Archive for April, 2012

h1

Torres Layak Ikut Euro 2012

April 29, 2012

Sejak bergabung dengan Chelsea dari Liverpool pada Januari 2011, jati diri Fernando Torres sebagai penyerang top dunia bagaikan tersembunyi di balik awan. Entah mengapa, Torres berubah menjadi pemain depan yang bodoh dalam mencetak gol bersama The Blues. Carlo Ancelotti maupun Andres Villas-Boas sebagai pelatih Chelsea sebelumnya gagal mengeluarkan potensi terbaik El Nino seperti saat memperkuat Atletico Madrid maupun Liverpool. Hal itu tentu saja sangat mencemaskan Vicente Del Bosque sebagai arsitek Spanyol di Euro 2012. Torres merupakan striker paling senior di Tim Matador setelah David Villa dipastikan absen di Polandia-Ukraina lantaran cedera. Apalagi bintang bernomor 9 tersebut adalah pencetak gol kemenangan Spanyol atas Jerman di final Euro 2008.
Nasib buruk El Nino di Chelsea mulai membaik setelah Roberto Di Matteo menggantikan Villas-Boas. Kontribusinya bagi The Blues tampak lebih nyata dan gol demi gol mulai dicetak oleh pemain berusia 28 tahun itu. Chelsea telah dipastikan tampil dalam dua pertandingan final, Piala FA dan Liga Champion Eropa. Torres berhasil mencetak gol ke gawang Barcelona dalam semifinal kedua Liga Champion 2011/12 (24/4) yang membawa timnya bakal menghadapi Bayern Muenchen. Tampaknya Del Bosque layak membawa Torres ke dalam skuad Tim Matador di Euro 2012 apa pun hasil yang diraih Chelsea dalam dua partai puncak tersebut. Identitas asli El Nino sebagai striker papan atas Eropa sudah mulai terlihat lagi kini.

# Tulisan ini dimuat di BOLA Edisi 2.344/2012.

NB : Fernando Torres sukses mencetak tiga gol ketika Chelsea menang 6-1 atas Queen Park Rangers dalam pertandingan lanjutan Liga Premier Inggris 2011/12 (29/4) di Stamford Bridge.

h1

Hal-hal Unik dari Semifinalis Liga Champion

April 24, 2012

Semifinal kedua Liga Champion Eropa 2011/12 berlangsung pekan ini. Dua tim Spanyol yang dijagokan lolos ke final impian di Muenchen bulan Mei nanti akan bertindak sebagai tuan rumah. Namun baik Barcelona maupun Real Madrid mesti bekerja keras setelah kalah di semifinal pertama dari lawan-lawannya. Barca tunduk 0-1 dari Chelsea di Stamford Bridge, sementara Madrid takluk 1-2 dari Bayern Muenchan di Allianz Arena.
Terlepas dari hal-hal yang bersifat teknis, ternyata ada hal-hal unik yang menghubungkan Blaugrana dan The Blues maupun Los Blancos dan Die Roten.

Barcelona dan Chelsea
Pelatih Barca dan Chelsea saat ini merupakan mantan pemain klub yang bersangkutan. Kebetulan baik Pep Guardiola maupun Roberto Di Matteo tampil dengan kepala pelontos pula.
Kedua tim sama-sama diperkuat oleh pemain Spanyol dan Brasil. Pemain Spanyol di Barca tentu saja banyak jumlahnya, antara lain : Victor Valdes, Carles Puyol, Gerard Pique, Xavi, Andres Iniesta, dan Cesc Febregas. Pemain Spanyol di Chelsea yaitu Juan Mata, Oriol Romeu, dan Fernando Torres. Pemain Brasil di Barca ada Dani Alves dan Adriano, di Chelsea ada David Luiz dan Ramires.

Madrid dan Muenchen
Kedua tim berasal dari kota dengan huruf depan M, Madrid dan Muenchen.
Baik Madrid maupun Muenchen pernah juara Piala/Liga Champion berkali-kali. Madrid telah sembilan kali meraih trofi, sedangkan Muenchen sudah empat kali menjadi kampiun.
Pelatih kedua tim pun pernah menjadi juara. Mourinho melakukannya dengan Porto dan Inter, Jupp Heynckes justru juara dengan Madrid.
Kiper kedua tim merupakan kiper utama di timnas masing-masing, Iker Casillas untuk Spanyol dan Manuel Neuer untuk Jerman. Madrid dan Muenchen pun memilki sejumlah pemain inti timnas Spanyol dan Jerman selain pada posisi kiper.
Madrid dan Muenchen sama-sama diperkuat oleh pemain Jerman, Brasil, dan Perancis. Pemain Jerman di Madrid adalah Khedira dan Oezil. Pemain Jerman di Muenchen tentu saja banyak, antara lain : Neuer, Lahm, Boateng, Schweinsteiger, Kroos, dan Gomez. Pemain Brasil di Madrid yaitu Marcelo dan Kaka, di Muenchen ada Breno, Rafinha, dan Luiz Gustavo. Pemain Perancis di Madrid terdapat Karim Benzema, Lassana Diarra, dan Raphael Varane, di Muenchen hanya ada Franck Ribery.
Warna kostum utamanya satu warna dan disponsori oleh Adidas.
Nama julukan tim sama-sama berdasarkan warna jersey, yaitu : Los Blancos (Madrid) dan Die Roten (Muenchen).

h1

Chelsea Mirip Schalke Setahun Silam

April 18, 2012

Tampilnya Chelsea (Inggris) di semifinal Liga Champion 2011/12 seperti menapaklitasi apa yang dilakukan oleh Schalke (Jerman) musim lalu. Begitu banyak benang merah yang menghubungkan kedua tim.

Schalke musim lalu dan Chelsea musim ini merupakan satu-satunya tim yang belum pernah juara Liga Champion, demikian pula pelatihnya di antara ketiga semifinalis lainnya.

Pelatih kedua tim di semifinal juga merupakan pelatih pengganti pada pertengahan musim. Ralf Rangnick menggantikan Felix Magath di Schalke dan Roberto Di Matteo menggantikan Andre Villas-Boas di Chelsea.

Untuk lolos ke semifinal, kedua tim sama-sama mengalahkan klub Italia di perempat final. Schalke menang atas Inter, sedangkan Chelsea menyingkirkan Napoli.

Kedua tim pun diperkuat oleh para pemain Spanyol. Di Schalke ada Raul Gonzales, Jose Manuel Jurado, dan Sergio Escudero. Di Chelsea ada Fernando Torres, Juan Mata, dan Oriol Romeu.

Persamaan lainnya adalah kaos jersey utamanya berwarna biru dan sponsor apparelnya adalah Adidas.

Jika Schalke musim lalu kandas di semifinal, bagaimana dengan Chelsea? Manchester United, tim yang mengalahkan Schalke setahun silam kalah di final dari Barcelona. Lantas bagaimana dengan Barca jika sukses menundukkan Chelsea musim ini? Akankah senasib dengan United?

h1

Komposisi Semifinal Liga Champion 2011/12 Serupa Musim Lalu

April 18, 2012

Barangkali fakta ini kebetulan belaka. Disadari atau tidak, ternyata komposisi semifinalis Liga Champion Eropa musim 2011/12 serupa dengan musim 2010/11, yaitu terdiri dari dua klub Spanyol, satu klub Jerman, dan satu klub Inggris. Wakil dari La Liga Spanyol sama dengan setahun silam, yaitu Real Madrid dan Barcelona. Jelas bukan hal aneh mengingat keduanya punya kekuatan skuad paling komplit dan mumpuni. Wakil dari Jerman dan Inggris berubah keduanya. Posisi Schalke sebagai tim Bundesliga digantikan oleh Bayern Muenchen musim ini. Posisi Manchester United sebagai tim English Premier League ditempati Chelsea kini. Uniknya, wakil Jerman dan Inggris seperti bertukar warna kostum. Tim biru dari Jerman (Schalke) menjadi tim merah (Muenchen), sedangkan The Red Devils (United) berubah menjadi The Blues (Chelsea).

# Tulisan ini dimuat di BOLA Edisi 2.338/Sabtu-Minggu, 14-15 April 2012

h1

Sepak Bola Menjadi Inspirasi Seniman Indonesia

April 12, 2012

Pasti kita terbang tinggi bila terus berlari, teruskanlah tanpa henti.(Tendangan dari Langit- Kotak)

 

Kendati dalam masa yang sangat lama, gelar juara belum bisa diraih kembali oleh timnas Indonesia, namun sejumlah hal menarik tetap menyertai penampilan mereka. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya ada tiga kali momentum yang cukup mengesankan. Yang pertama adalah aksi Skuad Garuda di Piala Asia 2007 yang berlangsung di Jakarta. Tim asuhan Ivan Kolev waktu itu menang atas Bahrain, lalu hanya kalah tipis dari Arab Saudi dan Korea Selatan. Selanjutnya adalah aksi Firman Utina dkk di Piala AFF 2010. Tim asuhan Alfred Riedl bermain sangat impresif dari pertandingan pertama hingga semifinal di Jakarta, sebelum akhirnya kalah dari Malaysia pada final pertama di Kuala Lumpur. Yang terakhir adalah aksi timnas U-23 di SEA Games 2011 yang juga berlangsung di Jakarta. Tim asuhan Rahmad Darmawan pun tampil apik dari pertandingan pertama hingga final. Meski semua akhirnya berujung pahit, namun punggawa Tim Merah Putih telah menebarkan kebahagiaan sesaat bagi kita yang sempat merasa bangga dan bersatu sebagai bangsa Indonesia. Kesan positif pun telanjur menjadi inspirasi yang merasuki alam pikiran dan ruang hati para seniman dalam beragam bidang. Mereka secara kreatif menghasilkan karya seni berupa film, sinetron, lagu, dan juga novel tentang sepak bola Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir, tersebutlah sejumlah film layar lebar di tanah air yang berlatar belakang sepak bola, seperti : ’The Conductors’ (2008/sutradara : Andibachtiar Yusuf), ’Gara-Gara Bola’ (2008/Agasyah Karim dan Khalid Kashogi), ’Garuda di Dadaku’ (2009/Ifa Isfansyah), ’Romeo & Juliet’ (2009/Andibachtiar Yusuf), ’Golden Goal ! Bola Itu Bundar’ (2011/Mirwan Soewarso), ’Tendangan dari Langit’ (2011/Hanung Bramantyo), dan ’Garuda di Dadaku 2’ (2011/Rudi Soedjarwo).

Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo, dan Rudi Soedjarwo termasuk barisan sutradara terbaik Indonesia mutakhir, yang pernah meraih Piala Citra dalam karyanya yang lain. Sementara itu Andibachtiar Yusuf tampaknya memang kreator film spesialis sepak bola. Kabarnya lelaki berkaca mata itu tengah mempersiapkan film terbarunya yang berjudul ’Hari Ini Pasti Menang’ yang diangkat dari novel ’Menerjang Batas’ yang mengisahkan Gabriel Omar Baskoro yang menjadi andalan timnas Indonesia di Piala Dunia 2014 Brasil. Selain sebagai sutradara film, kita mengakrabi sosok Andibachtiar Yusuf sebagai kolumnis dan komentator sepak bola jempolan.

Pada awal tahun 2012 sinetron serial bertema sepak bola pun muncul di televisi, yaitu : ’Garuda Impian’ di SCTV dan ’Tendangan Si Madun’ di MNCTV, yang tokoh utamanya adalah bocah-bocah yang jago main sepak bola. Yang menarik, mantan pemain nasional Rochy Poetiray (dan Rahmad Darmawan sebagai cameo) ikut bermain dalam ’Garuda Impian’, sementara kapten timnas U-14 Yusuf Mahardika bahkan menjadi pemeran utama ’Tendangan Si Madun’. Sebelumnya di tahun 2011 SCTV juga pernah menayangkan film televisi spesial yang terinspirasi kisah nyata beberapa pemain timnas, seperti : Firman Utina, Hamka Hamzah, dan Cristian Gonzales.

Tampaknya dalam lima tahun terakhir pula, tercipta lagu-lagu enerjik dari musisi Indonesia yang terinspirasi dari aksi Skuad Garuda, seperti : ’Garuda di Dadaku’ (Netral), ’Dari Mata Sang Garuda’ (Pee Wee Gaskins), ’Garuda Fights Back’ (GIGI), ’Tendangan dari Langit’ (Kotak), ’Selamanya Indonesia’ (Twentyfirst Night), dan ’Garuda Impian’ (Orion). Kemudian di dunia sastra, Andrea Hirata yang merupakan penulis best seller tetralogi ’Laskar Pelangi’ pun merilis novel ‘Sebelas Patriot’ yang khusus dipersembahkan bagi sepak bola Indonesia.

Semua hasil karya para seniman tersebut senantiasa membangkitkan semangat kita untuk tetap menjaga asa dan tak pernah menyerah.

Sayang sekali, PSSI sebagai organisasi yang bertanggung jawab memajukan sepak bola negeri ini telah berkali-kali gagal memanfaatkan momentum yang ada. Yang terakhir, sehabis SEA Games 2011 justru terjadi ‘perang saudara’ antara pengurus PSSI dengan sejumlah anggotanya sendiri yang akhirnya mendirikan KPSI. Buah pahit konflik yang sudah dipetik PSSI Djohar Arifin menjadi ’prestasi’ yang sangat menjengkelkan bagi rakyat Indonesia, seperti kekalahan terbesar timnas senior dari Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia 2014 (29/2) maupun kekalahan timnas U-21 dari Brunei Darussalam dalam final Hassanal Bolkiah Trophy (9/3) lalu.

Tapi biar bagaimanapun, harapan memang mesti tetap dinyalakan. Suatu ketika Skuad Garuda bakal menjadi juara dan bahkan mungkin saja tampil di Piala Dunia. Hal itu bukan hanya di dunia fiksi, melainkan terwujud di alam nyata jua. Mengutip testimoni Rahmad Darmawan dalam novel ’Menerjang Batas’ : “Hidup dimulai dari mimpi yang bertingkat. Yang ada di level terendah menyebutnya khayalan, lalu ada realita yang berada pada tataran tertinggi.”

Mari kita terus bermimpi yang semoga mampu menjadi motivasi dalam melangkah, agar kelak mengejawantah sesuatu yang indah.

Karena kita adalah pasukan yang tak akan menyerah. Terus berlari dan berjuang untuknya, Indonesia.. Indonesia.. Kalahkan semua lawan demi kejayaan negeri ini. Kepakkan sayap Sang Garuda Impian. (Garuda Impian – Orion)

# Tulisan ini (versi edit) dimuat di rubrik Interaktif majalah BolaVaganza No.126/April 2012.

h1

Menanti Keputusan FIFA

April 5, 2012

FIFA ternyata belum memberikan keputusan apa pun terkait kisruh yang terjadi di tubuh PSSI (kecuali memberi waktu tambahan hingga 15 Juni 2012). Tentu kita tetap berharap bahwa bukan sanksi larangan bermain bagi Indonesia yang akan dijatuhkan dan FIFA masih mampu memberikan alternatif solusi untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Namun dunia sepak bola Indonesia sejatinya sudah mendapatkan hukuman tersendiri melalui kekalahan memalukan timnas dari Bahrain dan Brunei Darussalam.

Sayangnya PSSI di bawah Profesor Djohar Arifin Husin masih saja merasa berada di pihak yang benar dan tetap bertahan. Sungguh mengherankan bahwa masih saja ada komponen sepak bola Indonesia yang masih menaruh kepercayaan kepada Djohar dkk yang sudah berhasil membuat kekacauan yang masif serta sekaligus mempermalukan nama bangsa dan negara.

Sebagus apa pun hasil Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya tidak akan berarti apa-apa, ketika PSSI sudah tidak memiliki kewibawaan di mata sebagian besar anggotanya. Semoga FIFA bijaksana dalam mengambil langkah dan jangan sampai salah jalan, yang bisa jadi kian menyesatkan sepak bola Indonesia.

# Tulisan ini dimuat di BOLA Edisi 2.333/Senin-Rabu, 2-4 April 2012.