Archive for Desember, 2010

h1

Pasca Fenomena Timnas di Piala AFF 2010

Desember 31, 2010

Wajah duka anggota skuad Merah Putih. (republika.co.id)

Kendati timnas Indonesia kembali gagal juara, namun aksi Firman Utina dkk sepanjang bulan Desember di Piala AFF 2010 telah menjadi fenomena tersendiri di negara kita. Kemenangan mengesankan sejak babak penyisihan hingga semifinal membuat begitu banyak orang Indonesia menengok dan tertarik untuk mengikuti kiprah skuad Merah Putih. Demikian pula media massa pun mengeksposnya dengan luar biasa. Padahal selama ini sudah begitu kerap tim sepak bola kita bertanding mengikuti babak kualifikasi kejuaraan dan turnamen, namun adem ayem saja tampaknya karena memang biasanya berujung pada kegagalan. Salah satu hal yang luar biasa tersebut, banyak orang yang kini menulis tentang timnas Garuda dalam beragam aspeknya, sesuatu yang sebelumnya hanya dilakukan oleh segelintir orang.

Sejumlah orang mengatakan bahwa apa yang baru terjadi adalah momentum kebangkitan sepak bola nasional. Tak kurang dari Presiden SBY sendiri mengatakan hal itu setelah menyaksikan Piala AFF 2010. Pada sisi lain memang ada fakta yang sedikit melegakan Pak Presiden karena ternyata timnas mampu tiga kali menang, yaitu atas Filipina di dua semifinal dan Malaysia di final kedua. Padahal sebelumnya setiap kali beliau menonton langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, timnas selalu kalah (yang terakhir dari Uruguay sekian bulan silam). Namun wajar pula jika kita masih cukup pesimis melihat perkembangan timnas selanjutnya ketika sang ketua umum PSSI yang keras hati dan kepalanya tersebut masih selalu melontarkan kata-kata negatif setiap kali dikritik.

Masak iya puluhan ribu orang di Senayan yang meneriakkan ‘Nurdin turun!’ ada yang membayarnya? Bukankah mereka justru para pembeli tiket (yang dengan susah payah didapatkan) yang membuat kas PSSI menjadi kian gemuk? Bukannya diberi ucapan terima kasih, mereka justru dituduh yang bukan-bukan oleh si ketua umum. Siapa pula yang akan sanggup membayar begitu banyak orang yang melantunkan nada serupa di berbagai situs jejaring sosial?

Selanjutnya saya ingin sekadar menampilkan kembali tulisan saya pada 13 Desember 2007 (yang tercantum dalam blog ini pula), siapa tahu masih relevan dengan saat ini dan mampu menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan nasib sepak bola Indonesia di masa depan.

Kegagalan Momentum

Penampilan trengginas timnas Indonesia di Piala Asia pada bulan Juli 2007 sempat memberikan secercah harapan bahwa sepak bola kita bakal segera bangkit, kendati timnas gagal lolos ke babak selanjutnya. Namun sayang, PSSI gagal memanfaatkan momentum tersebut. Malah sang ketua umum masuk penjara lagi, ngotot mempertahankan jabatannya meski jelas melanggar peraturan, dan konsentrasi PSSI pada timnas pun tak bisa maksimal lagi. Mestinya, pasca Piala Asia para pemain bisa kembali melakukan pelatnas secara berkala dan melakukan pertandingan uji coba internasional dengan tim-tim berkualitas. Apalagi, di sela-sela ketatnya jadwal kompetisi Liga Indonesia, sebenarnya sempat ada liburan selama bulan Ramadan hingga beberapa hari selepas lebaran. Ketika Guam yang semula menjadi calon lawan kita mundur dan Indonesia otomatis lolos ke babak selanjutnya, pelatnas tetap tidak digelar. Akibatnya para pemain senior seperti sudah lupa bagaimana bermain bagus seperti saat tampil di Piala Asia lalu. Sementara itu para pemain U-23 yang sudah tampil lumayan saat timnas beruji coba di Argentina juga berantakan konsentrasi dan fisiknya sepulangnya ke tanah air, karena mesti kembali bermain bagi klubnya, padahal tugas di timnas belumlah usai. Konyolnya, ternyata tidak terjadi komunikasi yang baik antara Kolev sebagai pelatih timnas dengan para pelatih klub. Padahal, apa susahnya bagi PSSI untuk menjembatani Kolev dengan mereka? Maka, hasil akhirnya adalah kegagalan menyakitkan kembali dialami timnas, baik di Pra Piala Dunia maupun di SEA Games. Jika Kolev dianggap bersalah dan mesti mundur dari jabatannya sebagai wujud tanggung jawabnya, kapan sang ketua umum dan kroninya merasa bersalah, lantas mundur pula dari jabatannya? Mengapa tak jua memberi kesempatan kepada yang lain untuk membangun sepak bola nasional, ketika catatan kegagalan sudah kian menumpuk?

 Tak lupa, Selamat Tahun Baru 2011, semoga segala sesuatunya bakal lebih baik di tahun mendatang, termasuk tim sepak bola kita pun akan berjaya.

 

 

 

h1

Alasan Penempatan Nomor Dada Timnas

Desember 28, 2010

 

Apakah yang membedakan kostum timnas Indonesia dengan Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura yang sama-sama disponsori oleh Nike? Baiklah, warna dan motifnya jelas tak sama. Demikian pula gambar Garuda Pancasila di dada sebelah kiri pun sudah pasti tiada yang menyamainya. Tapi ada satu hal lagi yang khas dimiliki kostum yang dipakai oleh Irfan Bachdim dkk, yaitu penempatan nomor dada yang berada di sebelah kanan atas, di atas logo sponsor. Dalam kostum Malaysia dan ketiga tim lainnya, nomor dada terletak di tengah-tengah, sedikit di bawah, di antara logo sponsor dan bendera negara/lambang organisasi.

Ada sejumlah alasan yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Pertama, skuad Merah Putih mungkin terinspirasi sukses Spanyol tatkala menjadi juara Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Selain warna kaos yang kebetulan sama-sama merah, nomor dada David Villa dkk pun berada di sebelah kanan atas. Kedua, timnas Piala AFF 2010 mungkin pula terinspirasi keberhasilan kesebelasan Indonesia ketika terakhir kali menjadi juara, yaitu pada ajang SEA Games 1991 di Manila Filipina. Widodo C Putro dkk saat itu mengenakan kostum merah putih dengan nomor dada terletak di sebelah kanan atas, persis dengan kostum teranyar timnas masa kini.

Inspirasi tersebut diharapkan mampu menjadi tambahan motivasi bagi tim asuhan Alfred Riedl untuk merengkuh gelar yang terbaik di Piala AFF 2010. Pada pertandingan final pertama di Stadion Bukit Jalil (26/12) skuad Garuda memang telah takluk 0-3 dari Harimau Malaya. Namun masih ada final kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno (29/12) yang semoga saja membawa keberuntungan bagi Firman Utina dkk untuk membalikkan keadaan dan mampu menjadi juara di Asia Tenggara pada akhirnya. Insya Allah, amin ya rabbal ‘alamin…

 

h1

Pencetak Gol Timnas Lebih Beragam

Desember 15, 2010

Ketiadaan nama Boaz Solossa di sektor depan timnas Indonesia di Piala AFF 2010 ternyata tidak menjadi masalah berarti. Hal itu telah mulai diperlihatkan dalam pertandingan ujicoba menjelang turnamen. Ada sejumlah pemain yang mampu membobol gawang lawan, yaitu : Cristian Gonzales, M.Ridwan, Oktovianus Maniani, Bambang Pamungkas, Yongki Aribowo, dan Firman Utina.

Setelah babak penyisihan Piala AFF 2010 usai, tercatat ada tujuh pemain Indonesia yang sukses mencetak gol. Irfan Bachdim, Firman Utina, M.Ridwan, Arif Suyono, dan Bambang Pamungkas masing-masing membuat dua gol, sementara Cristian Gonzales dan Oktovianus Maniani membuat satu gol. Artinya tim besutan Alfred Riedl kini memiliki sejumlah pemain yang mampu membobol gawang lawan, tidak tergantung pada satu dua orang semata. Bahkan hal itu tidak hanya menjadi monopoli para penyerang, seperti : Irfan, Gonzales, dan Bambang. Firman, Ridwan, Arif, dan Okto adalah pemain di lini tengah.

Tidak mustahil, koleksi gol yang bertambah akan membawa salah satu pemain skuad Merah Putih menjadi pencetak gol terbanyak turnamen. Semoga saja para pemain timnas semakin lihai mencetak gol, mampu melanjutkan kemenangan atas semua lawan, dan akhirnya meraih Piala AFF pertama bagi Indonesia, yang akan menjadi kado manis di akhir tahun 2010.

h1

Perjalanan Belum Tuntas

Desember 12, 2010

Turnamen belum usai dan kita belum mendapatkan apa-apa. Hal itu selalu diingatkan oleh Alfred Riedl setiap kali skuad Merah Putih meraih kemenangan di babak penyisihan Piala AFF 2010. Sebenarnya layak saja jika kita bergembira lebih ketimbang biasanya melihat aksi mengesankan Maman Abdurahman dkk ketika menggasak Malaysia 5-1, Laos 6-0, dan Thailand 2-1. Apalagi wajah-wajah baru di timnas seperti Oktovianus Maniani, Irfan Bachdim, dan Cristian Gonzales pun bermain gemilang. Tapi memang perjalanan belum tuntas dan kita belum saatnya puas, masih ada hadangan Filipina di babak semifinal yang mesti dilewati. Jika kita sukses lolos ke partai puncak, perlawanan dari Vietnam atau Malaysia pun telah menanti. Pantas saja jika Alfred terlihat dingin menyambut kemenangan timnya, lantaran perjuangan timnas memang masih berat untuk mendapatkan gelar. Semoga saja kemenangan Irfan Bachdim dkk terus berlanjut, motivasi yang besar tetap terpelihara, dan impian menjadi yang terbaik di Asia Tenggara pun menjadi kenyataan. Amin…