h1

Mungkin Nurdin Halid Ingin Jadi Legenda

Maret 14, 2011

Mengapa Nurdin Halid keukeh pisan atau ngeyel tenan tetap menjadi ketua umum PSSI? Sudah banyak argumentasi disampaikan oleh siapa saja. Bisa jadi karena posisi itu menjadikannya semakin berkuasa dan kaya raya. Mungkin pula hal itu juga untuk menjadi alat kampanye yang efektif bagi partai politik tercintanya agar menjadi pemenang Pemilu dan tuan besarnya supaya sukses menjadi presiden.

Ada sebuah kalimat dalam kitab Mahabharata yang tampaknya dipercaya oleh Nurdin Halid berlaku pada dirinya, yaitu : ’Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain.’ Maka tidak mustahil bahwa dalam hati kecilnya dia ingin pula menjadi seorang legenda. Mungkin ada yang bakal bertanya, bagaimana seseorang yang dibenci banyak orang bisa menjadi legenda? Bukankah di dunia ini telah banyak tokoh antagonis yang menjadi legenda? Siapa yang tidak mengenal nama Prabu Rahwana, Patih Sengkuni, Lex Luthor, dan The Joker; atau Hitler, Mussolini, Westerling, dan Saddam Husein? Mereka adalah tokoh antagonis yang legendaris, baik dalam dunia fiksi maupun dunia nyata. Kendati sebagian besar orang menganggap mereka adalah penjahat licik nan kejam, tapi justru ada segelintir orang yang menjadikan mereka pahlawan. Nurdin Halid jelas sudah mulai merintis hal itu. Dia pernah terbukti menjadi koruptor dan dua kali masuk penjara. Setelah bebas pun dia diindikasikan tetap melakukan korupsi dan terlibat kasus suap. Lalu dia telah pula melanggar peraturan dari FIFA maupun peraturan yang berlaku di negara ini. Dia juga telah bertindak sewenang-wenang melarang Irfan Bachdim dan kawan-kawan membela timnas, mencabut lisensi para pelatih dan aparat pertandingan yang terlibat LPI, bahkan menghukum para pemain asing hanya gara-gara mereka memilih tidak bermain di ISL. Bisa dicatat pula, sudah berapa kali saja kata-kata Nurdin Halid memanaskan telinga sekaligus menyakitkan hati para pendengarnya (yang diikuti pula oleh antek-anteknya, seperti Nugraha Besoes dan Togar M.Nero).

Apakah semua kejahatan tersebut belum cukup untuk menyebutnya sebagai tokoh antagonis? Yang jelas, dia tetap bertahan menjadi ketua umum PSSI, meski sudah gagal menghadirkan prestasi dan dicerca banyak pihak, merupakan ‘catatan prestasi’ tersendiri bagi dirinya. Mungkin suatu saat Nurdin Halid akan benar-benar menjadi seorang tokoh antagonis yang legendaris, jika terpilih kembali di Bali dan jelas semakin banyak orang yang kian membenci dirinya. Barangkali dia tidak tahu bahwa dalam Mahabharata pun terdapat kalimat sebagai berikut : ‘Kejahatan hanya akan berujung pada kehancuran diri sendiri.’

* Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana pada 26 Februari 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: