Archive for Mei, 2012

h1

Sukses Duo Roberto di Inggris

Mei 30, 2012

Gambar

Keberhasilan Manchester City menjuarai Liga Premier Inggris dan Chelsea yang meraih Piala FA sekaligus trofi Liga Champion Eropa musim 2011/12 bukan saja kesuksesan dua tim kaya raya dengan kostum berwarna biru. Kejayaan The Citizens dan The Blues merupakan prestasi cemerlang dua pelatih asal Italia yang bernama depan sama, Roberto Mancini dan Roberto Di Matteo. Ternyata duo Roberto tersebut memiliki sejumlah hal yang sama lainnya.

Ketika masih menjadi pemain, mereka pernah bermain untuk klub Lazio dan tim nasional Italia. Mancini menjadi pemain Biancoceleste pada 1997-2000 dan memperkuat Gli Azzuri 36 kali pada 1984-1994, sementara Di Matteo berkostum Lazio pada 1993-1996 dan berseragam Italia 34 kali selama 1994-1998. Pertama kali mereka bergabung di klub mereka sekarang pun tidak dari awal musim. Mancini dipilih setelah City menyingkirkan Mark Hughes sejak Desember 2009, sedangkan Di Matteo menggantikan Andres Villas-Boas di Chelsea sejak Maret 2012. Kedua Italiano itu pun dinilai mampu mengendalikan pemain-pemain bintang yang menyesaki skuad The Citizens dan The Blues. Gaya permainan kedua tim yang mereka tangani cenderung pragmatis pula, lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang bermain atraktif yang menghibur penonton. Dua manajer berusia 40-an itu juga sukses mengalahkan tim yang dilatih oleh manajer gaek. Mancini berhasil mengatasi Sir Alex Ferguson (Manchester United), Di Matteo menundukkan Kenny Dalglish (Liverpool) dan Jupp Heynckes (Bayern Muenchen). Ferguson, Dalglish, dan Henyckes, ketiganya berusia 60 tahun ke atas dengan pengalaman segudang sebagai pelatih.

Ada satu keunikan lagi, jika Mancini dahulu pernah menjadi pelatih Lazio (2002-2004), maka Di Matteo juga dikabarkan sangat diminati oleh Biancoceleste seandainya tidak menjadi pelatih tetap Chelsea musim depan.

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.358/2012.

h1

Anomali Sponsor LPI

Mei 30, 2012

Jaman Liga Primer Indonesia (LPI) yang kompetisi ilegal -dalam arti sesungguhnya- pertama kali digelar pada awal 2011, ada sejumlah perusahaan multinasional yang tampaknya bersedia bermitra kerja dengan Konsorsium LPI. Buktinya terlihat dari nama Coca-Cola, Microsoft, Air Asia, atau Rexona/Clear for Men (Unilever) di stadion-stadion saat pertandingan LPI disiarkan di televisi. Memang layak dipertanyakan mengapa mereka bersedia menjadi sponsor sebuah kompetisi liga sepak bola nasional yang tidak diakui oleh PSSI, AFC, dan FIFA. Tapi waktu itu ada rasa salut saya pada penyelenggara LPI hingga mampu memiliki sponsor produk terkenal yang bertaraf internasional.
Anehnya, ketika LPI yang nama resminya menjadi Indonesian Premier League (IPL) menjelma sebagai kompetisi legal yang digelar oleh PSSI pimpinan Djohar Arifin untuk musim 2011/2012 malah tak punya sponsor resmi, dan mayoritas klub pesertanya saat ini justru mengalami kesulitan keuangan yang kronis. Padahal konon ada sebuah konsorsium yang menanggung eksistensi klub-klub tersebut. Sungguh hal yang ironis sekaligus tragis. Apalagi jika kita mengingat produk IPL berupa para pemain yang memperkuat timnas pernah kalah 0-10 dari Bahrain di Pra Piala Dunia dan kalah 1-2 dari Palestina di semifinal Turnamen Al-Nakbah – yang notabene bukan turnamen resmi FIFA. Entah langkah apalagi yang akan diambil oleh Djohar Arifin dkk yang sudah telanjur serba salah.

# Tulisan ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.357/2012.

h1

Wakil Spanyol di Final Liga Champion

Mei 19, 2012

Barcelona dan Real Madrid, dua klub raksasa Spanyol memang gagal tampil di final Liga Champion 2011/12. Namun ternyata Spanyol masih memiliki wakil dalam pertandingan antara Chelsea versus Bayern Muenchen di Fussball Arena nanti. Terdapat tiga pemain Spanyol yang memperkuat Chelsea, yaitu : Oriol Romeu, Juan Mata, dan Fernando Torres. Di antara mereka hanya Mata yang selalu menjadi pemain inti The Blues, tapi tidak mustahil Roberto DI Matteo mengandalkan Torres sejak menit pertama. Apalagi striker berjulukan El Nino itu mulai produktif kembali. Sementara itu Romeu yang merupakan jebolan Barcelona B biasanya hanya berada di bangku cadangan.
Jadi meski final musim ini mempertemukan klub Inggris dan Jerman, namun publik Spanyol mungkin bisa agak terhibur ketika klub yang diperkuat oleh pemain Spanyol berhasil menjadi juara Liga Champion. Selain itu, pertemuan Atletico Madrid dan Athletic Bilbao sebagai wakil La Liga di final Liga Europa –yang akhirnya dimenangkan oleh Atletico- niscaya menjadi kebanggaan tersendiri pula bagi masyarakat Spanyol.

# Tulisan ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.353/2012.

h1

Timnas Indonesia B di Turnamen Al-Nakbah

Mei 11, 2012

Rencana keikutsertaan timnas Indonesia dalam turnamen Al-Nakbah di
Palestina dan segala permasalahan yang melingkupinya membuat nilai
rapor PSSI Djohar Arifin kian buruk. Sebenarnya sudah bagus mereka
menunjuk Nil Maizar sebagai pelatih timnas, tapi mengapa yang
bersangkutan justru dikirim ke Jerman ketika anak asuhnya menjalani
pelatnas? Pertanyaan selanjutnya, siapa sih Fabio Oliveira yang
sementara memimpin pelatnas ketika Nil Maizar berada di mancanegara?

Ujicoba timnas menghadapi tim-tim lokal seperti PPSM-KN dan PSS pun
terasa ganjil. Sesungguhnya pemanggilan pemain klub LSI merupakan
langkah maju, namun bukankah status mereka -di mata Djohar Arifin cs-
selama ini adalah ilegal? Cukup beralasan jika klub LSI keberatan
melepas pemainnya, apalagi pelatnas berlangsung di tengah jadwal padat
kompetisi LSI yang sudah tersusun sejak jauh hari. Klub LPI saja
sebenarnya keberatan melepas pemainnya dengan alasan serupa, tapi
mereka tak kuasa menolaknya.

Pemilihan Ramadhan Pohan, petinggi Partai Demokrat sebagai manajer
timnas menjadi kontroversi berikutnya. Tapi apa boleh buat, PSSI
Djohar Arifin sudah menyanggupi untuk mengikuti turnamen tersebut.
Tapi lebih baik mereka berterus terang pada pihak panitia bahwa Skuad
Garuda yang dikirim ke Palestina adalah timnas Indonesia B alias bukan
timnas terbaik yang dimiliki PSSI saat ini. Toh, tim peserta dari
negara lain pun rata-rata mengirim tim juniornya. Apa pun hasil yang
diraih Wahyu Wiji Astanto dkk di sana nanti, semoga tidak lebih
mempermalukan nama bangsa lagi seperti saat kalah 0-10 dari Bahrain
tempo hari.

Tentu menjadi asa kita bersama, ketika timnas berlaga di Piala AFF
2012, kisruh PSSI sudah memperoleh solusi terbaik, sehingga para
pemain terbaik Indonesia -tanpa kecuali- dapat membela Tim Merah Putih
kembali. Tolong, jangan biarkan harapan dan kerinduan pencinta sepak
bola Indonesia akan prestasi timnas menjadi sebatas mimpi
selama-lamanya.

#Tulisan ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.349/2012.