Archive for Maret, 2011

h1

Liga Ilegal Sponsor Internasional

Maret 24, 2011

 

Liga Primer Indonesia (LPI) telah berlangsung beberapa bulan dengan 19 klub terlibat di dalamnya. Dengan segala kekurangannya di sana-sini, masih ada kelebihan yang dimiliki LPI. Selain semua klub peserta LPI tidak dibiayai oleh APBD seperti mayoritas klub peserta Indonesia Super League (ISL), ada sejumlah perusahaan multinasional yang ternyata bersedia bermitra kerja dengan LPI. Sebut saja nama Coca-Cola, Air Asia, Microsoft, atau Rexona/Clear for Men (Unilever) yang terlihat di stadion-stadion saat siaran langsung LPI di televisi. Coca-Cola bahkan menjadi sponsor utama LPI.

Jadi, meski oleh pengurus PSSI disebut sebagai liga sepak bola ilegal, namun sejumlah sponsor LPI adalah merek internasional. Silakan PT Liga Indonesia berkaca, ada berapa banyak perusahaan multinasional yang sudi menjadi sponsor ISL? Selain itu, dengan tidak hanya disiarkan secara eksklusif oleh satu stasiun televisi, maka pertandingan LPI potensial lebih banyak disaksikan oleh pemirsa, terlepas dari kualitas pertandingannya yang mungkin sebagian besar masih sama saja atau bahkan di bawah ISL.

Nama beberapa pemain dan pelatih asing LPI pun terkesan lebih mentereng, seperti : Lee Hendrie (mantan pemain Liga Primer Inggris), Amaral (mantan pemain nasional Brasil), Lionel Charbonier (mantan pemain Prancis di Piala Dunia 1998), dan Jose Basulado (mantan pemain Argentina di Piala Dunia 1990). Dan sebelum ISL mengundang wasit asing, LPI telah lebih dahulu menggunakan jasa wasit asing.

Yang jelas, LPI tidak layak dipandang sebelah mata dan salut bagi Konsorsium LPI yang sanggup menjalankan kompetisi, kendati dengan banyak rintangan yang menghadang jalan. Semoga saja LPI bisa menjadi solusi alternatif bagi sepak bola nasional yang lebih maju. Masalah legalitas LPI sebagai kompetisi yang belum mendapat pengakuan dari PSSI dan FIFA barangkali akan mendapatkan solusi ketika terjadi pergantian pucuk kepemimpinan di PSSI, yang semoga bakal menjadi nyata pada bulan April 2011 nanti.

Iklan
h1

Cassano Berharap Seperti Pandev

Maret 14, 2011

Kepindahan Antonio Cassano dari Sampdoria ke AC Milan pada jendela transfer musim dingin 2010/11 hampir sama dengan apa yang terjadi dengan Goran Pandev pada musim 2009/10 silam. Cassano menerima tawaran hijrah ke Milan setelah selama sekian bulan dilarang tampil oleh Sampdoria sebagai bentuk hukuman karena menghina presiden klub tersebut. Sementara itu musim lalu Pandev pun berganti kostum Inter Milan sesudah dilarang tampil pula oleh Lazio meski dengan alasan berbeda. Pandev benar-benar mendapatkan berkah dapat bergabung dengan Nerazurri karena tim asuhan Jose Mourinho itu sukses merebut gelar juara Liga Italia, Piala Italia, dan Liga Champion Eropa pada akhir musim 2009/10.

Tampaknya layak saja jika Cassano berharap nasibnya bisa seperti Pandev ketika memperkuat Rossoneri sejak paruh kedua musim ini. Kebetulan Milan sedang memimpin klasemen sementara Serie A dan masih bertahan di Piala Italia maupun Liga Champion Eropa. Kendati pada laga-laga awal belum pernah diturunkan sejak menit pertama, Cassano telah menunjukkan kontribusi positifnya bagi tim asuhan Massimiliano Allegri. Semoga saja niat Cassano untuk memperbaiki dirinya bersama Massimo Ambrosini dkk akan memperbaiki pula nasib Milan yang sudah terlalu lama puasa menjadi juara. Semoga momentumnya akan tiba pada akhir musim nanti.

 

* Tulisan ini dimuat di rubrik ‘Interaktif’ majalah BolaVaganza No.113/Maret 2011.

 

Catatan tambahan :

Sayangnya AC Milan akhirnya gagal lolos ke babak perempat final Liga Champion Eropa 2010/11 setelah hanya bermain imbang 0-0 dengan Tottenham Hotspur pada leg kedua babak 16 besar (10/3) dan kalah dengan skor agregat 0-1.

h1

Apresiasi untuk Pemain Muda Terbaik Indonesia

Maret 14, 2011

Majalah FourFourTwo indonesia edisi Februari 2011 menampilkan ’10 Pemain Muda Terbaik Indonesia 2010’. Hal itu akan menjadi tradisi yang diniatkan berlanjut di masa yang akan datang. Salah satu tujuannya adalah memacu para pemain muda untuk meningkatkan kemampuan mereka, sementara kesempatan sebagian dari mereka bermain di klub masih terbilang minim. Oktovianus Maniani menjadi pemain yang berada di posisi puncak untuk edisi tahun 2010.

Salut kepada Oktovianus Maniani yang telah dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Indonesia 2010 oleh FFT Indonesia. Selamat pula kepada Kurnia Meiga, Dendi Santoso, Yongki Aribowo, Irfan Bachdim, Syamsir Alam, Lukas Mandowen, Johan Juansyah, Andik Vermansyah, dan Munadi yang menempati urutan berikutnya. Apresiasi layak diberikan kepada redaktur FFT Indonesia yang telah membuat tradisi baru yang baik dengan pemilihan tersebut. Semoga di saat selanjutnya PSSI lebih serius membina pemain muda, para pelatih klub lebih memberi kepercayaan terhadap para pemain muda, yang akan berujung pada melimpahnya stok pemain muda kita yang berkualitas untuk timnas Garuda. Sebagai pemain muda terbaik saat ini, sudah sewajarnya kesepuluh nama di atas bakal menjadi pemain andalan timnas U-23 di SEA Games nanti, jika sesuai dengan skema yang dibangun pelatih Alfred Riedl. Semoga tidak seorang pun dari mereka yang menjadi korban intrik politik antara PSSI dan LPI dengan tidak dilarang mengenakan kostum Merah Putih kebanggaan dengan lambang Garuda di dada.

 

* Tulisan ini dimuat di rubrik ’Surat’ majalah ’FFT Indonesia’ edisi Maret 2011.

h1

Mungkin Nurdin Halid Ingin Jadi Legenda

Maret 14, 2011

Mengapa Nurdin Halid keukeh pisan atau ngeyel tenan tetap menjadi ketua umum PSSI? Sudah banyak argumentasi disampaikan oleh siapa saja. Bisa jadi karena posisi itu menjadikannya semakin berkuasa dan kaya raya. Mungkin pula hal itu juga untuk menjadi alat kampanye yang efektif bagi partai politik tercintanya agar menjadi pemenang Pemilu dan tuan besarnya supaya sukses menjadi presiden.

Ada sebuah kalimat dalam kitab Mahabharata yang tampaknya dipercaya oleh Nurdin Halid berlaku pada dirinya, yaitu : ’Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain.’ Maka tidak mustahil bahwa dalam hati kecilnya dia ingin pula menjadi seorang legenda. Mungkin ada yang bakal bertanya, bagaimana seseorang yang dibenci banyak orang bisa menjadi legenda? Bukankah di dunia ini telah banyak tokoh antagonis yang menjadi legenda? Siapa yang tidak mengenal nama Prabu Rahwana, Patih Sengkuni, Lex Luthor, dan The Joker; atau Hitler, Mussolini, Westerling, dan Saddam Husein? Mereka adalah tokoh antagonis yang legendaris, baik dalam dunia fiksi maupun dunia nyata. Kendati sebagian besar orang menganggap mereka adalah penjahat licik nan kejam, tapi justru ada segelintir orang yang menjadikan mereka pahlawan. Nurdin Halid jelas sudah mulai merintis hal itu. Dia pernah terbukti menjadi koruptor dan dua kali masuk penjara. Setelah bebas pun dia diindikasikan tetap melakukan korupsi dan terlibat kasus suap. Lalu dia telah pula melanggar peraturan dari FIFA maupun peraturan yang berlaku di negara ini. Dia juga telah bertindak sewenang-wenang melarang Irfan Bachdim dan kawan-kawan membela timnas, mencabut lisensi para pelatih dan aparat pertandingan yang terlibat LPI, bahkan menghukum para pemain asing hanya gara-gara mereka memilih tidak bermain di ISL. Bisa dicatat pula, sudah berapa kali saja kata-kata Nurdin Halid memanaskan telinga sekaligus menyakitkan hati para pendengarnya (yang diikuti pula oleh antek-anteknya, seperti Nugraha Besoes dan Togar M.Nero).

Apakah semua kejahatan tersebut belum cukup untuk menyebutnya sebagai tokoh antagonis? Yang jelas, dia tetap bertahan menjadi ketua umum PSSI, meski sudah gagal menghadirkan prestasi dan dicerca banyak pihak, merupakan ‘catatan prestasi’ tersendiri bagi dirinya. Mungkin suatu saat Nurdin Halid akan benar-benar menjadi seorang tokoh antagonis yang legendaris, jika terpilih kembali di Bali dan jelas semakin banyak orang yang kian membenci dirinya. Barangkali dia tidak tahu bahwa dalam Mahabharata pun terdapat kalimat sebagai berikut : ‘Kejahatan hanya akan berujung pada kehancuran diri sendiri.’

* Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana pada 26 Februari 2011