h1

Riskan

Juli 17, 2012

Barangkali lantaran dalam bekerja senantiasa ada bahaya yang mengintai hidupnya dan selama ini nyatanya aman serta nyaman saja, maka seakan tiada satu hal pun di dunia ini yang membuat gentar hati seorang Riskan. Lihat, namanya saja Riskan yang artinya berbahaya atau mengandung risiko. Layaklah sekiranya ia menjadi seorang lelaki yang amat berani. Sudah tentu ia memiliki nama asli pemberian orang tuanya, namun ia selalu menyebutkan namanya sendiri sebagai Riskan. Kami biasa bersama-sama naik kereta rel listrik dari Bogor dan turun di Stasiun Gambir.
“Lho, Bapak juga naik kereta ini?” tanya pemuda itu.
”Iya, kamu juga?” sahutku.
”Iya, Pak.”

Baik aku maupun Riskan sebenarnya bekerja di gedung yang sama, namun semula kami tak saling mengenal. Beberapa kali kami naik angkutan umum yang sama ketika berangkat dan pulang bekerja, lambat laun akhirnya kami pun menjadi teman.
”Nama saya Riskan, Pak,” katanya ketika memperkenalkan diri.
”Hah, masak nama orang kok Riskan?” tanyaku seusai menyebutkan namaku.
”Hehehe, itu sebetulnya nama panggilan saya sejak masih SMP. Tapi saya suka dengan nama itu. Nama lengkap saya Eri Iskandar Jaya, tapi panggil saja Riskan.”

Setelah membeli karcis bersama-sama, pada awalnya aku sempat kehilangan jejak Riskan di stasiun tempat kami berangkat. Begitu sampai di Gambir barulah aku mengerti bahwa lelaki muda itu ternyata duduk di atas gerbong bersama sejumlah penumpang lainnya.
”Jadi kamu biasa duduk di atas gerbong ya?” tanyaku dengan heran.
”Iya Pak, begitulah. Asyik kok duduk di atas, bisa merasakan udara segar, dan tak perlu berdesak-desakan pula,” sahutnya dengan cengengesan.
”Tapi apa kamu tidak takut jatuh atau celaka, kan risikonya banyak?”
”Masak takut sih, Pak? Bukankah banyak yang menemani saya? Hahaha…”
”Itulah hal yang tidak bisa saya pahami dari orang seperti kamu. Buat saya masih mending berdiri berdesak-desakan di dalam kereta ketimbang naik ke atas gerbong.”
”Jangan panggil saya Riskan kalau untuk melakukan hal macam itu saja tidak berani, Pak.”

Aku percaya Riskan memang orang yang nyalinya begitu besar atau bahkan mungkin kelewat nekad. Pekerjaan sehari-harinya pun seolah bertaruh nyawa. Ia berkarya sebagai pembersih kaca di sebuah gedung perkantoran berlantai sepuluh. Setiap minggu tiga kali secara rutin ia naik turun dengan gondola-nya menjernihkan bagian luar kaca gedung tempat kami bekerja.
Selama hampir tiga tahun lamanya Riskan bekerja tanpa kendala berarti. Jika pada hari gilirannya membersihkan kaca kebetulan hujan turun, pekerjaannya akan dilakukan sampai hujan reda atau ditunda pada hari berikutnya.

Selain pekerjaannya yang berisiko tinggi, Riskan pun memiliki kegemaran yang sangat memacu adrenalin. Ia begitu suka melakukan olah raga yang bersifat ekstrim, seperti : memanjat tebing, mendaki gunung, atau arung jeram. Tampaknya tepat sekali memang apabila ia memiliki nama panggilan Riskan. Jiwa petualangannya begitu menyatu dalam dirinya. Wajarlah jika sekadar naik di atas gerbong kereta setiap harinya merupakan hal yang sama sekali tak mengerikan, bahkan justru sangat mengasyikkan bagi dirinya.

***
Namun sama sekali tak terduga bagaimana pemuda tersebut berakhir riwayat hidupnya. Pada sebuah petang kudengar kabar bahwa Riskan jatuh dari atas gerbong kereta rel listrik yang selama bertahun-tahun menjadi angkutan umum tetapnya berangkat dan pulang bekerja. Ternyata ia menjadi salah satu korban perampokan yang terjadi ketika kereta tengah kencang melaju. Para perampok yang amat kejam melemparkan tubuh Riskan setelah menggasak harta benda yang dibawanya, yang sebenarnya pun tak seberapa nilainya. Konon ia sempat melawan, dan aku sangat percaya hal itu, tapi sayang ia kalah jumlah dengan orang-orang jahat tersebut. Nyawa Riskan tak mampu diselamatkan lagi ketika tubuhnya ditemukan di dekat rel kereta. Hari itu kebetulan aku tidak pulang naik kereta yang sama dengan Riskan seperti biasanya, berhubung ada pertemuan dengan teman-teman lawas sepulangku bekerja. Aku cukup terguncang ketika diberitahu bahwa Riskan tutup usia dengan cara yang tragis serupa itu.

Sebatas mampu kukenang dirinya belaka sebagai seorang pemuda pemberani yang menyenangkan dan selalu positif memandang kehidupan. Kendati merupakan sesuatu yang niscaya terjadi dalam perjalanan hidup setiap makhluk bernyawa, namun kematian tetaplah suatu misteri bagi sesiapa insan di dunia. Dan kadang kepergian selamanya seseorang memang bisa sangat mengejutkan, baik waktunya maupun caranya. Demikian pula yang telah terjadi pada seorang Riskan.
”Selamat melanjutkan petualangan di alam yang baru, teman,” ucapku dalam hati di depan jasad Riskan ketika datang melayat di tempat tinggalnya yang bersahaja.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 24 Juni 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: