Archive for September, 2011

h1

Motivasi (Basi) untuk Timnas Indonesia

September 22, 2011

Saya membuat tulisan bertajuk ’Tiada yang Tak Mungkin bagi Tim Merah Putih’ pada awal Agustus 2011 untuk menjadi motivasi bagi timnas Indonesia sebelum menghadapi Iran (2/9) dan Bahrain (6/9) pada Pra-Piala Dunia 2014. Tulisan tersebut langsung saya kirim ke salah satu tabloid olah raga nasional dan ternyata tidak dimuat. Demikian pula ketika saya mengirimnya dua pekan sesudahnya ke sebuah majalah sepak bola terbitan Jakarta.

Sesudah dua kali kekalahan Indonesia dari Iran dan Bahrain, materi tulisan saya memang menjadi tidak relevan lagi atau bahkan sudah basi. Tapi daripada hanya saya dan sedikit orang yang pernah membacanya, maka saya memberanikan diri memasangnya hari ini di blog pribadi saya. Semoga masih tetap ada hikmahnya.

Tiada yang Tak Mungkin bagi Tim Merah Putih

Tak ada yang mudah, tapi tiada yang tak mungkin. (Napoleon Bonaparte)

Bukan tanpa alasan Napoleon Bonaparte (1769-1821) mengungkapkan sebuah kalimat bermakna dalam yang masih bisa kita simak sampai hari ini. Hal itu berawal dari rencananya menyeberangi pegunungan Alpen bersama pasukannya yang semula dianggap ’tidak mungkin’ oleh semua orang.

“Apakah mungkin untuk melewati jalan ini?” tanya Napoleon kepada para insinyur yang dikirim untuk menyelidiki terusan St. Bernard yang menakutkan itu.

“Barangkali, bukannya tidak mungkin,” jawab mereka ragu-ragu.

“Tempuh saja!” jawab Napoleon tanpa menghiraukan berbagai kesukaran yang hampir tak teratasi. Inggris dan Austria menertawakan keputusan Napoleon untuk menggerakkan pasukannya melintasi pegunungan Alpen. Tak pernah ada orang yang bisa, apalagi dengan membawa 60.000 tentara, dilengkapi dengan meriam-meriam besar, berpeti-peti peluru, dan barang dalam jumlah besar. Namun manakala tindakan yang ’mustahil’ itu selesai, orang-orang baru menyadari bahwa hal itu ternyata memang bisa dilakukan. Yang diperlukan hanyalah keberanian serta tekad seperti yang dipunyai Napoleon. Dia tidak pernah gentar menghadapi segala rintangan dan mengambil kesempatan itu.

Memang Tak Mudah, Tapi Masih Mungkin

Indonesia akan berhadapan dengan Iran, Qatar, dan Bahrain di Grup E Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia. Di atas kertas peluang timnas untuk lolos ke putaran selanjutnya (minimal sebagai runner-up grup) nyaris mustahil. Posisi Indonesia dalam peringkat FIFA terpaut jauh dengan ketiga negara Timur Tengah tersebut. Iran (54), Qatar (90), Bahrain (100), dan Indonesia (137). Reputasi ketiga tim tersebut -masih di atas kertas- juga lebih baik ketimbang Indonesia. Iran pernah tiga kali tampil di Piala Dunia, tiga kali juara Piala Asia, sebagian pemainnya bermain di Eropa, dan kini ditangani pelatih top Carlos Queiroz (Portugal). Qatar yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 terakhir tampil hingga perempat final di Piala Asia 2011 dan banyak dihuni pemain naturalisasi. Bahrain dalam dua kali Kualifikasi Piala Dunia terakhir bahkan bermain hingga play-off antar zona, namun dikalahkan oleh Trinidad & Tobago (2006) dan Selandia Baru (2010).
Mengambil inspirasi dari kisah nyata Napoleon tersebut, Tim Merah Putih sesungguhnya masih memiliki kemungkinan untuk lolos mendampingi Iran -sebagai unggulan utama- meski tentu tak mudah untuk mewujudkannya. Sebelum menghadapi Turkmenistan, publik tanah air –termasuk penulis- meragukan timnas bisa menang, mengingat permasalahan yang sangat kompleks, seperti : pelatnas yang amat singkat dan pergantian pelatih mendadak. Nyatanya Boaz Solossa dkk sukses melewati hadangan tim dari negara bekas anggota Uni Sovyet tersebut, kendati sempat membuat penonton berdebar-debar menjelang pertandingan berakhir di SUGBK. Apalagi fakta berbicara bahwa Indonesia ternyata pernah mengalahkan Qatar di Piala Asia 2004 dan Bahrain di Piala Asia 2007. Menghadapi Iran, Indonesia pun pernah bermain seri, meski terjadinya sudah sangat lama di Asian Games 1966.

Jadi, harapan mesti terus diapungkan bahwa Indonesia bisa melangkah cukup jauh dalam Kualifikasi Piala Dunia 2014. Dengan masa persiapan yang lebih baik, adaptasi yang semakin terjalin antara Wim Rijsbergen dengan para pemainnya, adanya dukungan penuh dari PSSI, serta doa dari segenap bangsa Indonesia, mudah-mudahan skuad Garuda bisa bicara banyak melawan kekuatan tiga tim dari Asia Barat. Dan tentunya yang sangat penting adalah kepercayaan diri para pemain yang turun langsung di lapangan, semoga mereka selalu tampil dengan gagah berani dan tidak gentar menghadapi segala rintangan seperti halnya Napoleon menaklukkan pegunungan Alpen, kendati sebelumnya kata semua orang adalah ‘hal yang mustahil’.

Iklan
h1

Reuni Pemain Milan di Camp Nou

September 13, 2011

Pertandingan tandang AC Milan di Stadion Camp Nou Barcelona (13/9) pada pertandingan pertama Grup H Liga Champion Eropa 2011/12 akan menjadi reuni bagi sejumlah pemain. Tidak hanya Zlatan Ibrahimovic (yang sayangnya batal tampil karena cedera), pemain Rossoneri yang akan bertemu klub yang pernah diperkuatnya, tapi masih ada Gianluca Zambrotta dan Mark van Bommel yang juga sempat mengenakan kostum Blaugrana di masa silam. Mungkin ada nostalgia di hati dan benak masing-masing pemain ketika mereka kembali ke Camp Nou, baik memori yang indah maupun yang tak indah. Selain mereka bertiga, ada pula tiga pemain Milan lainnya yang justru pernah menjadi bagian dari Real Madrid, musuh besar Barcelona sepanjang masa. Mereka adalah Clarence Seedorf, Robinho, dan Antonio Cassano. Ketiga pemain itu sudah tentu pernah merasakan panasnya pertandingan ‘el clasico’ antara Madrid dan Barca.

Namun  pertemuan  Barcelona versus Milan musim ini tentu saja bukan hanya milik sejumlah pemain tertentu. Barca merupakan juara Liga Spanyol tiga musim terakhir sekaligus juara bertahan Liga Champion. Sementara Milan merupakan juara Liga Italia 2010/11 dan memiliki tradisi bagus di Eropa, terbukti dengan raihan tujuh trofi juara Piala/Liga Champion. Bukan sesuatu yang mudah bagi tim asuhan Massimiliano Allegri untuk menahan laju tim asuhan Pep Guardiola yang boleh dikata merupakan klub terbaik di dunia saat ini. Namun Rossoneri beruntung karena pesaing berat mereka di Grup H hanya Blaugrana. Dua tim lain, BATE Borisov (Belarusia) dan Viktoria Plzen (Rep. Ceko) kualitasnya relatif masih di bawah Barcelona maupun Milan. Bisa jadi Cassano dkk tinggal bersaing dengan Messi dkk untuk menjadi juara grup.

h1

Cara Guardiola dan Wenger Menyikapi Kekalahan

September 13, 2011

Kekalahan timnas Indonesia dari Bahrain 0-2 dalam ajang Pra-Piala Dunia 2014 pada Selasa (6/9) masih terus berbuntut panjang. Cara pelatih Wim Rijsbergen menyikapi kekalahan dengan menyalahkan para pemainnya –di depan umum dalam konferensi pers- terkesan tidak simpatik serta mengundang kritik dari publik pencinta sepak bola nasional. Belum lagi komentar para pengurus PSSI –Djohar Arifin, Bob Hippy, dan Benhard Limbong- yang justru lebih membela si orang Belanda (seolah-olah dia lebih dicintai) ketimbang menghargai usaha para pemain timnas yang sudah mati-matian di atas lapangan demi Indonesia, negara tercintanya. Hal itu jelas kian memperkeruh suasana. Para pemain timnas seolah tak hanya terpuruk di atas lapangan, tapi juga tersungkur lagi seusai pertandingan. Bagaimana perjalanan timnas selanjutnya, terutama menghadapi Qatar pada 11 Oktober 2011 memang masih menjadi teka-teki hingga hari ini. Kita tinggal menanti saja apa langkah revolusioner PSSI berikutnya.

Di sini saya hanya ingin mengungkapkan bagaimana cara dua pelatih sepak bola bernama besar yang berkelas internasional dalam menyikapi sebuah kekalahan. Kendati masih berusia 41 tahun, tidak ada pencinta sepak bola di seluruh dunia yang meragukan kehebatan seorang Josep ‘Pep’ Guardiola selama menangani Barcelona. Sejak tahun 2008 hingga kini sudah 12 gelar juara diraihnya bersama Blaugrana, termasuk dua trofi Liga Champion Eropa dan tiga trofi La Liga. Belum lama ini Pep mendapatkan penghargaan tertinggi Gold Medal of Achievement dari Parlemen Catalonia pada 9 September 2011. Pep tak hanya dinilai sebagai atlet hebat dan pelatih jenius, tapi juga mereprentasikan nilai-nilai khas Catalonia, seperti : sportivitas, kerja keras, dan selalu memperbaiki diri. Berikut ini kutipan pidato sambutan Senor Guardiola ketika menerima penghargaan kesekian yang pernah diterimanya.

“Apa yang saya capai adalah berkat kepercayaan orang-orang yang menunjuk saya sebagai pelatih Barcelona. Saya berterima kasih kepada semua pesepak bola yang bermain bersama saya, semua pelatih yang menangani saya, dan semua pemain yang saya latih. Saya belajar banyak dari mereka. Saya belajar bagaimana meraih kemenangan dan merayakannya tanpa berlebihan. Saya belajar bagaimana menerima kekalahan yang tentu menyakitkan. Tidak ada gunanya beralasan. Bila kalah, maka itu adalah tanggung jawab saya, begitu juga ketika semua berjalan tidak sesuai rencana. Olah raga ini dan Barcelona mengajari saya soal itu.”

Barangkali kita masih mengingat kekalahan tragis Arsenal 2-8 dari Manchester United di Liga Premier tempo hari (27/8), yang menjadi rekor kekalahan terbesar dalam sejarah Arsenal menghadapi United maupun karier kepelatihan Arsene Wenger. Mari kita simak apa kata Monsieur Wenger pasca-kekalahan tersebut.

”Saya tak mau berkomentar. Kekalahan ini sungguh menyakitkan dan memalukan. Bila saya banyak bicara, hanya akan terlihat mencari-cari alasan.

Setelah itu kita tahu bahwa tanpa basa-basi Arsenal langsung membuat kejutan dengan merekrut sejumlah pemain baru berkualitas, seperti : Per Mertesacker, Mikael Arteta, Yossi Benayoun, dan Park Chu-young untuk memperbaiki penampilan timnya. Setidaknya Arsenal lantas mampu menang 1-0 atas Swansea dalam lanjutan pertandingan Liga Premier (10/9). Pendukung The Gunners pasti dapat melihat timnya dengan pikiran positif kembali.

Lalu langkah nyata apa yang akan dilakukan Meneer Rijsbergen, selain ucapan menyakitkan hati bagi anak asuhnya maupun menyalahkan situasi dan kondisi? Mau memanggil pemain baru dari mana, sementara kompetisi liga belum tahu kapan digulirkan PSSI? Apa mungkin dia bakal memanggil para pemain klub LPI yang lebih dikenalnya selama ini? Bagaimanapun harus diakui bahwa Bambang Pamungkas dkk adalah para pemain terbaik produk ISL musim 2010/11, sehingga mereka dipilih oleh Alfred Riedl jaman dahulu kala, sebelum Djohar Arifin berkuasa di PSSI dan memilih jalan sarat kontroversi sampai saat ini.

h1

Timnas Kalah Agar PSSI Tidak Sombong

September 13, 2011

Sebelum menghadapi Iran dan Bahrain dalam Grup E Zona Asia Pra-Piala Dunia 2014, aksi timnas Indonesia ketika menyingkirkan Turkmenistan denga skor agregat 5-4 adalah satu-satunya hal yang menyenangkan pencinta sepak bola nasional, yang bisa disajikan oleh PSSI di bawah pimpinan Profesor Djohar Arifin Husin. Sejenak kita lupakan sejumlah kebijakan kontroversial pengurus PSSI baru yang cenderung selalu mengecewakan banyak orang. Selayaknya jika kita pertanyakan kembali, apakah sejatinya visi dan misi Sang Profesor ketika berhasil mendapat kepercayaan untuk memimpin organisasi olah raga paling populer di Indonesia tersebut?

Pelatih Alfred Riedl yang sudah bekerja profesional dengan memilih pemain untuk Pra-Piala Dunia 2014 justru mendadak dipecat tanpa alasan masuk akal, demikian pula Iman Arif dkk di pihak manajemen timnas. Beruntunglah Wim Risjbergen mendapat pendamping seperti Rahmad Darmawan dan para pemain tampil luar biasa hingga mampu lolos dari hadangan Turkmenistan. Namun setelah itu, sudah kita saksikan bersama bahwa timnas menelan pil pahit berupa dua kekalahan telak dari Iran dan Bahrain.

Kegagalan Bambang Pamungkas dkk untuk meraih poin memang sangat mengecewakan kita semua. Namun setidaknya hal itu membuat PSSI tidak bisa sombong lagi. Mungkin selama ini Djohar Arifin merasa sudah menjadi ‘pahlawan’ ketika pelatih pilihannya ternyata mampu membawa timnas menang, sebelum akhirnya tunduk dari Iran dan Bahrain. Ulah penonton di Gelora Bung Karno yang menyalakan petasan dan kembang api pun seakan membuat PSSI lebih pantas disebut sebagai ‘pecundang’. Sanksi dari FIFA sudah di depan mata, entah berupa denda milyaran rupiah atau larangan bagi Indonesia menjadi tuan rumah.

Ketidakmampuan timnas untuk menang dan tingkah laku tidak sportif dari segelintir penonton timnas mestinya menjadi momentum PSSI untuk introspeksi diri dalam mengambil kebijakan-kebijakan berikutnya yang tujuannya jelas, demi kemajuan sepak bola Indonesia yang mampu membuat gembira rakyat Indonesia, dan bukannya untuk menyenangkan hati segelintir orang belaka, yang tak jelas pula siapa mereka.

Keinginan Wim Rijsbergen untuk merombak timnas dengan cara memantau pemain baru lewat kompetisi liga tampaknya mesti ditunda dulu. Pertandingan Pra-Piala Dunia selanjutnya pada 11 Oktober 2011, Indonesia menjamu Qatar. Sementara itu Liga Indonesia ‘versi terbaru’ yang dijadwalkan dimulai 8 Oktober 2011 pun belum dapat diketahui siapa tim pesertanya, bahkan ketika waktunya tinggal sebulan lagi. PSSI tampaknya mesti mengubah target menjadi nomor dua di Grup E -di bawah Iran- untuk lolos ke kualifikasi berikutnya. Yang penting ada poin yang bisa diraih dalam empat sisa pertandingan dan jika tidak menjadi juru kunci dalam klasemen akhir pun mesti disyukuri.

Setidaknya persiapan Tim Merah Putih untuk menghadapi Piala AFF 2012 dengan target juara sudah dirintis sejak jauh hari, yaitu dengan memanfaatkan ajang Pra-Piala Dunia 2014 sebagai sarana uji coba dan memperbanyak pengalaman internasional bagi para pemain timnas.

Satu hal yang tampaknya dianggap PSSI tidak penting adalah masalah asisten pelatih timnas senior. Ketika Rahmad Darmawan berkonsentrasi menjadi pelatih kepala timnas U-23, mestinya Wim Rijsbergen lantas dibantu oleh pelatih yang reputasinya tak jauh berbeda dengan pelatih juara bersama Persipura dan Sriwijaya FC tersebut. Liestiadi mungkin cukup berpengalaman sebagai asisten pelatih, namun jelas berbeda jauh kelasnya dengan Rahmad Darmawan. Siapa yang pantas menjadi asisten pelatih timnas senior, PSSI tentunya lebih memahaminya. Seperti halnya mereka telah mengerti benar bahwa tempo hari Alfred Riedl harus segera digantikan oleh Wim Rijsbergen.

 

# Tulisan ini sudah lebih dahulu dipasang di kompasiana.com pada 7 September 2011.

h1

Para Pemain Indonesia yang Pernah Turun Menghadapi Bahrain

September 5, 2011

 

Dua kali pertemuan terakhir Indonesia menghadapi Bahrain terjadi pada tahun 2004 dan 2007 pada turnamen Piala Asia. Pada pertandingan Piala Asia 2004 di Cina, Indonesia kalah 1-3 dari Bahrain dengan Elie Aiboy sebagai pencetak gol tunggal Tim Merah Putih. Para pemain yang saat itu diturunkan Ivan Kolev dalam formasi 3-4-3 adalah : Hendro Kartiko; Warsidi/Rochi Putiray, Hari Saputra, Firmansyah; Agung Setyobudi (k)/Hamka Hamzah, Ponaryo Astaman, Syamsul Chaerudin, Ismed Sofyan; Agus Indra/Elie Aiboy, Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas.

Sementara laga selanjutnya terjadi pada Piala Asia 2007 di depan ribuan suporter Gelora Bung Karno. Indonesia menang 2-1 atas Bahrain dengan gol yang dicetak oleh Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas. Para pemain yang ketika itu menjadi andalan Kolev dalam formasi 4-3-3, yaitu : Jendri Pitoy; Ricardo Salampessy, Maman Abdurahman, Charis Yulianto, M.Ridwan; Firman Utina, Ponaryo Astaman (k)/Syamsul Chaerudin, Mahyadi Panggabean/Eka Ramdani; Elie Aiboy/Supardi, Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas.

Tujuh Pemain Indonesia Pernah Bertemu Bahrain

Dari 23 nama pemain timnas yang turun melawan Bahrain dalam kedua pertandingan tersebut ternyata menyisakan sejumlah nama yang masih membela Skuad Garuda dan akan kembali menghadapi lawan yang sama dalam Kualifikasi Piala Dunia 2014 yang berlangsung pada Selasa, 6 September 2011 di Jakarta. Bambang Pamungkas menjadi satu-satunya pemain yang turun dalam dua kali pertemuan. Hamka bermain pada tahun 2004, sementara Ricardo, Ridwan, Firman, Eka, dan Supardi menjadi bagian dari tim yang menang pada tahun 2007. Jadi ada tujuh pemain timnas masa kini yang sudah berpengalaman melawan Bahrain.

Dalam pertandingan di Piala Asia 2007 yang sering kita lihat cuplikannya di televisi, Firman Utina berperan besar dalam terciptanya dua gol timnas. Firman mengirimkan umpan lambung cantik yang dimanfaatkan dengan baik oleh Budi Sudarsono menjadi gol pembuka. Sementara gol kedua berawal dari tendangan keras Firman yang membentur mistar gawang dan Bambang sukses menendang bola rebound ke gawang Bahrain. Bambang waktu itu mencetak gol kemenangan sebagai kapten Tim Merah Putih setelah Ponaryo sebagai kapten utama timnas cedera, sehingga digantikan oleh Syamsul Chaerudin.

Prediksi Tim Inti

Tim inti yang akan diturunkan Wim Risjbergen menghadapi Bahrain (6/9) dipastikan tidak sama dengan tim yang kalah 0-3 dari Iran pada 2 September 2011 lalu. Dua pemain harus absen karena akumulasi kartu kuning, yaitu : Zulkifli Syukur dan M.Ilham. Sejumlah pemain yang sebelumnya tak bermain karena cedera dan alasan lain siap turun kembali membela nama Indonesia. Ricardo Salampessy dan Ahmad Bustomi dikabarkan sudah pulih dari cedera dan sakitnya, semoga saja Ferry Rotinsulu pun demikian. M.Nasuha boleh turun lagi setelah dilarang bermain karena akumulasi kartu kuning. Boaz Solossa yang sempat diijinkan meninggalkan timnas untuk kepentingan keluarganya, semoga saja tetap bagus kondisi fisik dan mentalnya. Pelatih Wim dan asistennya sudah tentu memiliki tim inti pilihannya sendiri. Namun saya mencoba membuat prediksi tim inti berdasarkan kondisi pemain yang ada saat ini dalam formasi 4-4-2 sebagai berikut :

Markus Haris/Ferry Rotinsulu; Supardi/Ricardo Salampessy, M.Roby, Hamka Hamzah, M.Nasuha; Irfan Bachdim/Okto Maniani, Firman Utina, Hariono/A.Bustomi, M.Ridwan; Bambang Pamungkas (k)/Boaz Solossa, Cristian Gonzales.

Dari ketujuh pemain timnas yang pernah turun menghadapi Bahrain, bisa jadi ada empat atau lima pemain yang akan kembali menjadi bagian dari tim inti. Pengalaman mereka kiranya dapat menjadi modal tambahan bagi tim asuhan Wim Rijsbergen untuk menundukkan tim asuhan Peter Taylor, selain faktor tuan rumah dengan dukungan luar biasa dari ribuan penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Semoga kemenangan dapat kembali diraih oleh Skuad Garuda, siapa pun yang turun bermain dan mencetak golnya.

Jadikan kita bangga Indonesia! Jayalah negaraku, tanah air tercinta, Indonesia Raya!