h1

PSSI Menanam Bom Waktu

Januari 18, 2012

Apakah PSSI di bawah pimpinan Profesor Djohar Arifin Husin memiliki sesuatu yang namanya kewibawaan? Kita mungkin tak yakin bahwa PSSI memiliki hal itu. Andai saja selama ini PSSI membuat sejumlah keputusan yang masuk akal, jujur, taat pada norma (terutama Statuta dan hasil Kongres PSSI yang masih berlaku secara sah), dan akhirnya mengundang simpati dari para pemangku kepentingan (stakeholder) sepak bola Indonesia, maka masalah dualisme kepemimpinan klub maupun dualisme liga barangkali tidak perlu terjadi. Namun PSSI ternyata lebih suka menanam bom waktu yang bakal meledak satu demi satu dalam wujud beragam masalah yang tak berkesudahan. PSSI tampaknya tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan segala problema tersebut secara elegan. Yang ada, mereka malah mengancam akan memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang tidak sepaham dengannya, termasuk dengan menutup pintu bagi para pemain Indonesia berbakat untuk memperkuat Skuad Garuda. Ironisnya, pemain-pemain terbaik di negeri ini justru memilih bermain di liga yang dianggap ilegal oleh Djohar Arifin dkk. Siapkah PSSI menghadapi gugatan rakyat Indonesia yang kecewa lantaran timnas gagal lagi, gara-gara tidak diperkuat oleh para pemain terbaiknya? Patut dipertanyakan pula, mengapa para pengelola klub dan para pemain yang tidak mengikuti kompetisi liga yang direstui PSSI berani serta tidak gentar terhadap gertakan PSSI yang akan menghukum mereka? Jika memang PSSI berwibawa, tentunya mereka akan respek dan taat pada organisasi yang mestinya mengayomi seluruh anggota PSSI tanpa kecuali.

Jadi, PSSI sebaiknya tidak menerus mengecilkan pihak yang berbeda pendapat sebagai lawan politik yang tidak penting dan mesti dihancurkan. PSSI seyogyanya mendengarkan aspirasi klub anggota PSSI yang selama ini –dengan kelebihan maupun kekurangannya- sudah membuat sepak bola nasional tetap eksis. Apalagi merekalah sesungguhnya yang berperan besar mengantarkan Djohar Arifin dkk berkuasa di PSSI saat ini. PSSI seharusnya mampu membangun kebersamaan untuk memajukan sepak bola nasional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang ada, termasuk klub-klub yang memilih bermain di ISL (Indonesia Super League) dan bukan hanya klub anggota IPL (Indonesian Premier League).

Tapi entahlah jika ada kepentingan seseorang atau sekelompok orang yang lebih utama untuk diperhatikan oleh PSSI. Sekiranya para pemimpin PSSI masa kini sudi melihat kembali sejarah berdirinya PSSI sebagai alat perjuangan bangsa, yang saat sekarang pun sejatinya masih tetap relevan, maka setiap PSSI membuat keputusan signifikan, pasti yang lebih diutamakan adalah kepentingan umum – bangsa dan negara Indonesia, bukan kepentingan pribadi atau segelintir pihak belaka. Namun masalah pokoknya adalah apakah Profesor Djohar Arifin Husin yang terhormat bersedia bersikap seperti itu? Kita sudah lupa atau bahkan tidak pernah tahu, apa sesungguhnya visi dan misi sang profesor, ketika tempo hari berniat memimpin organisasi sepak bola di negeri ini.

Yang jelas, selama kisruh dan karut marut tetap memberi warna kusam pada PSSI, mohon maaf saja, kita tak layak berharap sepak bola Indonesia akan berprestasi membanggakan dan bersinar cerah. Semua solusi sebenarnya ada di tangan PSSI sendiri, silakan memilih jalan yang terbaik.

# Tulisan ini dibuat pada November 2011 dan (versi edit) dimuat di rubrik PSSI-Watch majalah BolaVaganza No.123/Januari 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: