h1

Meraih Percaya Kembali

Juni 30, 2010

Barangkali apa yang pernah kualami ini sesuatu yang begitu ironis. Aku sempat lama dimusuhi keluargaku -bapak, ibu, dan adik-adik- sendiri gara-gara mengkhianati istriku bertahun-tahun silam. Kami sudah bercerai dan akhirnya kunikahi selingkuhanku, namun mereka masih tetap belum berubah sikap. Tak habis pikirku, karena tampaknya mereka malah lebih menyayangi mantan istriku ketimbang aku.

“Kamu itu kebangetan betul, Fer! Regina itu istri yang baik, sayang betul sama keluargamu, kok ya kamu sia-siakan?” ujar Bapak setelah aku mengatakan rencanaku menceraikan Regina dahulu.
“Tapi saya punya alasan sendiri, Pak. Menurut guru saya, supaya hidup saya bahagia, saya harus berpisah dengan Regina,” sahutku.
“Ah, alasan apa itu? Gombal! Terus terang Bapak malu punya anak kamu. Bapak ini kan juga malu sama besan. Apa kamu pernah pikir hal itu? Lalu, apa yang mau kamu bilang sama orang tua Regina, hah?”
“Saya hanya akan mengatakan apa kata guru saya, Pak. Terserah mereka, mau percaya atau tidak,” tegasku saat itu.

Memang sejatinya bukan masalah aku tak lagi mencintai Regina. Bukan pula sekadar aku sudah jatuh cinta lagi pada Aimee. Aku memang mendapat wejangan dari guru spiritualku, bahwa untuk kebahagiaanku di masa depan, aku harus meninggalkan Regina. Jika sehabis itu aku lantas menikahi Aimee, itu pun harus atas sepengetahuan dan seijin guruku. Aku memang percaya begitu saja kepadanya, karena apa yang dikatakannya selama ini telah terbukti selalu benar.
Kebetulan saja aku sedang berhubungan dekat dengan Aimee ketika petunjuk itu disampaikan guruku.

Memang, semenjak kecelakaan mobil tiga tahun sebelumnya yang membuatku mengalami gegar otak, kurasakan hidupku tak lagi bahagia bersama Regina dan Ferina, anak perempuanku satu-satunya. Tapi aku tetap bertahan hidup bersama mereka, hingga akhirnya kulaksanakan petuah guruku. Biarpun sesungguhnya tak masuk di nalar, tapi saat itu aku memang sangat mematuhi apa pun yang diajarkan beliau kepadaku.

Aku tahu bahwa sulit bagiku untuk mendapatkan lagi kepercayaan dari orang tua dan adik-adikku, setelah apa yang kulakukan selama ini. Aimee jadi kunikahi dan dalam empat tahun kuperoleh sepasang anak yang lucu, Dimas serta Adinda. Lewat kedua anakku itu, akhirnya mulai kembali kudapatkan perhatian serta simpati dari bapak ibuku. Adik-adikku pun setidaknya mulai menganggapku ada kembali. Semula mereka tidak suka dengan keberadaan Aimee sebagai kakak ipar mereka. Namun supelnya pembawaan istri keduaku tersebut membuat mereka tak lagi menaruh kebencian kepadanya, kendati hubungan personalnya sempat kaku.

“Ya sudahlah, Fer. Bapak dan Ibu bisa memaafkanmu sekarang. Bagaimanapun kedua anakmu itu cucu kami juga. Tapi kamu jangan lupakan Ferina. Dia juga perlu perhatian dan kasih sayangmu,” ucap Bapak.
“Ya Pak, meskipun Regina tidak mau, tapi saya akan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi Ferina.”

***

Aku masih memiliki tugas berat lagi, yaitu mengembalikan kepercayaan Regina dan keluarga orang tuanya. Kesalahanku pada mereka memang begitu besar, namun aku sungguh ingin memperbaikinya. Bahwa seburuk-buruknya aku sebagai seorang lelaki yang pernah mengkhianati istri, aku masih bisa menjadi ayah yang baik bagi Ferina.

Ternyata tak mudah untuk melaksanakan niat baikku. Regina benar-benar membenciku. Tak diijinkannya sama sekali aku menemui Ferina. Tentu masih kusayangi benar anak perempuanku itu. Kendati aku dan ibunya telah bepisah, tak inginku dia kehilangan kasih sayangku sebagai ayahnya. Tak kuingat berapa lamanya, terus saja aku berjuang agar mampu menjumpai anak perempuanku. Akhirnya aku diperbolehkan Regina dan keluarganya untuk secara berkala menemui Ferina. Regina sendiri tetap tidak sudi bertemu denganku. Tak apalah, yang penting telah dapat tercurah kasih sayangku untuk Ferina. Kuperkenalkan dia dengan Aimee, juga dengan Dimas dan Adinda yang merupakan adik-adiknya.

“Na, mulai sekarang kamu ingat ya? Kamu sudah punya dua adik,” kataku pada Ferina. Bisa jadi tak bakal mudah baginya bisa menerima kehadiran kedua adiknya itu, namun semoga akhirnya dia mampu memahami fakta yang ada.

***

Telah berselang sekian tahun kemudian. Kata Ferina, ibunya akan segera menikah. Mungkin itulah saat yang paling tepat untukku memperbaiki hubunganku dengan Regina maupun keluarganya. Sungguh ingin kutebus segala dosa kesalahanku pada mereka. Aku mohon ijin pada orang tuaku untuk tak bersama mereka pada hari lebaran pertama. Niatku adalah secara khusus sowan dan meminta maaf kepada mantan ibu mertuaku. Mantan bapak mertuaku meninggal beberapa tahun setelah aku dan Regina bercerai. Hanya bisa menangis tersedu-sedu diriku di samping peti jenazahnya ketika itu.

Sesuatu telah membuka mata hatiku bahwa kata-kata guru spiritualku tak selalu benar. Seperti ada yang menuntun langkahku untuk kembali ke jalan yang lurus. Sadarku telah melakukan kesalahan besar ketika menceraikan Regina. Namun tak mungkin serta merta aku bisa memperbaikinya, karena telah kunikahi Aimee dan kumiliki keluarga yang baru. Bahwa pernah kuhancurleburkan perasaan Regina ketika menceraikannya, merupakan hal yang aku tahu persis itu salah besar.

Jadilah aku sowan ke hadapan ibu Regina di hari lebaran. Sebenarnya aku tak percaya diri bahwa kesalahanku akan dimaafkan. Apa yang telah kulakukan dahulu adalah hal yang tak layak diampuni. Tapi syukurlah, mantan ibu mertuaku yang -seperti dulu- tetap kupanggil Mama adalah seorang perempuan yang mulia hatinya. Sebesar apa pun kesalahanku telah dimaafkannya. Aku merasa telah meraih kepercayaan kembali darinya.

Selanjutnya berkunjungku ke rumah Regina dan suami barunya. Aku datang bersama Ferina, Aimee, Dimas, Adinda, dan juga Mama yang sudi mendampingiku. Kesalahanku memang luar biasa pada Regina di masa lalu. Jika dia tak bisa begitu saja memaafkanku, mestinya berlapang dada saja diriku. Setidaknya telah aku beritikad baik untuk secara khusus menyampaikan kata maaf kepadanya, melupakan masa lalu, dan menjalin silaturahmi dengan sudut pandang yang baru, demi masa depan kita bersama. Masih ada Ferina yang selalu menjadi urusanku bersama Regina. Apalagi dia pun telah berencana menikah.

Namun dalam proses menuju pernikahan putri pertamaku itu, terjadi sesuatu yang tak terduga. Regina, perempuan yang pernah kucintai itu meninggal dunia mendadak karena serangan jantung. Gerimis turun dari mataku ketika kupeluk Ferina di rumah sakit, sesaat sesudah Regina menghembuskan nafas terakhirnya. Bagaimanapun pernah ada kisah cinta bahagiaku bersamanya dalam kurun waktu berlalu di masa silam. Dan telah kusesali perbuatan kejamku terhadapnya sehabis itu. Semoga Regina telah memaafkanku sejatinya, kendati belum sempat kudengar ungkapan sikapnya itu keluar dari mulutnya untukku.

Tak berselang lama, Ferina segera akan menikah. Secara khusus kuminta Jerry, calon suami Ferina datang menghadapku untuk melamar anakku secara personal, sebelum keluarganya nanti melamarnya secara resmi. Sungguh tak inginku Ferina mengalami nasib seperti ibunya yang mendapat perlakuan buruk dari mantan suaminya, ya aku ini. Aku terus terang khawatir bahwa anak perempuanku akan mendapatkan semacam karma akibat perbuatanku pada ibunya di masa silam.

“Jerry, saya mohon kamu benar-benar bisa membahagiakan Ferina dan tidak akan pernah menyakiti hatinya,“ pesanku bagi sang calon menantu.
“Saya berjanji akan selalu membuatnya bahagia dan pasti akan selalu menjaga Ferina segenap jiwa raga. Papa tidak perlu cemas akan hal itu,“ ujar Jerry mampu mengusir kegundahanku.

Ketika Ferina menikah, Mama dan keluarga besar mendiang Regina yang paling sibuk. Aku justru seperti memiliki sebuah keluarga baru sesudah wafatnya mantan istriku. Tersanjungku karena aku merasa mantan adik-adik iparku lebih menghargaiku sebagai seorang kakak, sesuatu yang malah tak kudapatkan dari sebagian besar adik kandungku sendiri. Suatu ketika aku sakit dan mesti diopname, Mama bersama mantan adik iparku menjengukku di rumah sakit. Padahal kami tinggal berbeda kota. Sungguh sesuatu yang sangat istimewa bagiku. Jika saja aku belum pernah dimaafkan oleh mereka, niscaya tak mungkin kudapatkan keistimewaan serupa itu. Kunikmati hubungan baik yang terjalin di antara kami.

***

Ferina di waktu lain mengabarkan hal yang mengejutkanku, neneknya sakit dan sampai harus diopname. Selama ini kudengar Mama tak pernah sakit. Meskipun sempat lama tak pernah bertatap muka, namun anak perempuanku selalu bercerita apa saja tentang apa yang terjadi pada keluarga neneknya. Seingatku belum pernah ada cerita dari anakku bahwa neneknya menderita sebuah penyakit. Kabar itu jadi tak kupercaya begitu saja. Aku pun segera menjenguknya di rumah sakit bersama Aimee dan kedua anak kami. Setelah itu kesehatannya berangsur membaik. Sayang, setelah sempat sebentar pulang ke rumah, Mama lalu diopname kembali hingga wafat pada akhirnya.

Mama telah memberiku kesempatan untuk meraih kepercayaannya kembali. Aku jadi percaya diri untuk melangkah, sehingga rasanya telah mulai dapat kutebus dosa kesalahanku terhadap almarhumah Regina, putriku Ferina, dan juga Mama sekeluarga. Aku berjanji akan tetap berhubungan baik dengan semua mantan adik iparku sepeninggal wafatnya Mama, demi membalas kemuliaan hati Mama di sisa hayatnya kepadaku

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Berita Pagi edisi Minggu, 27 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: