h1

Sepenggal Kisah Putri Pegari

Mei 17, 2011

Jika mengingat nama panjangnya, Peggi kerap tersenyum geli. Dalam hatinya ia memuji bapaknya yang kreatif membuat namanya. Tapi ia enggan juga jika orang  tahu, bisa jadi mereka semua akan menertawainya. Nama panjang Peggi adalah Putri Pegari, yang artinya anak perempuan PEGAwai negeRI. Peggi adalah anak kedua dari dua bersaudara. Nama kakak Peggi pun tak kalah uniknya, Putra Sumodi, yang artinya anak laki-laki SUpir MObil Dinas, nama panggilannya Modi. Bapak Peggi memberi nama anaknya sesuai dengan perjalanan kariernya. Saat Modi lahir, bapaknya masih menjadi pegawai honorer di sebuah instansi pemerintahan sebagai seorang supir. Nah, ketika Peggi lahir, bapaknya sudah resmi diangkat sebagai seorang pegawai negeri.

Peggi kini duduk di kelas X sebuah SMA Negeri di Yogyakarta. Karena nilai ujian akhir SMP-nya bagus, ia bisa melanjutkan studinya di sekolah favorit. Nilai rapornya tak pernah buruk, jadi Peggi mendapatkan beasiswa sejak SMP. Orang tuanya jadi tak perlu pusing memikirkan biaya sekolahnya. Maklumlah, selain bapaknya pegawai rendahan, ibu Peggi hanya sesekali bekerja membantu tetangganya yang mempunyai usaha katering.

***

Tak hanya pintar, Peggi juga seorang gadis manis yang luwes dalam pergaulan. Dalam waktu sekejab, namanya cukup dikenal sebagai salah satu anak baru yang menonjol. Meski hanya seorang anak supir, Peggi tak merasa rendah diri mesti berteman dengan anak-anak dosen, pejabat, atau pengusaha kaya yang merupakan sebagian besar teman-temannya. Kebetulan ia memiliki sahabat baru bernama Haanun yang merupakan putri seorang dosen. Peggi terbiasa naik bis bareng sahabatnya saat pulang sekolah. Ia bersyukur sekali bisa berteman dengan Haanun, yang meski berasal dari keluarga yang berada, tapi anaknya bersahaja dan sangat baik kepadanya. Kadang Peggi diajak ke rumah Haanun yang asri di sebuah perumahan di daerah Jogja selatan.

Selain Haanun, ada seorang teman lelaki Peggi yang cukup karib dengannya. Namanya Hilman. Kata teman-temannya, ayah Hilman adalah seorang pejabat. Peggi tak peduli latar belakang orang tua teman-temannya. Sepertinya Hilman tak sekadar ingin berteman dengannya. Namun justru Haanun yang merasa bahwa ada isyarat tertentu dari Hilman, yang justru tak disadari olehnya.

***
Pagi hari itu awalnya berlangsung sebagaimana layaknya. Peggi dan Modi sedang mempersiapkan diri berangkat sekolah, sementara ibu mereka tengah sibuk memasak di dapur. Hanya bapak yang sedikit santai karena kebetulan kantornya libur dan ia sedang memberi makan burung peliharaannya. Suara hiruk pikuk terdengar di setiap rumah di lingkungan padat penduduk itu, yang memang selalu demikian setiap harinya.
Peggi baru saja memakai sepatunya ketika tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh yang amat keras dan dirasakannya bumi berguncang amat hebat. Ia segera berlari keluar rumah, tapi tanah yang dipijaknya membuatnya jatuh berkali-kali. Sempat dilihatnya barang-barang pun berjatuhan dan bahkan tembok rumahnya ambruk! Sambil berteriak minta tolong, Peggi berusaha bangkit, berdiri, dan terus berlari. Akhirnya Peggi berhasil sampai di depan rumahnya dengan selamat.
Sekitar satu menit saja lamanya gempa, namun efek yang ditimbulkannya sungguh mengerikan. Peggi melihat pemandangan yang sangat buruk, yang tak pernah terlintas di benaknya sekalipun di sekitar tempat tinggalnya. Serta merta ia menangis dan memeluk kakaknya, yang sama seperti dirinya, terlihat sangat kotor terkena debu reruntuhan.
“Ibu sama Bapak mana, Mas?” tanya Peggi sambil menangis sesenggukan.
“Tadi Ibu di dapur. Bapak kayaknya tadi di depan, terus malah lari ke dapur pas gempa. Ya Allah, moga-moga saja mereka ndak apa-apa. Sudah, kamu di sini dulu bareng yang lain ya. Biar Mas coba liat ke dapur,” kata Modi sambil beranjak ke arah rumahnya yang telah ambruk sebagian besarnya itu.
“Nggak Mas, aku ikut,” teriak Peggi sambil menyusul langkah kakaknya.

Mereka berdua beranjak ke arah dapur. Di antara debu tebal yang menghalangi pandangan, Peggi dan Modi mencoba mencari kedua orang tuanya seraya memanggil-manggil nama mereka. Dan syukurlah, dari dapur terlihat dua sosok yang sangat mereka cintai. Ibu dan bapak Peggi ternyata selamat dari bencana.
“Ibu dan Bapak ndak apa-apa?” tanya Peggi dan kakaknya menyambut kedua orang tuanya.
“Alhamdulillah, ibu dan bapakmu selamet. Cuma kepala Bapak berdarah dan punggungnya pegel banget ini, sepertinya kejatuhan genteng apa batu bata tadi,” tukas bapak.

Peggi dan keluarganya begitu bersyukur karena mereka semua selamat, hanya sedikit terluka tubuhnya, meski rumah mereka rusak parah. Sementara di antara tetangga mereka ternyata ada beberapa orang yang tewas dan banyak pula yang dibawa ke rumah sakit saking parah lukanya. Hari Sabtu itu benar-benar menjadi hari yang tak biasa bagi Peggi dan semua orang yang tinggal di Bantul, Jogja, Klaten, dan sejumlah daerah sekitarnya.

Ketika ketegangan masih menghantui semua orang, gempa susulan sesekali terjadi, isu terjadinya tsunami tak ayal membuat semua orang berbondong-bondong melangkah ke arah utara, tak terkecuali bagi Peggi dan keluarganya. Tsunami nyatanya hanya kabar angin. Peggi beserta kedua orang tua dan kakaknya kembali ke lingkungan rumah mereka. Yang selamat bahu-membahu membantu mereka yang tertimpa kesusahan. Tenda darurat didirikan. Malam itu Peggi dengan ibunya tidur di dalam tenda seadanya, berdesak-desakan dengan tetangga mereka. Sementara bapak dan Modi ikut berjaga-jaga di luar tenda bersama kaum lelaki lainnya menjaga keamanan lingkungan.

***

Pak Hendro adalah bos dari bapak Peggi di kantor. Ia ingin tahu persis kabar supir mobil dinasnya yang tinggal di Bantul itu pasca gempa. Diajaknya anak lelakinya untuk menemaninya mengunjungi rumah Pak Ponijo, bapak Peggi pada hari Minggu, sehari setelah gempa dahsyat.
“Lho, Bapak kok bisa sampai sini?” sambut Pak Ponijo kaget.
“Piye kabarmu, Pak Ponijo?”
“Alhamdulillah, kami sekeluarga selamet. Rumah kami sebagian sudah ambruk dan sekarang kami tinggal di tenda seadanya.”

Peggi kaget sekali melihat sosok anak Pak Hendro dan begitu pula yang dirasakan lelaki muda itu melihat Peggi.
“Lho, Peggi? Kamu anaknya Pak Ponijo?” tanya Hilman. Peggi mengangguk lemah dan tersipu malu.
“Kamu kenal dengan anaknya Pak Ponijo?” tanya Pak Hendro pada anaknya.
“Iya, Pa. Peggi ini teman sekelas saya. Saya juga baru tau kalo dia anak Pak Ponijo,” sahut Hilman tersenyum.

Peggi tak tahu bagaimana mesti bersikap Dalam kesusahan seperti ini ia bertemu dengan Hilman, cowok yang kata Haanun menyukainya, yang merupakan anak bos dari bapaknya. Ia tak sempat berpikir bagaimana sikap Hilman setelah mengetahui cewek yang ditaksirnya itu anak siapa. Ternyata Hilman justru semakin perhatian pada dirinya.

Di hari berikutnya Hilman mengajak teman-teman sekelasnya -yang tidak menjadi korban gempa- untuk datang ke desa tempat tinggal Peggi. Mereka datang membawa sejumlah dos mie instan dan air mineral. Haanun, sahabat Peggi pun turut serta. Mereka berpelukan dalam keharuan ketika berjumpa.
“Aku seneng banget masih bisa liat kamu lagi, Peg,” ujar Haanun.
“Alhamdulillah, aku juga seneng sekali,” sahut Peggi.
“Kalo nggak diajak Hilman kemari, aku nggak tau kapan ketemu kamu lagi. Piye, kamu seneng kan ditengok dia kemarin?”

Peggi tersenyum sambil melirik ke arah Hilman yang sedang sibuk membagikan barang yang dibawanya kepada tetangganya bersama teman-temannya yang lain.
”Ah, Hilman memang seorang lelaki yang sangat mengesankan,” batin Peggi. Jika benar kata Haanun tempo hari, pantaslah Peggi tersanjung disukai olehnya. Tampaknya Hilman juga tak peduli bahwa Peggi adalah anak supir mobil dinas ayahnya dan justru terlihat makin bersimpati terhadapnya.
“Kudengar Haanun berencana ngajak kamu tidur di rumahnya. Apa kamu mau memenuhi ajakannya? Aku pikir itu ide yang bagus, supaya kamu bisa segera kembali ke sekolah,” kata Hilman pada Peggi setelah selesai kesibukannya.
“Aku sih mau saja diajak Haanun, Hilman. Tapi aku pengen tetep tinggal di dekat rumahku dengan keluarga dan tetanggaku, merasakan suka duka bersama mereka. Sebentar lagi aku sudah bisa berangkat sekolah juga kok.”
“Wah, aku salut sama kamu, Peg. Moga-moga kamu tetap kuat dan tabah ya. Jangan lupa jaga kesehatanmu, lho. Yang jelas, aku pasti nggak akan bosan ke sini nengokin kamu dan siap bantu-bantu apa pun di sini.”

Peggi bersyukur dapat merasakan sebentuk kebahagiaan yang baru, yaitu perhatian tulus dari seorang cowok yang baik hati. Padahal baru saja sebuah bencana besar mengacaukan hidupnya bersama orang-orang di sekitarnya. Jika Hilman menyatakan cintanya, Peggi tak bakal berpikir panjang untuk menerimanya. Ia yakin hari-harinya pasti bakal lebih indah lagi nanti.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Hai No.47/22-28 November 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: