Archive for Juli, 2012

h1

Pencetak Gol Terbanyak Didominasi Striker Asing

Juli 21, 2012

Membahas pencetak gol paling subur Liga Super Indonesia (LSI) musim ini, hasilnya cukup memprihatinkan bagi para penyerang lokal. Dari sepuluh besar pencetak gol terbanyak, nama striker asing sangat dominan. Tercatat hanya dua pemain naturalisasi, Greg Nwokolo (Pelita Jaya) dan Christian Gonzales (Persisam) yang masuk dalam daftar tersebut.

Padahal pada LSI 2010/11 lalu, peraih sepatu emas adalah Boaz Solossa (Persipura), seorang penyerang Indonesia. Cederanya Boaz musim 2011/12 ternyata tidak diimbangi dengan mencuatnya prestasi striker-striker lokal. Gol-gol yang dicetak Bambang Pamungkas, Patrich Wanggai, Airlangga Sucipto, atau Jajang Mulyana tidak cukup untuk menembus 10 besar.

Barangkali sudah saatnya dilakukan pengurangan pemain asing untuk Liga Indonesia selanjutnya, apa pun namanya nanti. Jika selama sekian musim terakhir setiap klub boleh memiliki lima pemain asing, maka mulai musim depan cukup tiga atau empat pemain asing. Hal itu untuk memberikan kesempatan yang lebih lapang bagi para pemain lokal untuk berkembang. Terutama untuk posisi penyerang yang masih saja didominasi oleh para pemain asing.

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.379/2012.

Iklan
h1

Tim Impian LSI 2011/12

Juli 21, 2012

Selamat kepada Sriwijaya FC untuk gelar juara Liga Super Indonesia 2011/12 yang telah diraihnya. Salut untuk pelatih Kas Hartadi yang dalam debutnya sebagai pelatih kepala di kompetisi antarklub level teratas berhasil membawa anak asuhnya menjadi kampiun.
Selamat pula kepada Keith ‘Kayamba’ Gumbs yang menjadi pemain terbaik dan Alberto ‘Beto’ Goncalves yang menjadi pencetak gol terbanyak dengan 25 gol.

Nah, berikut ini saya mencoba menyusun materi Tim Impian LSI 2011/12. Untuk materi tim inti saya sepakat sepenuhnya dengan versi tabloid BOLA, namun untuk cadangannya ada sedikit nama yang berbeda.
Tim Inti (Formasi 4-4-2) :
Ferry Rotinsulu; Supardi, Ricardo Salampessy, Fabiano Beltrame, Mahyadi Panggabean; M.Ridwan, Firman Utina, Gustavo Lopez, Greg Nwokolo; Beto Goncalves, Keith Kayamba.
Cadangan :
Kurnia Meiga, Zulkifli Syukur, Jajang Sukmara, Hamka Hamzah, Ahmad Bustomi, Ponaryo Astaman, Asri Akbar, Atep, Bambang Pamungkas.
Pelatih : Kas Hartadi.

h1

Persamaan Sriwijaya FC dan Semen Padang

Juli 21, 2012

Ternyata persamaan Sriwijaya FC (juara ISL 2011/2012) dan Semen Padang (juara IPL 2011/2012) tidak cuma karena kedua tim berasal dari Sumatra.
Persamaan lainnya, yaitu : Kedua tim memiliki kostum bermotif etnik dengan sponsor apparel yang sama (Specs). Di kostum utama Sriwijaya FC yang berwarna kuning ada warna merahnya, sementara kostum utama Semen Padang berwarna merah dan kostum tandang klub tersebut berwarna kuning. Pelatih kedua tim juga sama-sama pelatih lokal, Kas Hartadi dan Nil Maizar/Suhatman Iman adalah orang Indonesia asli.
Persamaan lainnya, pada musim 2010/2011 dahulu kedua tim sama-sama bermain di ISL dan gagal juara. Lebih baik lagi jika musim depan keduanya menjadi wakil Indonesia di kompetisi antarklub Asia dan bermain di satu Liga Indonesia yang sama.
Serta tentunya menjadi asa kita bersama bahwa para pemain Indonesia terbaik yang memperkuat kedua klub dapat bersatu padu (bersama para pemain klub-klub lainnya) membela Tim Merah Putih.

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.381/2012.

h1

Menunggu Kostum Anyar Timnas Indonesia

Juli 21, 2012

Tim-tim yang tampil di Euro 2012 sudah memamerkan kostum terbarunya. Korea Selatan sebagai tim Asia yang sponsor apparel-nya sama dengan Indonesia juga sudah mengenakan kostum terbarunya yang keren ketika dijamu Spanyol dalam uji coba menjelang turnamen.

Lantas Skuad Garuda kapan mengganti kostumnya dengan yang anyar?

Setelah berhasil mengganti pelatih, ofisial, dan para pemain timnas, sepertinya tinggal kostum yang belum juga diganti oleh PSSI Djohar Arifin. Apa mungkin sponsor kostum timnas bakal diganti pula oleh Djohar?

Jika sponsornya tetap seperti sekarang, para pemain timnas mungkin baru mengenakan kostum edisi mutakhirnya ketika berlangsung Piala AFF 2012. Semoga pada saat itu para pemain terbaik Indonesia sudah kembali memperkuat Tim Merah Putih yang sejati.

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.376/2012.

h1

Masalah Membuat Kita Dewasa

Juli 21, 2012

Kita tidak akan pernah menjadi dewasa jika tidak pernah mengalami benturan (masalah). Bagaimana cara kita melompati tembok itulah yang nantinya akan membuat kita lebih bijak dalam melangkah dan menentukan sikap di masa yang akan datang. (Bambang Pamungkas)

h1

Kematian Tetap Misteri

Juli 21, 2012

Kendati merupakan sesuatu yang niscaya terjadi dalam perjalanan hidup setiap makhluk bernyawa, namun kematian tetaplah suatu misteri bagi sesiapa insan di dunia. Dan kadang kepergian selamanya seseorang memang bisa sangat mengejutkan, baik waktunya maupun caranya.

h1

Riskan

Juli 17, 2012

Barangkali lantaran dalam bekerja senantiasa ada bahaya yang mengintai hidupnya dan selama ini nyatanya aman serta nyaman saja, maka seakan tiada satu hal pun di dunia ini yang membuat gentar hati seorang Riskan. Lihat, namanya saja Riskan yang artinya berbahaya atau mengandung risiko. Layaklah sekiranya ia menjadi seorang lelaki yang amat berani. Sudah tentu ia memiliki nama asli pemberian orang tuanya, namun ia selalu menyebutkan namanya sendiri sebagai Riskan. Kami biasa bersama-sama naik kereta rel listrik dari Bogor dan turun di Stasiun Gambir.
“Lho, Bapak juga naik kereta ini?” tanya pemuda itu.
”Iya, kamu juga?” sahutku.
”Iya, Pak.”

Baik aku maupun Riskan sebenarnya bekerja di gedung yang sama, namun semula kami tak saling mengenal. Beberapa kali kami naik angkutan umum yang sama ketika berangkat dan pulang bekerja, lambat laun akhirnya kami pun menjadi teman.
”Nama saya Riskan, Pak,” katanya ketika memperkenalkan diri.
”Hah, masak nama orang kok Riskan?” tanyaku seusai menyebutkan namaku.
”Hehehe, itu sebetulnya nama panggilan saya sejak masih SMP. Tapi saya suka dengan nama itu. Nama lengkap saya Eri Iskandar Jaya, tapi panggil saja Riskan.”

Setelah membeli karcis bersama-sama, pada awalnya aku sempat kehilangan jejak Riskan di stasiun tempat kami berangkat. Begitu sampai di Gambir barulah aku mengerti bahwa lelaki muda itu ternyata duduk di atas gerbong bersama sejumlah penumpang lainnya.
”Jadi kamu biasa duduk di atas gerbong ya?” tanyaku dengan heran.
”Iya Pak, begitulah. Asyik kok duduk di atas, bisa merasakan udara segar, dan tak perlu berdesak-desakan pula,” sahutnya dengan cengengesan.
”Tapi apa kamu tidak takut jatuh atau celaka, kan risikonya banyak?”
”Masak takut sih, Pak? Bukankah banyak yang menemani saya? Hahaha…”
”Itulah hal yang tidak bisa saya pahami dari orang seperti kamu. Buat saya masih mending berdiri berdesak-desakan di dalam kereta ketimbang naik ke atas gerbong.”
”Jangan panggil saya Riskan kalau untuk melakukan hal macam itu saja tidak berani, Pak.”

Aku percaya Riskan memang orang yang nyalinya begitu besar atau bahkan mungkin kelewat nekad. Pekerjaan sehari-harinya pun seolah bertaruh nyawa. Ia berkarya sebagai pembersih kaca di sebuah gedung perkantoran berlantai sepuluh. Setiap minggu tiga kali secara rutin ia naik turun dengan gondola-nya menjernihkan bagian luar kaca gedung tempat kami bekerja.
Selama hampir tiga tahun lamanya Riskan bekerja tanpa kendala berarti. Jika pada hari gilirannya membersihkan kaca kebetulan hujan turun, pekerjaannya akan dilakukan sampai hujan reda atau ditunda pada hari berikutnya.

Selain pekerjaannya yang berisiko tinggi, Riskan pun memiliki kegemaran yang sangat memacu adrenalin. Ia begitu suka melakukan olah raga yang bersifat ekstrim, seperti : memanjat tebing, mendaki gunung, atau arung jeram. Tampaknya tepat sekali memang apabila ia memiliki nama panggilan Riskan. Jiwa petualangannya begitu menyatu dalam dirinya. Wajarlah jika sekadar naik di atas gerbong kereta setiap harinya merupakan hal yang sama sekali tak mengerikan, bahkan justru sangat mengasyikkan bagi dirinya.

***
Namun sama sekali tak terduga bagaimana pemuda tersebut berakhir riwayat hidupnya. Pada sebuah petang kudengar kabar bahwa Riskan jatuh dari atas gerbong kereta rel listrik yang selama bertahun-tahun menjadi angkutan umum tetapnya berangkat dan pulang bekerja. Ternyata ia menjadi salah satu korban perampokan yang terjadi ketika kereta tengah kencang melaju. Para perampok yang amat kejam melemparkan tubuh Riskan setelah menggasak harta benda yang dibawanya, yang sebenarnya pun tak seberapa nilainya. Konon ia sempat melawan, dan aku sangat percaya hal itu, tapi sayang ia kalah jumlah dengan orang-orang jahat tersebut. Nyawa Riskan tak mampu diselamatkan lagi ketika tubuhnya ditemukan di dekat rel kereta. Hari itu kebetulan aku tidak pulang naik kereta yang sama dengan Riskan seperti biasanya, berhubung ada pertemuan dengan teman-teman lawas sepulangku bekerja. Aku cukup terguncang ketika diberitahu bahwa Riskan tutup usia dengan cara yang tragis serupa itu.

Sebatas mampu kukenang dirinya belaka sebagai seorang pemuda pemberani yang menyenangkan dan selalu positif memandang kehidupan. Kendati merupakan sesuatu yang niscaya terjadi dalam perjalanan hidup setiap makhluk bernyawa, namun kematian tetaplah suatu misteri bagi sesiapa insan di dunia. Dan kadang kepergian selamanya seseorang memang bisa sangat mengejutkan, baik waktunya maupun caranya. Demikian pula yang telah terjadi pada seorang Riskan.
”Selamat melanjutkan petualangan di alam yang baru, teman,” ucapku dalam hati di depan jasad Riskan ketika datang melayat di tempat tinggalnya yang bersahaja.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 24 Juni 2012.