h1

Eyang Sentot

Juli 27, 2010

Ambulans yang membawa jenazah Eyang Sentot perlahan-lahan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal Almarhum. Aku duduk tepat di belakang sopir, di dekat peti jenazah bersama beberapa orang tetangga Eyang Sentot. Sebagai wakil keluarga, menjadi tugasku untuk menjadi penunjuk jalan bagi supir ambulans menuju makam. Sekitar dua ratus meter menjelang jalan besar, tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikan laju rombongan pembawa jenazah. Pelakunya adalah dua orang perempuan cantik separuh baya yang lantas mendekati ambulans.

“Pak, kami berdua mau ikut,” tukas salah satu dari mereka.

“Eh, iya. Silakan, Bu, di belakang sepertinya masih ada tempat,” sahut sopir ambulans yang sesungguhnya cukup heran melihat hal yang dihadapinya. Pintu belakang ambulans kubuka, mereka berdua menghambur masuk, lalu duduk di sampingku. Rombongan pembawa jenazah kembali merayap.

“Sudahlah, Jeng. Hapus air matamu,” ujar salah satu dari mereka.

“Hiks, tapi sedih je, Mbakyu. Ndak mungkin kita bakal ketemu lagi sama Pak Sentot. Aku terkenang banget sama kebaikan beliau,” jawab adiknya dalam isak tangis.

“Sst, ya yang sabar, to … Kita semua pasti juga merasa begitu. Wong memang Pak Sentot itu orang baik. Inggih to, bapak-bapak? Yang penting kita doakan beliau, semoga semua kebaikannya diterima dan dosa-dosanya juga diampuni sama Gusti Allah.”

Aku mengenali mereka berdua sebagai murid Eyang Sentot ketika masih menjadi guru di sebuah SMA puluhan tahun silam. Bagi kakak beradik tersebut, Eyang Sentot merupakan guru favorit mereka sepanjang masa. Maka, begitu mengetahui bahwa beliau dirawat di rumah sakit, mereka pun datang dan setia menjenguknya, hingga hari ini beliau meninggal dunia. Konon, si adik yang biasa kupanggil Tante Endah adalah orang yang pernah dicintai oleh Eyang Sentot di masa mudanya. Tante Endah sendiri sejak masih menjadi muridnya sudah jatuh cinta kepada gurunya itu. Tapi Eyang Sentot dahulu pernah memegang teguh sebuah prinsip, yaitu tidak akan menikahi perempuan yang pernah menjadi muridnya.

***

Eyang Sentot adalah adik kandung kakekku dari ibuku. Sepanjang usianya beliau hidup sendiri, tak pernah merasakan mahligai rumah tangga dengan perempuan mana pun. Keluarga kami sangat dekat dengan beliau karena kamilah satu-satunya keluarga yang tinggalnya paling dekat. Semua kakak dan adik Eyang Sentot tinggal berbeda kota dengannya. Bahkan ketika kedua orang tuaku memutuskan pindah ke kota ini, Eyang Sentot menjadi salah satu alasan kuat mereka. Telah banyak hal yang dilakukan beliau untuk membantu kelangsungan hidup keluarga kami di sini, terutama masalah pendidikan kakak-kakakku.

Aku merasa dekat dengan Eyang Sentot karena beliau orangnya menyenangkan, senang bercanda, tak pernah marah, wawasannya luas, bijaksana, dan murah hati pula. Apalagi setelah ayahku tiada, Eyang Sentot bagaikan ayah kedua bagiku.

Kadang sejatinya inginku bertanya pada beliau, apa sebabnya beliau tidak menikah. Tapi rasanya aku terlalu sembrono jika sampai melakukannya. Tak seorang pun yang tahu persis apa alasannya melajang sepanjang masa. Tidak juga ibuku yang notabene adalah keponakan terdekat Eyang Sentot sendiri.

“Yang Ibu tahu, dulu Eyang Sentot pernah punya kekasih. Tapi eyang buyutmu–bapak ibunya Eyang Sentot –sama sekali tidak setuju dengan pilihan putra mereka. Tapi Ibu juga tak tahu pasti, apakah itu alasan beliau melajang seumur hidupnya atau ada alasan lainnya,“ kata ibu suatu ketika.

“Padahal mungkin banyak perempuan yang suka dengan beliau ya, Bu? Apa sih kurangnya Eyang Sentot sebagai seorang laki-laki? Orangnya sangat baik, sabar, penyayang, suka memberi, dan selalu menghargai orang lain, apalagi pada kaum perempuan. Lagi pula secara materi beliau juga tak pernah kekurangan. Sekarang sudah sepuh, Eyang Sentot juga masih ganteng dan terlihat gagah kok,” komentarku.

“Ya, memang benar. Makanya beliau selalu menjadi favorit murid-muridnya saat masih mengajar dulu. Bahkan ada seorang murid perempuannya saat SMA yang masih terus memberi perhatian pada Eyang hingga kini. Padahal dia sudah lama juga menikah.”

Belakangan, yaitu setelah Eyang Sentot masuk rumah sakit, baru kutahu bahwa murid yang diceritakan ibuku adalah Tante Endah. Dan dapat kulihat sendiri wujud begitu perhatian dan sayangnya perempuan tersebut kepada guru SMA pujaan hatinya, ketika kami bertemu di rumah sakit.

***

Sejak beberapa tahun sebelum sakit, Eyang Sentot memiliki semacam anak angkat. Bukan anak angkat seperti lazimnya, karena Dodik-nama bocah itu-sebenarnya anak tetangganya. Tapi karena sejak bayi Dodik sudah dekat dengan Eyang, sampai bocah itu sekolah kelas VI SD jadi seperti anak angkat beliau, atau mungkin lebih tepat seperti cucunya sendiri. Dodik shock berat ketika Eyang Sentot masuk rumah sakit. Apalagi ketika sebulan setelah itu Eyang akhirnya wafat. Orang yang paling menyayanginya selama lebih dari sepuluh tahun hidupnya tak akan ditemuinya lagi. Dodik akhirnya kembali ke rumah orang tuanya bersama kakak dan adik-adiknya.

Sebelum Eyang Sentot wafat, tepatnya beberapa hari setelah beliau masuk rumah sakit, keluarga kami sempat menjadi korban fitnah ibu kandung Dodik. Masa kami dituduh melakukan kesempatan dalam kesempitan, merampok harta Eyang, sementara beliau tengah lemah tak berdaya? Padahal sebagai kerabat terdekatnya, tentunya menjadi kewajiban kami untuk mengamankan dokumen dan benda-benda berharga, untuk nanti dikembalikan kepada Eyang Sentot jika beliau sudah sehat kembali nanti. Mungkin ibu Dodik khawatir jika anaknya tidak mendapatkan apa-apa sekiranya Eyang Sentot akhirnya meninggal. Benar-benar sebuah pemikiran yang busuk.

Syukurlah, ibuku dan juga kakak adik Eyang Sentot–yang tentu saja tak percaya keponakannya sejahat itu–begitu lapang hatinya. Sudah kami dihina sedemikian rupa, tapi masih bisa memaafkan ibu Dodik yang keruh hatinya. Bagaimanapun kami masih mengingat bahwa Dodik adalah “anak kesayangan” Eyang Sentot dan keluarga asli anak itu pun merupakan tetangga terdekat beliau.

Untuk lebih menenteramkan perasaan kami, aku pun berpendapat, “Saya percaya bahwa ibunya Dodik sebetulnya orang baik. Tapi bukankah orang baik pun bisa berbuat salah dan kesalahannya bisa jadi sangat besar?”

“Ya, mungkin memang lebih baik menganggapnya begitu. Kita juga mesti mengingat kebaikannya, dengan antara lain mengantarkan Eyang Sentot saat beliau sakit waktu itu. Dan kita juga masih perlu keberadaannya hingga Eyang pulang dari rumah sakit nanti,” ucap Ibu padaku.

Sayang, akhirnya Eyang Sentot kembali ke rumah dalam keadaan telah wafat, setelah sekitar sebulan dirawat di rumah sakit. Menjadi duka yang mendalam bagi semua orang yang mengenalnya, termasuk kami, Tante Endah, juga Dodik dan keluarganya. Tapi bagiku, sebuah dukacita yang hebat-kehilangan Eyang Sentot-selanjutnya malah lebih mudah kulupakan ketimbang sebuah hinaan tak berarti, yang pernah dilakukan oleh ibu Dodik kepada keluarga kami. Yah, barangkali aku mesti belajar menjadi orang yang lebih ikhlas lagi nanti.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Lampung Post edisi Minggu, 25 Juli 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: