h1

The Day My Dad Passed Away

Mei 10, 2011

Aku merasa awal hari ini ringan langkahku, tiada beban sama sekali di pundakku, padahal nanti ada ulangan Sejarah yang aku belum belajar sama sekali. Kebetulan bis kota yang membawaku ke sekolah pun tak perlu lama kutunggu datangnya. Sampai di kelas masih rada pagi, aku ikut saja teman-teman yang tengah mengerjakan Pe-eR Akuntansi. Jelas ini bukan sesuatu yang biasa bagiku, biasanya aku menjadi salah satu murid paling disiplin yang selalu mengerjakan Pe-eR di rumah dan hasil kerjaku malah sering dijadikan bahan rujukan salinan teman-temanku yang malas. Memang bukan niatku untuk itu, kemarin sore aku mesti dapat giliran menjaga Ayah di rumah sakit. Sudah sebulan ini Ayah dirawat, banyak organ tubuhnya yang telah rusak karena sempat selama puluhan tahun beliau menjadi perokok berat.

Sebenarnya Ayah sudah sekitar sepuluh tahun terakhir ini berhenti merokok, persisnya sejak beliau pensiun. Tapi ternyata dampak negatifnya sangat membuatnya menderita kini di masa tuanya. Mungkin karena itulah sebagai cowok yang hampir 17 tahun, aku tidak mau ikutan teman-teman untuk mulai merokok dan aku bahkan berniat menjadi cowok yang tak pernah merokok sepanjang hayatku hingga maut menjemputku. Aku tidak ingin anak-anakku nanti merasakan apa yang kurasakan selama sekitar sebulan ini, setiap hari menunggui sang ayah yang tak kunjung sembuh sakitnya. Padahal segala macam pengobatan pun telah diupayakan.

Tiga jam pelajaran telah berlalu hingga saatnya istirahat. Baru saja aku keluar dari kelas ketika Pak Heru, wali kelasku terlihat berjalan menuju kelasku bersama seorang perempuan berseragam pegawai, yang ternyata anak buah ibuku di kantor.

“Ragil, ibu ini diminta menjemputmu untuk datang ke rumah sakit saat ini juga,” kata Pak Heru kepadaku yang diiyakan oleh wanita yang bersamanya.

“Kakak-kakak mas Ragil semua juga diminta berkumpul di sana,” tambah perempuan itu.

Terang saja aku kaget mendengar kata-kata mereka. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada ayahku! Aku tak bisa berkata banyak, Pak Heru memintaku segera mengambil tas di kelas dan pergi meninggalkan sekolah saat itu juga. Aku dan anak buah ibuku bergegas menuju parkiran sekolah, di sana sudah ada Mas Dawam, supir mobil dinas Ibu dengan Kijang yang biasa untuk mengantar jemput Ibu ke kantor. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku hanya bisa berdebar-debar dan bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi pada Ayah hingga kami semua mesti berkumpul? Aku enggan bertanya dan mereka tak berkata apa pun padaku. Tapi sempat terbesit sebuah pikiran positif di otakku, mungkin Ayah jadi mau dipindah ke rumah sakit pusat yang fasilitasnya lebih lengkap, seperti rencana yang sempat kudengar dua hari lalu.

Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Aku segera bergegas menuju kamar rawat Ayah dan menemui beberapa kerabatku di depan kamar.

“Ayah kamu kritis, Gil,” ucap Pakde Rahmat menyambutku, lalu membimbingku masuk kamar. Sudah ada Ibu dan kelima kakakku di sekeliling ranjang tempat Ayah terbaring dengan suara seperti dengkuran yang cukup keras. Kudengar suara isak tangis mereka. Aku hanya bisa terpana di antara mereka sambil memegangi kaki Ayah yang sudah sangat dingin dan kaku. Tak lama kemudian tangis mereka reda, lantas satu persatu dari kami keluar dari ruangan itu. Dokter dan para asistennya memeriksa kondisi terakhir Ayah. Detak jantung dan denyut nadi beliau masih ada. Dokter memperkirakan tinggal sedikit saja kesempatan hidup Ayah, kecuali ada mukjizat yang menyelamatkannya, tanpa memberikan kepastian masih berapa jam atau berapa harikah yang tersisa.

***

Beberapa jam berlalu, kondisi Ayah cukup stabil meski sebenarnya buruk. Kami semua sudah cukup tenang sambil terus berdoa, semoga saja keajaiban benar datang untuk membangunkan Ayah dari ketidaksadarannya selama ini. Beberapa kerabat dan teman keluarga kami pun berdatangan ke rumah sakit. Salah seorang sahabat lama Ayah, Pak Bardan -yang kebetulan memiliki indera keenam- secara khusus berpesan kepada kami,

“Tolong ya, nanti kira-kira sehabis Maghrib semua anak-anak di sini menunggui ayah kalian. Ibu juga siap di sini.”

Kami tak berkata sedikit jua, mengangguk setuju belaka. Saat menjelang petang Ibu memintaku dan kakak-kakakku pulang lebih dahulu untuk mandi, juga berganti baju. Tapi akhirnya hanya aku dan dua orang kakakku yang pulang dengan taksi. Entah apa sebabnya setelah kami turun, taksi yang baru kami tumpangi beberapa kali menabrak tembok saat akan keluar dari gang tempat rumah kami berada. Sebuah firasat burukkah? Aku enggan berpikir lebih jauh tentang hal tersebut.

Setelah mandi, kami bertiga kembali ke rumah sakit dengan bis kota. Sehabis menjalankan sholat Maghrib di mushola rumah sakit, secara khusus aku berdoa mohon pada-Nya supaya Ayah diberikan jalan yang terbaik. Harapan kami semua, tentu saja datangnya keajaiban berupa kesembuhan beliau. Aku masih sangat ingin bisa menjalani berbagai hal bersamanya lagi. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku tentu saja ingin bisa membuat Ayah bangga akan diriku. Tanpa kusadari air mataku sampai bercucuran saat menadahkan tangan. Setelah mampu menguasai diri, aku pun segera membasuh wajahku dan kembali ke kamar rawat Ayah.

***

Setibaku di kamar ternyata kondisi Ayah sudah kian melemah. Suara dengkuran seperti saat siang sudah tak terdengar lagi. Yang tersisa tinggal suara desah nafasnya yang sangat lirih. Aku, kakak-kakakku, serta Ibu kembali mengelilingi ranjang tempatnya terbaring tanpa daya. Suara isak tangis kembali terdengar dan semakin keras. Hanya aku yang berusaha tetap tegar, tak mengeluarkan air mata, meski dadaku terasa mulai sesak. Satu dua kakakku dibawa keluar dari kamar karena mulai histeris, merasa tak tahan lagi menahan kepedihan. Aku dengan Ibu berpegangan tangan sambil memegang tangan Ayah. Desah nafasnya semakin tak bersuara hingga akhirnya berhenti, tak bersuara lagi…

Innalillahi wa innailaihi raji’un. Ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya. Malaikat maut telah menjalankan perintah-Nya menjemput nyawa ayahku tercinta. Ibu dan kakak-kakakku yang masih bertahan di kamar menangis tersedu-sedu menghadapi kenyataan yang terjadi. Sedangkan aku hanya terpaku tak bisa berkata apa jua, tetap bisa kutahan supaya air mataku tak tertumpah. Padahal dadaku sebenarnya sudah terasa begitu sesak, tapi sebagai anak lelaki aku tak mau menangis di depan ayahku, meski kini beliau telah pergi meninggalkan kami selamanya dan yang tersisa jasadnya belaka. Suara azan Isya’ yang berkumandang sayup-sayup terdengar dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian dokter dan para perawat meminta kami keluar dari kamar untuk menangani jenazah Ayah. Dengan masih menahan sesak di dada, aku pun keluar dari kamar lalu duduk di salah satu kursi. Aku diam saja membisu. Tiba-tiba saja saat-saat indah bersama Ayah di masa lalu satu demi satu terbayang di ingatanku, aku jadi sadar bahwa tak mungkin lagi aku menjalani hari-hari bersamanya. Akhirnya tak kuasa kutahan lagi sesak di dada dan tercurah sudah air mataku. Aku pun menangis sejadi-jadinya menyadari betapa perihnya rasa dan sakitnya hati karena kehilangan seorang ayah. Syukurlah, di sampingku ada salah seorang kerabatku yang menenangkanku sehingga tak berkepanjangan tangisku. Aku memang seharusnya ikhlas karena Ayah sudah dipanggil kembali oleh pemiliknya, Tuhan Yang Mahakuasa. Tapi tak semudah itu ketika peristiwanya baru saja terjadi. Setelah reda tangisku, lalu kulihat ibu dan saudara-saudaraku pun sudah tenang, mereka mulai mengabari orang-orang yang perlu diberitahu kabar duka itu dan mengurus perawatan jenazah Ayah.

Keluarga memutuskan untuk memandikan jenazah Ayah di rumah sakit. Yang masih menjadi masalah adalah akan dimakamkan di mana jasad Almarhum besok? Kami pun merapatkannya saat menunggu persiapan pemandian jenazah. Mungkin memang sudah menjadi skenario-Nya semata, ketika kebetulan ada seorang keponakan Ayah yang menjadi salah satu pejabat militer di kota kami. Ayah dulu bekerja sebagai tentara, bahkan terakhir sebelum pensiun sempat menjadi komandan di beberapa tempat. Ternyata sebagai mantan tentara, beliau berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).

“Tante, Om itu pasti punya Bintang Gerilya. Kalau itu bisa ditunjukkan, maka otomatis Om bisa langsung dimakamkan di TMP,” kata Mas Gun, keponakan Ayah yang tentara itu pada ibuku.

“Sepertinya Om memang pernah cerita soal itu. Tapi Tante tidak yakin Om membawanya ke sini saat kami pindah dulu. Om itu paling tidak suka pamer-pamer dan mungkin untuk beliau itu bukan sesuatu yang penting. Tapi coba nanti Tante cari di rumah,” jawab Ibu.

“Ya sudah, Tante. Biar saya saja yang menanyakannya ke Semarang. Saya yakin di sana ada data tentang Om. Oh ya, saya sudah suruh ambulans militer ke sini untuk nanti mengantar jenazah Om pulang dan besok juga saat pemakaman.”

Akhirnya jenazah Ayah jadi dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Tembakan salvo mengiringi saat jasad Ayah dimasukkan ke liang lahat sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah wujud penghormatan kepada seseorang yang pernah menjadi pejuang yang ikut merebut, membela dan menjaga kemerdekaan negeri tercinta. Meski aku tahu Ayah mungkin tak ingin diperlakukan seperti ini di saat terakhirnya, tapi kurasa beliau patut mendapatkannya dan aku bangga akan hal itu.

***

Ayahku adalah seseorang yang baik, begitu bersahaja, sangat mencintai keluarga, dan yang paling kuingat, adalah seorang ayah yang tak pernah memarahi aku sebagai anak lelakinya satu-satunya. Mungkin saja Ayah pernah memarahi kakak-kakakku, tapi yang jelas aku tak pernah melihatnya sepanjang umurku. Itulah kebijaksanaan yang juga dimiliki seorang Ayah. Meskipun pernah menjadi komandan militer, tapi beliau tidak pernah bersikap keras dan memaksakan kehendaknya sendiri kepada anak-anaknya, bahkan sangat demokratis. Maka tak masalah ketika aku menolak saat ditawari les piano dan diijinkannya aku yang justru malah jadi pemain keyboard di sebuah band sejak kelas satu SMA setahun silam. Bahkan beliau pun memaklumiku ketika kenaikan kelas lalu nilai-nilaiku turun drastis, padahal aku sendiri sudah merasa sangat bersalah. Masih ingin kutebus hal itu supaya Ayah senang dan bangga padaku, tapi belum sempat kesampaian karena beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.

Yang jelas aku jadi tak sekadar menghormati Ayah karena beliau ayahku, tapi karena memang berbagai sikap maupun karakternya wajar untuk dihormati dan disegani. Tentu saja aku pun selalu menyayanginya. Kini ketika beliau telah tiada, hanya tinggal kenangan indahlah yang tersisa. Semoga saja segala dosa kesalahan Ayah mendapatkan ampunan-Nya dan semua amal kebaikannya diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin…

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Story No.15/2010 dengan judul ‘Saat Ayah Pergi’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: