h1

Perbandingan antara IPL dan ISL 2011/2012

Desember 23, 2011

Fakta berbicara bahwa di musim 2011/2012 ini telah bergulir dua kompetisi Liga Indonesia. Istilah kerennya, sudah terjadi dualisme dalam kompetisi sepak bola di negeri ini. Terlepas dari polemik masalah legalitas yang biarlah –mestinya- menjadi urusan para ahli hukum, ada sejumlah hal menarik yang bisa dibandingkan antara IPL (Indonesian Premier League) dan ISL (Indonesia Super League).

Persamaan

Ternyata ada sejumlah persamaan di antara mereka. Pertama, kedua liga tersebut diklaim sebagai kompetisi level tertinggi yang diikuti oleh klub terbaik di Indonesia dan tajuknya sama-sama menggunakan bahasa Inggris. Mungkin rasanya kurang bergengsi jika nama kompetisi olah raga di negeri ini menggunakan bahasa Indonesia. Kedua, hingga kini belum ada sponsor utama penyelenggaraan kompetisi tersebut. Hal itu terbukti bahwa tidak ada merek sponsor yang menyertai nama IPL maupun ISL, sementara musim lalu kita mengenal nama Djarum ISL. Ketiga, ada sejumlah klub bernama sama di kedua kompetisi, yaitu : Persija, Arema Indonesia, dan PSMS. Itulah salah satu kehebatan PSSI masa kini yang sukses membuat satu tim terbelah menjadi dua tim, lantas bisa bermain di tempat yang berbeda. Sebenarnya ada juga dua nama Persiba, namun peserta IPL adalah Persiba Bantul (juara Divisi Utama PSSI 2010/2011) dan peserta ISL adalah Persiba Balikpapan (tim ISL 2010/2011).

Perbedaan

Hal-hal selanjutnya merupakan perbedaan nyata kedua kompetisi. Pertama, IPL diadakan oleh PT LPIS yang baru dibentuk oleh PSSI Djohar Arifin, sementara ISL diselenggarakan oleh PT LI yang merupakan warisan dari PSSI Nurdin Halid. Kedua, stasiun televisi yang menyiarkannya pun tak sama. IPL ditayangkan oleh MNC Grup (RCTI, Global TV, dan MNCTV), sementara ISL bisa disaksikan di ANTV. Ketiga, jumlah peserta IPL ada 12 tim, sedangkan ISL ada 18 tim. Klub peserta IPL tersebar di Sumatra (3), Jawa (7), Kalimantan (1), dan Sulawesi (1). Klub ISL berada di Sumatra (4), Jawa (7), Kalimantan (3), dan Papua (4).

Mengenai kualitas kompetisi yang tersaji, barangkali kita mesti melihat lebih banyak pertandingan yang disiarkan di televisi untuk mengetahuinya. Namun dari nama-nama tim pesertanya, klub ISL tampak lebih menjanjikan. Menyebut nama Persipura, Sriwijaya FC, Persija, dan Persib saja, kita sudah mendapatkan sejumlah nama pemain timnas Indonesia (baik yang masih aktif di tim senior dan U-23, juga yang sudah mantan) maupun nama pemain asing yang sudah akrab di telinga kita. Di sana ada Boaz Solossa, Ricardo Salampessy, Titus Bonai, Bio Pauline, dan Zah Rahan (Persipura); Ferry Rotinsulu, M.Ridwan, Ponaryo Astaman, Firman Utina, dan Keith Kayamba Gumbs (Sriwijaya FC); Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Hasyim Kipuw, Precious E, dan Robertino Pugliara (Persija); juga Jendri Pitoy, Zulkifli Syukur, M.Ilham, Atep, dan Abanda Herman (Persib). Sementara di IPL barangkali hanya ada nama Wahyu Wijiastanto (Persiba Bantul), Kurnia Meiga dan Gunawan Dwi Cahyo (Arema), Abdul Rahman dan Ferdinand Sinaga (Semen Padang), serta pemain yang dicoret dari timnas SEA Games : Irfan Bachdim (Persema).

Sanksi PSSI

Semula kita mengira bahwa PSSI tidak mungkin memberikan sanksi berupa larangan bermain di timnas bagi para pemain Indonesia yang membela klub-klub ISL. Toh, soal legalitas penyelenggaraan ISL oleh PT LI pun sebenarnya masih bisa diperdebatkan lagi. Yang jelas, bukan hanya PSSI yang rugi, publik pencinta sepak bola tanah air pun akan sangat kecewa dan tidak terima seandainya para pemain kesayangan mereka tidak boleh membela Skuad Garuda. Namun PSSI sudah mencoba bersikap tegas dengan membuat larangan tersebut karena konon ada aturannya demikian dari FIFA. Klub-klub pemilik hak suara yang dianggap melakukan pemberontakan pun sudah mulai mendapat sanksi amat berat. Hal itu menunjukkan bahwa PSSI belum bosan membuat kontroversi dan semakin mengobarkan semangat permusuhan kepada mereka yang sesungguhnya sekadar berbeda pendapat dengan kebijakan PSSI yang memang sering aneh serta tak masuk akal itu.

Harapan pasca-revolusi

Semoga di tahun 2012 nanti revolusi kembali terjadi di PSSI. Biarlah kekisruhan di tubuh PSSI menjadi pelajaran berharga di masa lalu yang tak perlu dilanjutkan lagi di masa depan. Semua pihak yang mengaku mencintai sepak bola Indonesia mesti bersedia melangkah bersama dengan damai dan cinta untuk mewujudkan kebaikan, kebahagiaan, serta kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Siapa tahu kebersamaan dalam membangun sepak bola nasional -yang semoga berbuah prestasi manis- dapat menginspirasi mereka yang masih terpecah belah di bumi Indonesia ini untuk mau bersatu dan melangkah maju. Semoga pula di musim 2012/2013 nanti tidak perlu lagi ada perbandingan antara IPL dan ISL lagi karena hanya ada satu Liga Indonesia yang terbaik bagi semua pihak. Salam damai dan cinta untuk sepak bola Indonesia!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: