Archive for Februari, 2012

h1

Mas Aji, Bawa Oleh-olehnya Sedikit Saja!

Februari 29, 2012

Aji Santoso menghadapi tantangan berat ketika menjalani debutnya sebagai pelatih caretaker timnas senior Indonesia dalam pertandingan terakhir Grup E Pra Piala Dunia 2014 Zona Asia. Bahrain yang masih memiliki peluang untuk lolos ke babak selanjutnya jelas berambisi mencetak gol sebanyak mungkin ke gawang Indonesia, seraya berharap Qatar kalah dari Iran. Aji beserta anak-anak asuhnya jelas tak sudi takluk dengan skor besar. Demikian pula tentunya harapan kita sebagai pencinta Skuad Garuda. Namun mantan bek kiri itu tetap optimistis timnya mampu mengimbangi permainan Bahrain, meski faktanya masa persiapan dan materi pemain yang dimilikinya dirasa masih sangat kurang. Memang itulah konsekuensi logis yang mesti dihadapi siapa pun pelatih timnas Indonesia saat ini ketika beragam masalah yang terjadi masih dibiarkan berjalan tanpa solusi.

Aji Santoso sebenarnya tak perlu terlalu khawatir seandainya Tim Merah Putih besutannya sampai kalah telak. Kita pasti masih ingat, dalam debut Alfred Riedl menangani timnas pada 8 Oktober 2010, Indonesia ditundukkan Uruguay dengan skor 1-7 di SUGBK Jakarta. Kita pun tahu bahwa Firman Utina dkk kemudian tampil impresif dalam Piala AFF 2010, meski akhirnya tetap gagal menjadi juara. Sejumlah pemain timnas, seperti : Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Ahmad Bustomi, M.Nasuha, dan Oktovianus Maniani lantas menjadi idola baru bagi pencinta sepak bola nasional.

Dengan reputasinya selama ini, Aji sebenarnya layak menjadi pelatih resmi timnas senior Indonesia. Namun masalah yang ada sekarang mesti ada solusi terbaiknya, sehingga di hari nanti semua pemain sepak bola terbaik se-Indonesia dapat kembali mengenakan kostum Merah Putih dengan simbol Garuda di dada. Semoga kita tidak lagi menyia-nyiakan karunia Tuhan berupa pemain-pemain berbakat di seantero Nusantara dan menjadi para hamba-Nya yang bersyukur karena mampu mendayagunakan saudara-saudara kita tersebut dengan sebaik-baiknya demi nama Indonesia.

Satu pesan terakhir untuk pemain idola saya di masa jayanya, “Mas Aji, tolong bawa oleh-olehnya (berupa gol) dari Bahrain sedikit saja ya!”

Salam damai dan cinta untuk sepak bola Indonesia senantiasa…

h1

Materi Timnas Indonesia 2012 (Cuma Khayalan)

Februari 22, 2012

Seandainya percaturan sepak bola nasional sedang dalam kondisi normal, saya memiliki khayalan sendiri soal materi timnas Indonesia yang akan berlaga menghadapi Bahrain dalam pertandingan terakhir Pra Piala Dunia 2014 pada akhir Februari 2012 nanti. Pelatih kepala timnas adalah Rahmad Darmawan, dengan asisten Aji Santoso, Widodo C. Putro, dan Eddy Harto (pelatih kiper). Mereka semua merupakan mantan pelatih timnas SEA Games 2011.

Berikut ini materi pemain yang menurut saya layak dipanggil untuk membela Tim Merah Putih.

Kiper : Ferry Rotinsulu, Kurnia Meiga, Samsidar

Bek : Hamka Hamzah, Wahyu Wijiastanto, Abdul Rahman, Gunawan Dwi Cahyo, Zulkifli Syukur, Diego Michiels, Jajang Sukmara

Gelandang : Firman Utina, Ahmad Bustomi, Egi Melgiansyah, Gerald Pangkali, Toni Sucipto, Oktovianus Maniani, Andik Vermansah, M.Ridwan

Penyerang : Samsul Arif, Ferdinand Sinaga, Patrich Wanggai, Titus Bonai, Jajang Mulyana

Tim inti : Ferry; Zulkifli, Hamka, Wahyu, Diego; Andik, Firman, Bustomi, Ridwan; Patrich, Tibo.

Apa pun hasil pertandingan di Bahrain tak perlu terlalu dipikirkan. Materi pemain tersebut toh bisa menjadi kerangka timnas ketika menghadapi Piala AFF 2012 akhir tahun nanti. Tapi saya tak tahu apakah hal itu mungkin menjadi nyata mengingat fakta yang ada. Untuk melihat Skuad Garuda diperkuat oleh para pemain terbaik yang dimiliki negeri ini memang hanya menjadi khalayan saya dan pencinta timnas Indonesia lainnya saat ini. Tapi mungkin kita layak menyimak testimoni Rahmad Darmawan dalam novel sepak bola ‘Menerjang Batas’ yang sedang digarap filmnya oleh Andibachtiar Yusuf. Kata RD : Hidup dimulai dari mimpi yang bertingkat. Yang ada di level terendah menyebutnya khayalan, lalu ada realita yang berada pada tataran tertinggi.

h1

Hidup pun Indah

Februari 22, 2012

Dan bayangkan tangan kami selalu berjabat mesra. Dan bayangkan semua hati selalu terasa hangatnya. Dan bayangkan mimpi ini mampu menjadi nyata. Semua menjadi indah, hidup terasa indah. (Hidup pun Indah – Adi Adrian feat. Opick)

h1

Permata Hati Siwi

Februari 22, 2012

Terdapat dua belas rumah di kompleks tersebut. Ada dua buah rumah kosong, sebuah rumah kontrakan berpenghuni para mahasiswa, dan sisanya ditempati oleh beberapa keluarga. Uniknya, empat di antara keluarga tersebut hanya terdiri dari sepasang suami istri. Pasangan pertama telah berusia lanjut dan mungkin sudah lebih dari tiga puluh tahun mengarungi hidup berdua. Sementara itu tiga pasangan lainnya, setidaknya sudah lima tahun berumah tangga dan belum ada satu pun yang dikarunai keturunan. Wajarlah jika menjadi keinginan mereka untuk memiliki anak, namun belum kunjung menjadi nyata.

 

Pasangan Dino dan Asri yang pertama berinisiatif untuk mengangkat anak keponakan Dino yang baru berusia tiga bulan. Kakak Dino telah dikaruniai sepasang anak laki-laki dan perempuan, sehingga direlakanlah anak ketiganya yang perempuan menjadi anak dari adiknya. Pasangan Hendra dan Siwi juga ingin mengangkat anak, setelah sepuluh tahun menikah belum dikaruniai keturunan. Namun sayangnya mereka tak memiliki saudara yang seperti kakak Dino, sehingga mereka memilih banyak bertanya kesana kemari. Akhirnya ada sebuah keluarga miskin yang bersedia melepas calon anaknya -yang masih berada dalam kandungan ibunya- untuk menjadi milik pasangan itu. Orang tua kandung anak tersebut menanggung beban berat karena sudah memiliki lima anak. Mereka ingin masa depan anak keenamnya lebih cerah ketimbang saudara-saudaranya. Hendra dan Siwi bersedia menunggui saat kelahiran calon anak angkat mereka.

 

“Sebenarnya kami tak mau dibilang menjual anak kami. Kami hanya ingin Pak Hendra sekalian bisa menganggapnya sebagai anak sendiri dan merawatnya dengan baik,” ujar ayah kandung si jabang bayi.

“Iya, bapak dan ibu tidak usah khawatir. Saya dan Siwi pasti akan menyayanginya setulus hati dan juga akan bertanggung jawab penuh pada masa depannya,” janji Hendra.

 

Bahkan anak itu, Hendra dan Siwilah yang memberinya nama yang apik : Andhika Dian Perdana. Beberapa saat setelah dilahirkan, si Andhika kecil langsung dibawa pulang oleh Hendra berdua. Mereka sungguh bersuka cita akhirnya mampu memiliki anak, kendati bukan darah daging mereka sendiri. Tetangga di sekitar rumah pun menyambut gembira kehadiran warga baru di rumah keluarga Hendra.

“Wah, Pak Hendra sekeluarga akhirnya bisa sebahagia kami kini,” sambut Dino yang didampingi Asri dan Vina, anak angkat mereka.

“Iya, Pak. Anak-anak kita mungkin bakal jadi teman nantinya,” harap Hendra dengan penuh keceriaan. Wajah Siwi pun tampak begitu berseri-seri.

Penghuni kompleks, sejumlah kerabat, dan teman-teman sekantor Hendra bergantian mengunjungi rumahnya demi turut bersimpati pada kebahagiaan keluarga tersebut.

 

***

 

Andhika, anak angkat Hendra dan Siwi tumbuh sehat serta gemuk nian badannya. Dia pun lucu, pintar, menyenangkan, dan menjadi kesayangan tidak hanya keluarganya, namun juga semua tetangga di sekitar rumahnya. Vina, putri pasangan Dino dan Asri yang setahun lebih tua menjadi sahabat Andhika. Demikian pula Erik, cucu Eyang Radiyo Putri, tetangga dekat keluarga Hendra maupun Dino. Setiap hari senantiasa terdengar suara keceriaan bocah-bocah itu di seputar kompleks.

 

Namanya juga anak-anak, pantas saja jika di antara mereka kadang ada yang nakal, lantas terdengarlah tangisan dari salah satunya. Sudah selayaknya pula orang tua selalu sabar menghadapinya. Namun Siwi kadang kurang mampu menahan amarahnya melihat kenakalan Andhika. Baru saja dia pulang dari bekerja, ketika mendengar Vina menangis setelah bermain dengan anaknya pada sebuah senja. Langsung saja Andhika diseretnya pulang ke rumah dengan begitu kasar.

 

“Kamu kok nakal sekali sih! Mama pukul lagi kamu nanti!”

“Nggak, Ma. Andhika nggak nakal!” sahut bocah itu sambil berontak berusaha melepaskan diri.

Siwi naik pitam dan tiba-tiba sudah siap mencekik Andhika.

“Dasar anak setan!” seru Siwi dengan sangat emosional.

“Mama, tolong! Aku sakit, Ma!” teriak Andhika.

 

Siwi yang merasa darahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun, tiba-tiba saja begitu lemas tubuhnya, lantas malah jatuh terduduk. Penyakit tekanan darah tingginya kumat. Andhika berlari ketakutan ke rumah Eyang Radiyo Putri. Tiada seorang pun yang saat itu mengetahui apa yang baru terjadi pada Siwi dengan Andhika. Ketika Andhika bertemu Eyang Radiyo Putri dan mengatakan yang sesungguhnya, barulah tetangga tahu bahwa ada sesuatu yang buruk baru saja berlangsung. Mereka bergegas datang menolong Siwi, sementara Andhika hanya menatap hampa tanpa suara, ketika mamanya dibawa ke kamar oleh para tetangga.

 

Sesaat Siwi mampu menginsyafi kesalahannya dan mau berusaha lebih sabar menghadapi anaknya. Ternyata sebelumnya tak hanya sekali Siwi bersikap terlampau keras pada Andhika, terutama ketika suaminya tak berada di rumah. Bahkan Hendra semula tak mengerti, hingga akhirnya dia mengetahui juga apa yang telah dilakukan oleh istrinya. Apalagi Siwi kemudian malah jatuh sakit karena hal itu.

“Dik, tolonglah kamu lebih sabar menghadapi anak kita. Ingat, kita sudah janji pada orang tua kandung Andhika untuk menyayanginya dengan tulus,” ujar Hendra menasihati istrinya. Siwi hanya bisa diam, berderai semata air matanya.

 

***

 

Kendati kadang perlakuannya begitu buruk pada Andhika, sesungguhnya Siwi begitu menyayangi permata hatinya. Bahkan saban kali anaknya berulang tahun, perempuan itu selalu mengadakan pesta besar di rumahnya. Sehabis ulang tahunnya yang kelima, Andhika sempat berucap pada mamanya,

 

“Ma, sehabis ini ulang tahun Andhika nggak usah dirayakan lagi saja.”

“Lho, kenapa begitu sayang?” tanya Siwi ingin tahu.

“Aku kan sudah gede, Ma. Umurku sudah lima tahun!”

 

Siwi terharu dan bangga mendengar kata-kata anaknya. Segera dipeluknya tubuh gemuk menggemaskan milik Andhika dengan mata berkaca-kaca. Menyesal sekali rasanya Siwi pernah berkali-kali memarahi bocah itu secara berlebihan, nyaris tanpa kelembutan seorang ibu sama sekali.

 

Sekian pekan berselang, Andhika serta merta jatuh sakit. Suhu tubuhnya meninggi selama sekian hari. Semula orang tuanya menduga dia hanya demam biasa. Namun setelah dicek darahnya di laboraturium, bocah itu ternyata positif terkena demam berdarah. Segera saja Hendra dan Siwi membawa anak kesayangannya ke rumah sakit. Langkah mereka rupanya terlambat sudah. Beberapa jam saja dirawat di instalasi gawat darurat, Andhika akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Tubuh si bocah tak kuat lagi melawan serangan virus yang dibawa oleh sang nyamuk bedebah.

 

Siwi begitu tertekan jiwanya. Penyesalannya tak kunjung usai setelah kematian Andhika. Permata hati itu sudah tak menjadi miliknya lagi. Ternyata ulang tahun tempo hari sungguh yang terakhir kali bagi anaknya. Memang mustahil sudah diadakan perayaan lagi. Sekian pekan lamanya Siwi hanya terbujur lemah di atas dipan di dalam kamarnya. Tubuhnya yang semula subur pun mengering dan layu. Hendra dibantu keluarga maupun tetangga terdekatnya benar-benar berupaya membangkitkan kembali semangat hidup Siwi. Sungguh, masih tetap tak mudah baginya melupakan sosok lucu dan menggemaskan anak yang sangat dicintainya, namun malah kerap disakitinya itu.

 

Seratus hari telah berlalu sejak kematian Andhika. Siwi akhirnya baru benar-benar ikhlas, setelah tanpa terduga bertemu dengan anaknya dalam sebuah mimpi di suatu malam yang sepi.

“Mama jangan bersedih terus, ya. Andhika sekarang sudah gembira kok di sini. Mama dan Papa pasti akan bahagia juga nanti” kata Andhika dalam bunga tidur Siwi.

”Andhika… Mama kangen sama kamu, Nak. Maafkan semua salah Mama kepadamu ya, Nak,” sahut Siwi berteman tangisan, yang disambut dengan senyuman Andhika, yang lantas membalikkan tubuh gendutnya dan melangkah pergi meninggalkannya.

 

Siwi serta merta terjaga dari tidurnya, lantas menjadi sadar bahwa hidup mesti terus berjalan, kendati permata hatinya telah tiada. Dia pun bertekad untuk kembali bangkit menjalani lembaran baru dalam hidupnya karena percaya apa kata anaknya dalam mimpi. Bahkan dia sudah siap jika memiliki anak lagi, namun dia mesti lebih dahulu meminta pendapat suaminya.

 

“Kak Hendra setuju kan, jika kita mengangkat anak lagi?”

“Jika kamu memang sudah siap punya anak lagi, aku sama sekali tak keberatan. Tapi, kumohon jangan sampai kamu berlaku buruk lagi pada anak kita nanti, Dik.”

“Kak, sudah cukuplah perlakuan burukku pada Andhika dibalas Tuhan dengan mengambilnya dari kita. Pasti akan kuperbaiki sikapku, supaya aku bisa menjadi ibu yang terbaik bagi anak kita, hingga akhirnya dia tumbuh dewasa. Aku akan sungguh-sungguh menjaga permata hatiku kelak,” tutur Siwi dengan berlinang air mata, tiba-tiba terkenang lagi sosok mendiang anaknya.

 

Hendra dan Siwi akhirnya kembali mencari informasi. Setelah lewat setahun tahun kemudian, barulah mereka memperoleh pengganti Andhika. Kali ini mereka mendapatkannya dari sebuah rumah sakit bersalin. Ibu bayi tersebut meninggalkan buah hatinya di tempatnya melahirkan karena kehamilannya di luar nikah dan kekasihnya telah hilang entah kemana. Baik Hendra maupun Siwi tidak memasalahkan hal itu. Ternyata benar apa kata Andhika dalam mimpi Siwi, mereka dapat kembali bersuka cita. Anak itu pun diberi nama Dimas Andhika Dian Prasetya. Uniknya, wajah dan perawakan Dimas lama-lama mirip dengan Andhika, sehingga layak saja dia menjadi adik dari almarhum.

 

TAMAT

 

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 12 Februari 2012.

h1

Hidup dari Mimpi

Februari 13, 2012

Hidup dimulai dari mimpi yang bertingkat. Yang ada di level terendah menyebutnya khayalan, lalu ada realita yang berada pada tataran tertinggi. (Rahmad Darmawan)

h1

Buah Pahit Dipetik PSSI, Tapi Timnas Beruntung

Februari 13, 2012

Dalam suasana keprihatinan akibat konflik antara PSSI dan KPSI, timnas senior Indonesia mesti melakukan pertandingan terakhir Pra Piala Dunia 2014 melawan Bahrain pada akhir Februari 2012. Buah pahit konflik yang langsung bisa dipetik oleh PSSI adalah perubahan drastis komposisi pemain timnas saat ini. Aji Santoso sebagai pelatih sementara timnas PPD berada dalam dilema karena hanya memiliki 11 pemain yang telah terdaftar di FIFA, itu pun hanya sebagian kecil yang merupakan pemain inti. Dia tak punya banyak pilihan lantaran PSSI menutup pintu rapat-rapat bagi para pemain klub LSI. Tapi Aji masih beruntung karena pertandingan melawan Bahrain sudah tidak menentukan lagi. Timnas yang bakal didominasi muka baru bisa tampil tanpa beban. Jika hasilnya Kurnia Meiga dkk kalah telak, kita sebagai suporter setia Skuad Garuda tentu bakal maklum. Namun hal itu cukup terjadi pada satu pertandingan saja.

PSSI harus menghentikan sikapnya menyia-nyiakan karunia Tuhan yang berupa pemain-pemain berbakat se-Nusantara, seperti : Boaz Solossa, Ahmad Bustomi, Egi Melgiansyah, Patrich Wanggai, dan masih banyak nama lainnya. Tentu kita lantas berharap timnas bisa meraih gelar juara Piala AFF 2012. Persiapan harus dilakukan sedini mungkin dengan memperbanyak jadwal uji coba internasional. Pada saat itu seyogianya sudah tiada lagi kisruh di tubuh PSSI, sehingga semua pemain terbaik Indonesia dapat membela panji Merah Putih. Semoga kita semua mampu menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur, tidak terkecuali bagi pengurus PSSI.

# Tulisan ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.310/Kamis-Jumat, 9-10 Februari 2012

h1

Pemain Muda Terbaik Indonesia 2011 – Versi FFT Indonesia

Februari 10, 2012


Dalam edisi Februari 2012 yang merupakan edisi terbarunya, majalah FourFourTwo Indonesia telah memilih 10 pemain muda –kelahiran tahun 1989 ke atas- yang tampil cukup menonjol sepanjang tahun 2011. Sebagian besar di antara mereka merupakan anggota timnas U-23 yang meraih medali perak SEA Games 2011 di bawah asuhan pelatih Rahmad Darmawan.

Redaktur majalah tersebut sudah tentu memiliki penilaian tersendiri di tengah minimnya data pertandingan sepak bola nasional hingga hari ini. FFT Indonesia membuat penghargaan tersebut sebagai usaha memotivasi semangat para pemain muda Indonesia dalam menatap masa depan mereka.

10 Pemain Muda Terbaik Indonesia 2011

1. Titus Bonai (22) Penyerang – Persipura

2. Kurnia Meiga (21) Kiper – Arema IPL

3. Lukas Mandowen (22) Penyerang – Persipura

4. Andik Vermansyah (20) Penyerang/Sayap – Persebaya 1927

5. Yongki Aribowo (22) Penyerang – Persisam

6. Hendro Siswanto (21) Gelandang – Arema IPL

7. Joko Sasongko (21) Gelandang – Pelita Jaya

8. Egi Melgiansyah (21) Gelandang – Pelita Jaya

9. Oktovianus Maniani (21) Penyerang/Sayap – Persiram

10.Vendry Mofu (22) Gelandang – Semen Padang

Sebagai bahan perbandingan, inilah daftar yang dibuat oleh FFT Indonesia untuk versi tahun 2010 silam. Tercatat hanya ada lima pemain yang namanya kembali tercantum di tahun 2011.

10 Pemain Terbaik Indonesia 2010

1. Oktovianus Maniani (20) Penyerang/Sayap – Sriwijaya FC

2. Kurnia Meiga (20) Kiper – Arema

3. Dendi Santoso (20) Penyerang/Sayap – Arema

4. Yongki Aribowo (21) Penyerang – Arema

5. Irfan Bachdim (22) Penyerang – Persema

6. Syamsir Alam (18) Penyerang – SAD Indonesia

7. Lukas Mandowen (21) Penyerang – Persipura

8. Johan Juansyah (22) Gelandang – Persijap

9. Andik Vermansyah (19) Gelandang Serang – Persebaya

10.Munadi (21) Gelandang – Persib

Sudah selayaknya kita menghargai apa yang dilakukan oleh majalah FFT Indonesia. Tentu kita berharap bahwa sepak bola nasional di hari mendatang berwarna lebih cerah, tidak seperti saat ini yang berwarna kusam karena terjadinya berbagai konflik kepentingan di antara pengurus PSSI dan para anggotanya sendiri. Bukankah mestinya mereka bahu-membahu membangun kebersamaan memajukan sepak bola di negeri ini? Yang jelas, jangan sampai para pemain berbakat Indonesia –semuanya saja, tidak hanya para pemain muda- akhirnya kembali menjadi korban belaka, ibarat pelanduk yang mati di tengah-tengah dua gajah yang berseteru.

Salam damai dan cinta untuk sepak bola Indonesia (jika masih ada damai dan cinta di sana) …