Archive for Mei, 2011

h1

Juaranya Sudah Pasti Sebelum Final Liga Champion Berlangsung

Mei 24, 2011


Manchester United dan Barcelona bakal mengulangi final Liga Champion 2008/09, yang waktu itu dimenangkan oleh Barca dengan skor 2-0 di Stadion Olimpico Roma. Pertemuan ulangan juara Liga Inggris dan Liga Spanyol musim ini tersebut akan berlangsung di Stadion Wembley London pada 28 Mei 2011 nanti. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, ada warna yang sama dalam kostum utama kedua tim : merah. Julukan kedua tim juga jelas menunjukkan hal itu, Red Devils/Setan Merah (United) dan Blaugrana/Biru Merah (Barcelona). Dua tahun silam Barca dengan kostum biru merah kebanggaannya yang berjaya mengandaskan United dengan kostum keduanya (putih putih). Siapa pun yang memakai kostum utama bisa jadi yang akan menjadi pemenangnya musim ini. Benarkah seperti itu? Kita lihat saja nanti.

Tapi, entah tim asuhan Sir Alex Ferguson atau Pep Guardiola yang akhirnya meraih trofi, sebenarnya sang juara sudah bisa dipastikan pasca-semifinal, bahkan sebelum pertandingan final dilangsungkan. Mengapa demikian? Lantaran sponsor kostum United dan Barca ternyata sama-sama bernama Nike. Dalam lima tahun terakhir, tim Nike empat kali sukses menjadi juara, yaitu : Barcelona (2006 dan 2009), Manchester United (2008), dan Inter Milan (2010). Tim Adidas hanya sekali melakukannya lewat AC Milan (2007). Dengan demikian Nike berhasil meneruskan dominasinya dalam ajang antar klub terbaik di Eropa.

Sebenarnya siapa pun yang kalah nanti, mereka tetap sudah merasakan kebahagiaan mengangkat piala musim ini. United dengan trofi Liga Premier Inggris, sementara Barca dengan trofi La Liga Spanyol. Namun bagaimanapun mengangkat trofi Liga Champion akan tetap menjadi suka cita dan kebanggaan tersendiri yang sarat dengan sensasi.

h1

Sukses AC Milan Meraih Scudetto ke-18

Mei 24, 2011

AC Milan sudah memastikan scudetto ke-18 dalam sejarah klub tersebut pada giornata ke-36 musim 2010/11 ketika bermain imbang dengan AS Roma 0-0 di Olimpico (7/5). Penyerahan trofi juara Serie A telah dilakukan pada giornata ke-37 dengan hasil kemenangan Milan atas Cagliari 4-1 di San Siro (14/5). Rossoneri terakhir kali juara Liga Italia pada musim 2003/04 dan meraih trofi Liga Champion, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Klub pada tahun 2007. Sudah sekian musim Milan mengalami puasa gelar, sehingga kesuksesan menjadi juara Italia disambut dengan sangat suka cita oleh Tim Merah Hitam beserta Milanisti di seluruh dunia. Massimilano Allegri sebagai pelatih merupakan kunci utama keberhasilan Milan musim ini. Adriano Galliani yang mampu menghadirkan sejumlah pemain baru, seperti : Zlatan Ibrahiovic, Robinho, Kevin-Prince Boateng, Mark van Bommel, dan Antonio Cassano juga layak dipuji kiprahnya. Sinergi apik sang pelatih dengan semua pemain –lama maupun baru- menghasilkan sesuatu yang konkrit dan positif, yaitu scudetto.

Salah satu kehebatan Allegri adalah kecerdasannya memanfaatkan materi pemain yang dimilikinya dengan skema yang tepat. Musim ini Milan tampak tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap sejumlah nama seperti beberapa musim sebelumnya. Pada paruh musim pertama, seakan sempat terjadi dependensi pada sosok Ibra, tapi ketika Ibra absen, nyatanya Clarence Seedorf dkk tetap meraih kemenangan. Demikian pula ketika Alessandro Nesta atau Andrea Pirlo absen –yang di masa lalu bisa menjadi masalah besar- tak lagi menjadi kendala, lantaran selalu ada solusi alternatif dari Allegri. Bahkan Ronaldinho akhirnya dilepas Milan dengan ringan hati di pertengahan musim dan Pirlo juga siap dijual karena perannya tak lagi signifikan seperti dulu. Selain hadirnya pemain anyar, pemain lawas Milan juga tetap besar peranannya. Senioritas Christian Abbiati, Alessandro Nesta, Gianluca Zambrotta, Genaro Gattuso, dan Clarence Seedorf, yang diimbangi dengan semakin matangnya permainan Thiago Silva dan Pato, mampu bersatu padu dengan Robinho, Ibrahimovic, Prince, Mark van Bommel, dan Antonio Cassano.

Satu hal yang unik dari Rossoneri musim ini adalah jabatan kapten tim yang tidak hanya dimonopoli oleh seorang pemain. Selain Massimo Ambrosini sebagai kapten pertama, tercatat ada nama Gattuso, Pirlo, Seedorf, dan Nesta yang juga pernah menjadi kapten Milan. Kendati berganti-ganti pemimpin di lapangan, namun tak ada masalah dengan skema permainan Milan. Jika ada hal yang patut disayangkan barangkali adalah kandasnya Milan di tangan Tottenham Hotspur di perdelapan final Liga Champion dan keoknya Milan dari Palermo di semifinal Piala Italia. Agar sukses musim ini bisa berlanjut musim depan, sejumlah pemain senior mungkin tidak diperpanjang kontraknya dan peremajaan pemain di San Siro mesti digiatkan lagi. Thiago Silva (27), Ignazio Abate (25), Alexander Merkel (19), Prince (24), Robinho (27), dan Pato (22) memerlukan lebih banyak teman sebaya agar skuad Milan lebih segar dan kompetitif.

h1

Kita Berusaha Lebih Baik

Mei 24, 2011

Jika kita berusaha menjadi lebih baik daripada kita sekarang, semua yang ada di sekeliling kita pun menjadi lebih baik. (Paulo Coelho)

h1

Testimoni Sebelas Tahun

Mei 17, 2011

Dulu, ketika mereka datang dan akhirnya memilihku, tentu saja begitu girang hatiku karena berarti aku telah bertemu dengan jodohku. Sebenarnya Enrico, anak bungsu keluarga Bernardo, lebih suka warna biru. Tapi kebetulan sekali, rekan seangkatanku yang berwarna biru tak berkenan di hatinya.

“Sesungguhnya aku kan penggemar warna biru, tapi birunya kok kurang apik ya? Sepertinya yang warna hitam lebih bagus, kesannya elegan dan mewah. Bagaimana pendapat Mama tercinta?” tanya Enrico pada mamanya.

“Mama sih terserah saja pilihan kamu, Rico. Tanya saja kakak-kakakmu itu, bagaimana pendapat mereka?” ujar Nyonya Bernardo. Ternyata semua kakak Enrico setuju dengan pilihan adiknya, yang rupanya memang jarang salah dalam memilih barang bagus. Maka aku segera diantarkan ke rumah keluarga Bernardo setelah proses administrasinya usai. Tak lupa kuminta doa dari teman-temanku yang belum laku, semoga hidupku akan lebih membahagiakan di tempat yang baru. Kudoakan pula, semoga teman-temanku pun segera mendapat majikan baru yang memuliakan hidup mereka di masa mendatang.

Keluarga Bernardo merupakan sebuah keluarga yang sederhana. Tuan Bernardo, yang berdarah Italia dari pihak ibunya, sudah lama wafat. Di rumah itu tinggal Nyonya Bernardo bersama ketiga anak perempuannya, Sisca, Erica, dan Monica, serta si bungsu Enrico. Anak tertua keluarga Bernardo, Franco, sudah berkeluarga serta tinggal terpisah dari mama maupun adik-adiknya. Nyonya Bernardo adalah seorang pengusaha restoran yang mengawali usahanya dari bawah dan sedang mulai menanjak. Oleh karenanya, dia bisa membeli sebuah mobil baru, itulah aku adanya.

***

Tahun-tahun pertamaku bersama keluarga Bernardo merupakan masa kejayaanku. Perjalanan antarkota selalu dengan mulus dan penuh kekuatan kulewati. Apalagi jika aku hanya menyusuri jalan di dalam kota, sama sekali tak masalah, sudah pastilah sangat memuaskan majikanku. Aku senang karena Enrico, yang paling sering menge­mudikanku, adalah pengemudi yang selalu berhati-hati dan tidak beringasan. Tapi aku sebal sekali jika kebetulan yang mengemudikan aku adalah Siswoyo, kakak ipar Enrico yang merupakan suami Erica. Siswoyo menikahi Erica di tahun keduaku bersama keluarga Bernardo. Aku selalu berdebar-debar setiap kali menempuh perjalanan bersamanya. Memang  belum pernah ada luka yang menggores tubuhku, namun aku selalu khawatir jika sampai menabrak orang atau kendaraan di depanku.

Sempat juga aku menye­rempet orang yang ada di pinggir jalan. Aku sih tak apa-apa, tapi orang yang tersenggol olehku tentu saja marah dan memaki kami. Siswoyo yang mengemudikanku hanya tertawa saat itu terjadi. Seandainya aku boleh memilih, lebih baik kutolak jika dia yang mengemudikanku, namun apa dayaku?

Luka pertama akhirnya justru kudapatkan ketika Enrico yang tengah  membawaku. Kejadiannya di tahun ketigaku bersama keluarga Bernardo. Ironis ya? Ketika itu Enrico baru pulang ke rumah setelah larut malam lantaran dia mesti mengantar teman-temannya dulu sehabis sebuah pementasan. Aku sedang dimasukkan ke dalam garasi, mendadak terdengar suara berisik di sisi kananku. Ternyata tubuhku menyerempet tembok garasi. Sedikit perih juga kurasakan. Enrico yang sudah sangat mengantuk serta merta membelalakkan matanya saat sadar bahwa tubuhku telah terluka. Dia segera memajukan aku, turun dari mobil, dan bicara padaku,

“Waduh, maafkan aku ya? Aku betul-betul ngantuk dan tidak sengaja bikin kamu terluka.” Dia pun mengelus-elus luka di tubuhku. Aku jadi merasa nyaman, dapat kumaafkan begitu saja kesalahan majikan mudaku ini.

Luka kedua kurasakan ketika aku dipinjam oleh keluarga Pak Raka, kakak kandung Nyonya Bernardo. Dalam perjalanan antarkota itu, aku sempat berserempetan dengan sebuah bis. Tapi syukurlah hanya aku yang sedikit terluka, keluarga Pak Raka selamat sepenuhnya. Setelah beberapa kali tubuhku terluka, di tahun kelima akhirnya aku dicat ulang. Aku merasa seperti mobil baru lagi ketika kembali ke rumah. Terima kasih kuucapkan kepada Nyonya Bernardo yang begitu sayang padaku, sehingga tak masalah baginya mengeluarkan banyak biaya untuk perawatan tubuhku.

***

Duka yang dalam kurasakan ketika aku kehilangan kaca spion kananku, salah satu organ tubuhku. Setan jalanan bersepeda motor menyambarnya sampai lepas tanpa alasan yang jelas dalam sebuah perjalanan di tengah kota. Kesedihanku bukan sekadar lantaran aku terluka, melainkan karena seminggu setelah itu Franco meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kereta api yang ditumpanginya jatuh dari rel, sejumlah penumpang tewas, dan Franco termasuk di antaranya. Aku dibawa keluarga Bernardo menjemput jenazahnya. Ketika kami membawanya pulang, lalu mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir, aku dengan Enrico di belakang kemudi selalu berada tepat di belakang ambulans yang membawa jasadnya. Turut kurasakan kehilangan yang dialami seluruh anggota keluarga Bernardo di tahun keenamku bersama mereka.

Sebuah pengalaman baru kurasakan di tahun kedelapan. Untuk pertama kalinya aku mogok di tengah jalan. Dengan Enrico sebagai pengemudinya, aku tengah membawanya bersama Nyonya Bernardo, nenek Enrico, Pak Raka, dan Pak Marzuki (sahabat Pak Raka) pulang dari luar kota. Setelah sempat melewati jalan berkelak-kelok di daerah pegunungan, diiringi hujan amat lebat, satu jam kemudian tiba-tiba mesinku mati di pertigaan lampu merah. Pak Raka dan Pak Marzuki dibantu dua orang pengamen jalanan mendorongku beberapa meter, lantas mesinku pun hidup lagi. Setelah menempuh dua kilometer perjalanan, ibaratnya pusing kepalaku, mendadak mesinku mati lagi. Tubuhku pun kembali didorong beberapa meter. Tapi kali ini percuma belaka. Mesinku tetap tak mau hidup dan sudah pingsan aku ibaratnya.

Ada beberapa orang yang lantas datang membantu. Mereka mencoba segala upaya agar mesinku bisa kembali menyala. Hasilnya ternyata nihil. Enrico menghubungi Siswoyo, kakak iparnya yang cukup memahami masalah otomotif. Siswoyo bergegas datang bersama seorang kawannya. Cukup dengan satu dua jurus, ternyata dia mampu membuatku sadar dan hidup lagi. Rasanya aku harus berterima kasih kepada orang yang tak kusukai itu.

Dua minggu kemudian Sisca menikah. Aku senang bisa mengantar-jemput banyak sekali keluarga dan kerabat keluarga Bernardo yang datang dari luar kota guna menghadiri pernikahan Sisca. Tapi sebulan setelah itu aku kembali merasakan suatu duka bersama keluarga Bernardo. Pak Raka, kakak Nyonya Bernardo, mendadak sakit keras. Enrico dan mamanya menggunakanku untuk mengantarkan Pak Raka ke rumah sakit. Selama beberapa hari diopname, kondisinya kian buruk sampai akhirnya beliau wafat. Ada satu hal yang aneh sebelum itu terjadi. Ketika  Enrico dalam perjalanan pulang, sehabis membawa Pak Raka ke rumah sakit, tiba-tiba mesinku berhenti mendadak di tengah jalan. Syukurlah, ada orang baik yang datang membantu Enrico dan mampu membuatku berjalan lagi.

Aku hanya heran, dulu menjelang Franco meninggal, kaca spionku lepas. Lantas menjelang wafatnya Pak Raka, lagi-lagi ada masalah yang terjadi pada diriku. Dua kali dalam waktu yang tak lama, aku mogok di jalan.  Apakah sesuatu yang buruk yang terjadi padaku, selalu menjadi firasat buruk bagi keluarga Bernardo?

***

Sesuatu yang sangat menyakitkan akhirnya mesti kualami di tahun kesembilan. Suatu petang Enrico membawaku menjemput mamanya pulang dari arisan. Menjelang keluar dari gang, sekonyong-konyong dari arah kanan sebuah sepeda motor dengan keras menghempas tubuhku. Sebelah kanan depan tubuhku ringsek dan bumpernya hampir lepas. Inilah luka terparah yang kualami selama aku mengabdi pada keluarga Bernardo. Enrico sempat menghadapi masalah dengan keluarga si pengen­dara motor yang mencoba memerasnya. Syukurlah, ada tetangga Enrico, seorang polisi baik hati yang mampu menggagalkan hal buruk itu. Meski sesungguhnya sudah dirugikan, ternyata Enrico masih bersedia membantu meringankan biaya pengobatan orang yang merusakku, mobil kesayangannya ini. Aku terus terang bangga pada majikanku yang sungguh berbudi baik tersebut.

Selanjutnya, pengalaman baru kurasakan ketika Yana, suami Sisca, mengemudikanku jauh ke luar kota. Ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ban belakang kananku pecah. Syukurlah, hal itu terjadi di pinggir jalan dan tak terjadi sesuatu yang mencelakakan kami. Ban serep pun dipasang. Seminggu kemudian, ketika Siswoyo mengemudikanku, ada satu lagi ban yang pecah. Akhir­nya Nyonya Bernardo menyuruh Enrico untuk membeli tiga ban baru guna memperbaiki performa dan kinerjaku. Hmm, telah kurasakan lagi kasih sayang keluarga Bernardo kepadaku.

***

Gempa bumi besar yang mengguncang kota tempat tinggal keluarga Bernardo menjadi ceritaku di tahun kesepuluh. Rumah mereka mengalami kerusakan cukup parah, tapi garasi yang menjadi tempat tidurku utuh. Aku pun selamat tanpa terluka sedikit pun. Ketika Yana berupaya mengeluarkanku dari garasi menuju jalan besar, aku mesti menaiki reruntuhan tembok yang menutupi tiga perempat jalan.

Keluarga Bernardo terpaksa mengungsi ke rumah almarhum Franco, yang dihuni oleh istri dan ketiga anaknya. Restoran yang menjadi penyangga hidup keluarga Bernardo juga mengalami kerusakan, kendati tidak separah rumah mereka. Tentu saja kesedihan kembali melingkupi Nyonya Bernardo dan anak-anaknya, namun mereka sanggup melewatinya dengan sabar dan tegar.

Dua bulan berselang, Nyonya Bernardo, Monica, dan Enrico akhirnya kembali bersamaku ke rumah yang telah diperbaiki. Sisca dan Yana beserta seorang putrinya tidak kembali ke rumah karena Yana mendapatkan tugas baru dari kantornya di luar kota. Sedangkan Erica dan Siswoyo bersama kedua anaknya sudah lama tak tinggal di rumah keluarga Bernardo lagi.

Tiga bulan setelah kembali ke rumah, duka kembali melanda. Nyonya Bernardo harus diopname karena gangguan pernapasan. Bersama Enrico, Erica, dan Siswoyo, kuantarkan beliau menuju rumah sakit. Selama hampir sebelas tahun karierku, tak pernah ada cerita Nyonya Bernardo sakit keras hingga harus dirawat secara khusus. Hal itu pun menjadi sesuatu yang cukup mengejutkan bagi keluarga Bernardo. Tapi aku bangga melihat keteguhan hati Nyonya Bernardo untuk bisa sembuh, juga ketegaran jiwa Enrico beserta kakak-kakaknya menghadapi kondisi mamanya. Setiap malam Enrico selalu menjaga mamanya di rumah sakit, sedangkan yang lain bergantian menjaganya dari pagi hingga petang.

Setelah dua minggu Nyonya Bernardo diizinkan pulang ke rumah, kondisinya sudah membaik, kendati belum sembuh benar. Hal itu ternyata tak berlangsung lama. Tiga bulan setelah pulang dari rumah sakit dan menjalani pengobatan secara berkesinambungan, kesehatan Nyonya Bernardo tiba-tiba kembali memburuk. Untuk kedua kalinya kubawa beliau ke rumah sakit bersama Enrico, Erica, dan Monica. Enrico kembali bertugas di malam hari menjaga sang mama dan dengan setia kuantarkan dia senantiasa. Dokter yang menangani Nyonya Bernardo sudah angkat tangan, tak mengerti lagi upaya apa yang bisa memberi kesembuhan bagi beliau.

Empat hari kemudian Nyonya Bernardo mengembuskan napas terakhirnya. Sungguh, aku begitu berduka kehilangan seorang majikan yang luar biasa baiknya. Rasanya kepiluan hatiku sebanding dengan kesedihan yang dimiliki Sisca, Erica, Monica, dan Enrico yang ditinggalkan oleh mama mereka untuk selamanya. Aku sendiri seperti kehilangan seorang ibu dalam hidupku. Sebagai penghormatan terakhirku, aku berada di belakang ambulans yang membawa jenazah Nyonya Bernardo, mengantarkannya ke tempat peristirahatan nan abadi.

Sebelas tahun sudah kini. Sepeninggal Nyonya Bernardo, kuharap masih dapat kuabdikan diriku pada Enrico dan saudara-saudaranya. Dengan sisa-sisa kejayaanku, masih kumiliki keyakinan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga Bernardo. Aku masih ingin turut bahagia melihat Monica dan Enrico akhirnya menikah meng­ikuti jejak kakak-kakaknya. Semoga usul Siswoyo maupun Yana untuk menjualku sekadar wacana. Sungguh, aku masih menyayangi keluarga Bernardo dan tak ingin pergi begitu saja dari kehidupan mereka.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Sinar Harapan edisi Sabtu, 16 April 2011.

h1

Sepenggal Kisah Putri Pegari

Mei 17, 2011

Jika mengingat nama panjangnya, Peggi kerap tersenyum geli. Dalam hatinya ia memuji bapaknya yang kreatif membuat namanya. Tapi ia enggan juga jika orang  tahu, bisa jadi mereka semua akan menertawainya. Nama panjang Peggi adalah Putri Pegari, yang artinya anak perempuan PEGAwai negeRI. Peggi adalah anak kedua dari dua bersaudara. Nama kakak Peggi pun tak kalah uniknya, Putra Sumodi, yang artinya anak laki-laki SUpir MObil Dinas, nama panggilannya Modi. Bapak Peggi memberi nama anaknya sesuai dengan perjalanan kariernya. Saat Modi lahir, bapaknya masih menjadi pegawai honorer di sebuah instansi pemerintahan sebagai seorang supir. Nah, ketika Peggi lahir, bapaknya sudah resmi diangkat sebagai seorang pegawai negeri.

Peggi kini duduk di kelas X sebuah SMA Negeri di Yogyakarta. Karena nilai ujian akhir SMP-nya bagus, ia bisa melanjutkan studinya di sekolah favorit. Nilai rapornya tak pernah buruk, jadi Peggi mendapatkan beasiswa sejak SMP. Orang tuanya jadi tak perlu pusing memikirkan biaya sekolahnya. Maklumlah, selain bapaknya pegawai rendahan, ibu Peggi hanya sesekali bekerja membantu tetangganya yang mempunyai usaha katering.

***

Tak hanya pintar, Peggi juga seorang gadis manis yang luwes dalam pergaulan. Dalam waktu sekejab, namanya cukup dikenal sebagai salah satu anak baru yang menonjol. Meski hanya seorang anak supir, Peggi tak merasa rendah diri mesti berteman dengan anak-anak dosen, pejabat, atau pengusaha kaya yang merupakan sebagian besar teman-temannya. Kebetulan ia memiliki sahabat baru bernama Haanun yang merupakan putri seorang dosen. Peggi terbiasa naik bis bareng sahabatnya saat pulang sekolah. Ia bersyukur sekali bisa berteman dengan Haanun, yang meski berasal dari keluarga yang berada, tapi anaknya bersahaja dan sangat baik kepadanya. Kadang Peggi diajak ke rumah Haanun yang asri di sebuah perumahan di daerah Jogja selatan.

Selain Haanun, ada seorang teman lelaki Peggi yang cukup karib dengannya. Namanya Hilman. Kata teman-temannya, ayah Hilman adalah seorang pejabat. Peggi tak peduli latar belakang orang tua teman-temannya. Sepertinya Hilman tak sekadar ingin berteman dengannya. Namun justru Haanun yang merasa bahwa ada isyarat tertentu dari Hilman, yang justru tak disadari olehnya.

***
Pagi hari itu awalnya berlangsung sebagaimana layaknya. Peggi dan Modi sedang mempersiapkan diri berangkat sekolah, sementara ibu mereka tengah sibuk memasak di dapur. Hanya bapak yang sedikit santai karena kebetulan kantornya libur dan ia sedang memberi makan burung peliharaannya. Suara hiruk pikuk terdengar di setiap rumah di lingkungan padat penduduk itu, yang memang selalu demikian setiap harinya.
Peggi baru saja memakai sepatunya ketika tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh yang amat keras dan dirasakannya bumi berguncang amat hebat. Ia segera berlari keluar rumah, tapi tanah yang dipijaknya membuatnya jatuh berkali-kali. Sempat dilihatnya barang-barang pun berjatuhan dan bahkan tembok rumahnya ambruk! Sambil berteriak minta tolong, Peggi berusaha bangkit, berdiri, dan terus berlari. Akhirnya Peggi berhasil sampai di depan rumahnya dengan selamat.
Sekitar satu menit saja lamanya gempa, namun efek yang ditimbulkannya sungguh mengerikan. Peggi melihat pemandangan yang sangat buruk, yang tak pernah terlintas di benaknya sekalipun di sekitar tempat tinggalnya. Serta merta ia menangis dan memeluk kakaknya, yang sama seperti dirinya, terlihat sangat kotor terkena debu reruntuhan.
“Ibu sama Bapak mana, Mas?” tanya Peggi sambil menangis sesenggukan.
“Tadi Ibu di dapur. Bapak kayaknya tadi di depan, terus malah lari ke dapur pas gempa. Ya Allah, moga-moga saja mereka ndak apa-apa. Sudah, kamu di sini dulu bareng yang lain ya. Biar Mas coba liat ke dapur,” kata Modi sambil beranjak ke arah rumahnya yang telah ambruk sebagian besarnya itu.
“Nggak Mas, aku ikut,” teriak Peggi sambil menyusul langkah kakaknya.

Mereka berdua beranjak ke arah dapur. Di antara debu tebal yang menghalangi pandangan, Peggi dan Modi mencoba mencari kedua orang tuanya seraya memanggil-manggil nama mereka. Dan syukurlah, dari dapur terlihat dua sosok yang sangat mereka cintai. Ibu dan bapak Peggi ternyata selamat dari bencana.
“Ibu dan Bapak ndak apa-apa?” tanya Peggi dan kakaknya menyambut kedua orang tuanya.
“Alhamdulillah, ibu dan bapakmu selamet. Cuma kepala Bapak berdarah dan punggungnya pegel banget ini, sepertinya kejatuhan genteng apa batu bata tadi,” tukas bapak.

Peggi dan keluarganya begitu bersyukur karena mereka semua selamat, hanya sedikit terluka tubuhnya, meski rumah mereka rusak parah. Sementara di antara tetangga mereka ternyata ada beberapa orang yang tewas dan banyak pula yang dibawa ke rumah sakit saking parah lukanya. Hari Sabtu itu benar-benar menjadi hari yang tak biasa bagi Peggi dan semua orang yang tinggal di Bantul, Jogja, Klaten, dan sejumlah daerah sekitarnya.

Ketika ketegangan masih menghantui semua orang, gempa susulan sesekali terjadi, isu terjadinya tsunami tak ayal membuat semua orang berbondong-bondong melangkah ke arah utara, tak terkecuali bagi Peggi dan keluarganya. Tsunami nyatanya hanya kabar angin. Peggi beserta kedua orang tua dan kakaknya kembali ke lingkungan rumah mereka. Yang selamat bahu-membahu membantu mereka yang tertimpa kesusahan. Tenda darurat didirikan. Malam itu Peggi dengan ibunya tidur di dalam tenda seadanya, berdesak-desakan dengan tetangga mereka. Sementara bapak dan Modi ikut berjaga-jaga di luar tenda bersama kaum lelaki lainnya menjaga keamanan lingkungan.

***

Pak Hendro adalah bos dari bapak Peggi di kantor. Ia ingin tahu persis kabar supir mobil dinasnya yang tinggal di Bantul itu pasca gempa. Diajaknya anak lelakinya untuk menemaninya mengunjungi rumah Pak Ponijo, bapak Peggi pada hari Minggu, sehari setelah gempa dahsyat.
“Lho, Bapak kok bisa sampai sini?” sambut Pak Ponijo kaget.
“Piye kabarmu, Pak Ponijo?”
“Alhamdulillah, kami sekeluarga selamet. Rumah kami sebagian sudah ambruk dan sekarang kami tinggal di tenda seadanya.”

Peggi kaget sekali melihat sosok anak Pak Hendro dan begitu pula yang dirasakan lelaki muda itu melihat Peggi.
“Lho, Peggi? Kamu anaknya Pak Ponijo?” tanya Hilman. Peggi mengangguk lemah dan tersipu malu.
“Kamu kenal dengan anaknya Pak Ponijo?” tanya Pak Hendro pada anaknya.
“Iya, Pa. Peggi ini teman sekelas saya. Saya juga baru tau kalo dia anak Pak Ponijo,” sahut Hilman tersenyum.

Peggi tak tahu bagaimana mesti bersikap Dalam kesusahan seperti ini ia bertemu dengan Hilman, cowok yang kata Haanun menyukainya, yang merupakan anak bos dari bapaknya. Ia tak sempat berpikir bagaimana sikap Hilman setelah mengetahui cewek yang ditaksirnya itu anak siapa. Ternyata Hilman justru semakin perhatian pada dirinya.

Di hari berikutnya Hilman mengajak teman-teman sekelasnya -yang tidak menjadi korban gempa- untuk datang ke desa tempat tinggal Peggi. Mereka datang membawa sejumlah dos mie instan dan air mineral. Haanun, sahabat Peggi pun turut serta. Mereka berpelukan dalam keharuan ketika berjumpa.
“Aku seneng banget masih bisa liat kamu lagi, Peg,” ujar Haanun.
“Alhamdulillah, aku juga seneng sekali,” sahut Peggi.
“Kalo nggak diajak Hilman kemari, aku nggak tau kapan ketemu kamu lagi. Piye, kamu seneng kan ditengok dia kemarin?”

Peggi tersenyum sambil melirik ke arah Hilman yang sedang sibuk membagikan barang yang dibawanya kepada tetangganya bersama teman-temannya yang lain.
”Ah, Hilman memang seorang lelaki yang sangat mengesankan,” batin Peggi. Jika benar kata Haanun tempo hari, pantaslah Peggi tersanjung disukai olehnya. Tampaknya Hilman juga tak peduli bahwa Peggi adalah anak supir mobil dinas ayahnya dan justru terlihat makin bersimpati terhadapnya.
“Kudengar Haanun berencana ngajak kamu tidur di rumahnya. Apa kamu mau memenuhi ajakannya? Aku pikir itu ide yang bagus, supaya kamu bisa segera kembali ke sekolah,” kata Hilman pada Peggi setelah selesai kesibukannya.
“Aku sih mau saja diajak Haanun, Hilman. Tapi aku pengen tetep tinggal di dekat rumahku dengan keluarga dan tetanggaku, merasakan suka duka bersama mereka. Sebentar lagi aku sudah bisa berangkat sekolah juga kok.”
“Wah, aku salut sama kamu, Peg. Moga-moga kamu tetap kuat dan tabah ya. Jangan lupa jaga kesehatanmu, lho. Yang jelas, aku pasti nggak akan bosan ke sini nengokin kamu dan siap bantu-bantu apa pun di sini.”

Peggi bersyukur dapat merasakan sebentuk kebahagiaan yang baru, yaitu perhatian tulus dari seorang cowok yang baik hati. Padahal baru saja sebuah bencana besar mengacaukan hidupnya bersama orang-orang di sekitarnya. Jika Hilman menyatakan cintanya, Peggi tak bakal berpikir panjang untuk menerimanya. Ia yakin hari-harinya pasti bakal lebih indah lagi nanti.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai No.47/22-28 November 2010.

h1

Dikenang Setelah Wafatnya

Mei 17, 2011

Semua orang pasti akan meninggal dunia, tapi tidak setiap orang dikenang setelah wafatnya. (Deddy Corbuzier – Hitam Putih)


h1

The Day My Dad Passed Away

Mei 10, 2011

Aku merasa awal hari ini ringan langkahku, tiada beban sama sekali di pundakku, padahal nanti ada ulangan Sejarah yang aku belum belajar sama sekali. Kebetulan bis kota yang membawaku ke sekolah pun tak perlu lama kutunggu datangnya. Sampai di kelas masih rada pagi, aku ikut saja teman-teman yang tengah mengerjakan Pe-eR Akuntansi. Jelas ini bukan sesuatu yang biasa bagiku, biasanya aku menjadi salah satu murid paling disiplin yang selalu mengerjakan Pe-eR di rumah dan hasil kerjaku malah sering dijadikan bahan rujukan salinan teman-temanku yang malas. Memang bukan niatku untuk itu, kemarin sore aku mesti dapat giliran menjaga Ayah di rumah sakit. Sudah sebulan ini Ayah dirawat, banyak organ tubuhnya yang telah rusak karena sempat selama puluhan tahun beliau menjadi perokok berat.

Sebenarnya Ayah sudah sekitar sepuluh tahun terakhir ini berhenti merokok, persisnya sejak beliau pensiun. Tapi ternyata dampak negatifnya sangat membuatnya menderita kini di masa tuanya. Mungkin karena itulah sebagai cowok yang hampir 17 tahun, aku tidak mau ikutan teman-teman untuk mulai merokok dan aku bahkan berniat menjadi cowok yang tak pernah merokok sepanjang hayatku hingga maut menjemputku. Aku tidak ingin anak-anakku nanti merasakan apa yang kurasakan selama sekitar sebulan ini, setiap hari menunggui sang ayah yang tak kunjung sembuh sakitnya. Padahal segala macam pengobatan pun telah diupayakan.

Tiga jam pelajaran telah berlalu hingga saatnya istirahat. Baru saja aku keluar dari kelas ketika Pak Heru, wali kelasku terlihat berjalan menuju kelasku bersama seorang perempuan berseragam pegawai, yang ternyata anak buah ibuku di kantor.

“Ragil, ibu ini diminta menjemputmu untuk datang ke rumah sakit saat ini juga,” kata Pak Heru kepadaku yang diiyakan oleh wanita yang bersamanya.

“Kakak-kakak mas Ragil semua juga diminta berkumpul di sana,” tambah perempuan itu.

Terang saja aku kaget mendengar kata-kata mereka. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada ayahku! Aku tak bisa berkata banyak, Pak Heru memintaku segera mengambil tas di kelas dan pergi meninggalkan sekolah saat itu juga. Aku dan anak buah ibuku bergegas menuju parkiran sekolah, di sana sudah ada Mas Dawam, supir mobil dinas Ibu dengan Kijang yang biasa untuk mengantar jemput Ibu ke kantor. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku hanya bisa berdebar-debar dan bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi pada Ayah hingga kami semua mesti berkumpul? Aku enggan bertanya dan mereka tak berkata apa pun padaku. Tapi sempat terbesit sebuah pikiran positif di otakku, mungkin Ayah jadi mau dipindah ke rumah sakit pusat yang fasilitasnya lebih lengkap, seperti rencana yang sempat kudengar dua hari lalu.

Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Aku segera bergegas menuju kamar rawat Ayah dan menemui beberapa kerabatku di depan kamar.

“Ayah kamu kritis, Gil,” ucap Pakde Rahmat menyambutku, lalu membimbingku masuk kamar. Sudah ada Ibu dan kelima kakakku di sekeliling ranjang tempat Ayah terbaring dengan suara seperti dengkuran yang cukup keras. Kudengar suara isak tangis mereka. Aku hanya bisa terpana di antara mereka sambil memegangi kaki Ayah yang sudah sangat dingin dan kaku. Tak lama kemudian tangis mereka reda, lantas satu persatu dari kami keluar dari ruangan itu. Dokter dan para asistennya memeriksa kondisi terakhir Ayah. Detak jantung dan denyut nadi beliau masih ada. Dokter memperkirakan tinggal sedikit saja kesempatan hidup Ayah, kecuali ada mukjizat yang menyelamatkannya, tanpa memberikan kepastian masih berapa jam atau berapa harikah yang tersisa.

***

Beberapa jam berlalu, kondisi Ayah cukup stabil meski sebenarnya buruk. Kami semua sudah cukup tenang sambil terus berdoa, semoga saja keajaiban benar datang untuk membangunkan Ayah dari ketidaksadarannya selama ini. Beberapa kerabat dan teman keluarga kami pun berdatangan ke rumah sakit. Salah seorang sahabat lama Ayah, Pak Bardan -yang kebetulan memiliki indera keenam- secara khusus berpesan kepada kami,

“Tolong ya, nanti kira-kira sehabis Maghrib semua anak-anak di sini menunggui ayah kalian. Ibu juga siap di sini.”

Kami tak berkata sedikit jua, mengangguk setuju belaka. Saat menjelang petang Ibu memintaku dan kakak-kakakku pulang lebih dahulu untuk mandi, juga berganti baju. Tapi akhirnya hanya aku dan dua orang kakakku yang pulang dengan taksi. Entah apa sebabnya setelah kami turun, taksi yang baru kami tumpangi beberapa kali menabrak tembok saat akan keluar dari gang tempat rumah kami berada. Sebuah firasat burukkah? Aku enggan berpikir lebih jauh tentang hal tersebut.

Setelah mandi, kami bertiga kembali ke rumah sakit dengan bis kota. Sehabis menjalankan sholat Maghrib di mushola rumah sakit, secara khusus aku berdoa mohon pada-Nya supaya Ayah diberikan jalan yang terbaik. Harapan kami semua, tentu saja datangnya keajaiban berupa kesembuhan beliau. Aku masih sangat ingin bisa menjalani berbagai hal bersamanya lagi. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku tentu saja ingin bisa membuat Ayah bangga akan diriku. Tanpa kusadari air mataku sampai bercucuran saat menadahkan tangan. Setelah mampu menguasai diri, aku pun segera membasuh wajahku dan kembali ke kamar rawat Ayah.

***

Setibaku di kamar ternyata kondisi Ayah sudah kian melemah. Suara dengkuran seperti saat siang sudah tak terdengar lagi. Yang tersisa tinggal suara desah nafasnya yang sangat lirih. Aku, kakak-kakakku, serta Ibu kembali mengelilingi ranjang tempatnya terbaring tanpa daya. Suara isak tangis kembali terdengar dan semakin keras. Hanya aku yang berusaha tetap tegar, tak mengeluarkan air mata, meski dadaku terasa mulai sesak. Satu dua kakakku dibawa keluar dari kamar karena mulai histeris, merasa tak tahan lagi menahan kepedihan. Aku dengan Ibu berpegangan tangan sambil memegang tangan Ayah. Desah nafasnya semakin tak bersuara hingga akhirnya berhenti, tak bersuara lagi…

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya. Malaikat maut telah menjalankan perintah-Nya menjemput nyawa ayahku tercinta. Ibu dan kakak-kakakku yang masih bertahan di kamar menangis tersedu-sedu menghadapi kenyataan yang terjadi. Sedangkan aku hanya terpaku tak bisa berkata apa jua, tetap bisa kutahan supaya air mataku tak tertumpah. Padahal dadaku sebenarnya sudah terasa begitu sesak, tapi sebagai anak lelaki aku tak mau menangis di depan ayahku, meski kini beliau telah pergi meninggalkan kami selamanya dan yang tersisa jasadnya belaka. Suara azan Isya’ yang berkumandang sayup-sayup terdengar dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian dokter dan para perawat meminta kami keluar dari kamar untuk menangani jenazah Ayah. Dengan masih menahan sesak di dada, aku pun keluar dari kamar lalu duduk di salah satu kursi. Aku diam saja membisu. Tiba-tiba saja saat-saat indah bersama Ayah di masa lalu satu demi satu terbayang di ingatanku, aku jadi sadar bahwa tak mungkin lagi aku menjalani hari-hari bersamanya. Akhirnya tak kuasa kutahan lagi sesak di dada dan tercurah sudah air mataku. Aku pun menangis sejadi-jadinya menyadari betapa perihnya rasa dan sakitnya hati karena kehilangan seorang ayah. Syukurlah, di sampingku ada salah seorang kerabatku yang menenangkanku sehingga tak berkepanjangan tangisku. Aku memang seharusnya ikhlas karena Ayah sudah dipanggil kembali oleh pemiliknya, Tuhan Yang Mahakuasa. Tapi tak semudah itu ketika peristiwanya baru saja terjadi. Setelah reda tangisku, lalu kulihat ibu dan saudara-saudaraku pun sudah tenang, mereka mulai mengabari orang-orang yang perlu diberitahu kabar duka itu dan mengurus perawatan jenazah Ayah.

Keluarga memutuskan untuk memandikan jenazah Ayah di rumah sakit. Yang masih menjadi masalah adalah akan dimakamkan di mana jasad Almarhum besok? Kami pun merapatkannya saat menunggu persiapan pemandian jenazah. Mungkin memang sudah menjadi skenario-Nya semata, ketika kebetulan ada seorang keponakan Ayah yang menjadi salah satu pejabat militer di kota kami. Ayah dulu bekerja sebagai tentara, bahkan terakhir sebelum pensiun sempat menjadi komandan di beberapa tempat. Ternyata sebagai mantan tentara, beliau berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

“Tante, Om itu pasti punya Bintang Gerilya. Kalau itu bisa ditunjukkan, maka otomatis Om bisa langsung dimakamkan di TMP,” kata Mas Gun, keponakan Ayah yang tentara itu pada ibuku.

“Sepertinya Om memang pernah cerita soal itu. Tapi Tante tidak yakin Om membawanya ke sini saat kami pindah dulu. Om itu paling tidak suka pamer-pamer dan mungkin untuk beliau itu bukan sesuatu yang penting. Tapi coba nanti Tante cari di rumah,” jawab Ibu.

“Ya sudah, Tante. Biar saya saja yang menanyakannya ke Semarang. Saya yakin di sana ada data tentang Om. Oh ya, saya sudah suruh ambulans militer ke sini untuk nanti mengantar jenazah Om pulang dan besok juga saat pemakaman.”

Akhirnya jenazah Ayah jadi dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Tembakan salvo mengiringi saat jasad Ayah dimasukkan ke liang lahat sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah wujud penghormatan kepada seseorang yang pernah menjadi pejuang yang ikut merebut, membela dan menjaga kemerdekaan negeri tercinta. Meski aku tahu Ayah mungkin tak ingin diperlakukan seperti ini di saat terakhirnya, tapi kurasa beliau patut mendapatkannya dan aku bangga akan hal itu.

***

Ayahku adalah seseorang yang baik, begitu bersahaja, sangat mencintai keluarga, dan yang paling kuingat, adalah seorang ayah yang tak pernah memarahi aku sebagai anak lelakinya satu-satunya. Mungkin saja Ayah pernah memarahi kakak-kakakku, tapi yang jelas aku tak pernah melihatnya sepanjang umurku. Itulah kebijaksanaan yang juga dimiliki seorang Ayah. Meskipun pernah menjadi komandan militer, tapi beliau tidak pernah bersikap keras dan memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak-anaknya, bahkan sangat demokratis. Maka tak masalah ketika aku menolak saat ditawari les piano dan diijinkannya aku yang justru malah jadi pemain keyboard di sebuah band sejak kelas satu SMA setahun silam. Bahkan beliau pun memaklumiku ketika kenaikan kelas lalu nilai-nilaiku turun drastis, padahal aku sendiri sudah merasa sangat bersalah. Masih ingin kutebus hal itu supaya Ayah senang dan bangga padaku, tapi belum sempat kesampaian karena beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.

Yang jelas aku jadi tak sekadar menghormati Ayah karena beliau ayahku, tapi karena memang berbagai sikap maupun karakternya wajar untuk dihormati dan disegani. Tentu saja aku pun selalu menyayanginya. Kini ketika beliau telah tiada, hanya tinggal kenangan indahlah yang tersisa. Semoga saja segala dosa kesalahan Ayah mendapatkan ampunan-Nya dan semua amal kebaikannya diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin…

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Story No.15/2010 dengan judul ‘Saat Ayah Pergi’.