h1

Permata Hati Siwi

Februari 22, 2012

Terdapat dua belas rumah di kompleks tersebut. Ada dua buah rumah kosong, sebuah rumah kontrakan berpenghuni para mahasiswa, dan sisanya ditempati oleh beberapa keluarga. Uniknya, empat di antara keluarga tersebut hanya terdiri dari sepasang suami istri. Pasangan pertama telah berusia lanjut dan mungkin sudah lebih dari tiga puluh tahun mengarungi hidup berdua. Sementara itu tiga pasangan lainnya, setidaknya sudah lima tahun berumah tangga dan belum ada satu pun yang dikarunai keturunan. Wajarlah jika menjadi keinginan mereka untuk memiliki anak, namun belum kunjung menjadi nyata.

 

Pasangan Dino dan Asri yang pertama berinisiatif untuk mengangkat anak keponakan Dino yang baru berusia tiga bulan. Kakak Dino telah dikaruniai sepasang anak laki-laki dan perempuan, sehingga direlakanlah anak ketiganya yang perempuan menjadi anak dari adiknya. Pasangan Hendra dan Siwi juga ingin mengangkat anak, setelah sepuluh tahun menikah belum dikaruniai keturunan. Namun sayangnya mereka tak memiliki saudara yang seperti kakak Dino, sehingga mereka memilih banyak bertanya kesana kemari. Akhirnya ada sebuah keluarga miskin yang bersedia melepas calon anaknya -yang masih berada dalam kandungan ibunya- untuk menjadi milik pasangan itu. Orang tua kandung anak tersebut menanggung beban berat karena sudah memiliki lima anak. Mereka ingin masa depan anak keenamnya lebih cerah ketimbang saudara-saudaranya. Hendra dan Siwi bersedia menunggui saat kelahiran calon anak angkat mereka.

 

“Sebenarnya kami tak mau dibilang menjual anak kami. Kami hanya ingin Pak Hendra sekalian bisa menganggapnya sebagai anak sendiri dan merawatnya dengan baik,” ujar ayah kandung si jabang bayi.

“Iya, bapak dan ibu tidak usah khawatir. Saya dan Siwi pasti akan menyayanginya setulus hati dan juga akan bertanggung jawab penuh pada masa depannya,” janji Hendra.

 

Bahkan anak itu, Hendra dan Siwilah yang memberinya nama yang apik : Andhika Dian Perdana. Beberapa saat setelah dilahirkan, si Andhika kecil langsung dibawa pulang oleh Hendra berdua. Mereka sungguh bersuka cita akhirnya mampu memiliki anak, kendati bukan darah daging mereka sendiri. Tetangga di sekitar rumah pun menyambut gembira kehadiran warga baru di rumah keluarga Hendra.

“Wah, Pak Hendra sekeluarga akhirnya bisa sebahagia kami kini,” sambut Dino yang didampingi Asri dan Vina, anak angkat mereka.

“Iya, Pak. Anak-anak kita mungkin bakal jadi teman nantinya,” harap Hendra dengan penuh keceriaan. Wajah Siwi pun tampak begitu berseri-seri.

Penghuni kompleks, sejumlah kerabat, dan teman-teman sekantor Hendra bergantian mengunjungi rumahnya demi turut bersimpati pada kebahagiaan keluarga tersebut.

 

***

 

Andhika, anak angkat Hendra dan Siwi tumbuh sehat serta gemuk nian badannya. Dia pun lucu, pintar, menyenangkan, dan menjadi kesayangan tidak hanya keluarganya, namun juga semua tetangga di sekitar rumahnya. Vina, putri pasangan Dino dan Asri yang setahun lebih tua menjadi sahabat Andhika. Demikian pula Erik, cucu Eyang Radiyo Putri, tetangga dekat keluarga Hendra maupun Dino. Setiap hari senantiasa terdengar suara keceriaan bocah-bocah itu di seputar kompleks.

 

Namanya juga anak-anak, pantas saja jika di antara mereka kadang ada yang nakal, lantas terdengarlah tangisan dari salah satunya. Sudah selayaknya pula orang tua selalu sabar menghadapinya. Namun Siwi kadang kurang mampu menahan amarahnya melihat kenakalan Andhika. Baru saja dia pulang dari bekerja, ketika mendengar Vina menangis setelah bermain dengan anaknya pada sebuah senja. Langsung saja Andhika diseretnya pulang ke rumah dengan begitu kasar.

 

“Kamu kok nakal sekali sih! Mama pukul lagi kamu nanti!”

“Nggak, Ma. Andhika nggak nakal!” sahut bocah itu sambil berontak berusaha melepaskan diri.

Siwi naik pitam dan tiba-tiba sudah siap mencekik Andhika.

“Dasar anak setan!” seru Siwi dengan sangat emosional.

“Mama, tolong! Aku sakit, Ma!” teriak Andhika.

 

Siwi yang merasa darahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun, tiba-tiba saja begitu lemas tubuhnya, lantas malah jatuh terduduk. Penyakit tekanan darah tingginya kumat. Andhika berlari ketakutan ke rumah Eyang Radiyo Putri. Tiada seorang pun yang saat itu mengetahui apa yang baru terjadi pada Siwi dengan Andhika. Ketika Andhika bertemu Eyang Radiyo Putri dan mengatakan yang sesungguhnya, barulah tetangga tahu bahwa ada sesuatu yang buruk baru saja berlangsung. Mereka bergegas datang menolong Siwi, sementara Andhika hanya menatap hampa tanpa suara, ketika mamanya dibawa ke kamar oleh para tetangga.

 

Sesaat Siwi mampu menginsyafi kesalahannya dan mau berusaha lebih sabar menghadapi anaknya. Ternyata sebelumnya tak hanya sekali Siwi bersikap terlampau keras pada Andhika, terutama ketika suaminya tak berada di rumah. Bahkan Hendra semula tak mengerti, hingga akhirnya dia mengetahui juga apa yang telah dilakukan oleh istrinya. Apalagi Siwi kemudian malah jatuh sakit karena hal itu.

“Dik, tolonglah kamu lebih sabar menghadapi anak kita. Ingat, kita sudah janji pada orang tua kandung Andhika untuk menyayanginya dengan tulus,” ujar Hendra menasihati istrinya. Siwi hanya bisa diam, berderai semata air matanya.

 

***

 

Kendati kadang perlakuannya begitu buruk pada Andhika, sesungguhnya Siwi begitu menyayangi permata hatinya. Bahkan saban kali anaknya berulang tahun, perempuan itu selalu mengadakan pesta besar di rumahnya. Sehabis ulang tahunnya yang kelima, Andhika sempat berucap pada mamanya,

 

“Ma, sehabis ini ulang tahun Andhika nggak usah dirayakan lagi saja.”

“Lho, kenapa begitu sayang?” tanya Siwi ingin tahu.

“Aku kan sudah gede, Ma. Umurku sudah lima tahun!”

 

Siwi terharu dan bangga mendengar kata-kata anaknya. Segera dipeluknya tubuh gemuk menggemaskan milik Andhika dengan mata berkaca-kaca. Menyesal sekali rasanya Siwi pernah berkali-kali memarahi bocah itu secara berlebihan, nyaris tanpa kelembutan seorang ibu sama sekali.

 

Sekian pekan berselang, Andhika serta merta jatuh sakit. Suhu tubuhnya meninggi selama sekian hari. Semula orang tuanya menduga dia hanya demam biasa. Namun setelah dicek darahnya di laboraturium, bocah itu ternyata positif terkena demam berdarah. Segera saja Hendra dan Siwi membawa anak kesayangannya ke rumah sakit. Langkah mereka rupanya terlambat sudah. Beberapa jam saja dirawat di instalasi gawat darurat, Andhika akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Tubuh si bocah tak kuat lagi melawan serangan virus yang dibawa oleh sang nyamuk bedebah.

 

Siwi begitu tertekan jiwanya. Penyesalannya tak kunjung usai setelah kematian Andhika. Permata hati itu sudah tak menjadi miliknya lagi. Ternyata ulang tahun tempo hari sungguh yang terakhir kali bagi anaknya. Memang mustahil sudah diadakan perayaan lagi. Sekian pekan lamanya Siwi hanya terbujur lemah di atas dipan di dalam kamarnya. Tubuhnya yang semula subur pun mengering dan layu. Hendra dibantu keluarga maupun tetangga terdekatnya benar-benar berupaya membangkitkan kembali semangat hidup Siwi. Sungguh, masih tetap tak mudah baginya melupakan sosok lucu dan menggemaskan anak yang sangat dicintainya, namun malah kerap disakitinya itu.

 

Seratus hari telah berlalu sejak kematian Andhika. Siwi akhirnya baru benar-benar ikhlas, setelah tanpa terduga bertemu dengan anaknya dalam sebuah mimpi di suatu malam yang sepi.

“Mama jangan bersedih terus, ya. Andhika sekarang sudah gembira kok di sini. Mama dan Papa pasti akan bahagia juga nanti” kata Andhika dalam bunga tidur Siwi.

”Andhika… Mama kangen sama kamu, Nak. Maafkan semua salah Mama kepadamu ya, Nak,” sahut Siwi berteman tangisan, yang disambut dengan senyuman Andhika, yang lantas membalikkan tubuh gendutnya dan melangkah pergi meninggalkannya.

 

Siwi serta merta terjaga dari tidurnya, lantas menjadi sadar bahwa hidup mesti terus berjalan, kendati permata hatinya telah tiada. Dia pun bertekad untuk kembali bangkit menjalani lembaran baru dalam hidupnya karena percaya apa kata anaknya dalam mimpi. Bahkan dia sudah siap jika memiliki anak lagi, namun dia mesti lebih dahulu meminta pendapat suaminya.

 

“Kak Hendra setuju kan, jika kita mengangkat anak lagi?”

“Jika kamu memang sudah siap punya anak lagi, aku sama sekali tak keberatan. Tapi, kumohon jangan sampai kamu berlaku buruk lagi pada anak kita nanti, Dik.”

“Kak, sudah cukuplah perlakuan burukku pada Andhika dibalas Tuhan dengan mengambilnya dari kita. Pasti akan kuperbaiki sikapku, supaya aku bisa menjadi ibu yang terbaik bagi anak kita, hingga akhirnya dia tumbuh dewasa. Aku akan sungguh-sungguh menjaga permata hatiku kelak,” tutur Siwi dengan berlinang air mata, tiba-tiba terkenang lagi sosok mendiang anaknya.

 

Hendra dan Siwi akhirnya kembali mencari informasi. Setelah lewat setahun tahun kemudian, barulah mereka memperoleh pengganti Andhika. Kali ini mereka mendapatkannya dari sebuah rumah sakit bersalin. Ibu bayi tersebut meninggalkan buah hatinya di tempatnya melahirkan karena kehamilannya di luar nikah dan kekasihnya telah hilang entah kemana. Baik Hendra maupun Siwi tidak memasalahkan hal itu. Ternyata benar apa kata Andhika dalam mimpi Siwi, mereka dapat kembali bersuka cita. Anak itu pun diberi nama Dimas Andhika Dian Prasetya. Uniknya, wajah dan perawakan Dimas lama-lama mirip dengan Andhika, sehingga layak saja dia menjadi adik dari almarhum.

 

TAMAT

 

# Cerpen ini dimuat di Radar Surabaya edisi Minggu, 12 Februari 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: