h1

Aku Bukan Tokoh Cerpenku

Oktober 22, 2010

Menjadi sesuatu yang sudah selayaknya, bahwa dalam setiap cerita pasti ada tokohnya, selain ada tema, peristiwa, alur, dan beragam syarat lainnya. Sudah jamak pula terjadi, yang menjadi tokoh tersebut adalah sang penulis cerita sendiri atau orang-orang yang dikenalnya. Kendati tak mustahil pula bahwa tokoh tersebut adalah murni hasil rekaan sang penulis. Selama ini aku pun begitu ketika menciptakan tokoh dalam cerita-ceritaku. Ada yang terinspirasi oleh diriku sendiri, pengalaman orang lain, serta imajinasi belaka. Demikian pula peristiwa dalam ceritanya, ada yang memang pernah terjadi, terinspirasi oleh kejadian nyata, atau semata-mata hasil khayalan. Namun apakah akan menjadi sesuatu yang biasa, jika kualami hal serupa dengan apa yang dialami oleh tokoh rekaanku -dalam sebuah peristiwa- yang terdapat dalam cerita pendekku, yang belum pernah terjadi di alam nyataku?

 

***

Dalam sebuah cerpenku yang bertajuk ‘When Gary Met Kartini’ tersebutlah tokoh Gary. Beberapa saat setelah cintanya ditolak oleh gadis yang sudah lama diincarnya, pergilah dia ke tempat favoritnya, yaitu sebuah toko buku terbesar di kotanya. Tentang kegemaran Gary ke toko buku, terus terang hal itu terinspirasi oleh diriku sendiri. Termasuk kebiasaannya untuk sekadar membaca berbagai buku, sambil curi-curi pandang ke berbagai arah mata angin. Biasanya ada saja wajah-wajah menarik para gadis, yang bisa diduga mempunyai hobi membaca. Jika tak punya hobi itu, ngapain juga mereka ada di toko buku?

 

Namun apa yang kemudian terjadi padanya di tempat itu, sungguh merupakan imajinasiku semata. Dalam cerpenku, pandangan Gary tiba-tiba terantuk pada seorang gadis cantik yang menarik hatinya. Dia mendekati gadis itu ketika sedang membaca sebuah majalah sepak bola. Sedangkan apa yang terjadi padaku, tertariklah hatiku ketika indra pandanganku tersangkut pada seorang gadis manis yang sedang membaca sebuah tabloid sepak bola. Tak jauh berbeda bukan? Aku sempat tersanjung karena saat dia kuperhatikan, dua atau tiga kali gadis itu mencuri pandang ke arahku dengan rona wajah ramahnya.

Jika wajah gadis dalam cerpen itu kutulis mirip Luna Maya, maka kubayangkan Gary setidak-tidaknya seganteng Fahri Albar, kendati tak tertulis dalam cerpen. Aku tak mau membayangkan Gary seperti Ariel Peterpan, karena menurutku si penyanyi band sama sekali tak pantas bersanding dengan Luna Maya. Mohon maaf kepada Mas Ariel dan Mbak Luna atas opini pribadiku itu. Dalam kenyataannya, gadis yang kulihat mungkin tak berbeda jauh dengan Shireen Sungkar, jika diibaratkan dengan artis muda yang lagi tenar sekarang. Yah, tipikal wajah yang lumayan kusuka sih. Aku sendiri tak bisa mengatakan diriku ini mirip artis siapa, jauhlah dibandingkan dengan Adly Fairuz yang pacarnya Shireen. Maklumlah, wajahku biasa saja sebagai seorang lelaki, padahal yang namanya artis kalau tidak cakep, kemungkinan besar penampilannya aneh atau jelek sekalian, seperti Tukul Arwana dan Budi Anduk. Yang jelas aku mungkin tak sebagus Fahri atau Adly, namun juga tak seremuk wajah Mas Tukul dan Mas Budi. Cuma aku tak akan menolak jika nasibku sebaik mereka di masa depan.

 

Dalam cerpenku terjadilah dialog, setelah Gary melihat sang gadis membuka majalah bergambar sampul Ricardo Kaka.

“Kamu suka Ricardo Kaka ya?” tanya Gary sambil menoleh ke arah pemilik wajah cantik itu. Sang gadis melihat lelaki muda di sampingnya sekilas, mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali melihat ke arah majalah. Gary tersenyum gemas melihat rona wajah sang gadis yang tersipu-sipu.

“Aku juga penggemarnya Kaka lho! Eh, kamu emang suka sepak bola juga? Apa kamu suka Kaka karena dia cakep aja?” tanya Gary kemudian.

Masih cukup baik kuingat apa yang terjadi dalam cerpenku, termasuk dialog seperti yang terkutip di atas. Selanjutnya, Gary dan gadis bernama Kartini itu dapat berkenalan. Sekarang kembali pada apa yang kualami sendiri. Bisa saja kutanya dia,

“Kamu suka nonton sepak bola ya? Sama denganku kalau begitu.” Ada lagi alternatif basa-basi lainnya,

“Kamu punya pemain dan tim sepak bola favorit nggak? Kalau aku…”

Sebenarnya mungkin lebih banyak kalimat pembuka yang terpikir olehku, ketimbang apa yang dikatakan Gary pada Kartini. Namun aku terus terang merasa gengsi, masak sih aku menirukan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam cerpen rekaanku? Ada setengah ketidakpercayaan bahwa apa yang dialami Gary bisa terjadi padaku di alam nyata. Jadi, ketika aku berada di samping si gadis manis, aku malah diam belaka tanpa suara. Padahal, apa salahnya aku bertindak seperti Gary ketika terpesona pada Kartini, hingga mampu mengajaknya bicara?

Gadis manis tersebut lantas beranjak pergi dari sisiku. Dia kemudian malah berada di tempatku semula memerhatikan dirinya. Aku sendiri masih merasakan berkecamuknya perasaan, antara menuruti hasrat hati atau menjaga harga diri yang enggan menirukan si Gary, tokoh ciptaanku. Beberapa saat kemudian, akhirnya dapat kutentukan sikapku.

“Okelah, aku tak akan sama dengan Gary, karena aku memang bukan dia. Tapi aku akan tetap menyapanya,” batinku dengan sebuah tekad. Aku langsung membalikkan tubuhku, bersiap diri untuk mendekatinya lagi. Namun ternyata gadis manis itu malah hilang, pergi berlalu tanpa kutahu. Aku lantas berjalan mengelilingi seluruh penjuru lantai tiga yang menjadi tempat berpijakku. Kutajamkan pandanganku, menatap ke semua arah mata angin, siapa tahu dia masih ada di sudut lain lantai tersebut, namun tak jua kutemukan dirinya. Maka segera kubeli sebuah majalah plus sebuah buku yang memang akan kubeli. Lantas aku bergegas melangkah turun ke lantai dua dan lantai satu, seraya tetap berharap masih dapat kulihat lagi sosok indah sang gadis. Ternyata sampai aku berada di tempat parkir mengambil motorku, tak pernah lagi kujumpai batang hidungnya.

Yah, sudahlah. Dia memang benar-benar telah pergi dan hanya dapat kusesali kebodohanku. Mungkin memang bukan nasib baikku untuk sekadar bisa berkenalan dengan seorang gadis manis. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku memang bukanlah tokoh dalam cerpenku. Seandainya aku tak sempat mengingat cerpen yang pernah kutulis itu, bisa saja ceritanya berbeda, kemudian bersukacitalah hatiku. Namun bagaimanapun, apa yang terjadi ternyata bisa juga menjadi sebuah cerita pendek yang baru lagi. Kendati aku bisa membayangkan bahwa para pembaca cerpen ini pasti akan membodoh-bodohkan aku atau malah menertawakan apa yang kualami.

 

# Tulisan ini bolehlah dianggap sebagai sekuel dari cerpen “When Gary Met Kartini”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: