h1

Testimoni Sebelas Tahun

Mei 17, 2011

Dulu, ketika mereka datang dan akhirnya memilihku, tentu saja begitu girang hatiku karena berarti aku telah bertemu dengan jodohku. Sebenarnya Enrico, anak bungsu keluarga Bernardo, lebih suka warna biru. Tapi kebetulan sekali, rekan seangkatanku yang berwarna biru tak berkenan di hatinya.

“Sesungguhnya aku kan penggemar warna biru, tapi birunya kok kurang apik ya? Sepertinya yang warna hitam lebih bagus, kesannya elegan dan mewah. Bagaimana pendapat Mama tercinta?” tanya Enrico pada mamanya.

“Mama sih terserah saja pilihan kamu, Rico. Tanya saja kakak-kakakmu itu, bagaimana pendapat mereka?” ujar Nyonya Bernardo. Ternyata semua kakak Enrico setuju dengan pilihan adiknya, yang rupanya memang jarang salah dalam memilih barang bagus. Maka aku segera diantarkan ke rumah keluarga Bernardo setelah proses administrasinya usai. Tak lupa kuminta doa dari teman-temanku yang belum laku, semoga hidupku akan lebih membahagiakan di tempat yang baru. Kudoakan pula, semoga teman-temanku pun segera mendapat majikan baru yang memuliakan hidup mereka di masa mendatang.

Keluarga Bernardo merupakan sebuah keluarga yang sederhana. Tuan Bernardo, yang berdarah Italia dari pihak ibunya, sudah lama wafat. Di rumah itu tinggal Nyonya Bernardo bersama ketiga anak perempuannya, Sisca, Erica, dan Monica, serta si bungsu Enrico. Anak tertua keluarga Bernardo, Franco, sudah berkeluarga serta tinggal terpisah dari mama maupun adik-adiknya. Nyonya Bernardo adalah seorang pengusaha restoran yang mengawali usahanya dari bawah dan sedang mulai menanjak. Oleh karenanya, dia bisa membeli sebuah mobil baru, itulah aku adanya.

***

Tahun-tahun pertamaku bersama keluarga Bernardo merupakan masa kejayaanku. Perjalanan antarkota selalu dengan mulus dan penuh kekuatan kulewati. Apalagi jika aku hanya menyusuri jalan di dalam kota, sama sekali tak masalah, sudah pastilah sangat memuaskan majikanku. Aku senang karena Enrico, yang paling sering menge­mudikanku, adalah pengemudi yang selalu berhati-hati dan tidak beringasan. Tapi aku sebal sekali jika kebetulan yang mengemudikan aku adalah Siswoyo, kakak ipar Enrico yang merupakan suami Erica. Siswoyo menikahi Erica di tahun keduaku bersama keluarga Bernardo. Aku selalu berdebar-debar setiap kali menempuh perjalanan bersamanya. Memang  belum pernah ada luka yang menggores tubuhku, namun aku selalu khawatir jika sampai menabrak orang atau kendaraan di depanku.

Sempat juga aku menye­rempet orang yang ada di pinggir jalan. Aku sih tak apa-apa, tapi orang yang tersenggol olehku tentu saja marah dan memaki kami. Siswoyo yang mengemudikanku hanya tertawa saat itu terjadi. Seandainya aku boleh memilih, lebih baik kutolak jika dia yang mengemudikanku, namun apa dayaku?

Luka pertama akhirnya justru kudapatkan ketika Enrico yang tengah  membawaku. Kejadiannya di tahun ketigaku bersama keluarga Bernardo. Ironis ya? Ketika itu Enrico baru pulang ke rumah setelah larut malam lantaran dia mesti mengantar teman-temannya dulu sehabis sebuah pementasan. Aku sedang dimasukkan ke dalam garasi, mendadak terdengar suara berisik di sisi kananku. Ternyata tubuhku menyerempet tembok garasi. Sedikit perih juga kurasakan. Enrico yang sudah sangat mengantuk serta merta membelalakkan matanya saat sadar bahwa tubuhku telah terluka. Dia segera memajukan aku, turun dari mobil, dan bicara padaku,

“Waduh, maafkan aku ya? Aku betul-betul ngantuk dan tidak sengaja bikin kamu terluka.” Dia pun mengelus-elus luka di tubuhku. Aku jadi merasa nyaman, dapat kumaafkan begitu saja kesalahan majikan mudaku ini.

Luka kedua kurasakan ketika aku dipinjam oleh keluarga Pak Raka, kakak kandung Nyonya Bernardo. Dalam perjalanan antarkota itu, aku sempat berserempetan dengan sebuah bis. Tapi syukurlah hanya aku yang sedikit terluka, keluarga Pak Raka selamat sepenuhnya. Setelah beberapa kali tubuhku terluka, di tahun kelima akhirnya aku dicat ulang. Aku merasa seperti mobil baru lagi ketika kembali ke rumah. Terima kasih kuucapkan kepada Nyonya Bernardo yang begitu sayang padaku, sehingga tak masalah baginya mengeluarkan banyak biaya untuk perawatan tubuhku.

***

Duka yang dalam kurasakan ketika aku kehilangan kaca spion kananku, salah satu organ tubuhku. Setan jalanan bersepeda motor menyambarnya sampai lepas tanpa alasan yang jelas dalam sebuah perjalanan di tengah kota. Kesedihanku bukan sekadar lantaran aku terluka, melainkan karena seminggu setelah itu Franco meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kereta api yang ditumpanginya jatuh dari rel, sejumlah penumpang tewas, dan Franco termasuk di antaranya. Aku dibawa keluarga Bernardo menjemput jenazahnya. Ketika kami membawanya pulang, lalu mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir, aku dengan Enrico di belakang kemudi selalu berada tepat di belakang ambulans yang membawa jasadnya. Turut kurasakan kehilangan yang dialami seluruh anggota keluarga Bernardo di tahun keenamku bersama mereka.

Sebuah pengalaman baru kurasakan di tahun kedelapan. Untuk pertama kalinya aku mogok di tengah jalan. Dengan Enrico sebagai pengemudinya, aku tengah membawanya bersama Nyonya Bernardo, nenek Enrico, Pak Raka, dan Pak Marzuki (sahabat Pak Raka) pulang dari luar kota. Setelah sempat melewati jalan berkelak-kelok di daerah pegunungan, diiringi hujan amat lebat, satu jam kemudian tiba-tiba mesinku mati di pertigaan lampu merah. Pak Raka dan Pak Marzuki dibantu dua orang pengamen jalanan mendorongku beberapa meter, lantas mesinku pun hidup lagi. Setelah menempuh dua kilometer perjalanan, ibaratnya pusing kepalaku, mendadak mesinku mati lagi. Tubuhku pun kembali didorong beberapa meter. Tapi kali ini percuma belaka. Mesinku tetap tak mau hidup dan sudah pingsan aku ibaratnya.

Ada beberapa orang yang lantas datang membantu. Mereka mencoba segala upaya agar mesinku bisa kembali menyala. Hasilnya ternyata nihil. Enrico menghubungi Siswoyo, kakak iparnya yang cukup memahami masalah otomotif. Siswoyo bergegas datang bersama seorang kawannya. Cukup dengan satu dua jurus, ternyata dia mampu membuatku sadar dan hidup lagi. Rasanya aku harus berterima kasih kepada orang yang tak kusukai itu.

Dua minggu kemudian Sisca menikah. Aku senang bisa mengantar-jemput banyak sekali keluarga dan kerabat keluarga Bernardo yang datang dari luar kota guna menghadiri pernikahan Sisca. Tapi sebulan setelah itu aku kembali merasakan suatu duka bersama keluarga Bernardo. Pak Raka, kakak Nyonya Bernardo, mendadak sakit keras. Enrico dan mamanya menggunakanku untuk mengantarkan Pak Raka ke rumah sakit. Selama beberapa hari diopname, kondisinya kian buruk sampai akhirnya beliau wafat. Ada satu hal yang aneh sebelum itu terjadi. Ketika  Enrico dalam perjalanan pulang, sehabis membawa Pak Raka ke rumah sakit, tiba-tiba mesinku berhenti mendadak di tengah jalan. Syukurlah, ada orang baik yang datang membantu Enrico dan mampu membuatku berjalan lagi.

Aku hanya heran, dulu menjelang Franco meninggal, kaca spionku lepas. Lantas menjelang wafatnya Pak Raka, lagi-lagi ada masalah yang terjadi pada diriku. Dua kali dalam waktu yang tak lama, aku mogok di jalan.  Apakah sesuatu yang buruk yang terjadi padaku, selalu menjadi firasat buruk bagi keluarga Bernardo?

***

Sesuatu yang sangat menyakitkan akhirnya mesti kualami di tahun kesembilan. Suatu petang Enrico membawaku menjemput mamanya pulang dari arisan. Menjelang keluar dari gang, sekonyong-konyong dari arah kanan sebuah sepeda motor dengan keras menghempas tubuhku. Sebelah kanan depan tubuhku ringsek dan bumpernya hampir lepas. Inilah luka terparah yang kualami selama aku mengabdi pada keluarga Bernardo. Enrico sempat menghadapi masalah dengan keluarga si pengen­dara motor yang mencoba memerasnya. Syukurlah, ada tetangga Enrico, seorang polisi baik hati yang mampu menggagalkan hal buruk itu. Meski sesungguhnya sudah dirugikan, ternyata Enrico masih bersedia membantu meringankan biaya pengobatan orang yang merusakku, mobil kesayangannya ini. Aku terus terang bangga pada majikanku yang sungguh berbudi baik tersebut.

Selanjutnya, pengalaman baru kurasakan ketika Yana, suami Sisca, mengemudikanku jauh ke luar kota. Ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ban belakang kananku pecah. Syukurlah, hal itu terjadi di pinggir jalan dan tak terjadi sesuatu yang mencelakakan kami. Ban serep pun dipasang. Seminggu kemudian, ketika Siswoyo mengemudikanku, ada satu lagi ban yang pecah. Akhir­nya Nyonya Bernardo menyuruh Enrico untuk membeli tiga ban baru guna memperbaiki performa dan kinerjaku. Hmm, telah kurasakan lagi kasih sayang keluarga Bernardo kepadaku.

***

Gempa bumi besar yang mengguncang kota tempat tinggal keluarga Bernardo menjadi ceritaku di tahun kesepuluh. Rumah mereka mengalami kerusakan cukup parah, tapi garasi yang menjadi tempat tidurku utuh. Aku pun selamat tanpa terluka sedikit pun. Ketika Yana berupaya mengeluarkanku dari garasi menuju jalan besar, aku mesti menaiki reruntuhan tembok yang menutupi tiga perempat jalan.

Keluarga Bernardo terpaksa mengungsi ke rumah almarhum Franco, yang dihuni oleh istri dan ketiga anaknya. Restoran yang menjadi penyangga hidup keluarga Bernardo juga mengalami kerusakan, kendati tidak separah rumah mereka. Tentu saja kesedihan kembali melingkupi Nyonya Bernardo dan anak-anaknya, namun mereka sanggup melewatinya dengan sabar dan tegar.

Dua bulan berselang, Nyonya Bernardo, Monica, dan Enrico akhirnya kembali bersamaku ke rumah yang telah diperbaiki. Sisca dan Yana beserta seorang putrinya tidak kembali ke rumah karena Yana mendapatkan tugas baru dari kantornya di luar kota. Sedangkan Erica dan Siswoyo bersama kedua anaknya sudah lama tak tinggal di rumah keluarga Bernardo lagi.

Tiga bulan setelah kembali ke rumah, duka kembali melanda. Nyonya Bernardo harus diopname karena gangguan pernapasan. Bersama Enrico, Erica, dan Siswoyo, kuantarkan beliau menuju rumah sakit. Selama hampir sebelas tahun karierku, tak pernah ada cerita Nyonya Bernardo sakit keras hingga harus dirawat secara khusus. Hal itu pun menjadi sesuatu yang cukup mengejutkan bagi keluarga Bernardo. Tapi aku bangga melihat keteguhan hati Nyonya Bernardo untuk bisa sembuh, juga ketegaran jiwa Enrico beserta kakak-kakaknya menghadapi kondisi mamanya. Setiap malam Enrico selalu menjaga mamanya di rumah sakit, sedangkan yang lain bergantian menjaganya dari pagi hingga petang.

Setelah dua minggu Nyonya Bernardo diizinkan pulang ke rumah, kondisinya sudah membaik, kendati belum sembuh benar. Hal itu ternyata tak berlangsung lama. Tiga bulan setelah pulang dari rumah sakit dan menjalani pengobatan secara berkesinambungan, kesehatan Nyonya Bernardo tiba-tiba kembali memburuk. Untuk kedua kalinya kubawa beliau ke rumah sakit bersama Enrico, Erica, dan Monica. Enrico kembali bertugas di malam hari menjaga sang mama dan dengan setia kuantarkan dia senantiasa. Dokter yang menangani Nyonya Bernardo sudah angkat tangan, tak mengerti lagi upaya apa yang bisa memberi kesembuhan bagi beliau.

Empat hari kemudian Nyonya Bernardo mengembuskan napas terakhirnya. Sungguh, aku begitu berduka kehilangan seorang majikan yang luar biasa baiknya. Rasanya kepiluan hatiku sebanding dengan kesedihan yang dimiliki Sisca, Erica, Monica, dan Enrico yang ditinggalkan oleh mama mereka untuk selamanya. Aku sendiri seperti kehilangan seorang ibu dalam hidupku. Sebagai penghormatan terakhirku, aku berada di belakang ambulans yang membawa jenazah Nyonya Bernardo, mengantarkannya ke tempat peristirahatan nan abadi.

Sebelas tahun sudah kini. Sepeninggal Nyonya Bernardo, kuharap masih dapat kuabdikan diriku pada Enrico dan saudara-saudaranya. Dengan sisa-sisa kejayaanku, masih kumiliki keyakinan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga Bernardo. Aku masih ingin turut bahagia melihat Monica dan Enrico akhirnya menikah meng­ikuti jejak kakak-kakaknya. Semoga usul Siswoyo maupun Yana untuk menjualku sekadar wacana. Sungguh, aku masih menyayangi keluarga Bernardo dan tak ingin pergi begitu saja dari kehidupan mereka.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Sinar Harapan edisi Sabtu, 16 April 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: