Archive for Agustus, 2011

h1

Kemenangan Dua Tim Berkostum Merah Putih

Agustus 23, 2011

Hanya dalam kurun waktu beberapa jam, dua tim sepak bola berkostum merah putih meraih kemenangan dalam pertandingan yang dijalaninya.  Tim pertama adalah timnas Indonesia kebanggaan kita semua yang menang 4-1 atas Palestina dalam pertandingan persahabatan internasional yang berlangsung di Stadion Manahan Solo Indonesia.  Tim kedua adalah Manchester United yang mengandaskan Tottenham Hotspur dengan skor 3-0 dalam pertandingan pekan kedua Liga Premier Inggris yang dimainkan di Stadion Old Trafford Manchester Inggris.

Ternyata ada sejumlah benang merah lainnya yang menghubungkan kedua pertandingan tersebut selain persamaan warna kostumnya. Pertama, pertandingan berlangsung pada hari Selasa, 22 Agustus 2011 malam. Indonesia vs Palestina pada Waktu Indonesia Barat, sedangkan United vs Spurs pada waktu Inggris (dini hari WIB).  Kemudian, baik Indonesia maupun Manchester United yang tampil dengan kostum utamanya -dengan sponsor Nike- bertindak sebagai tuan rumah dan sukses menundukkan tamunya. Pada babak pertama, kedua pertandingan tersebut sama-sama berakhir imbang tanpa gol. Timnas baru mencetak gol pada babak kedua, demikian pula dengan United.

Kedua tim juga mencatatkan masing-masing tiga nama pemain sebagai pencetak gol. Hariono, Cristian Gonzales, dan Bambang Pamungkas (dua gol) mempersembahkannya untuk Skuad Garuda, sementara Danny Welbeck, Anderson, dan Wayne Rooney membuatnya bagi The Red Devils. Uniknya lagi, satu pencetak gol kedua tim merupakan pemain tengah berambut panjang (Hariono dan Anderson), sementara dua pemain lainnya adalah penyerang berambut pendek (Gonzales-Bepe dan Welbeck-Rooney).

Persamaan lainnya, pelatih kedua tim adalah lelaki berkulit putih asal Eropa yang rambutnya pun sudah memutih, baik Wim Rijsbergen (pelatih Indonesia asal Belanda) maupun Sir Alex Ferguson (pelatih Manchester United asal Skotlandia).

Persamaan terakhir sifatnya sangat personal. Saya adalah pencinta timnas Indonesia sekaligus penggemar klub Manchester United yang kebetulan menyaksikan pertandingan mereka yang disiarkan secara langsung di televisi, meski untuk pertandingan United vs Spurs tidak saya saksikan secara utuh. Mungkinkah ada persamaan lainnya? Silakan bagi Anda yang mencermati dan menemukannya. Terima kasih atas perhatiannya.

 

Iklan
h1

Beberapa Hal Baru dari Manchester United 2011/12

Agustus 15, 2011

Tim Termuda di Premier League

Mengawali Premier League musim 2011/12, Manchester United tampil dengan beberapa hal baru. Tidak hanya kostum tim dan potongan rambut Wayne Rooney yang baru, tapi sebagian penghuni tim inti The Red Devils pun merupakan wajah baru, yaitu : David De Gea, Tom Cleverley, Ashley Young, dan Danny Welbeck. Hebatnya, rata-rata usia pemain United ketika mengalahkan West Brom 2-1 pada hari Minggu (14/8) ternyata menjadi yang termuda dari seluruh tim yang tampil dalam pekan pertama Premier League, yakni pada angka 24 tahun. Dari sebelas pemain inti dan tiga pemain pengganti yang diturunkan, terdapat sepuluh pemain yang usianya berkisar antara 19-26 tahun. Mereka adalah David De Gea (20), Chris Smalling (21), Fabio (21), Anderson (23), Tom Cleverley (22), Ashley Young (26), Wayne Rooney (26), Danny Welbeck (20), Jonny Evans (23), dan Phil Jones (19). Terlihat jelas hasrat Sir Alex Ferguson melakukan peremajaan timnya sudah diwujudkan sejak pertandingan pekan pertama liga.

Dominasi Pemain Inggris

Yang juga menjadi hal baru dari United adalah lebih banyaknya jumlah pemain Inggris dalam tim inti. Tercatat ada enam pemain anggota skuad The Three Lions yang diturunkan Sir Alex, yaitu : Rio Ferdinand, Smalling, Cleverley, Young, Rooney, dan Welbeck, ditambah satu pemain cadangan Jones yang merupakan pemain Inggris U-21. Jika pertandingan persahabatan Inggris melawan Belanda pekan lalu (10/8) tidak dibatalkan karena kerusuhan di London, Fabio Capello diprediksi akan memainkan Ferdinand, Young, Rooney, dan Welbeck sejak menit pertama. Jika permainan mereka bersama klub Manchester berwarna merah cukup konsisten, hal itu kiranya bakal berdampak positif bagi timnas Inggris. Kita tidak bisa mengabaikan bahwa keberhasilan Spanyol menjadi juara Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 tak lepas dari pemain Barcelona yang mendominasi skuad inti La Furia Roja. Siapa tahu dengan lebih banyaknya pemain United yang menghuni skuad The Three Lions akan membuat tim asuhan Capello tersebut lebih berprestasi dalam turnamen resmi antarnegara mendatang.

Nomor Kostum

Kepergian sejumlah pemain lawas dan kehadiran pemain anyar juga ditandai dengan perubahan nomor kostum. Nomor 1 yang ditinggalkan Edwin van der Sar kini ditempati De Gea, nomor 6 bekas Wes Brown dipakai Evans, nomor 18 yang selama lebih dari sepuluh tahun dipakai Paul Scholes kini menjadi milik Young, sementara nomor 23 yang semula dikenakan Evans kini dipakai Cleverley.

Small-Clever-Young

Ada satu hal lagi yang unik. Nama tiga pemain usia muda Inggris yang menjadi pemain inti merupakan kata sifat yang bagaikan melukiskan kondisi United saat ini, yaitu small/kecil (Chris Smalling), clever/pintar (Tom Cleverley), dan young/muda (Ashley Young). Kecil dapat diartikan belum memiliki nama besar, namun mereka pintar dan masih muda.

h1

Rahasianya Kerja Keras

Agustus 15, 2011

 

Rahasia saya adalah latihan. Saya selalu merasa, jika mau meraih sesuatu yang spesial dalam hidup, saya harus bekerja keras, bekerja lebih keras, dan bekerja lebih keras lagi. (David Beckham)


h1

Riwayatku Bersama Senja

Agustus 12, 2011

Seorang lelaki biasanya menjadi kakek sesudah cukup berumur lantaran sang anak telah memberikan cucu baginya. Bisa pula seorang lelaki yang tidak mempunyai cucu -bahkan ia mungkin tak pernah menikah- dipanggil kakek semata-mata karena ia sudah lanjut usia. Yang jelas, kata kakek begitu identik dengan lelaki tua. Bagaimana dengan diriku? Tentu saja belum layaklah aku dibilang cukup berumur atau lanjut usia, bahkan baru tiga puluh usiaku tahun depan. Namun mesti kuterima sebuah kenyataan bahwa tak lama lagi aku akan mendapatkan status sebagai kakek lantaran anakku akan melahirkan anak pertamanya, tentu saja ia akan menjadi cucu pertamaku jua. Padahal teman-teman sebayaku yang telah memiliki anak, rata-rata anaknya masih berusia balita, sementara sebagian teman yang lain malah masih melajang. Jadi, apakah masuk akal seseorang seumurku mempunyai cucu? Baiklah, akan kujelaskan bagaimana mulanya hingga semuda ini aku segera menjadi seorang kakek.

***

Mungkin salah satu yang khas dari diri ini adalah mudah terpukau pada kecantikan perempuan. Maka tak usah heran jika semua gadis yang pernah menjadi kekasihku pasti berwajah rupawan. Begitu pula yang terjadi ketika aku pertama kali bertemu dengan perempuan yang akhirnya kuputuskan sebagai kekasih terakhirku. Mataku nyaris tak berkedip menatap parasnya, saking besar pesona keindahan yang ia pancarkan untukku. Ah, betapa bodohnya aku waktu itu karena seorang gadis yang masih menjadi pacarku tengah bersamaku. Bahkan aku bisa berada di tempat tersebut lantaran mengantarkan dirinya yang berkonsultasi masalah kecantikan. Kami bertengkar cukup hebat ketika kubawa ia pulang ke tempat kosnya. Aku akhirnya mengaku salah dan mohon maaf kepadanya karena telah memperlihatkan sikap mengagumi perempuan lain tepat di depan matanya. Tapi jujur saja, tak mampu lagi kupadamkan hasrat yang telanjur menyala untuk setidaknya mengenal nama sang empunya wajah cantik itu. Bahwa aku telah berkekasih kulupakan sejenak dan jika kami nanti mesti berperang kata lagi tak kupedulikan pula. Hubungan kami sepertinya memang sudah menjelang berakhir di ujung jalan.

Tersemat nama di dadanya, maka akan langsung kusapa saja dirinya. Kebetulan tidak ada konsumen yang sedang dilayaninya. Aku tengah berada di tempat itu lagi.

”Mbak Senja, boleh saya berkenalan dengan Anda?” ucapku sebagai basa-basi.

”Bukankah sudah tahu siapa nama saya? Sepertinya kita tak perlu berkenalan lagi. Oh ya, kok datang sendiri, tidak dengan pacarnya seperti kemarin?”

”Mbak Senja masih ingat saya ya? Sudahlah, tidak usah membicarakan pacar saya. Kami sebenarnya sedang tidak akur nih, Mbak.”

”Lho kok malah curhat ke saya?” komentarnya dengan mengernyitkan dahi.

Yang terjadi selanjutnya, aku justru benar-benar curhat tentang keretakan hubunganku dengan sang pacar. Ia menanggapiku sesekali dan selalu bisa kuterima pendapatnya. Rasa-rasanya aku jadi lebih menyukainya, tak hanya terpana akan kecantikannya. Pembicaraan kami berkali-kali terhenti ketika ada konsumen yang datang dan berlanjut kembali ketika sepi. Aku iseng mengajaknya singgah ke warung angkringan sebelum ia pulang. Sungguh sebuah kejutan bagiku, ternyata ia bersedia.

”Maaf, dari tadi kita ngobrol, aku belum tahu namamu lho,” ujar Senja.

”Jangan terkejut kalau kusebutkan namaku nanti ya. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu,” sahutku tersenyum.

”Memangnya siapa namamu?”

”Namaku Utama, Mbak Senja.”

”Hah? Nama kita berdua kok seperti nama kereta ya? Saya Senja dan kau Utama, jadi Senja Utama?” Tawa kami berdua berderai kala duduk bersisian petang itu.

***

Sejak sore tersebut hubunganku dengan Senja kian hangat. Aku langsung setuju ketika pacarku meminta hubungan kami diakhiri. Justru itulah hal yang kunanti-nanti, sementara aku sudah kian menyukai Senja. Kendati demikian aku dan Senja masih berteman belaka.

”Utama, boleh kan gantian aku yang bicara jujur kepadamu?” tanya Senja.

”Kita kan sudah berteman baik. Bicaralah apa saja yang kau inginkan, Senja.”

”Yang sudah pasti kau tahu, aku memang sedang sendiri kini.”

Senja menghentikan ucapannya lantas menundukkan wajahnya. Tak bisa kuduga apa yang sebenarnya akan ia bicarakan selanjutnya.

”Ya Senja, lalu apa?” tanyaku penasaran.

”Sebenarnya aku pernah menikah dan punya dua anak,” lanjut Senja sendu.

”Oh, hanya itu yang ingin kau katakan? Oke, aku bisa menerimanya,” kataku berlagak tenang. Sesungguhnya hal itu di luar dugaanku, namun aku terbiasa tidak berlebihan dalam bereaksi, maka seolah-olah aku tak terkejut mendengarnya.

”Sepertinya kau tak kaget sama sekali. Apa kau sudah tahu sebelumnya?”

”Aku baru tahu, tapi mungkin aku seorang lelaki yang tenang hati, jadi biasa saja responsku. Lagi pula aku ingin dapat menerimamu apa adanya, dengan segala kelebihan maupun kekuranganmu.”

”Terima kasih Utama, kau teman yang sangat baik bagiku.”

”Oke, tapi mungkinkah kita bisa lebih dari berteman biasa? Sudikah dirimu menjadi temanku yang teristimewa?”

Senja tersenyum semata memandangiku. Matanya tampak berbinar, parasnya pun lebih cerah bersinar. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. Itulah jawaban Senja atas tanyaku. Ia bersedia menjadi kekasihku. Wow, hidupku pun terasa lebih cerah warnanya sedari waktu itu. Seiring keakraban kami yang semakin lekat, aku pun mengerti bahwa Senja ternyata lebih tua dua belas tahun ketimbang aku.

”Usiaku kini 36 tahun,” sahut Senja ketika kutanya soal umurnya.

”Hah? Apa kau tak berdusta padaku? Aku mengira kau memang lebih tua ketimbang aku, tapi tak kusangka usiamu sudah sedewasa itu,” kataku tanpa bisa menyembunyikan kekagetanku. Rona wajah Senja berubah menjadi tampak resah.

”Lantas bagaimana, apa kau jadi batal mencintaiku?”

”Tidak, sayang. Aku hanya mau bilang kalau wajahmu itu seperti sepuluh tahun lebih muda daripada usiamu sebenarnya,” pujiku spontan. Senja pun tersenyum lebar, kulit wajahnya yang terang tampak memerah.

”Ah, bisa saja kau memujiku. Tidak malu punya kekasih yang jauh lebih tua?”

”Apakah Senja juga keberatan punya kekasih yang jauh lebih muda? Ya sudah, tiada yang salah kok dengan cinta kita.” Senyum kami berdua mengembang bersama.

***

Sudah tiada lagi rahasia antara aku dan Senja. Telah kutemui pula kedua anak Senja yang tinggal bersama ayahnya sejak orang tuanya berpisah. Sesekali mereka memang diperkenankan berjumpa dengan ibunya. Virgie, anak pertama Senja telah berusia enam belas, hanya delapan tahun di bawahku. Senja masih berusia dua puluh saat melahirkan Virgie, sekian bulan sehabis pernikahannya yang terpaksa dilakukan karena ia telah berbadan dua. Wajah gadis itu sama sekali tak ada miripnya dengan Senja, tapi bisa saja ia seperti ayahnya. Sementara itu anak kedua Senja adalah Taura, bocah lelaki berusia sepuluh tahun. Mereka berdua anak-anak yang menyenangkan, tak perlu waktu lama bagiku untuk bisa akrab dengan kedua permata hati kekasihku.

Niatku untuk menikahi Senja pun semakin mantap. Orang tua kekasihku -yang tinggal ibunya- mendukung penuh pilihan putrinya tercinta. Sementara kedua orang tuaku yang senantiasa demokratis semenjak aku bocah tetap konsisten menghargai apa pun pilihanku. Padahal mungkin jarang sekali ada orang tua yang sudi menerima anak lelakinya yang masih perjaka bakal menikahi janda beranak dua yang usianya sekian tahun lebih tua. Senja pernah mengalaminya. Sesudah bercerai dan sebelum berjumpa denganku, Senja sempat memiliki seorang kekasih yang menurutnya baik hati. Orang tua lelaki tersebut menolak niat anaknya menikahi Senja karena statusnya sebagai janda, hingga mereka pun sepakat berpisah.

Syukurlah, Papa dan Mama tak memasalahkan hal itu. Barangkali mereka berdua memang tipe orang tua yang langka. Seingatku, nyaris tak pernah ada hal yang mereka paksakan kepadaku maupun kedua adikku. Mereka pun jarang sekali memarahi kami, justru kami yang sering tak enak hati saat sadar baru berbuat salah. Sungguh beruntung diri ini memiliki orang tua seperti mereka.

“Dalam hidup itu selalu ada pilihannya, dan dalam setiap pilihan pun selalu ada konsekuensinya. Kau mesti siap dengan segala konsekuensi logis dari pilihanmu sendiri, Tama. Itu saja yang ingin Papa ingatkan kepadamu,” pesan Papa bijak.

“Kau sudah dewasa, Nak. Kau tahu siapa yang terbaik bagimu. Mama pasti akan tetap berdoa untuk segala niat baikmu,” kata Mama. Kuhargai sungguh ucapan mereka.

Maka terwujudlah hasratku menobatkan Senja sebagai kekasih terakhirku. Senja dan Utama menikah setahun setelah berpacaran. Sengaja kami memilih sore hari sebagai waktu pernikahan kami supaya lebih syahdu terasa. Kedua anak Senja, Virgie dan Taura tetap tinggal bersama ayah kandungnya, namun kadangkala mereka menginap di rumah kontrakan yang kutinggali bersama Senja. Hampir di setiap hari libur kami berkumpul, lantas pergi bersama ke tempat-tempat yang menggembirakan hati.

Tentu saja aku berhasrat memiliki anak keturunanku sendiri, tapi Senja tak kunjung hamil tahun demi tahun sejak kami menikah. Mesti kuterima hal itu dengan ikhlas hati dan lapang dada. Setidaknya kedua anak kandung istriku adalah anak tiriku, coba kusayangi saja mereka selalu setulus mungkin. Menjelang empat tahun usia pernikahan kami, Virgie dilamar pacarnya sejak SMA. Senja tak punya pilihan lain untuk menyetujui rencana pernikahan anaknya lantaran sejarah memang selalu berulang. Virgie telah hamil tiga bulan saat menikah, hampir sama dengan waktu ibunya dinikahi oleh ayahnya di masa silam. Telah kuanggap Virgie sebagai darah dagingku sendiri, maka ketika anaknya nanti hadir ke dunia, ia menjadi cucuku pula. Aku mesti siap menjadi seorang kakek di usiaku yang belum genap tiga puluh kini. Terserah orang mau bilang apa, mending tak kupedulikan saja. Inilah salah satu konsekuensi logis dari pilihanku sendiri.

Yogyakarta, 2010

TAMAT

* Cerpen ini dimuat di Jurnal Medan pada pekan pertama Agustus 2011.

h1

Ayah Menangis

Agustus 12, 2011

Baru sekali ini Median melihat ayahnya meneteskan air mata. Lelaki empat puluh tiga tahun itu tampak begitu rapuh di matanya, tidak seperti selayaknya yang biasa bersuara keras dan senantiasa tindak tanduknya tegas. Tergambar jelas duka yang mendalam di wajah sang ayah. Bocah sebelas tahun itu terpaku belaka, tak mampu berkata apa jua, hanya bertanya-tanya dalam hati,

”Apakah gerangan sesuatu yang begitu menyedihkan ayahku hari ini? Mengapa Ayah sampai bisa menangis begitu?”

Kendati sangat penasaran, ia tak memiliki nyali untuk meminta penjelasan langsung dari ayahnya. Tak hanya sekali, ketika Median menanyakan sesuatu yang ia kurang paham, justru bentakan atau makian dari lelaki tersebut yang menjadi sahutannya.

”Dasar anak bodoh, masak seperti itu kau tak tahu? Memangnya diajari apa saja kau di sekolahmu?” kata ayah Median berulang kali.

 

Entah mengapa ayahnya bersikap seperti itu, Median sungguh tak mengerti alasannya. Yang terang, hal itu membuatnya segan banyak berucap dengan suami ibunya tersebut. Tapi Median telanjur merasa tak nyaman dan tetap ingin tahu, ada masalah apa sejatinya yang menimpa sang ayah. Ia pun bertanya kepada ibunya,

”Jika tak salah, tadi saya lihat Ayah menangis. Ada apa sebenarnya, Ibu?”

”Benar, ayahmu tadi memang menangis karena sedih,” jawab ibunya.

”Apakah yang membuat Ayah sangat berduka, Ibu?”

”Ayah menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai ibunya.”

”Apa? Jadi ternyata Ayah masih memiliki seorang ibu? Bukankah mestinya Ayah bahagia dengan hal itu?”

”Ya, tapi ternyata nenekmu itu tengah sakit keras. Beliau sebenarnya berharap sekali ayahmu bisa menjenguknya.”

”Kenapa Ayah tak pergi saja menemui ibunya?” tanya Median heran.

”Ayahmu ingin sekali melakukannya, Nak. Tapi beliau tak punya cukup uang untuk menempuh perjalanan ke tempat tinggal nenekmu. Kau tahu, tempat itu jauhnya ribuan kilometer dari sini. Ayahmu mesti menyeberang laut pula untuk bisa sampai di sana. Hal itulah yang membuatnya begitu sedih hari ini.”

 

Median enggan melanjutkan pertanyaan lantaran tak terlintas ide apa pun di benaknya. Sekiranya ada yang dapat dilakukannya, ia ingin melakukan sesuatu untuk membantu ayahnya mengatasi problemanya. Biarpun lelaki tersebut bersikap kurang baik terhadapnya, tetaplah ia menyayangi sang ayah sepenuh rasa. Tentu jadi tak tentramlah hati bocah itu kini.

 

Median lantas mengingat cerita kelam masa kecil ayahnya dari sang ibu. Baru sekian bulan silam cerita itu didengarkannya, jadi belum lupalah ia. Kata ibunya, ayahnya masih bocah ketika ditinggal pergi oleh ibu kandungnya. Neneknya meninggalkan ayah Median begitu saja, setelah suatu ketika terlibat bara perselisihan yang berkobar-kobar dengan suaminya, dan tampaknya sungguh tak bisa lagi dipadamkan. Ayah Median hidup bersama ayahnya belaka sehabis itu. Kendati masih bocah, Median tak percaya bahwa ada seorang ibu yang tega melakukan hal seperti neneknya.

 

”Apakah Ibu mungkin meninggalkan saya sendiri bersama Ayah, jika suatu saat nanti Ibu begitu marah kepada Ayah?” tanya Median kepada sang ibu ketika itu.

”Tentu saja tidak, Nak. Ibu tak mungkin tega pergi begitu saja tanpamu dan kakak-kakakmu. Ibu pun tak bakal tega meninggalkan ayahmu sendirian,” sahut ibunya tersenyum haru.

”Mengapa Nenek tega melakukannya kepada Ayah, Ibu?”

Ibunya hanya menggelengkan kepala seraya mengangkat bahunya. Tentu ada sejumlah alasan dari ibu suaminya yang belum mampu dipahaminya, apalagi untuk dimengerti oleh Median. Ia pun sadar bahwa suaminya hanya mengetahui cerita kepergian sang ibu dari ayahnya dan tak tahu persis pula, sejatinya apa alasan perempuan itu meninggalkannya dahulu kala. Ia hanya ingin Median percaya bahwa ibunya akan selalu bersama anak lelaki satu-satunya tersebut.

 

 

***

Sekian hari terakhir Median melihat ayahnya pulang lebih malam ketimbang biasanya. Ia mengajak bicara salah satu kakaknya, siapa tahu ada yang mengerti mengapa terjadi perubahan kebiasaan pada ayah mereka.

”Kak Sisi tahu kenapa Ayah akhir-akhir ini pulang larut malam?”

”Kamu tahu Ayah ingin mengunjungi ibunya yang tengah sakit bukan? Ayah sekarang bekerja di tempat lain sehabis kerjaan di kantornya usai, supaya beliau punya cukup uang untuk perjalanan ke pulau seberang.”

”Wah, Ayah kasihan juga ya? Menurut kakak, kita bisa bantu apa buat Ayah?”

”Aku dan Kak Nia sudah tiga hari ini minta Ibu tidak memberi uang jajan buat kami. Biar uang itu untuk tambahan biaya transportasi Ayah.”

”Oh ya? Aku juga mau melakukannya, Kak. Mulai besok biar Ibu tak usah memberiku uang jajan.”

”Nanti kamu kelaparan di sekolah?”

”Demi Ayah, aku akan puasa selama di sekolah. Aku yakin sanggup menjalaninya. Toh, hal itu tidak selama-lamanya bukan?”

”Hmm, adikku makin pintar sekarang. Ayah dan Ibu pasti bangga padamu,” ujar Sisi sembari memegangi kepala adiknya dengan rasa haru

 

Maka mulai ada titik terang soal keinginan ayah Median mengunjungi ibunda tercintanya. Dengan menambah pekerjaan -membantu temannya mengelola warung makan- yang dibayar mingguan, juga dukungan dari istri maupun anak-anaknya yang merelakan uang jajannya, ia berharap dapat segera pergi untuk menjumpai perempuan yang telah sungguh lama dirindukannya bukan kepalang. Lelaki tersebut tak peduli bahwa ibunya pernah mencampakkannya puluhan tahun silam. Bahwa perempuan itu ternyata masih hidup dan bahkan bisa menemukannya, kendati lewat surat semata, sudah merupakan anugerah besar yang disyukuri ayah Median.

 

 

***

Tiga minggu berlalu sejak surat dari nenek Median tiba. Ayah Median memutuskan, setelah menerima gaji bulanannya pekan depan, ia akan berangkat karena biaya perjalanannya -di luar dugaan semula- telah mencukupi. Tiba-tiba sepucuk surat datang lagi dari pulau seberang, ditujukan untuk ayah Median. Tapi bukan nenek Median lagi penulisnya ternyata. Goresan tinta di sampul surat itu tampak berbeda ketimbang surat sebelumnya. Isi suratnya mengabarkan sebuah duka : ibunda dari ayah Median telah meninggal dunia. Kejadiannya sekitar dua minggu sebelum surat itu sampai di tujuan.

 

Terlambat sudah rencana kepergian ayah Median, menjadi sia-sia kini adanya. Sekali lagi, Median terpaku belaka melihat sang ayah menangis dari pintu kamarnya. Ingin rasanya ia memeluk hangat lelaki tersebut, tapi hatinya terlalu didominasi oleh keraguan. Ia tak bisa menduga bagaimana reaksi ayahnya terhadap rasa simpatinya.

Median lantas melihat kedua kakak perempuannya bergantian memeluk ayahnya, sehabis ibunya telah lebih dahulu melakukannya. Ia pun keluar dari kamarnya -meski masih diliputi ragu- mendekati sang ayah dan orang-orang serumahnya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Ayah Median melihat anak lelakinya dengan wajah sendu.

”Ayah,” ujar Median setengah berbisik.

”Ya, Nak?”

”Boleh saya memeluk Ayah? Saya sedih melihat Ayah berduka.”

”Ya, kau boleh peluk ayahmu sekarang,” kata ayah Median.

 

Median kemudian memeluk ayahnya dan inilah pertama kali ia melakukannya sepanjang yang diingat oleh benaknya. Ayah dan anak lelaki bungsunya itu larut dalam keharuan yang membahana. Median pun mengerti bahwa lelaki tersebut ternyata bisa bersikap hangat terhadap dirinya. Rasanya tak percuma jua selama ini ia tetap menyayangi ayahnya, lelaki yang sudah kehilangan kasih sayang ibunya sejak masih bocah dan barangkali tak mengetahui bagaimana caranya bersikap lembut terhadap anak-anaknya. Median memohon kepada Tuhan agar ayahnya tak terlalu lama berduka menangisi wafatnya sang ibunda. Ia pun berharap pelukan kali ini bukan yang terakhir, lantaran masih ingin dirasakannya kembali pelukan hangat dari sang ayah di hari mendatang.

 

TAMAT

 

* Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi edisi minggu I Agustus 2011.

h1

Semua Ibadah adalah Wujud Cinta

Agustus 12, 2011

Semua ibadah yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas oleh seorang pemeluk agama yang teguh merupakan manifestasi dari cinta. Demikian pula dengan ibadah puasa. Sebagai ibadah, puasa pada Ramadhan merupakan bentuk pengurbanan jiwa. Sememangnya cinta menuntut pengurbanan. Pengurbanan yang dimaksud ialah pengurbanan jiwa dan hati, yang hanya diperuntukkan kepada-Nya. (Jalaluddin Rumi)

h1

Sekilas Perjalanan Timnas Indonesia Menghadapi Turkmenistan

Agustus 2, 2011

Timnas Indonesia akhirnya lolos ke putaran grup Pra-Piala Dunia 2014 setelah menang 4-3 atas Turkmenistan dalam pertandingan di SUGBK (28/7). Skuad Garuda berada di grup E bersama dengan Iran, Qatar, dan Bahrain. Bulan September Fiman Utina dkk akan melanjutkan perjalanan menuju Piala Dunia Brasil dengan bertandang ke Iran (2/9) dan menjamu Bahrain di Jakarta (6/9).

Berikut ini catatan yang pernah saya tulis ketika Indonesia menghadapi Turkmenistan yang baru sempat saya pajang di sini.

Yang Berubah dari Aksi Timnas Indonesia

(ditulis dan dipasang di Kompasiana pada 24 Juli 2011)

Apa saja hal-hal yang berubah dari aksi timnas Indonesia dalam pertandingan resmi pertama di bawah pelatih Wim Rijsbergen? Secara teknis ternyata ada perubahan komposisi pemain, meski untuk formasi masih tetap 4-4-2,  sama dengan saat dilatih Alfred Riedl di Piala AFF 2010. Rasanya masih perlu waktu lebih lama bagi Wim untuk mencoba formasi 4-3-3 seperti yang diinginkannya, biarpun timnas pernah memakainya ketika ditangani Ivan Kolev di Piala Asia 2007.

Ferry Rotinsulu menggantikan Markus Horison yang memang tampil kurang konsisten saat membela Persib dan ia menjawab kepercayaan itu dengan baik. Pada posisi bek tengah, M.Roby dan Ricardo Salampessy juga merupakan duet anyar, sementara untuk bek sayap tetap ditempati Zulkifli dan M.Nasuha. Di sektor gelandang hanya ada nama M.Ilham yang menggantikan posisi Okto Maniani/Arif Suyono,  sementara tiga pemain lainnya tetap ditempati Firman Utina, A.Bustomi, dan M.Ridwan. Di depan Cristian Gonzales mendapat rekan baru pada diri Boaz Solossa. Keputusan Alfred Riedl memang tepat telah memanggil kembali Boaz, walaupun pelatih Austria itu tak bisa lagi menangani para pemain pilihannya.

Dengan masa persiapan sangat singkat, berbagai masalah lainnya sebelum berangkat ke Ashgabat, dan masih ditambah lagi kondisi lapangan di Turkmenistan yang buruk sekali, hasil imbang merupakan sesuatu yang harus disyukuri dan jelas cukup melegakan bagi pencinta timnas sepak bola Indonesia. Tapi melihat kualitas tim tuan rumah yang ternyata tidak istimewa,  sebenarnya Boaz dkk layak menang. Semoga kemenangan itu dapat diwujudkan di Senayan Jakarta.

Satu lagi hal yang baru dari timnas adalah kostum berwarna merah hijau, bukan merah putih (kostum utama) atau putih hijau (kostum kedua). Seingat saya timnas senior belum pernah mengenakannya dalam pertandingan internasional yang disiarkan langsung di televisi. Agak aneh saja melihat warna merah hijau dipakai oleh Firman Utina dkk, meski kita lantas jadi ingat bahwa Portugal juga memakai warna yang sama (tapi lebih gelap dan kesannya lebih serasi). Yang juga sedikit saya heran, kabarnya julukan tim Turkmenistan adalah The Green Man, tapi kenapa saat menjadi tuan rumah malah memakai kostum putih putih?

Perubahan lain juga bersifat non-teknis, yaitu pergantian nomor beberapa pemain. Pada tim inti ada dua pemain yang nomor kostumnya berubah, yaitu Ridwan (dari nomor 22 menjadi 6) dan Bustomi (dari 19 menjadi 18). Sementara itu Boaz memakai nomor 7 yang terakhir dipakai Benny Wahyudi dan Ilham memakai nomor 17 yang semula digunakan Irfan Bachdim. Yang membuat saya penasaran adalah kenapa Okto sekarang mengenakan nomor 11? Di Piala AFF 2010 pemain bertubuh mungil itu memakai nomor 10 yang sudah lama tidak hadir dalam skuad Merah Putih. Menurut dugaan saya, pemain yang akan diberi kepercayaan menggunakan nomor 10 adalah Irfan Bachdim, bintang asal klub Persema berdarah Indonesia- Belanda yang menjadi satu-satunya pemain dari klub LPI yang tergabung dalam timnas Pra-Piala Dunia 2014.

Turkmenistan vs Indonesia di Ashgabat (23/7) 1-1 (Gol : M.Ilham 29’)

12.Ferry – 3.Zulkifli/11.Okto, 4.Ricardo, 16.Roby, 2.Nasuha/5.Supardi; 17.Ilham, 15.Firman (k)/8.Eka, 18.Bustomi, 6.Ridwan; 7.Boaz, 9.Gonzales.

Akhirnya Tim Merah Putih Menang Juga

Dalam pertandingan kedua menghadapi Turkmenistan di SUGBK pada Sabtu, 28 Juli 2011, Tim Merah Putih sempat bermain apik dan unggul 3-0 lebih dahulu di babak pertama melalui dua gol Cristian Gonzales dan sebuah gol cantik M.Nasuha. The Green Men lantas menipiskan kekalahan di babak kedua lewat gol bunuh diri Nasuha, kemudian disusul gol dari M.Ridwan yang membuat skor menjadi 4-1. Dalam 10 menit terakhir gawang timnas mesti dua kali kebobolan hingga skor akhir adalah 4-3. Hasil itu menjadikan Indonesia unggul dengan skor agregat 5-4 atas Turkmenistan. Kondisi fisik yang turun drastis di babak kedua membuat permainan timnas tidak lagi stabil dan kiper Ferry Rotinsulu mesti tiga kali mengambil bola dari gawangnya. Boaz Solossa –meski tidak mencetak gol- bermain cemerlang memberi dua umpan manis yang dikonversi menjadi gol oleh Gonzales dan Ridwan. Semoga masa persiapan yang lebih panjang mampu meningkatkan permainan timnas menjadi lebih stabil, Boaz cs mencetak lebih banyak gol dan menghindarkan gawangnya mudah kebobolan.

Indonesia vs Turkmenistan di Jakarta (28/7) 4-3 (Gol : Gonzales 10’, 19’; M.Nasuha 43’; M.Ridwan 76’)

12.Ferry – 3.Zulkifli, 4.Ricardo/23.Hamka, 16.Roby, 2.Nasuha; 17.Ilham/11.Okto, 15.Firman (k)/19.Toni, 18.Bustomi, 6.Ridwan; 7.Boaz, 9.Gonzales.