h1

Teka-Teki di Balik Reuni

Desember 30, 2011

Tiada seorang pun teman yang selama ini kerap dijumpainya mengerti, mengapa Alexa seakan serta merta lenyap dari peredaran. Tak akan ada yang lupa bahwa dialah yang pertama kali berupaya mengumpulkan teman-teman SMA-nya hingga akhirnya tercetus gagasan untuk mengadakan reuni satu angkatan. Dengan susah payah -namun hati riang- Alexa menghubungi nomor telepon temannya satu demi satu, diajaknya mereka untuk berkumpul di rumahnya pada suatu senja, dan nyatanya belasan orang yang sebagian besar tak pernah berjumpa sehabis lulus SMA dapat kembali dipertemukan. Hanya suka cita yang tercurah di antara mereka, kesedihan sama sekali tak ada.

“Berhubung di antara teman-teman yang hadir di sini ternyata masih mungkin menghubungi yang lain, bagaimana jika sebulan mendatang kita berkumpul lagi? Bisa jadi lebih banyak yang datang nanti,” usul Alexa melihat keceriaan mereka yang pernah satu sekolah dengannya belasan tahun lampau.

“Sepertinya tidak ada yang bakal keberatan dengan idemu. Tapi kita mau ketemu di mana, Alexa?” tanya Dimas.

”Ketimbang mesti bingung cari tempat, ya sudah, kita kumpul di sini lagi saja,” sahut Alexa dengan mata berbinar.

”Alexa, kami berterima kasih sekali bisa kamu pertemukan di rumahmu hari ini. Tapi kami tak enak hati jika kembali merepotkanmu,” kata Nena.

”Aku sama sekali tak kerepotan menerima kedatangan kalian. Yang ada, aku malah senang sekali rumahku bisa ramai sekali sore ini,” ucap Alexa. Tiada yang tak suka dengan keramahan dan kebaikan hati perempuan tersebut. Semua sepakat untuk memberitahu teman yang lain agar bisa kembali berjumpa.

Sebulan kemudian tempat tinggal Alexa kembali riuh rendah di sebuah sore. Jika pada pertemuan pertama hanya belasan orang yang hadir, maka pada perjumpaan berikutnya terdapat lebih dari dua puluh orang yang berhasil dikumpulkan. Profesi mereka sungguh beragam kini. Ada yang menjadi kepala desa, sekretaris kecamatan, dosen, guru, tentara, pegawai bank, pengusaha, wartawan, seniman, dan macam-macam lagi lainnya. Ada kejutan-kejutan tersendiri, seperti yang dulu anaknya kecil dan pendiam, sekarang menjadi tentara yang gagah perwira dan pandai bicara pula. Lalu ada yang dulu usil dan pecicilan, sekarang menjadi pendiam dan terlihat cantik dengan jilbabnya. Mereka gembira serta bersyukur sekali dapat kembali bersama setelah sekian tahun berpisah tanpa saling berkabar. Yang dahulu tidak akrab pun menjadi dekat satu sama lain. Padahal waktu itu situs jejaring sosial belum menjadi sesuatu yang populer di berbagai kalangan. Maka salut dan terima kasih mesti disampaikan pada seseorang yang berinisiatif dan berjuang keras mengadakan pertemuan itu, Alexa.

***

Pertemuan kedua di rumah Alexa menyepakati diadakannya reuni satu angkatan sehabis lebaran nanti. Panitia reuni telah dibentuk pula sore itu. Dimas bersedia menjadi ketuanya, sementara Alexa didaulat sebagai sekretaris. Rapat persiapan reuni besar diadakan sebulan sekali secara bergantian di rumah mereka yang menjadi panitia. Alexa menjadi orang yang paling antusias dengan mendatangi setiap pertemuan. Dia pula yang berinisiatif mencari sejumlah alternatif tempat bagi teman-teman SMA-nya nanti berkumpul dalam jumlah banyak. Apa yang dilakukan oleh Alexa menjadi spirit tersendiri bagi seluruh panitia reuni. Namun pada bulan keempat sejak pertemuan kedua di rumah Alexa, perempuan lajang itu seperti menghilang begitu saja. Biasanya dia yang selalu menghubungi segenap temannya untuk membicarakan apa yang akan dilakukan saat reuni. Tiba-tiba saja tiada kabar sama sekali dari Alexa. Dimas, sang ketua panitia reuni yang mencoba menghubungi Alexa nyatanya tak mendapat jawaban.

”Nena, ada apa dengan Alexa? Kapan kita mau rapat lagi?” tanya Dimas.

”Aku juga sudah lama menanti kabar dari Alexa. Biasanya kan dia yang selalu mengundang kita untuk rapat? Coba nanti kudatangi rumahnya dan bertanya pada ibunya,” sahut Nena yang dipercaya untuk menjadi seksi konsumsi acara reuni nanti.

Alexa telah meninggalkan kotanya untuk kembali bekerja di ibukota. Itulah jawaban yang diperoleh Nena seusai mengunjungi tempat tinggal Alexa dan berbincang dengan ibunya.

”Tapi kenapa Alexa sama sekali tidak memberitahu kita?” ucap Dimas.

”Itulah sesuatu yang aku juga tak mengerti hingga kini. Kutanyai teman-teman yang lain, mereka pun baru tahu bahwa Alexa sudah pergi,” kata Nena di depan Dimas dan teman-teman panitia lainnya yang akhirnya memutuskan kembali berjumpa tanpa kehadiran Alexa sekian bulan kemudian.

”Ah, kenapa jadi Alexa yang seperti menjauhi kita sekarang? Padahal dialah yang awalnya mendekati kita hingga bisa kerap berjumpa begini,” sesal Kirana yang rumahnya sempat dijadikan lokasi rapat.

”Bukankah dia yang semula paling bersemangat supaya kita bisa reuni? Apa sih yang terjadi dengan Alexa sebenarnya?” tanya Fandi yang cukup rajin mengikuti pertemuan.

”Sudahlah teman-teman, kita lupakan dulu masalah Alexa. Yang penting sekarang, apakah kita jadi menyelenggarakan reuni yang sudah kita rencanakan jauh hari atau tidak?” sela Dimas.

”Ya sudah, teruskan saja rencana kita. Jika kita percaya bahwa sanggup mengadakannya, pasti nanti akan terlaksana juga kok. Tak perlulah kita terlalu tergantung pada Alexa, meski dialah pelopor reuni kita sesungguhnya,” kata Fandi yang mencoba tetap optimis. Semua yang hadir setuju untuk melanjutkan apa yang pernah dibahas sebelumnya, biarpun selama sekian bulan mereka sempat tidak berjumpa dan waktu reuni yang direncanakan pun tinggal satu setengah bulan lagi.

***

Reuni satu angkatan yang menjadi angan-angan Alexa telah berlangsung cukup meriah dihadiri oleh sekitar lima puluh orang peserta. Barangkali jumlah itu tak terlalu banyak, jika mengingat jumlah siswa satu angkatan yang sebenarnya. Namun seusai hari itu, ada sebagian dari mereka yang kerap bertemu kembali untuk menjalin pertemanan yang lebih baik ketimbang sebelumnya. Paling tidak, hal itu merupakan sebuah nilai yang amat positif bagi mereka. Dua tahun kemudian Alexa tetap tidak pernah tampak lagi di antara teman-teman SMA-nya setiap mereka kembali bersua. Ada yang menduga bahwa Alexa sejatinya merasa patah hati karena ada seorang teman lelaki yang sempat dekat dengannya justru menikahi teman perempuannya yang lain. Mereka berjumpa dalam salah satu rapat saat persiapan reuni tempo hari yang juga dihadiri oleh Alexa. Ironisnya, pernikahan mereka pun tak berumur panjang. Sepuluh bulan sesudah menikah mereka telah bercerai. Entah apa pendapat Alexa jika dia mendengar kabar tersebut. Segala hal tentang dirinya tetap menjadi teka-teki bagi segenap temannya hingga hari ini.

Yogyakarta, 2011

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di majalah Femina No.45 Tahun 2011.

Iklan

3 komentar

  1. suka baca ini
    makasih ya setuju saling follow 🙂


    • makasih sungguh untuk yisha 🙂


  2. Jadi kemana gerangan alexa pergi? orz



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: