h1

Ayah Menangis

Agustus 12, 2011

Baru sekali ini Median melihat ayahnya meneteskan air mata. Lelaki empat puluh tiga tahun itu tampak begitu rapuh di matanya, tidak seperti selayaknya yang biasa bersuara keras dan senantiasa tindak tanduknya tegas. Tergambar jelas duka yang mendalam di wajah sang ayah. Bocah sebelas tahun itu terpaku belaka, tak mampu berkata apa jua, hanya bertanya-tanya dalam hati,

”Apakah gerangan sesuatu yang begitu menyedihkan ayahku hari ini? Mengapa Ayah sampai bisa menangis begitu?”

Kendati sangat penasaran, ia tak memiliki nyali untuk meminta penjelasan langsung dari ayahnya. Tak hanya sekali, ketika Median menanyakan sesuatu yang ia kurang paham, justru bentakan atau makian dari lelaki tersebut yang menjadi sahutannya.

”Dasar anak bodoh, masak seperti itu kau tak tahu? Memangnya diajari apa saja kau di sekolahmu?” kata ayah Median berulang kali.

 

Entah mengapa ayahnya bersikap seperti itu, Median sungguh tak mengerti alasannya. Yang terang, hal itu membuatnya segan banyak berucap dengan suami ibunya tersebut. Tapi Median telanjur merasa tak nyaman dan tetap ingin tahu, ada masalah apa sejatinya yang menimpa sang ayah. Ia pun bertanya kepada ibunya,

”Jika tak salah, tadi saya lihat Ayah menangis. Ada apa sebenarnya, Ibu?”

”Benar, ayahmu tadi memang menangis karena sedih,” jawab ibunya.

”Apakah yang membuat Ayah sangat berduka, Ibu?”

”Ayah menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai ibunya.”

”Apa? Jadi ternyata Ayah masih memiliki seorang ibu? Bukankah mestinya Ayah bahagia dengan hal itu?”

”Ya, tapi ternyata nenekmu itu tengah sakit keras. Beliau sebenarnya berharap sekali ayahmu bisa menjenguknya.”

”Kenapa Ayah tak pergi saja menemui ibunya?” tanya Median heran.

”Ayahmu ingin sekali melakukannya, Nak. Tapi beliau tak punya cukup uang untuk menempuh perjalanan ke tempat tinggal nenekmu. Kau tahu, tempat itu jauhnya ribuan kilometer dari sini. Ayahmu mesti menyeberang laut pula untuk bisa sampai di sana. Hal itulah yang membuatnya begitu sedih hari ini.”

 

Median enggan melanjutkan pertanyaan lantaran tak terlintas ide apa pun di benaknya. Sekiranya ada yang dapat dilakukannya, ia ingin melakukan sesuatu untuk membantu ayahnya mengatasi problemanya. Biarpun lelaki tersebut bersikap kurang baik terhadapnya, tetaplah ia menyayangi sang ayah sepenuh rasa. Tentu jadi tak tentramlah hati bocah itu kini.

 

Median lantas mengingat cerita kelam masa kecil ayahnya dari sang ibu. Baru sekian bulan silam cerita itu didengarkannya, jadi belum lupalah ia. Kata ibunya, ayahnya masih bocah ketika ditinggal pergi oleh ibu kandungnya. Neneknya meninggalkan ayah Median begitu saja, setelah suatu ketika terlibat bara perselisihan yang berkobar-kobar dengan suaminya, dan tampaknya sungguh tak bisa lagi dipadamkan. Ayah Median hidup bersama ayahnya belaka sehabis itu. Kendati masih bocah, Median tak percaya bahwa ada seorang ibu yang tega melakukan hal seperti neneknya.

 

”Apakah Ibu mungkin meninggalkan saya sendiri bersama Ayah, jika suatu saat nanti Ibu begitu marah kepada Ayah?” tanya Median kepada sang ibu ketika itu.

”Tentu saja tidak, Nak. Ibu tak mungkin tega pergi begitu saja tanpamu dan kakak-kakakmu. Ibu pun tak bakal tega meninggalkan ayahmu sendirian,” sahut ibunya tersenyum haru.

”Mengapa Nenek tega melakukannya kepada Ayah, Ibu?”

Ibunya hanya menggelengkan kepala seraya mengangkat bahunya. Tentu ada sejumlah alasan dari ibu suaminya yang belum mampu dipahaminya, apalagi untuk dimengerti oleh Median. Ia pun sadar bahwa suaminya hanya mengetahui cerita kepergian sang ibu dari ayahnya dan tak tahu persis pula, sejatinya apa alasan perempuan itu meninggalkannya dahulu kala. Ia hanya ingin Median percaya bahwa ibunya akan selalu bersama anak lelaki satu-satunya tersebut.

 

 

***

Sekian hari terakhir Median melihat ayahnya pulang lebih malam ketimbang biasanya. Ia mengajak bicara salah satu kakaknya, siapa tahu ada yang mengerti mengapa terjadi perubahan kebiasaan pada ayah mereka.

”Kak Sisi tahu kenapa Ayah akhir-akhir ini pulang larut malam?”

”Kamu tahu Ayah ingin mengunjungi ibunya yang tengah sakit bukan? Ayah sekarang bekerja di tempat lain sehabis kerjaan di kantornya usai, supaya beliau punya cukup uang untuk perjalanan ke pulau seberang.”

”Wah, Ayah kasihan juga ya? Menurut kakak, kita bisa bantu apa buat Ayah?”

”Aku dan Kak Nia sudah tiga hari ini minta Ibu tidak memberi uang jajan buat kami. Biar uang itu untuk tambahan biaya transportasi Ayah.”

”Oh ya? Aku juga mau melakukannya, Kak. Mulai besok biar Ibu tak usah memberiku uang jajan.”

”Nanti kamu kelaparan di sekolah?”

”Demi Ayah, aku akan puasa selama di sekolah. Aku yakin sanggup menjalaninya. Toh, hal itu tidak selama-lamanya bukan?”

”Hmm, adikku makin pintar sekarang. Ayah dan Ibu pasti bangga padamu,” ujar Sisi sembari memegangi kepala adiknya dengan rasa haru

 

Maka mulai ada titik terang soal keinginan ayah Median mengunjungi ibunda tercintanya. Dengan menambah pekerjaan -membantu temannya mengelola warung makan- yang dibayar mingguan, juga dukungan dari istri maupun anak-anaknya yang merelakan uang jajannya, ia berharap dapat segera pergi untuk menjumpai perempuan yang telah sungguh lama dirindukannya bukan kepalang. Lelaki tersebut tak peduli bahwa ibunya pernah mencampakkannya puluhan tahun silam. Bahwa perempuan itu ternyata masih hidup dan bahkan bisa menemukannya, kendati lewat surat semata, sudah merupakan anugerah besar yang disyukuri ayah Median.

 

 

***

Tiga minggu berlalu sejak surat dari nenek Median tiba. Ayah Median memutuskan, setelah menerima gaji bulanannya pekan depan, ia akan berangkat karena biaya perjalanannya -di luar dugaan semula- telah mencukupi. Tiba-tiba sepucuk surat datang lagi dari pulau seberang, ditujukan untuk ayah Median. Tapi bukan nenek Median lagi penulisnya ternyata. Goresan tinta di sampul surat itu tampak berbeda ketimbang surat sebelumnya. Isi suratnya mengabarkan sebuah duka : ibunda dari ayah Median telah meninggal dunia. Kejadiannya sekitar dua minggu sebelum surat itu sampai di tujuan.

 

Terlambat sudah rencana kepergian ayah Median, menjadi sia-sia kini adanya. Sekali lagi, Median terpaku belaka melihat sang ayah menangis dari pintu kamarnya. Ingin rasanya ia memeluk hangat lelaki tersebut, tapi hatinya terlalu didominasi oleh keraguan. Ia tak bisa menduga bagaimana reaksi ayahnya terhadap rasa simpatinya.

Median lantas melihat kedua kakak perempuannya bergantian memeluk ayahnya, sehabis ibunya telah lebih dahulu melakukannya. Ia pun keluar dari kamarnya -meski masih diliputi ragu- mendekati sang ayah dan orang-orang serumahnya yang tengah berkumpul di ruang tengah. Ayah Median melihat anak lelakinya dengan wajah sendu.

”Ayah,” ujar Median setengah berbisik.

”Ya, Nak?”

”Boleh saya memeluk Ayah? Saya sedih melihat Ayah berduka.”

”Ya, kau boleh peluk ayahmu sekarang,” kata ayah Median.

 

Median kemudian memeluk ayahnya dan inilah pertama kali ia melakukannya sepanjang yang diingat oleh benaknya. Ayah dan anak lelaki bungsunya itu larut dalam keharuan yang membahana. Median pun mengerti bahwa lelaki tersebut ternyata bisa bersikap hangat terhadap dirinya. Rasanya tak percuma jua selama ini ia tetap menyayangi ayahnya, lelaki yang sudah kehilangan kasih sayang ibunya sejak masih bocah dan barangkali tak mengetahui bagaimana caranya bersikap lembut terhadap anak-anaknya. Median memohon kepada Tuhan agar ayahnya tak terlalu lama berduka menangisi wafatnya sang ibunda. Ia pun berharap pelukan kali ini bukan yang terakhir, lantaran masih ingin dirasakannya kembali pelukan hangat dari sang ayah di hari mendatang.

 

TAMAT

 

* Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi edisi minggu I Agustus 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: