h1

When Gary Met Kartini

September 22, 2010

Sekitar sebulan silam Gary patah hati. Pernyataan cintanya kepada Mutia, temannya seangkatan beda kelas ditolak, karena Mutia sudah lebih dulu menerima cinta Nuno, kakak kelas mereka. Biar begitu Gary santai saja, hidup kembali dijalaninya seperti biasa, meski tentu saja sempat sedih dan kecewalah hatinya. Pada sebuah Minggu siang dia bercengkrama di toko buku, sekalian supaya bisa curi-curi pandang ke berbagai arah mata angin. Setiap Gary main ke toko buku itu, biasanya ada saja wajah-wajah menarik para gadis yang -bisa diduga- punya hobi membaca. Soalnya kalo nggak hobi membaca, ngapain juga mereka mainnya ke toko buku? Ada sejumlah cewek cakep berseliweran di depannya, tapi belum kunjung ada yang menarik hatinya. Tapi buat Gary, sebatas cuci mata sebenarnya sudah cukup menghadirkan keriaan serta bisa mengobati luka hatinya tempo hari

Hari itu ternyata ada seseorang yang membuat hatinya terasa berdesir. Pertama kali Gary melihatnya di antara buku-buku sastra ketika dia tengah membuka-buka komik Jepang. Seorang gadis yang tampak sebaya dengannya, wajahnya cantik sekilas mirip Luna Maya dengan matanya yang indah, tapi perawakan tubuhnya cukup mungil. Gary kepikiran untuk melakukan pendekatan sekiranya cewek itu sendirian dan dilihatnya nggak ada cowok yang menyertainya. Sang gadis kemudian melangkah ke arah rak majalah. Gary pun mengikuti langkahnya, pikirnya kebetulan sekali dia juga pengen lihat majalah-majalah sepakbola edisi terbaru. Nggak lama kemudian Gary sudah ada di samping kiri cewek cakep tersebut. Dicomotnya sebuah majalah bergambar sampul Ricardo Kaka dari rak di depannya sambil melirik yang ada di sebelahnya. Gary begitu terkejut ketika melihat sesuatu yang sedang dibuka cewek itu sama dengan majalah yang diambilnya! Ide cemerlang muncul di kepalanya untuk menyapa sang gadis.

“Kamu suka Ricardo Kaka ya?” tanya Gary sambil menoleh ke arah pemilik wajah cantik itu. Sang gadis melihat lelaki muda di sampingnya sekilas, mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali melihat ke arah majalah. Gary tersenyum gemas melihat rona wajah sang gadis yang tersipu-sipu.

“Aku juga penggemarnya Kaka lho! Eh, kamu emang suka sepak bola juga? Apa kamu suka Kaka karena dia cakep aja?” tanya Gary kemudian.

“Aku suka Kaka nggak cuma karena dia cakep kok, kan dia mainnya emang keren,” ujar cewek cakep itu akhirnya, terdengar manja suaranya. “Apa yang kamu tau tentang Kaka?”

“Hmm, Kaka itu pemain Brasil yang baru hijrah ke Real Madrid dari AC Milan. Dia pernah jadi pemain terbaik dunia tahun 2007 setelah membawa Milan juara Liga Champion Eropa. Dia juga terkenal sebagai sosok yang relijius, sangat mencintai keluarganya, dan nggak pernah digosipin macem-macem.”

“Wow, kamu bener-bener fansnya Kaka ya? Salut deh buat kamu! Oh ya, namaku Gary. Bokapku dulu ngefans banget sama Gary Lineker, striker legendaris timnas Inggris itu, makanya aku dikasih nama itu,” kata Gary sambil mengulurkan tangannya.

“Aku Kartini,” sahut sang gadis tersenyum manis.

“Wah, kalo kamu pasti karena ibumu penggemarnya Ibu Kartini ya?”

“Iya, kali.”

Perbincangan keduanya terus berlanjut hingga mereka saling bertukar nomor telepon. Betapa girang hati Gary karena gadis ayu yang baru sekali ditemuinya itu asyik diajak bicara dan ternyata jomblo pula! Sudah lupa sedihnya, hilang pula kecewanya ditolak Mutia sebulan berselang. Mereka lantas berpisah. Kartini pulang duluan bersama seorang temannya. Gary pun kembali ke rumah dengan hati berbunga-bunga, rasanya dia baru jatuh cinta lagi. Kartini membolehkannya berkirim sms dan menelepon dia, bahkan bertandang ke rumahnya jika waktunya senggang.

***

Gary kembali merasakan betapa indahnya dunia sejak mengenal Kartini. Setiap hari mereka selalu berhubungan, meski sekadar sms-an. Kadang Gary menelepon sang gadis, ngobrolin hasil pertandingan sepakbola semalam atau apa pun yang selalu menghadirkan keceriaan di antara mereka. Sebenarnya Gary ingin segera bertemu dengan  pujaannya itu, entah datang ke rumahnya, atau jika bisa malah menjemput Kartini ke sekolahnya, lalu mengantarkannya pulang. Tapi Kartini selalu naik motor sendiri ke sekolah dan selama seminggu dia punya banyak kegiatan di sekolah sampai sore. Jadi Gary mesti sabar untuk bisa menatap lagi indahnya rupa sang gadis. Sesekali dia teringat wajah Kartini saat dilihatnya Luna Maya di majalah dan televisi. Lumayanlah, hal itu sedikit mengurangi rasa rindunya, meski menurutnya wajah Kartini masih lebih cakep. Maklumlah, Gary kan belum pernah ketemu langsung sama Luna Maya. Setelah enam hari menunggu, akhirnya Kartini membolehkan Gary datang ke rumahnya hari Sabtu sore nanti. Gary tentu saja menyambutnya dengan sangat sukacita.

***

Sabtu sore, Gary jadi ke rumah Kartini. Nggak sulit baginya untuk sampai di rumah gadis tersebut. Setelah memarkir motornya, dia berjalan menuju pintu depan dan memencet bel rumah yang ada. Betapa terperanjatnya Gary melihat cowok yang membukakannya pintu adalah Nuno, pacar Mutia!

“Eh, halo Mas… Saya mau ketemu Kartini… ada Mas?” tanya Gary terbata-bata pada lelaki yang dia percaya membuat Mutia mematahkan hatinya.

“Lho Gary, kamu temen Reni ya? Ya, dia ada. Kayaknya dia emang lagi nunggu kamu kok. Oh ya, kamu temen Mutia kan? Dia juga ada di sini lho. Rencananya kita emang mau pergi bareng-bareng.” Jawaban Nuno tak ayal membuat Gary jadi gelisah dan makin salah tingkah. “Waduh,“ batin Gary, “Mutia kok ada di sini itu ngapain? Nuno malah bilang kita mau pergi bareng, gimana nih?”

Nuno kemudian mempersilakan Gary duduk. Dia menceritakan hubungannya dengan Kartini yang nama panggilannya Reni, juga hubungan Kartini dengan Mutia yang belum lama jadi pacarnya itu. Ternyata Kartini adalah adik semata wayang Nuno yang nama sebenarnya adalah Baruno. Sedangkan Mutia merupakan sahabat Kartini sejak kecil. Mereka satu sekolah dari SD hingga SMP, dan baru berbeda sekolah saat SMA. Hal itu nyatanya nggak memutus persahabatan mereka. Jadi lebih logis pula rasanya jika Mutia menerima cinta kakak sahabatnya sejak bocah, yang pasti sudah lama dikenalnya. Meski bagaimanapun memang cinta adalah soal hati, bukan sekadar witing tresno jalaran soko kulino atau cinta datang karena telah terbiasa, seperti kata orang Jawa.

Gary harus segera menata perasaannya, sebentar lagi Kartini dan Mutia akan keluar dari kamar untuk menemuinya yang sedang bersama Nuno di ruang tamu.  Kartini adalah gadis yang baru saja membuatnya jatuh cinta lagi, sementara Mutia pernah menjadi pujaan hatinya untuk sekian waktu. Nggak kebayang sama sekali apa yang terjadi nanti, jika dia bertemu dengan mereka berdua. Hati Gary makin berdebar-debar saat melihat kedua gadis ayu terebut muncul di ruang tamu. Tiba-tiba Mutia berjalan mendahului langkah Kartini mendekati Gary dan berkata dengan nada sinis tepat di depannya,

“Sebulan lalu kamu bilang cinta sama aku, nggak tahunya kamu sekarang malah dekat sama sahabatku. Semudah itukah kamu melupakanku?” Gary sama sekali nggak menduga Mutia akan bersikap seperti itu di hadapannya. Dia hanya diam kehilangan kata-kata, sementara keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba dia merasa bahunya ditepuk, kaget, Gary lalu menoleh ke samping, ternyata Nuno yang menyentuhnya.

“Ini yang dicari sudah nongol, kok kamu malah bengong?” kata Nuno  menyadarkannya dari lamunan.

Gary melihat di depannya sudah ada Kartini dan Mutia yang tersenyum kepadanya. Apa yang dibilang Mutia tadi ternyata ilusinya belaka. Kartini pun mengenalkan Mutia pada Gary.

“Ini lho Tia, cowok yang kuceritakan ke kamu.”“Ternyata kamu, Gary? Reni cuma bilang dia punya kenalan baru yang satu SMA denganku, dia belum sebut nama, nggak tahunya kamu,” ucap Mutia tersenyum manis. Gary tersipu-sipu belaka mendengar kata-kata  yang keluar dari bibir Mutia.“Udah pada kenal ya, kalian sebetulnya?” tebak Kartini asal, tapi memang benar begitu adanya. Gary mencoba menata hatinya dan bersikap biasa-biasa saja, seakan tiada pernah ada kisah apa pun antara dia dengan Mutia.

Nggak lama kemudian mereka pun pergi berempat. Ternyata cerpen karya Kartini belum lama dimuat di sebuah majalah remaja dan honornya baru saja diterimanya. Untuk berbagi sukacita, diajaklah sahabat dan kakak tercintanya beserta Gary, teman baru yang mengesankannya untuk bersama-sama makan malam. Gary hanya bisa berharap, semoga Kartini belum tahu cerita penolakan cintanya oleh Mutia. Bisa malu berat dia jika Kartini sudah tahu dan bahkan bertanya kepadanya soal itu.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai yang terbit pada September 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: