Archive for Oktober, 2010

h1

Jika Sang Bumi Bicara

Oktober 29, 2010

Jika sang bumi bisa bicara, kutahu dia akan bertanya, “Sampai kapankah kau hanya terima, tanpa pernah memberi kembali?” Kini saatnya untuk berbuat, memberi apa yang dia butuhkan. Tanah, air, udara ’kan bersuka, hidup harmoni tetap terjaga. (Jika Bumi Bisa Bicara – Katon Bagaskara & Nugie)

Iklan
h1

Kemenangan Skuad Muda Madrid

Oktober 26, 2010

Salah satu hal yang menarik dari pertandingan Real Madrid vs AC Milan hari Selasa (19/10) adalah jika memerhatikan usia pemain kedua tim. Hanya ada seorang pemain yang berusia 30-an di skuad inti Madrid, yaitu bek Ricardo Carvalho (32), sementara mayoritas rekan-rekannya masih berusia 20-an di semua sektor. Di pihak lawan masih cukup banyak pemain berusia 30-an di kubu Milan, yaitu : Gianluca Zambrotta (33), Alessandro Nesta (34), Gennaro Gattuso (32), Andrea Pirlo (31), Clarence Seedorf (34), dan pemain pengganti Filippo Inzaghi (37).

Kemenangan Madrid atas Milan, selain membuktikan strategi pelatih Jose Mourinho lebih apik ketimbang Massimiliano Allegri, juga merupakan kemenangan skuad muda Los Blancos atas pasukan tua I Rossoneri. Dengan mayoritas pemain mudanya, Madrid jelas mampu bermain lebih cepat, konsisten, dan unggul secara fisik ketimbang Milan, sehingga mampu mencetak dua gol di babak pertama dan mempertahankannya hingga peluit akhir, kendati secara skill individu, kedua tim mungkin cukup setara.

Jika terus tampil konsisten, gelar juara rasanya amat layak diraih oleh Iker Casillas dkk di akhir musim nanti. Mourinho tampaknya bakal sukses pula bersama Los Merengues. Sementara bagi Andrea Pirlo dkk, sepertinya proses peremajaan pemain masih kurang menyeluruh dan belum menyentuh semua sektor. Itulah pekerjaan rumah besar bagi Allegri dalam menangani klub yang bermarkas di San Siro tersebut.

h1

Segalanya Punya Jiwa

Oktober 22, 2010

Segala yang ada di muka bumi ini mempunyai jiwa, bahkan sekadar pemikiran sederhana. (Paulo Coelho)

h1

Aku Bukan Tokoh Cerpenku

Oktober 22, 2010

Menjadi sesuatu yang sudah selayaknya, bahwa dalam setiap cerita pasti ada tokohnya, selain ada tema, peristiwa, alur, dan beragam syarat lainnya. Sudah jamak pula terjadi, yang menjadi tokoh tersebut adalah sang penulis cerita sendiri atau orang-orang yang dikenalnya. Kendati tak mustahil pula bahwa tokoh tersebut adalah murni hasil rekaan sang penulis. Selama ini aku pun begitu ketika menciptakan tokoh dalam cerita-ceritaku. Ada yang terinspirasi oleh diriku sendiri, pengalaman orang lain, serta imajinasi belaka. Demikian pula peristiwa dalam ceritanya, ada yang memang pernah terjadi, terinspirasi oleh kejadian nyata, atau semata-mata hasil khayalan. Namun apakah akan menjadi sesuatu yang biasa, jika kualami hal serupa dengan apa yang dialami oleh tokoh rekaanku -dalam sebuah peristiwa- yang terdapat dalam cerita pendekku, yang belum pernah terjadi di alam nyataku?

 

***

Dalam sebuah cerpenku yang bertajuk ‘When Gary Met Kartini’ tersebutlah tokoh Gary. Beberapa saat setelah cintanya ditolak oleh gadis yang sudah lama diincarnya, pergilah dia ke tempat favoritnya, yaitu sebuah toko buku terbesar di kotanya. Tentang kegemaran Gary ke toko buku, terus terang hal itu terinspirasi oleh diriku sendiri. Termasuk kebiasaannya untuk sekadar membaca berbagai buku, sambil curi-curi pandang ke berbagai arah mata angin. Biasanya ada saja wajah-wajah menarik para gadis, yang bisa diduga mempunyai hobi membaca. Jika tak punya hobi itu, ngapain juga mereka ada di toko buku?

 

Namun apa yang kemudian terjadi padanya di tempat itu, sungguh merupakan imajinasiku semata. Dalam cerpenku, pandangan Gary tiba-tiba terantuk pada seorang gadis cantik yang menarik hatinya. Dia mendekati gadis itu ketika sedang membaca sebuah majalah sepak bola. Sedangkan apa yang terjadi padaku, tertariklah hatiku ketika indra pandanganku tersangkut pada seorang gadis manis yang sedang membaca sebuah tabloid sepak bola. Tak jauh berbeda bukan? Aku sempat tersanjung karena saat dia kuperhatikan, dua atau tiga kali gadis itu mencuri pandang ke arahku dengan rona wajah ramahnya.

Jika wajah gadis dalam cerpen itu kutulis mirip Luna Maya, maka kubayangkan Gary setidak-tidaknya seganteng Fahri Albar, kendati tak tertulis dalam cerpen. Aku tak mau membayangkan Gary seperti Ariel Peterpan, karena menurutku si penyanyi band sama sekali tak pantas bersanding dengan Luna Maya. Mohon maaf kepada Mas Ariel dan Mbak Luna atas opini pribadiku itu. Dalam kenyataannya, gadis yang kulihat mungkin tak berbeda jauh dengan Shireen Sungkar, jika diibaratkan dengan artis muda yang lagi tenar sekarang. Yah, tipikal wajah yang lumayan kusuka sih. Aku sendiri tak bisa mengatakan diriku ini mirip artis siapa, jauhlah dibandingkan dengan Adly Fairuz yang pacarnya Shireen. Maklumlah, wajahku biasa saja sebagai seorang lelaki, padahal yang namanya artis kalau tidak cakep, kemungkinan besar penampilannya aneh atau jelek sekalian, seperti Tukul Arwana dan Budi Anduk. Yang jelas aku mungkin tak sebagus Fahri atau Adly, namun juga tak seremuk wajah Mas Tukul dan Mas Budi. Cuma aku tak akan menolak jika nasibku sebaik mereka di masa depan.

 

Dalam cerpenku terjadilah dialog, setelah Gary melihat sang gadis membuka majalah bergambar sampul Ricardo Kaka.

“Kamu suka Ricardo Kaka ya?” tanya Gary sambil menoleh ke arah pemilik wajah cantik itu. Sang gadis melihat lelaki muda di sampingnya sekilas, mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali melihat ke arah majalah. Gary tersenyum gemas melihat rona wajah sang gadis yang tersipu-sipu.

“Aku juga penggemarnya Kaka lho! Eh, kamu emang suka sepak bola juga? Apa kamu suka Kaka karena dia cakep aja?” tanya Gary kemudian.

Masih cukup baik kuingat apa yang terjadi dalam cerpenku, termasuk dialog seperti yang terkutip di atas. Selanjutnya, Gary dan gadis bernama Kartini itu dapat berkenalan. Sekarang kembali pada apa yang kualami sendiri. Bisa saja kutanya dia,

“Kamu suka nonton sepak bola ya? Sama denganku kalau begitu.” Ada lagi alternatif basa-basi lainnya,

“Kamu punya pemain dan tim sepak bola favorit nggak? Kalau aku…”

Sebenarnya mungkin lebih banyak kalimat pembuka yang terpikir olehku, ketimbang apa yang dikatakan Gary pada Kartini. Namun aku terus terang merasa gengsi, masak sih aku menirukan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam cerpen rekaanku? Ada setengah ketidakpercayaan bahwa apa yang dialami Gary bisa terjadi padaku di alam nyata. Jadi, ketika aku berada di samping si gadis manis, aku malah diam belaka tanpa suara. Padahal, apa salahnya aku bertindak seperti Gary ketika terpesona pada Kartini, hingga mampu mengajaknya bicara?

Gadis manis tersebut lantas beranjak pergi dari sisiku. Dia kemudian malah berada di tempatku semula memerhatikan dirinya. Aku sendiri masih merasakan berkecamuknya perasaan, antara menuruti hasrat hati atau menjaga harga diri yang enggan menirukan si Gary, tokoh ciptaanku. Beberapa saat kemudian, akhirnya dapat kutentukan sikapku.

“Okelah, aku tak akan sama dengan Gary, karena aku memang bukan dia. Tapi aku akan tetap menyapanya,” batinku dengan sebuah tekad. Aku langsung membalikkan tubuhku, bersiap diri untuk mendekatinya lagi. Namun ternyata gadis manis itu malah hilang, pergi berlalu tanpa kutahu. Aku lantas berjalan mengelilingi seluruh penjuru lantai tiga yang menjadi tempat berpijakku. Kutajamkan pandanganku, menatap ke semua arah mata angin, siapa tahu dia masih ada di sudut lain lantai tersebut, namun tak jua kutemukan dirinya. Maka segera kubeli sebuah majalah plus sebuah buku yang memang akan kubeli. Lantas aku bergegas melangkah turun ke lantai dua dan lantai satu, seraya tetap berharap masih dapat kulihat lagi sosok indah sang gadis. Ternyata sampai aku berada di tempat parkir mengambil motorku, tak pernah lagi kujumpai batang hidungnya.

Yah, sudahlah. Dia memang benar-benar telah pergi dan hanya dapat kusesali kebodohanku. Mungkin memang bukan nasib baikku untuk sekadar bisa berkenalan dengan seorang gadis manis. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku memang bukanlah tokoh dalam cerpenku. Seandainya aku tak sempat mengingat cerpen yang pernah kutulis itu, bisa saja ceritanya berbeda, kemudian bersukacitalah hatiku. Namun bagaimanapun, apa yang terjadi ternyata bisa juga menjadi sebuah cerita pendek yang baru lagi. Kendati aku bisa membayangkan bahwa para pembaca cerpen ini pasti akan membodoh-bodohkan aku atau malah menertawakan apa yang kualami.

 

# Tulisan ini bolehlah dianggap sebagai sekuel dari cerpen “When Gary Met Kartini”.

h1

Mayoritas Pemain Italia di Skuad Milan

Oktober 20, 2010

Ketika bertandang ke Santiago Bernabeu di ajang Liga Champion (19/10), AC Milan mengandalkan mayoritas pemain lokalnya. Tujuh orang pemain Italia menghuni skuad inti menghadapi Real Madrid, yaitu : Marco Amelia, Gianluca Zambrotta, Daniele Bonera, Alessandro Nesta, Luca Antonini, Gennaro Gattuso, dan Andrea Pirlo. Hanya ada empat pemain non-Italia, yaitu : Clarence Seedorf (Belanda), Ronaldinho (Brasil), Pato (Brasil), Zlatan Ibrahimovic (Swedia).

Sementara itu Madrid yang menjadi lawan Milan pun hanya menurunkan tiga pemain Spanyol, yaitu : Iker Casillas, Alvaro Arbeloa, dan Xabi Alonso. Sayangnya, Milan kalah 0-2 dari Madrid.

Apa yang ditampilkan Rossoneri mungkin menjadi sebuah anomali ketika dalam kompetisi antar klub Eropa -dalam satu dekade terakhir- sudah tidak ada pembatasan mutlak bagi pemain asing. Bahkan Inter Milan dari Italia menjadi juara Liga Champion musim 2009/10 silam tanpa seorang pun pemain italia di tim intinya. Jika Milan mampu kembali berprestasi di Eropa, barangkali publik sepak bola Italia bisa lebih merasakan kebanggaan ketimbang saat Inter yang berjaya tempo hari.

 

h1

Ujian untuk Mourinho

Oktober 20, 2010

Jose Mourinho memang layak menyebut dirinya sebagai ‘The Special One’. Dengan pemain-pemain yang sebelumnya tidak dikenal, Mourinho sukses membawa FC Porto (Portugal) menjadi juara Piala UEFA dan Liga Champion. Lalu di musim pertamanya menangani Chelsea (Inggris) dan Inter Milan (Italia), dia sukses menjadikan timnya meraih trofi juara liga. Chelsea mampu menjadi tim elit di Inggris dan Eropa sejak ditangani oleh Mourinho sekian tahun silam hingga kini ditangani oleh pelatih lain. Inter yang sudah puluhan tahun gagal menjadi juara Eropa pun berhasil memenangi Liga Champion 2009/10 sesudah beberapa musim terakhir hanya dapat menjadi jago kandang.

Pantas saja Real Madrid tergiur untuk mengontraknya dan berharap sentuhan tangan emasnya mampu membawa Los Merengues kembali berjaya. Florentino Perez, bos besar Madrid pasti sangat menghendaki Los Blancos di bawah Mourinho mampu menghentikan dominasi Barcelona di Spanyol dan meraih trofi Liga Champion ke-10 dalam sejarah tim asal ibukota Spanyol itu. Mourinho mesti bisa melewati ujian berat dari Perez yang selalu ingin Madrid cepat juara, meraih kemenangan dengan tampil indah, dan tak segan menggerecoki tugas pelatih setiap kali timnya gagal menang. Lelaki asal Portugal itu juga harus mampu menyelesaikan banyak masalah internal di tubuh Madrid yang membuat mereka sering tak berhasil juara, meski selama ini selalu diperkuat oleh pemain-pemain bintang yang jelas berkualitas. Mourinho mesti membuktikan dirinya masih pantas menyandang gelar sebagai ‘The Special One’.

# Tulisan ini dimuat di rubrik Interaktif majalah BolaVaganza No.108 – Oktober 2010.

 

h1

Kebahagiaan dan Perbuatan Baik

Oktober 17, 2010

Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik. (Mahabharata)