Archive for September, 2010

h1

Mencermati Tim Jagoan Mourinho

September 28, 2010

Menurut Jose Mourinho, hanya ada tujuh tim yang layak diunggulkan untuk meraih trofi Liga Champion Eropa 2010/11. Selain klub yang kini dilatihnya –Real Madrid- Mourinho memilih Barcelona, Bayern Muenchen, Inter Milan, AC Milan, Chelsea, dan Manchester United yang diprediksinya bakal menjadi juara. Dengan reputasi hebatnya yang membuatnya dijuluki ‘The Special One’ apa yang disampaikan oleh lelaki Portugal itu memang pantas diperhatikan.

Ketujuh tim tersebut seperti sudah menjadi tradisi selalu disebut-sebut pantas menjadi juara. Faktanya hanya Chelsea yang masih menanti trofi pertamanya di Liga Champion, sementara bagi enam tim yang lain, menjadi juara Piala/Liga Champion adalah hal yang sudah terjadi sekian kali. Melihat solidnya kekuatan The Blues sejak menjadi juara Liga Inggris musim lalu hingga awal musim ini, tim asuhan Carlo Ancelotti tersebut rasanya layak menjadi unggulan terdepan. Namun Madrid, Barca, Muenchen, Inter, Milan, dan United sudah pasti tak berdiam diri dan tetap ingin menambah koleksi trofinya dengan berupaya kembali menjadi klub terbaik di Eropa. Madrid, Inter, dan Milan musim ini ditangani pelatih baru, sedangkan Barca, Muenchen, dan United tetap dengan pelatih lama yang sudah teruji prestasinya.

Bukan kebetulan bahwa dari tujuh pelatih tim unggulan tersebut hanya pelatih Milan, Massimiliano Allegri yang belum pernah meraih membawa timnya juara Liga Champion. Mourinho, Sir Alex Ferguson, dan Ancelotti pernah dua kali membawa timnya menjadi yang terbaik. Sementara itu Louis van Gaal, Pep Guardiola, dan Rafael Benitez pernah sekali membawa timnya merajai Eropa.

Apakah benar yang akan menjadi kampiun di Stadion Wembley adalah salah satu dari tujuh tim yang dijagokan oleh Mourinho? Masih panjang perjalanan dan masih banyak drama yang akan menghiasi pentas Liga Champion Eropa 2010/11 nanti.

h1

Persahabatan Memperkaya Jiwa

September 28, 2010

Persahabatan adalah pemenuhan kebutuhan jiwa. Ladang hati yang dengan kasih kalian taburi dan kalian pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Naungan sejuk keteduhanmu, api unggun kehangatan jiwa. Jangan ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa. Karena cinta kasih yang masih mengandung pamrih hanyalah jaring yang ditebarkan ke udara, menangkap kekosongan semata. (Kahlil Gibran)

h1

When Gary Met Kartini

September 22, 2010

Sekitar sebulan silam Gary patah hati. Pernyataan cintanya kepada Mutia, temannya seangkatan beda kelas ditolak, karena Mutia sudah lebih dulu menerima cinta Nuno, kakak kelas mereka. Biar begitu Gary santai saja, hidup kembali dijalaninya seperti biasa, meski tentu saja sempat sedih dan kecewalah hatinya. Pada sebuah Minggu siang dia bercengkrama di toko buku, sekalian supaya bisa curi-curi pandang ke berbagai arah mata angin. Setiap Gary main ke toko buku itu, biasanya ada saja wajah-wajah menarik para gadis yang -bisa diduga- punya hobi membaca. Soalnya kalo nggak hobi membaca, ngapain juga mereka mainnya ke toko buku? Ada sejumlah cewek cakep berseliweran di depannya, tapi belum kunjung ada yang menarik hatinya. Tapi buat Gary, sebatas cuci mata sebenarnya sudah cukup menghadirkan keriaan serta bisa mengobati luka hatinya tempo hari

Hari itu ternyata ada seseorang yang membuat hatinya terasa berdesir. Pertama kali Gary melihatnya di antara buku-buku sastra ketika dia tengah membuka-buka komik Jepang. Seorang gadis yang tampak sebaya dengannya, wajahnya cantik sekilas mirip Luna Maya dengan matanya yang indah, tapi perawakan tubuhnya cukup mungil. Gary kepikiran untuk melakukan pendekatan sekiranya cewek itu sendirian dan dilihatnya nggak ada cowok yang menyertainya. Sang gadis kemudian melangkah ke arah rak majalah. Gary pun mengikuti langkahnya, pikirnya kebetulan sekali dia juga pengen lihat majalah-majalah sepakbola edisi terbaru. Nggak lama kemudian Gary sudah ada di samping kiri cewek cakep tersebut. Dicomotnya sebuah majalah bergambar sampul Ricardo Kaka dari rak di depannya sambil melirik yang ada di sebelahnya. Gary begitu terkejut ketika melihat sesuatu yang sedang dibuka cewek itu sama dengan majalah yang diambilnya! Ide cemerlang muncul di kepalanya untuk menyapa sang gadis.

“Kamu suka Ricardo Kaka ya?” tanya Gary sambil menoleh ke arah pemilik wajah cantik itu. Sang gadis melihat lelaki muda di sampingnya sekilas, mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali melihat ke arah majalah. Gary tersenyum gemas melihat rona wajah sang gadis yang tersipu-sipu.

“Aku juga penggemarnya Kaka lho! Eh, kamu emang suka sepak bola juga? Apa kamu suka Kaka karena dia cakep aja?” tanya Gary kemudian.

“Aku suka Kaka nggak cuma karena dia cakep kok, kan dia mainnya emang keren,” ujar cewek cakep itu akhirnya, terdengar manja suaranya. “Apa yang kamu tau tentang Kaka?”

“Hmm, Kaka itu pemain Brasil yang baru hijrah ke Real Madrid dari AC Milan. Dia pernah jadi pemain terbaik dunia tahun 2007 setelah membawa Milan juara Liga Champion Eropa. Dia juga terkenal sebagai sosok yang relijius, sangat mencintai keluarganya, dan nggak pernah digosipin macem-macem.”

“Wow, kamu bener-bener fansnya Kaka ya? Salut deh buat kamu! Oh ya, namaku Gary. Bokapku dulu ngefans banget sama Gary Lineker, striker legendaris timnas Inggris itu, makanya aku dikasih nama itu,” kata Gary sambil mengulurkan tangannya.

“Aku Kartini,” sahut sang gadis tersenyum manis.

“Wah, kalo kamu pasti karena ibumu penggemarnya Ibu Kartini ya?”

“Iya, kali.”

Perbincangan keduanya terus berlanjut hingga mereka saling bertukar nomor telepon. Betapa girang hati Gary karena gadis ayu yang baru sekali ditemuinya itu asyik diajak bicara dan ternyata jomblo pula! Sudah lupa sedihnya, hilang pula kecewanya ditolak Mutia sebulan berselang. Mereka lantas berpisah. Kartini pulang duluan bersama seorang temannya. Gary pun kembali ke rumah dengan hati berbunga-bunga, rasanya dia baru jatuh cinta lagi. Kartini membolehkannya berkirim sms dan menelepon dia, bahkan bertandang ke rumahnya jika waktunya senggang.

***

Gary kembali merasakan betapa indahnya dunia sejak mengenal Kartini. Setiap hari mereka selalu berhubungan, meski sekadar sms-an. Kadang Gary menelepon sang gadis, ngobrolin hasil pertandingan sepakbola semalam atau apa pun yang selalu menghadirkan keceriaan di antara mereka. Sebenarnya Gary ingin segera bertemu dengan  pujaannya itu, entah datang ke rumahnya, atau jika bisa malah menjemput Kartini ke sekolahnya, lalu mengantarkannya pulang. Tapi Kartini selalu naik motor sendiri ke sekolah dan selama seminggu dia punya banyak kegiatan di sekolah sampai sore. Jadi Gary mesti sabar untuk bisa menatap lagi indahnya rupa sang gadis. Sesekali dia teringat wajah Kartini saat dilihatnya Luna Maya di majalah dan televisi. Lumayanlah, hal itu sedikit mengurangi rasa rindunya, meski menurutnya wajah Kartini masih lebih cakep. Maklumlah, Gary kan belum pernah ketemu langsung sama Luna Maya. Setelah enam hari menunggu, akhirnya Kartini membolehkan Gary datang ke rumahnya hari Sabtu sore nanti. Gary tentu saja menyambutnya dengan sangat sukacita.

***

Sabtu sore, Gary jadi ke rumah Kartini. Nggak sulit baginya untuk sampai di rumah gadis tersebut. Setelah memarkir motornya, dia berjalan menuju pintu depan dan memencet bel rumah yang ada. Betapa terperanjatnya Gary melihat cowok yang membukakannya pintu adalah Nuno, pacar Mutia!

“Eh, halo Mas… Saya mau ketemu Kartini… ada Mas?” tanya Gary terbata-bata pada lelaki yang dia percaya membuat Mutia mematahkan hatinya.

“Lho Gary, kamu temen Reni ya? Ya, dia ada. Kayaknya dia emang lagi nunggu kamu kok. Oh ya, kamu temen Mutia kan? Dia juga ada di sini lho. Rencananya kita emang mau pergi bareng-bareng.” Jawaban Nuno tak ayal membuat Gary jadi gelisah dan makin salah tingkah. “Waduh,“ batin Gary, “Mutia kok ada di sini itu ngapain? Nuno malah bilang kita mau pergi bareng, gimana nih?”

Nuno kemudian mempersilakan Gary duduk. Dia menceritakan hubungannya dengan Kartini yang nama panggilannya Reni, juga hubungan Kartini dengan Mutia yang belum lama jadi pacarnya itu. Ternyata Kartini adalah adik semata wayang Nuno yang nama sebenarnya adalah Baruno. Sedangkan Mutia merupakan sahabat Kartini sejak kecil. Mereka satu sekolah dari SD hingga SMP, dan baru berbeda sekolah saat SMA. Hal itu nyatanya nggak memutus persahabatan mereka. Jadi lebih logis pula rasanya jika Mutia menerima cinta kakak sahabatnya sejak bocah, yang pasti sudah lama dikenalnya. Meski bagaimanapun memang cinta adalah soal hati, bukan sekadar witing tresno jalaran soko kulino atau cinta datang karena telah terbiasa, seperti kata orang Jawa.

Gary harus segera menata perasaannya, sebentar lagi Kartini dan Mutia akan keluar dari kamar untuk menemuinya yang sedang bersama Nuno di ruang tamu.  Kartini adalah gadis yang baru saja membuatnya jatuh cinta lagi, sementara Mutia pernah menjadi pujaan hatinya untuk sekian waktu. Nggak kebayang sama sekali apa yang terjadi nanti, jika dia bertemu dengan mereka berdua. Hati Gary makin berdebar-debar saat melihat kedua gadis ayu terebut muncul di ruang tamu. Tiba-tiba Mutia berjalan mendahului langkah Kartini mendekati Gary dan berkata dengan nada sinis tepat di depannya,

“Sebulan lalu kamu bilang cinta sama aku, nggak tahunya kamu sekarang malah dekat sama sahabatku. Semudah itukah kamu melupakanku?” Gary sama sekali nggak menduga Mutia akan bersikap seperti itu di hadapannya. Dia hanya diam kehilangan kata-kata, sementara keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba dia merasa bahunya ditepuk, kaget, Gary lalu menoleh ke samping, ternyata Nuno yang menyentuhnya.

“Ini yang dicari sudah nongol, kok kamu malah bengong?” kata Nuno  menyadarkannya dari lamunan.

Gary melihat di depannya sudah ada Kartini dan Mutia yang tersenyum kepadanya. Apa yang dibilang Mutia tadi ternyata ilusinya belaka. Kartini pun mengenalkan Mutia pada Gary.

“Ini lho Tia, cowok yang kuceritakan ke kamu.”“Ternyata kamu, Gary? Reni cuma bilang dia punya kenalan baru yang satu SMA denganku, dia belum sebut nama, nggak tahunya kamu,” ucap Mutia tersenyum manis. Gary tersipu-sipu belaka mendengar kata-kata  yang keluar dari bibir Mutia.“Udah pada kenal ya, kalian sebetulnya?” tebak Kartini asal, tapi memang benar begitu adanya. Gary mencoba menata hatinya dan bersikap biasa-biasa saja, seakan tiada pernah ada kisah apa pun antara dia dengan Mutia.

Nggak lama kemudian mereka pun pergi berempat. Ternyata cerpen karya Kartini belum lama dimuat di sebuah majalah remaja dan honornya baru saja diterimanya. Untuk berbagi sukacita, diajaklah sahabat dan kakak tercintanya beserta Gary, teman baru yang mengesankannya untuk bersama-sama makan malam. Gary hanya bisa berharap, semoga Kartini belum tahu cerita penolakan cintanya oleh Mutia. Bisa malu berat dia jika Kartini sudah tahu dan bahkan bertanya kepadanya soal itu.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai yang terbit pada September 2010.

h1

Ilmu yang Membedakan

September 22, 2010

Tuhan meletakkan semua manusia di tempat yang sama, tetapi ilmu yang mereka miliki menjadikan tempat mereka berbeda. (Yang Sarat & Yang Bijak)

h1

Riwayat Nomor 23 Real Madrid

September 21, 2010

Sebelum David Beckham mengenakan kostum nomor 23 di Real Madrid, mungkin nomor tersebut tak berarti apa-apa. Pemain Inggris tersebut menggunakannya selama tahun 2003 hingga 2007.

Sepeninggal Beckham, nomor 23 dikenakan oleh Wesley Sneijder, dan seolah nomor itu menjadi ada maknanya. Sneijder tampil cemerlang membawa Madrid juara La Liga 2007/08 dan sukses sebagai pengganti yang sepadan bagi Beckham yang membawa Madrid juara setahun sebelumnya. Hanya semusim mengenakan nomor tersebut, Sneijder memakai nomor 10 hingga hengkang ke Inter Milan pada tahun 2009.

Selanjutnya nomor 23 menjadi milik Rafael van der Vaart alias VdV, yang merupakan nomor favoritnya, hingga selalu dipakainya baik di Hamburg (klub sebelumnya) maupun timnas Belanda. Ternyata selama dua musim pemain Belanda itu mengenakan nomor 23, tiada gelar apa pun bagi klubnya.

Mesut Oezil yang baru bergabung ke Madrid dan di awal musim 2010/11 sempat mengenakan kostum nomor lain pun segera menggantikannya, segera setelah VdV hijrah ke Tottenham Hotspur di saat terakhir jendela transfer.

Menarik untuk mengikuti kiprah pemain nomor 23 Madrid selanjutnya. Beckham dan Sneijder pernah menyumbang trofi juara La Liga bagi Madrid, sementara VdV gagal total. Para penggemar Madrid jelas berharap Oezil akan mampu mengikuti jejak Beckham dan Sneijder, bahkan kalau bisa lebih sukses selama berkiprah di Los Merengues.

# Tulisan ini (versi edit) sempat dimuat di tabloid BOLA edisi Sabtu.

h1

Nomor dan Harapan Baru Pemain Madrid

September 5, 2010

CR7 of Real Madrid (www.oscarquetglas.com)

Kepergian dua pemain senior dari Real Madrid, Raul Gonzalez dan Guti Hernandez tidak hanya mengubah formasi tim, namun juga membuat sejumlah pemain yang masih bertahan mengganti nomor kostumnya. Cristiano Ronaldo kini mengenakan nomor 7, Karim Benzema memakai nomor 9, Esteban Granero menggunakan nomor 11, Xabi Alonso mengenakan nomor 14, dan Alvaro Arbeloa memakai nomor 17. Ronaldo, Xabi Alonso, dan Arbeloa telah memilih nomor favoritnya masing-masing, sementara Benzema menggunakan nomor yang pernah dipakai pemain idolanya, Ronaldo Luiz dari Brasil yang sekian tahun silam menjadi striker andalan Los Blancos.

Para pemain Madrid pasti berharap dengan nomor kostum baru, pelatih baru Jose Mourinho, dan rekan bermain yang baru (Ricardo Carvalho, Sergio Canales, Mezut Oezil, dll) akan membawa Los Merengues menuju kisah kejayaan yang baru, menjadi juara lagi di beragam kompetisi dan menunjukkan reputasi sejatinya sebagai klub terbaik di abad ke-20. Buena suerte!

# Tulisan ini (versi edit) dimuat di tabloid BOLA edisi 2.092, Sabtu-Minggu, 4-5 September 2010 dengan tajuk ‘Pemain Baru, Harapan Baru’.

h1

Raul Makin Masygul

September 5, 2010

Keberhasilan Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan sudah pasti menghadirkan kebahagiaan dan kebanggaan luar biasa bagi seluruh rakyat Spanyol. Namun ada seseorang di Spanyol yang mungkin tak bisa bersuka cita sepenuh hati. Dialah Raul Gonzalez Blanco, pencetak gol paling subur dan salah satu pemilik caps terbanyak di timnas Spanyol itu sepanjang kariernya belum pernah mempersembahkan satu pun gelar juara bagi negaranya. Ketika dia tidak lagi dipanggil oleh Luis Aragones di Piala Eropa 2008 dan Vicente del Bosque di Piala Dunia 2010, justru dalam kedua ajang tersebut Iker Casillas dkk sukses sebagai kampiun.

Raul mungkin makin masygul melihat pemain yang mengenakan nomor yang dulu dipakainya malah jauh lebih cemerlang ketimbang dirinya. David Villa, pemain nomor 7 Spanyol saat ini, selain menjadi bagian dari tim juara Piala Eropa dan Piala Dunia, juga menjadi pencetak gol terbanyak dalam dua turnamen bergengsi tersebut. Bahkan Villa hanya tinggal mencetak satu gol lagi untuk menyamai rekor gol Raul di timnas Spanyol.

Raul pun mesti bersedih karena musim depan dia dipastikan meninggalkan Real Madrid, klub yang telah 16 musim diperkuatnya. Mesti diakui bahwa Raul merupakan elemen penting kejayaan Los Blancos dalam dua dekade terakhir. Boleh dikata Raul Gonzalez adalah salah satu pemain legendaris Real Madrid. Sayang sekali, pelatih Jose Mourinho tidak berencana memasukkan Raul dalam skema tim Los Blancos musim mendatang, sehingga Sang Pangeran Bernabeu terpaksa pindah klub.

Raul pun tidak bisa mengikuti jejak Franco Baresi dan Paolo Maldini yang sepanjang kariernya setia hanya memperkuat satu klub, AC Milan. Terpaksa ada nama selain Real Madrid dalam riwayat hidup Raul sebagai pemain profesional. Tapi mudah-mudahan Raul masih mampu menampilkan sisa-sisa kejayaannya bersama klub anyarnya. Buena suerte (semoga berhasil), Raul!

# Tulisan ini dimuat di rubrik Interaktif majalah BolaVaganza No.107-September 2010.