Archive for Agustus, 2012

h1

Sesudah Trofi Ketiga untuk Madrid, Mourinho Memburu Trofi Liga Champion

Agustus 31, 2012

Real Madrid mengalami hasil buruk dalam dua pertandingan awal La Liga musim 2012/13. Tim asuhan Jose Mourinho hanya bermain imbang 1-1 dengan Valencia (20/8) dan kalah 1-2 dari Getafe (27/8). Selain itu, Iker Casillas dkk pun kalah 2-3 dari Barcelona dalam leg pertama Supercopa de Espana atau Piala Super Spanyol di Camp Nou (23/8). Langit mendung seolah menggantung di atas kubu Los Blancos. Namun hari kembali terasa berkilauan ketika Real Madrid berhasil mengalahkan Barcelona 2-1 dalam leg kedua Piala Super Spanyol di Santiago Bernabeu (30/8). Gol yang dicetak oleh Gonzalo Higuain (menit ke-9) dan Cristiano Ronaldo (menit ke-18) untuk Los Blancos hanya mampu dibalas oleh Lionel Messi (menit ke-44) untuk Blaugranas. Meski skor agregat berakhir imbang 4-4, namun Madrid berhak meraih trofi karena mencetak gol lebih banyak ketika bermain tandang.

Supercopa de Espana 2012 merupakan trofi ketiga yang dipersembahkan oleh Mourinho untuk Los Galacticos, setelah sebelumnya sukses meraih Copa del Rey/Piala Raja musim 2010/11 dan juara La Liga Primera 2011/12. Dengan demikian semua gelar juara level nasional Spanyol sudah pernah diraih oleh tim Madrid asuhan mantan pelatih Porto, Chelsea, dan Inter Milan tersebut.

Tantangan terbesar bagi Mourinho selanjutnya adalah membawa timnya merebut trofi Liga Champion Eropa yang akan menjadi koleksi ke-10 Los Merengues secara keseluruhan. Dalam dua musim pertamanya, langkah Mou bersama Madrid selalu terhenti di babak semifinal. Pelatih yang pernah merasakan gelar juara antarklub juara Eropa bersama Porto dan Inter itu pasti sangat penasaran menghadapi musim 2012/13 ini.

Mental juara Real Madrid akan benar-benar diuji ketika tergabung dalam Grup D, yang layak disebut ’grup neraka’ bersama Manchester City, Ajax Amsterdam, dan Borussia Dortmund. Seluruh tim penghuni grup tersebut merupakan juara liga lokal musim lalu dari empat negara maju sepak bola Eropa, yaitu : Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jerman. Tidak mudah untuk lolos dari grup D, tapi Jose Mourinho pasti memiliki strategi yang jitu agar timnya berhasil melaju ke babak berikutnya.

Iklan
h1

Milan Kalah di Laga Perdana, Kenapa Mesti Panik?

Agustus 29, 2012

AC Milan mengawali Liga Italia Serie A musim 2012/13 pada hari Minggu (26/8) dengan hasil mengecewakan, kalah 0-1 dari Sampdoria di San Siro. Kekuatan Rossoneri musim ini memang mengalami perubahan drastis dibanding musim lalu. Di sektor pertahanan sudah tak ada lagi Alessandro Nesta, Thiago Silva, dan Gianluca Zambrotta. Lini tengah kini tanpa Clarence Seedorf, Mark van Bommel, dan Gennaro Gattuso. Sementara di depan sudah tidak dihuni oleh Fillippo Inzaghi, Zlatan Ibrahimovic, dan Antonio Cassano. Massimiliano Allegri sebagai pelatih memang mesti bekerja sangat keras membangun tim yang baru dengan ketiadaan para pemain senior yang selama beberapa tahun mendominasi tim inti Rossoneri. Hal itu jelas bukan hal yang mudah. Apalagi para pemain baru Milan bukanlah nama-nama yang mentereng, tidak seperti kebiasaan klub selama ini yang biasanya merekrut pemain bintang. Nama-nama seperti Mattia De Sciglio, Francesco Acerbi, Cristian Zapata, Bakaye Traore, dan Kevin Constant memang masih terasa asing bagi Milanisti. Mungkin hanya Gabriel (kiper Brasil U-23 di Olimpiade London), Riccardo Montolivo, dan Giampaolo Pazzini yang sudah cukup akrab di telinga kita. Namun manajemen Milan pasti memiliki pertimbangan matang ketika mengontrak mereka, baik secara teknis maupun secara finansial, mengingat memang ada hasrat untuk berhemat.

Mungkin kita bisa mengingat kembali kejadian dua musim lalu, ketika Allegri menjadi pelatih baru AC Milan. Sejumlah pemain yang kurang terkenal, seperti Kevin-Prince Boateng, Urby Emanuelson, dan Antonio Nocerino pun didatangkan ke San Siro. Semula mereka semua diragukan berprestasi, namun kenyataannya mereka berperan cukup penting saat Tim Merah-Hitam meraih scudetto 2010/11 dan menjadi runner-up Serie A 2011/12. Artinya, Milan bukannya sama sekali sudah kehilangan harapan untuk berjaya, kendati sudah ditinggal pergi sejumlah bintangnya. Bersama Allegri, bukanlah tidak mungkin jika Acerbi, Constant, Traore, Montolivo, Pazzini, atau Stephan El Shaarawy justru menjadi bintang masa depan Milan. Tapi memang ada baiknya juga, sebelum jendela transfer ditutup akhir Agustus ini masih ada satu dua pemain baru yang berkualitas direkrut pihak manajemen untuk memperkuat tim.

Kekalahan di laga perdana musim ini mestinya tak perlu membuat panik semua pencinta Rossoneri. Masih ada waktu bagi Allegri dan para pemainnya untuk bersinergi, hingga mampu memberikan kegembiraan kembali bagi Milanisti pada pekan-pekan mendatang. Bukankah di Liga Primer Inggris, Manchester United -yang kekuatan timnya relatif sama dengan musim sebelumnya- pun kalah 0-1 dari Everton pada pertandingan pertamanya musim ini? Toh mereka pun mampu bangkit dengan menang 3-2 atas Fulham di laga keduanya. Jadi Milan mestinya bisa memperbaiki performanya pula esok hari dengan meraih tiga poin. Forza Rossoneri!

h1

Menengok Hasil Musim Lalu dan Prediksi Musim Baru di Liga Inggris, Spanyol, dan Italia

Agustus 29, 2012

Genderang kompetisi liga sepak bola di negara-negara Eropa musim 2012/13 sudah kembali berdentang. Liga Prancis dan Liga Belanda sudah dimulai pada akhir pekan kedua Agustus lalu. Sementara itu Liga Inggris dan Liga Spanyol berlangsung sejak 18 Agustus 2012, kemudian Liga Italia dan Liga Jerman menyusul seminggu kemudian. Kompetisi antarklub di Inggris, Spanyol, dan Italia menjadi sesuatu yang sangat diakrabi oleh pencinta sepak bola di Indonesia. Hal itu tentu tak lepas dari keberadaan siaran langsung pertandingannya di televisi swasta nasional selama beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, demi menyambut musim baru, tak ada salahnya kita menengok sejenak hasil akhir musim lalu dalam wujud posisi empat besar pada klasemen akhir musim 2011/12 sekaligus pencetak gol terbanyaknya.

Liga Inggris (English Premier League)
1. Man. City 38 28 5 5 (93-29) 89
2. Man. United 38 28 5 5 (89-33) 89
3. Arsenal 38 21 7 10 (74-49) 70
4. Tottenham 38 20 9 9 (66-41) 69
Top scorer : Robin van Persie (Arsenal – 30 gol); Wayne Rooney (United – 27 gol)

Liga Spanyol (La Liga Primera)
1. Real Madrid 38 32 4 2 (121-32) 100
2. Barcelona 38 28 7 3 (114-29) 91
3. Valencia 38 17 10 11 (59-44) 61
4. Malaga 38 17 7 14 (54-53) 58
Top scorer : Lionel Messi (Barcelona – 50 gol); Cristiano Ronaldo (Madrid – 46 gol)

Liga Italia (Lega Calcio Serie A)
1. Juventus 38 25 15 0 (68-20) 84
2. AC Milan 38 24 8 6 (52-35) 80
3. Udinese 38 18 10 10 (52-35) 64
4. Lazio 38 18 8 12 (56-47) 62
Top scorer : Zlatan Ibrahimovic (Milan – 28 gol); Diego Milito (Inter – 24 gol)

Ulasan Musim 2011/12
Ada sejumlah benang merah ketika kita menyimak data yang ada. Ternyata juara liga musim 2010/11 (Manchester United, Barcelona, dan AC Milan) sama-sama gagal mempertahankan gelarnya dan harus puas menjadi nomor dua. Musim 2011/12 menghadirkan kampiun anyar yang cukup lama tak berjaya, yaitu : Manchester City, Real Madrid, dan Juventus. City perlu waktu 44 tahun untuk kembali merajai Liga Inggris, Madrid sudah tiga musim puasa juara liga, dan Juve terakhir kali meraih scudetto musim 2002/03 (sebelum calciopoli yang membatalkan dua trofi Juve).
Fakta lainnya, hanya dua tim yang bersaing ketat menjadi juara dan jarak tim runner-up dengan tim nomor tiga terlalu lebar. Di Liga Inggris, City baru memastikan gelarnya pada pertandingan terakhir dan memiliki poin yang sama dengan United. Arsenal yang berada di nomor tiga memiliki selisih 19 poin dengan City dan United. Di Liga Spanyol, Madrid dan Barca terpisah sembilan poin, tapi Valencia berselisih 30 poin dari Barca. Di Liga Italia, Juve unggul empat poin atas Milan, sedangkan Udinese 16 poin di bawah Milan.
Dari sisi rekor kekalahan terdapat kesenjangan pula. Tim peringkat tiga dan seterusnya terlalu sering kalah. City dan United hanya lima kali kalah, tapi Arsenal 10 kali dan Tottenham Hotspur sembilan kali kalah. Madrid hanya dua kali dan Barca tiga kali kalah, tapi Valencia 11 kali dan Malaga 14 kali kalah. Juventus mencatat rekor tak terkalahkan, Milan enam kali kalah, sementara Udinese 10 kali dan Lazio 12 kali kalah.
Dari sisi pencetak gol terbanyak (top scorer), ternyata semua yang meraih sepatu emas bukan berasal dari tim juara. Robin van Persie (Arsenal) bermain di tim peringkat tiga, sementara Lionel Messi (Barcelona) dan Zlatan Ibrahimovic (Milan) memperkuat tim peringkat dua sekaligus juara musim sebelumnya.

Prediksi Musim 2012/13
Lalu apa yang bakal terjadi pada musim baru? City dan United tampaknya masih akan bersaing ketat. Tapi hadirnya wajah-wajah baru di Arsenal, Spurs, Chelsea, maupun Liverpool bakal membuat kompetisi EPL bakal tambah seru. Juve dan Milan dalam tanda tanya besar dalam merebut scudetto. Bianconeri mesti merelakan pelatih Antonio Conte yang mendapat sanksi skorsing selama 10 bulan karena terlibat skandal pengaturan skor. Massimo Carerra, yang semula asisten Conte naik pangkat menjadi pelatih utama Juventus. Sementara itu Rossoneri ditinggal sejumlah pemain pentingnya, mulai dari pemain-pemain senior seperti Alessandro Nesta, Clarence Seedorf, dan Filippo Inzaghi, hingga Thiago Silva dan Ibrahimovic yang dijual ke Paris Saint Germain. Udinese, Lazio, AS Roma, dan Inter Milan siap mengintai peluang menjadi yang terbaik di Serie A. Sementara itu duel tim raksasa Los Blancos dan Blaugrana masih akan terjadi lagi di liga negara juara Euro 2012. Valencia, Malaga, Atletico Madrid, dan tim lainnya tinggal memperebutkan peringkat tiga dan zona Liga Champion.

Untuk kandidat pencetak gol terbanyak, masih banyak nama yang bersaing di Liga Inggris. Cuma RvP sudah tak lagi berseragam Arsenal karena telah hijrah ke Manchester United. Messi dan Ronaldo masih kembali bersaing ketat di Liga Spanyol. Sementara Ibra sudah mustahil merebutnya kembali di Liga Italia karena sudah hijrah ke Liga Prancis. Jadi jelas ada nama baru yang menjadi top scorer di Serie A 2012/13.

* Opini ini pernah dimuat di Kompasiana dan telah ada sedikit revisi untuk pemuatannya di tempat ini.

h1

Soal Timnas, Komite Bersama Mesti Tegas

Agustus 26, 2012

Komite Bersama yang diharapkan bisa menjadi pintu terbuka menuju jalan keluar dari permasalahan yang menyelimuti sepak bola Indonesia ternyata masih belum memutuskan apa-apa. Untuk menentukan waktu rapat saja sepertinya mereka susah sekali. PSSI Djohar Arifin, yang merasa masih mendapat legitimasi dari AFC dan FIFA, tetap mempersiapkan timnas dengan pelatih Nil Maizar dengan materi pemain seadanya dari klub-klub IPL. Klub-klub ISL mencoba bersikap konsisten untuk tidak lagi mengakui kepemimpinan Djohar Arifin dan hanya mendukung PSSI La Nyalla Matalitti. Oleh karena itu, wajar saja jika para pemain klub ISL yang dipanggil PSSI Djohar Arifin tidak diperkenankan untuk bergabung dalam pelatnas di bawah Nil Maizar. PSSI La Nyalla berencana membentuk timnas sendiri untuk mengakomodasi para pemain ISL. Dualisme timnas akan menjadi buah pahit yang kembali dipetik dari konflik PSSI yang tak berkesudahan.

Sebenarnya hal itu tak perlu terjadi, jika Komite Bersama segera bertemu dan memutuskan hal-hal yang penting. Mereka tak perlu ragu mengambil alih pengelolaan timnas Piala AFF 2012 untuk sementara, sebagai jalan tengah atas segala perbedaan yang ada. Kita mungkin masih ingat bahwa pada tahun 2011 lalu, Satlak Prima KONI sempat mengambil alih pengelolaan timnas U-23 yang sedang dipersiapkan menuju SEA Games 2011, termasuk dengan menunjuk pelatih Rahmad Darmawan. Ketika itu PSSI Nurdin Halid telah dibekukan oleh Menpora Andi Malarangeng dan AFC/FIFA kemudian memutuskan membentuk Komite Normalisasi PSSI.
Demi persatuan Indonesia, Komite Bersama harus mengedepankan semangat kebersamaan dan tak perlu takut mengambil langkah apa pun demi menyelamatkan masa depan sepak bola nasional.

* Opini ini (versi edit) dimuat di BOLA Edisi 2.392/2012.

h1

Kontribusi Inggris untuk Sukses Spanyol

Agustus 16, 2012

Spanyol telah memperlihatkan kehebatannya dengan menjadi juara Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 secara berurutan dalam kurun masa empat tahun. Selain materi pemainnya yang selalu berkualitas bagus, peran besar pelatih Luis Aragones (2008) dan Vicente del Bosque (2010-2012) untuk menanamkan spirit kebersamaan di dalam tim menjadi kunci sukses La Furia Roja. Selama sekian tahun terakhir, spirit kebersamaan itu kian menguat dan makin menyatukan para pemain. Bahkan para pemain Real Madrid dan Barcelona yang selalu dalam tensi tinggi ketika memperkuat klubnya dalam laga ‘El Clasico’ pun mampu bersatu padu secara harmonis bersama timnas Spanyol.

Namun ada satu hal yang unik lainnya. Dalam tiga kali kesempatan Spanyol menjadi juara, ternyata senantiasa tercantum nama pemain yang memperkuat klub-klub di Liga Inggris. Jumlah mereka memang tidak banyak, karena mayoritas anggota skuad Tim Matador 2008-2012 bermain di Liga Spanyol. Namun keberadaan mereka tentu tak bisa dipandang sebelah mata.

Pada Piala Eropa 2008, terdapat nama Xabi Alonso, Fernando Torres, Alvaro Arbeloa, Pepe Reina (Liverpool), serta Cesc Fabregas (Arsenal). Torres merupakan pencetak gol kemenangan Spanyol atas Jerman di final Euro 2008. Ketika Piala Dunia 2010 masih ada Torres, Reina (Liverpool), dan Fabregas (Arsenal). Alonso dan Arbeloa telah hijrah ke Real Madrid. Jangan pula dilupakan bahwa Gerard Pique (Barcelona) merupakan mantan pemain Manchester United. Prestasi terbaru Spanyol di Piala Eropa 2012 tak lepas dari peran David Silva (Manchester City), Torres, dan Juan Mata (Chelsea). Reina masih tetap pemain Liverpool dan setia berada di bangku cadangan. Fabregas sudah kembali memperkuat Barcelona, klub masa remajanya.
Silva, Torres, dan Mata yang bermain di Liga Inggris ikut menyumbang gol kemenangan Spanyol atas Italia (4-0) di final Euro 2012. Sebelum turnamen di Polandia-Ukraina, ketiga pemain tersebut sudah lebih dulu merasakan gelar juara musim 2011-2012 bersama klubnya masing-masing. City adalah juara Liga Premier Inggris, sedangkan Chelsea merupakan juara Liga Champion dan Piala FA. Sementara itu Fernando Torres mendapat penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak Euro 2012, meski tidak selalu menjadi pemain inti dan ada lima pemain lainnya yang sama-sama membakukan tiga gol. El Nino pun tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya pemain yang selalu mencetak gol dalam dua kali final Piala Eropa, sekaligus membawa timnya menjadi jawara.

Mungkin bisa dikatakan bahwa Liga Inggris pun memiliki andil -secara tidak langsung- terhadap sukses La Furia Roja dalam empat tahun terakhir ini. Ironisnya, catatan prestasi tim nasional Inggris sendiri semakin jauh tertinggal ketimbang Spanyol.

* Opini ini dimuat di BolaVaganza No.130 – Agustus 2012.

h1

Momentum Ramadhan Lewat Begitu Saja

Agustus 16, 2012

Bambang Pamungkas dkk tampaknya berusaha memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai bulan mulia untuk berbuat baik, selain mumpung kompetisi liga sedang dalam masa liburan. Meski mereka tak pernah menyatakannya secara terbuka, namun para pemain timnas dari klub LSI sebenarnya telah menunjukkan kebesaran jiwanya untuk memaafkan kesalahan PSSI Djohar Arifin yang selama sekitar satu tahun terakhir konsisten menzalimi mereka. Kita pasti ingat bahwa para pemain klub LSI tidak hanya pernah dilarang membela negaranya, namun mereka juga pernah dihina dina, dituduh sebagai mafia, dan dianggap tidak ada oleh rezim Djohar Arifin. Siapa pun tidak akan mudah memaafkan jika pernah diperlakukan seperti itu. Namun mereka memilih untuk melupakan keburukan itu dan membuka pintu maaf. Bepe dkk mungkin menyadari bahwa mereka bisa lebih berharga di hadapan Tuhan jika berani memaafkan, bukannya larut dalam dendam berkepanjangan. Barangkali mereka pun berharap akan menyusullah hal-hal baik lainnya terjadi.

* Opini ini dimuat di BOLA Edisi 2.391/2012.

Catatan tambahan :
Saya menulis opini tersebut pada 7 Agustus 2012 menanggapi bergabungnya sejumlah pemain senior Liga Super Indonesia dalam timnas Indonesia yang dilatih oleh Nilmaizar. Mengikuti perkembangan yang ada, Bambang Pamungkas dkk akhirnya meninggalkan pelatnas. Mereka bahkan diberi sanksi oleh klub-klub masing-masing karena dianggap bersalah bergabung dengan timnas bentukan PSSI Djohar Arifin. Hal-hal baik yang diharapkan terjadi setelah proses memaafkan ternyata tidak menjadi nyata. Opini tersebut akhirnya menjadi basi saat ini. Momentum Ramadhan pun lewat begitu saja, tidak ada dampak positifnya sama sekali untuk sedikit membenahi kisruh sepak bola Indonesia. Salam duka…

h1

Anomali Sepak Bola Olimpiade 2012

Agustus 9, 2012

Brasil dan Meksiko akhirnya bakal tampil pada pertandingan terakhir cabang sepak bola Olimpade 2012 pada Sabtu (11/8) di Stadion Wembley London. Di semifinal Brasil mengandaskan Korsel 3-0 dan Meksiko menundukkan Jepang 3-1. Namun tampilnya Jepang dan Korea Selatan di babak semifinal telah menjadi kejutan tersendiri. Bicara soal keberadaan dua wakil Asia di empat besar, sebenarnya sejak awal ada banyak hal tak lazim atau mungkin bisa disebut anomali yang terdapat dalam sepak bola Olimpiade London.

Pertama, kita lihat saja 16 tim pesertanya. Memang ada sejumlah nama besar, sebut saja Brasil, Spanyol, dan Uruguay. Demikian pula ada wakil konfederasi yang biasa menjadi langganan, seperti : Meksiko, Mesir, Senegal, Jepang, Korsel, dan Selandia Baru. Sisanya adalah tim tuan rumah Britania Raya/Great Britain, Uni Emirat Arab, Gabon, Swiss, Belarusia, Honduras, dan Maroko. Tapi di manakah Argentina, Italia, Jerman, Belanda, Portugal, Nigeria, Kamerun, Amerika Serikat, atau Australia? Argentina yang meraih medali emas sepak bola Olimpiade 2008 di Beijing ternyata tidak lolos ke London. Demikian pula sejumlah tim mentereng lainnya. Padahal kita tahu di Italia terdapat pemain-pemain muda hebat seperti Mario Balotelli dan Fabio Borini. Jerman juga punya Thomas Mueller dan Mario Goetze yang masih bisa memperkuat tim U-23.

Kedua, terdapat sebuah fenomena dengan hadirnya tim Britania Raya yang khusus dibentuk mewakili tuan rumah. Tim tersebut terakhir kali tampil di Olimpide 1960 di Roma. Kehadiran Britania Raya di London 2012 merupakan hasil negosiasi panjang yang melibatkan FA Inggris, BOA (British Olympic Association), IOC, dan FIFA. Sebenarnya materi pemain tim Britania Raya merupakan gabungan pemain dari Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales. Namun dari 18 nama pemain asuhan Stuart Pearce hanya berisi pemain Inggris dan Wales. Tidak terpilihnya David Beckham sebagai salah satu pemain senior sempat menimbulkan pro-kontra. Akhirnya Pearce memilih Ryan Giggs, Craig Bellamy, dan Micah Richards sebagai pemain yang usianya di atas U-23. Langkah Britania Raya yang dihentikan oleh Korsel di babak perempat final melalui adu penalti menjadi keanehan tersendiri pula. Tim gabungan tersebut mengikuti jejak pahit tim Inggris yang selalu gagal dalam turnamen besar lewat adu penalti, yang terakhir terjadi di Euro 2012.

Ketiga, tersingkirnya dua tim unggulan Spanyol dan Uruguay di babak penyisihan grup menjadi anomali selanjutnya. Tim Matador dua kali kalah dan sekali seri hingga menjadi juru kunci Grup D di bawah Jepang, Honduras, dan Maroko. Padahal reputasi Spanyol sedang bagus-bagusnya saat ini, bahkan sejumlah pemainnya (Jordi Alba, Javi Martinez, dan Juan Mata) ikut membawa La Furia Roja juara Euro 2012 belum lama ini. Sementara itu Uruguay kalah bersaing dengan Britania Raya dan Senegal di Grup A. Padahal Uruguay, yang merupakan semifinalis Piala Dunia 2010 dan juara Copa America 2011, diperkuat oleh dua penyerang terbaiknya saat ini, Edinson Cavani dan Luis Suarez.

Keempat, ada yang hilang dari kostum tim yang disponsori Adidas. Selama ini kostum Adidas memiliki ciri khas berupa tiga garis dan hal itu tidak ada di Olimpiade London. Setidaknya Spanyol, Jepang, Mesir, dan Britania Raya mengandalkan kostum Adidas. Dugaan saya, justru karena kostum Britania Raya –dalam semua cabang olah raga- yang dirancang oleh Stella McCartney menghilangkan tiga garisnya, maka tim lain yang disponsori Adidas pun tampil dengan kostum khusus tanpa ciri khasnya untuk Olimpiade 2012.

Kelima, kostum tim sepak bola di Olimpiade sama sekal tidak memasang logo asosiasi sepak bolanya, namun semua memasang bendera negaranya (kecuali Britania Raya dengan simbol negaranya) plus lambang olimpiade.

Seandainya nanti akhirnya Brasil kembali gagal juara dan yang meraih medali emas justru Meksiko, maka hal itu hanya akan melengkapi anomali yang terjadi di cabang sepak bola Olimpiade London. Meskipun Brasil sangat superior dalam sepak bola, namun negara tersebut belum pernah sekali pun menjuarai Olimpiade. Yang jelas, siapa pun yang berjaya di final akan tercatat sebagai juara baru sepak bola Olimpiade.