadi pengurus baru, ya tinggal bilang setuju, rampung sudah urusannya. Tak perlu repot melewati proses pemungutan suara segala. Begitulah yang terjadi ketika Ardha akhirnya dipilih sebagai bendahara RT 37. Ardha berjanji akan membayar kepercayaan itu dengan menjadi pengurus RT yang terbaik bagi warga.

Masalah terjadi ketika ibunda Ardha harus dirawat di rumah sakit. Ardha tahu ibunya masih memiliki rekening tabungan di bank, tapi tentu tak mungkin ia bisa begitu saja mengambilnya. Ibunya tak memiliki kartu ATM, sedangkan Ardha sendiri tak yakin tabungan pribadinya cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Rekening tabungannya di bank sudah nyaris ludes untuk membayar SPP kuliahnya dan membeli banyak buku untuk referensi skripsinya. Satu-satunya kakak Ardha tengah menempuh studi di negeri jiran, yang tentu saja memerlukan banyak biaya untuk menghidupi dirinya sendiri. Saudara-saudara ibunya tinggal berbeda kota dengannya, tak nyaman rasanya ia mau minta tolong pada mereka yang hidupnya bersahaja, tiada seorang pun yang berlimpah ruah harta.

Sekejab ia baru ingat bahwa dirinya adalah seorang bendahara dan menguasai sejumlah uang milik warga RT 37. Dengan terpaksa, juga diwarnai sejumput ragu, diambilnya lebih dari tujuh puluh persen harta kekayaan RT yang dipercayakan kepadanya untuk membayar biaya perawatan ibunya. Ia sungguh berharap, semoga setelah ibunya sembuh dan pulang ke rumah, bisa segera digantinya uang warga yang diam-diam dipakai untuk keperluan pribadinya itu. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, ibunya diijinkan pulang.

“Ardha, kamu bayar pakai apa biaya rumah sakit Ibu?” tanya ibunda Ardha setibanya di rumah.
“Saya pinjam, Bu. Tapi saya janji segera saya kembalikan, kok.”
Ibunya mengernyitkan dahi dan melanjutkan pertanyaannya,
“Kamu pinjam dari mana atau pinjam sama siapa?”
“Anu, saya pinjam kas RT,” sahut Ardha lirih. Ia tahu ibunya bakal tak setuju tindakannya.
“Apa? Waduh, kamu harus segera kembalikan itu. Kamu lupa sama pesan Ibu dulu, saat kamu baru saja dipilih jadi bendahara RT? Kamu harus bisa jaga amanat banyak orang, Ardha. Yah, meskipun kamu hanya jadi bendahara di tingkat RT sekalipun.”
“Saya nggak lupa Bu, saya masih ingat sekali. Tapi mohon maaf, kemarin saya terpaksa. Makanya saya mau segera mengembalikannya. Rekening tabungan Ibu masih ada uangnya bukan?” tanya Ardha rada ragu. Ibunya mengangguk. Syukurlah, uang di tabungan ibunya masih cukup untuk mengembalikan uang kas RT yang dipinjamnya tempo hari. Ardha berjanji tak akan menggunakan kas RT yang menjadi tanggung jawabnya untuk keperluan pribadinya lagi.

***

Selang waktu beberapa tahun, Ardha memutuskan untuk berhenti kuliah karena pengerjaan skripsinya mengalami kebuntuan. Keputusannya itu membuat sedih dan kecewa sang ibunda. Namun Ardha meyakinkan diri maupun ibunya bahwa ia tak bakal mengecewakan lagi serta akan berusaha membuat ibunya bangga pada dirinya. Ardha lantas mulai bekerja di sebuah event organizer.

Selain itu, Ardha masih menjadi bendahara RT 37. Sebentar lagi masa jabatannya berakhir dan ingin segera ditanggalkannya posisi itu. Selama dua tahun terakhir terasa cukup berat bebannya. Namun kesepakatan warga ternyata kembali memercayakan pengurus RT lama untuk tetap melanjutkan jabatannya. Ardha harus menerima kenyataan tersebut, ia berjanji untuk tetap jujur dan lebih bertanggung jawab ketimbang sebelumnya.

Setelah pemilihan pengurus RT, menyusullah pemilihan pengurus RW. Sebagai bendahara RT, Ardha mengikutinya. Sempat ada yang mengusulkannya menjadi salah satu calon ketua RW, Ardha menolaknya karena merasa tak sanggup. Akhirnya terpilihlah Pak Mario, ketua RT 35 sebagai ketua RW 8 yang baru. Pak Hendro, ketua RT 37 tempat Ardha tinggal, menjadi anggota formatur pembentukan pengurus RW. Ternyata ia merekomendasikan Ardha untuk menduduki jabatan bendahara RW dan mendapat persetujuan dari sang ketua.

“Untuk jabatan bendahara RW 8, saya memilih Saudara Ardha. Saya percaya dia telah bekerja dengan baik sebagai bendahara RT 37. Jadi sangat tepat andai kita memintanya berkiprah di tingkat RW,” ucap Pak Mario.

Ardha menerimanya, karena berarti ia bisa melepaskan jabatannya sebagai bendahara RT dan ia siap menjalani sebuah tantangan yang agak berbeda. Pembentukan pengurus RW baru mendapat sambutan positif warga karena didominasi oleh orang muda. Pengurus RW yang lama didominasi oleh mereka yang telah berusia di atas 50 tahun. Sedangkan Pak Mario sebagai ketua RW yang baru berusia 39 tahun, Ardha sendiri sebagai bendahara berusia 28 tahun, sedangkan Robby yang dipercaya sebagai sekretaris malah masih berusia 24 tahun. Tak salah jika warga menaruh harapan besar pada mereka agar mampu membawa kemajuan.

***

Ardha tak menaruh kecurigaan apa pun ketika Pak Yunus, bendahara RW yang lama tak segera menyerahkan kas RW kepadanya ketika upacara serah terima jabatan pengurus dilakukan di balai pertemuan.

“Untuk perlengkapan bendahara RW, biar saya serahkan langsung ke rumah Nak Ardha besok pagi. Toh, rumah kami tak berjauhan,” kata Pak Yunus.

Ardha percaya saja. Mungkin Pak Yunus yang sudah sepuh hanya tak mau repot membawa kas RW jauh dari rumahnya. Esok paginya Ardha menerima telepon dari Pak Mario, ketua RW yang baru.

“Dik Ardha, apa Pak Yunus sudah menyerahkan kas RW?” tanya Pak Mario
“Belum, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Begini, Dik. Nanti kalau sudah diserahkan, saya mau pinjam dulu. Saya janji dalam seminggu ke depan, saya sudah kembalikan lagi ke kas RW.”

Ardha sejenak diam berpikir, apakah ia benar jika mengabulkan permintaan itu? Dan apakah ia juga mesti memercayai janji Pak Mario?

“Baik, Pak. Saya akan penuhi pemintaan Bapak dan saya akan pegang kata-kata Anda,” ujar Ardha yang mencoba berpikir positif pada ketua RW-nya.
“Terima kasih, Dik Ardha. Ya, saya akan mengembalikannya segera. Tolong, jangan bilang siapa-siapa ya tentang hal ini,” pesan Pak Mario.

Satu setengah jam kemudian, saat Ardha akan berangkat bekerja, Pak Yunus datang menghampirinya. Sepertinya beliau jadi akan menyerahkan kas RW kepada Ardha.

“Saya pesan ke Nak Ardha, hati-hati dengan Pak Mario,” ucap Pak Yunus
“Memangnya kenapa, Pak?” tanya Ardha.
“Dia sering sekali pinjam uang kas RW. Terakhir dia pinjam satu setengah juta dan baru dikembalikan tadi. Padahal, janjinya sudah dua bulan lalu mau dikembalikan. Makanya tadi malam saya ndak bisa menyerahkan kas RW karena uangnya tinggal sedikit. Sebagian besar, ya dibawa Pak Mario itu.”

Ardha tercenung sejenak. Ia tak mengira orang yang menjadi pilihannya saat pemungutan suara dan menjadi ketua RW yang baru ternyata demikian adanya. Namun ia masih berprasangka baik serta berharap Pak Mario bisa menjawab kepercayaannya. Hari berikutnya Pak Mario kembali meneleponnya, kemudian datang ke rumahnya untuk meminjam uang kas RW sebesar satu setengah juta rupiah.

***

Seminggu berlalu, saatnya Ardha menagih janji sang ketua RW. Dikirimlah sebuah SMS untuk mengingatkan Pak Mario.

“Sudah seminggu, Pak. Anda sudah janji mau kembalikan kas RW.”

Dua jam kemudian barulah Ardha menerima sebuah SMS balasan.

“Maaf, saya baru balas sekarang. Minggu depan ada rapat pengurus RW di balai pertemuan. Saat itu saja saya kembalikan uangnya.”

Ardha tersenyum kecut membaca jawaban Pak Mario. Ia berharap janji itu benar akan ditepati. Seminggu kemudian Ardha menerima undangan rapat pengurus RW. Setibanya di tempat pertemuan, Pak Mario langsung mengajaknya bicara berdua.

“Begini Dik, karena sebentar lagi mau ada acara kerja bakti 17-an, saya mau membagi kas RW buat RT. Biar saya saja yang membaginya nanti dari uang yang saya pinjam dulu,” cerocos ketua RW.
“Lha, terus sisa uang yang Anda pinjam, kapan dikembalikannya?” tanya Ardha.
“Mungkin minggu depan setelah kerja bakti. Maaf ya, terpaksa mundur lagi,” sahut Pak Mario. Ardha dongkol sembari hanya bisa tersenyum kecut lagi.

Seperti yang direncanakan, kerja bakti menyambut hari kemerdekaan di bulan Agustus jadi dilaksanakan. Ardha bersama tetangganya satu RT pun bersama-sama membersihkan wilayah mereka. Di sela-sela kerja bakti, datanglah Pak Mario. Ia pun menghampiri ketua dan bendahara RT 37, sementara Ardha menatapnya tak jauh dari situ. Ketika ketua RW tengah menyerahkan sejumlah uang bantuan RW, ada seorang tetangga Ardha nyeletuk,

“Hei Pak RW, bantuannya dari kantong sendiri apa dari kas RW tuh?”
“Wah, ya dari kas RW to, Pak. Ini juga ala kadarnya lho,” sahut Pak Mario yang disambut senyum semua orang yang mendengarnya.
“Yowis, matur nuwun, Pak RW,” lanjut bapak yang tadi terkekeh. Ardha tertawa dalam hati mendengar dialog itu. Seandainya saja semua orang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Ardha masih tetap optimis bahwa sang ketua RW akan segera mengembalikan uang yang dipinjamnya.

***

Rapat pengurus RW kembali berlangsung bulan berikutnya. Ada bantuan dari kelurahan menambah jumlah kas RW. Sesaat setelah itu ada kegiatan, jadi uang bantuan itu hanya mampir sebentar di tangan Ardha. Selain itu, kata Pak Mario akan ada bantuan lagi untuk kegiatan pemuda. Namun hingga beberapa bulan kemudian bantuan itu tak kunjung turun. Padahal, kabarnya uang itu telah diserahkan kepada ketua RW. Sementara itu uang yang dipinjam dari kas RW juga belum dikembalikannya. Bahkan rapat pengurus RW sudah selama sekian bulan ditiadakan. Ardha mulai jenuh menagih hutang Pak Mario.

Ardha sudah tak tahan lagi. Ia ingin segera melepaskan jabatannya sebagai bendahara RW. Sudah tiada lagi kepercayaannya pada Pak Mario. Surat pengunduran diri dibuat Ardha dan diserahkannya pada saat rapat pengurus RW yang akhirnya kembali diadakan. Dalam suratnya, Ardha menyatakan mundur karena alasan pekerjaan yang membuatnya tak bisa mengikuti kegiatan RW.

Kenyataannya memang demikian. Bekerja di event organizer membuat Ardha kerap pulang larut malam. Meski alasan sesungguhnya adalah karena ia sudah tak percaya sekaligus tak lagi menghormati Pak Mario. Hal itulah yang semula ditulisnya di surat pengunduran diri. Tapi ibunya mengingatkan supaya Ardha tak menebar bibit permusuhan, kendati sejatinya sudah sedemikian bencinya ia pada ketua RW. Ardha menuruti saran ibunya. Akhirnya ia menuliskan kesibukan pekerjaan sebagai alasan melepaskan jabatannya.

Tak ayal pengunduran diri Ardha menjadi pembicaraan tersendiri pada warga RW yang curiga, bahwa sebenarnya ada konflik antara ketua dengan bendahara RW. Warga RT tempat tinggal Ardha yang lebih dulu mengetahui kebusukan Pak Mario. Para pemuda yang tidak juga mendapat bantuan yang dijanjikan akhirnya sewot. Mereka berniat menggerebek Pak Mario, menuntutnya mundur, sekaligus mengembalikan kas RW. Tapi Pak Yunus meminta para pemuda supaya lebih bersabar dan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin.

“Saya hanya bisa sedikit mengingatkan, kalau ketua RW kita ndak becus, siapa yang dulu memilihnya? Apa kalian ndak malu sendiri kalau kita nanti nggerebek rumahnya, terus diliput sama koran dan televisi?” tanya Pak Yunus.

Akhirnya disepakati untuk segera menggelar rapat warga meminta pertanggungjawaban ketua RW. Pak Yunus dipercayai warga untuk memimpin rapat itu nantinya. Ardha sendiri bersedia menjadi salah satu mediator. Namun rencana tinggal rencana. Rapat itu sedianya akan diadakan pada hari Sabtu malam. Nah, Sabtu paginya terjadi gempa besar yang meluluhlantakkan daerah tempat tinggal Ardha. Begitu banyak rumah yang ambruk dan rusak berat. Beberapa warga bahkan turut menjadi korban jiwa. Salah satu warga yang tewas adalah Pak Mario, sang ketua RW.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Harian Global edisi Sabtu, 22 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: