Archive for Juli, 2011

h1

Alfred Riedl Sudah Diperlakukan Tidak Elegan

Juli 16, 2011

Biasanya seorang pelatih tim sepak bola dipecat karena gagal memenuhi target. Tapi apa yang terjadi pada Alfred Riedl, yang dipecat mendadak sebagai pelatih timnas Indonesia oleh pengurus PSSI yang baru, mungkin sebuah anomali. Tapi memang itulah salah satu hal yang khas dari Indonesia, apalagi jika bicara masalah sepak bolanya, yang memuat daftar ketidaknormalan (aneh tapi nyata) yang sangat panjang. Kemelut panjang di tubuh PSSI yang berakhir 9 Juli 2011 dengan terpilihnya kepemimpinan kolektif yang baru merupakan satu contoh saja.

Dan seperti ingin melanjutkan keanehan yang nyata itulah, maka pengurus PSSI yang baru membuat keputusan penting pertama yang kontroversial. Timnas Indonesia yang dalam hitungan hari akan berlaga membawa nama bangsa dan negara, justru terpaksa ditinggalkan pelatih dan para asistennya yang diberhentikan tanpa rasa hormat sama sekali. Padahal Alfred Riedl telah menentukan 25 pemain pilihannya untuk menghadapi Turkmenistan dalam Pra-Piala Dunia 2014. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan Firman Utina dkk yang sudah telanjur memiliki hubungan harmonis dengannya sejak Piala AFF 2010 silam.

Alasan pemberhentian Alfred adalah karena surat kontraknya tidak ditemukan di PSSI dan dia melakukan kontrak tidak dengan PSSI, tapi dengan Nirwan Bakrie secara perseorangan. Jika memang benar demikian, hal itu sebenarnya hanya masalah administratif yang solusinya bisa sangat sederhana. Tinggal berkomunikasi saja dengan para pihak dalam surat perjanjian tersebut. Belakangan Alfred menyatakan bahwa sebagai pelatih profesional tidak mungkin dirinya menjalin kontrak dengan perusahaan swasta atau pribadi selain dengan federasi. Hal itu ada hubungannya dengan FIFA jika terjadi masalah. Mantan Sekjen PSSI Nugraha Besoes pun mengonfirmasi bahwa ada surat perjanjian resmi antara PSSI dengan Alfred Riedl. Nirwan Bakrie menandatangani surat tersebut dalam kapasitasnya sebagai wakil ketua umum PSSI.

Tapi mungkin semangat Djohar Arifin dkk adalah melakukan sapu bersih terhadap berbagai unsur di PSSI-nya Nurdin Halid, ternyata termasuk pelatih timnas pula. Padahal Alfred tentu saja tidak termasuk pengurus lama PSSI (Nurdin Halid dan kroninya) yang sudah mendapat stigma tidak baik dari masyarakat beberapa bulan ini. Barangkali mereka pun sebenarnya tidak 100% buruk semuanya.

Saya percaya pencinta sepak bola nasional masih menaruh hormat atas kerja keras Alfred selama ini, terutama saat Piala AFF 2010 – meski gagal juara. Ia sudah menunjukkan komitmennya yang luar biasa untuk membangun skuad Merah Putih, termasuk menolak intervensi dan bahkan mengkritik pengurus PSSI saat itu. Bahkan ketika kisruh PSSI masih berlangsung dan belum jelas ujungnya, dia tetap menjalankan tugasnya memantau hingga menentukan skuad timnas senior dan U-23 untuk menghadapi Pra-Piala Dunia dan Piala AFF U-23. Dan jika kita bersedia sedikit jujur, sebenarnya kegagalan timnas menjadi juara Piala AFF 2010 adalah karena intervensi berlebihan Nurdin Halid yang mempolitisasi Irfan Bachdim dkk, selain karena pemberitaan berlebihan dari media yang membuat kita semua sedikit takabur (sudah merasa juara sebelum final berlangsung). Padahal Alfred sendiri sudah berkali-kali mengingatkan agar kita jangan terlalu bergembira karena turnamen memang belum berakhir.

Jika memang PSSI ingin mengganti Alfred, kenapa tidak membiarkannya bertugas menangani anak asuhnya di Pra-Piala Dunia 2014 lebih dahulu yang sudah jelas di depan mata? Apalagi ternyata kontraknya yang sah dengan PSSI berlaku hingga Mei 2012. Mengapa pemecatan pelatih timnas menjadi prioritas utama Djohar Arifin membenahi PSSI? Sebenarnya terserah saja mau melakukan apa saja bagi mereka yang kini menguasai PSSI, tapi apa tidak lebih baik personel timnas yang tidak mereka sukai itu diajak bicara baik-baik terlebih dahulu dan setidaknya diberikan ucapan terima kasih sudah bersedia menangani timnas selama ini? Apakah pengurus PSSI pernah memikirkan bagaimana pendapat serta perasaan Firman Utina dkk yang secara tiba-tiba dipaksa berpisah dengan pelatih yang mereka hormati dan kagumi. Sudah jelas ada rasa kagol dan kecewa di antara mereka yang sudah menjadi pilihan Alfred untuk membela timnas.

Saya berharap Alfred Riedl, juga Wolfgang Pikal, Widodo C. Putro, dan Eddy Harto sebagai staf pelatih, juga Iman Arif sebagai Deputi Bidang Teknis BTN sekaligus manajer timnas, merupakan orang-orang yang lapang dada dan bersedia memaafkan pengurus PSSI baru yang sudah memperlakukan mereka dengan tidak elegan dan tanpa upaya menghargai mereka sedikit pun.

Yang jelas, mari kita memperpanjang mimpi kita melihat timnas berprestasi karena menghadapi Pra-Piala Dunia 2014, pasukan Garuda hampir pasti gagal. Saya tidak yakin Wim Rijsbergen sebagai pelatih terbaru timnas mampu mendatangkan keajaiban dalam waktu kurang dari seminggu menjalani masa persiapan bersama Bambang Pamungkas dkk. Oh ya, jika memang pelatih Belanda itu hanya ditugaskan untuk menangani timnas dalam dua pertandingan melawan Turkmenistan, mengapa tidak memilih pelatih yang sudah mengenal para pemain saja? Yah, sudahlah…

Akhirnya, sebagai salah satu pencinta skuad Merah Putih, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mister Alfred, Mas Wolfgang, Mas Wiwid, Mas Eddy, dan Mas Iman (serta personel timnas lainnya) yang sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik selama menjalani waktu bersama timnas sepak bola Indonesia. Semoga nasib Anda semua lebih baik di tempat yang baru.

Kepada Professor Djohar Arifin dkk, selamat mengurus sepak bola Indonesia yang karut marut dan banyak masalah itu. Penunjukan Rahmad Darmawan sebagai pelatih timnas U-23/asisten pelatih timnas senior barangkali sebuah awal yang bagus dan membawa harapan baru, di luar masalah pemecatan Alfred Riedl yang cukup menjadi preseden buruk yang tak perlu terjadi lagi di lain hari.

h1

Déjà vu Kegagalan Timnas

Juli 16, 2011

Mungkin belum hilang dari ingatan kita, betapa popularitas timnas sepak bola Indonesia menjulang tinggi berkat aksi Firman Utina dkk dalam Piala AFF 2010. Kendati hasil akhirnya tetap gagal juara, namun para pencinta sepak bola tanah air bagaikan kembali melihat secercah harapan bahwa di masa depan skuad Merah Putih akan mampu berprestasi. Namun kisruh yang terjadi di tubuh PSSI selama berbulan-bulan ternyata membawa dampak negatif yang cukup siginifikan bagi perjalanan timnas. Bulan Juli 2011 ini timnas senior dan timnas U-23 memiliki agenda penting. Timnas senior akan menghadapi Turkmenistan dalam Pra-Piala Dunia 2014 pada 23 dan 28 Juli 2011, sementara timnas U-23 bakal menjalani turnamen Piala AFF U-23 yang berlangsung di Palembang. Alfred Riedl selaku pelatih kepala telah menentukan sejumlah pemain yang akan memperkuat kedua tim. Sayangnya, Badan Tim Nasional (BTN) tidak bisa segera menggelar pemusatan latihan dengan alasan ketiadaan dana. Anggaran yang telah diajukan BTN kepada berbagai pihak yang berkompeten belum direspons dengan positif. PSSI sebagai induk organisasi -yang untuk sementara dipimpin oleh Komite Normalisasi- sedang berkonsentasi penuh pada pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo. Joko Driyono selaku pejabat sementara Sekjen PSSI pun telah menyatakan bahwa kas PSSI saat ini memang kosong. Bahkan kemungkinan terburuknya timnas senior tidak akan berangkat ke Turkmenistan, jika dana belum juga tersedia mendekati waktu pertandingan.

Gerak Cepat

Beruntung, KLB PSSI yang diadakan pada 9 Juli 2011 berhasil memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif PSSI yang baru. Ketua umum PSSI terpilih mesti segera membentuk pengurus yang solid dan bergerak cepat mencari dana untuk memenuhi segala kebutuhan timnas. Jangan sampai untuk memenuhi jadwal pertandingan resmi FIFA pun timnas tidak mampu. Kita berharap BTN bisa mencari dana talangan untuk membiayai timnas lebih dahulu. Semoga pengurus PSSI mendatang berhasil mendapatkan dana yang memadai untuk agenda timnas berikutnya. Namun dengan masa persiapan yang sangat mepet, kita memang harus realistis bahwa tim asuhan Alfred Riedl akan sangat susah lolos dari hadangan Turkmenistan. Demikian pula timnas U-23 yang dilatih oleh Rahmad Darmawan dalam Piala AFF U-23 pun tidak akan mudah untuk berprestasi. Daftar kegagalan timnas sudah hampir pasti semakin panjang lagi.

Apa yang terjadi saat ini sebenarnya hampir sama dengan rentetan peristiwa pada tahun 2007. Penampilan pasukan Garuda sempat dipuji kala mampu mengimbangi permainan tim-tim papan atas Asia dalam Piala Asia 2007 yang berlangsung di Jakarta. Meski akhirnya gagal lolos ke babak selanjutnya, asa membumbung tinggi bahwa tim asuhan Ivan Kolev bakal bisa tampil lebih baik dalam ajang selanjutnya. Ternyata timnas Indonesia kemudian takluk dari Suriah dalam Pra-Piala Dunia 2010. Pada saat itu terjadi, ketua umum PSSI Nurdin Halid baru saja masuk penjara lagi tanpa sudi melepas jabatannya di PSSI. Perhatian pengurus PSSI seakan tersita untuk lebih mengurusi bosnya ketimbang timnas yang membawa nama bangsa dan negara. Kegagalan timnas senior di Pra-Piala Dunia 2010 saat itu berlanjut pada timnas U-23 yang tampil dalam SEA Games 2007, meski sempat menjalani latihan di Argentina. Kegagalan timnas Indonesia seolah senantiasa menjadi déjà vu yang terus terulang dari masa ke masa. Namun demikian, semoga di akhir tahun ini timnas U-23 masih mungkin menjadi juara SEA Games 2011 di Palembang. Apalagi KLB PSSI sukses sehingga sepak bola Indonesia lolos dari hukuman FIFA.

* Tulisan ini dimuat di rubrik Oposan tabloid BOLA No.2.222/Kamis-Jumat, 14-15 Juli 2011.